
"Jamu...jamu...jamunya Bu,mbak, adik, Mbah Putri, jamu...jamu...!" tanpa sadar Sri mengigau.
"Jamu...jamu..ja...mu!"
Dan Sri terbangun dari mimpinya dan dia membuka kedua matanya dengan sedikit gugup.
"Astaghfirullah...Astaghfirullahaladziim...!"
Sri mengusap wajahnya dengan kasar berkali - kali, kemudian dia melihat ke arah jam dinding nampak arah jarum jam menunjukkan pukul tiga sore hari.
Sri bangkit dari duduknya dan kemudian dia ke kamar mandi untuk berwudlu. Dan tak lama kemudian Sri keluar dari kamar mandi. Kemudian dia segera menunaikan ibadah sholat Ashar.
Selesai sholat Ashar, Sri keluar dari kamarnya dan kemudian dia mencari keberadaan Sakti yang ternyata dia sudah bangun dan sedang berenang di kolam renang keluarga.
"Sakti, ternyata bisa berenang ya!" seru Sri saat melihat Sakti yang berenang di kolam renang.
"Eh mama ci, ayo kita berenang mama Ci!" ajak Sakti sambil mengusap wajahnya yang basah dengan air.
"Mama Ci lihat sakti saja!" ucap Sri seraya melambaikan tangannya dan dia kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Tak berapa lama sebuah mobil masuk ke halaman rumah dan akhirnya masuk ke garasi.
Keluarlah dari mobil sesosok laki - laki tampan dan bertubuh tegap yang memakai stelan jas dan membawa tas kerjanya, yang tak lain adalah Bima.
Suami Sri itu melangkahkan kakinya masuk ke ruang tamu. Ketika hendak melangkahkan kakinya ke kamarnya, Bima melihat mbok Ni yang berada di dapur sedang memasak untuk makan malam keluarganya.
"Mbok Ni, dimana istriku?" tanya Bima yang menanyakan keberadaan istrinya pada pembantunya.
"Nyonya ada di kolam renang bersama den Sakti tuan" jawab mbok Ni seraya menyiangi sayuran yang ada dihadapannya.
"Terima kasih mbok Ni!" ucap Bima yang mempercepat langkahnya.
"Bima..!" panggil seorang wanita yaitu ibunda Bima Marlina.
"Ya mama, ada apa?" tanya Bima yang seketika menghentikan langkahnya.
"Tumben kamu tidak mencari mama?" tanya Marlina yang menghampiri putranya.
"Ma'af ma, habisnya dalam rumah ini ada dua wanita yang selalu menghiasi pikiran Bima" jawab Bima yang mengulas senyumnya seraya mencium punggung tangan mama ya.
"Kau ini, jadi mama kamu duakan ya!" seru Marlina dengan sedikit cemberut.
"Astaghfirullah mama! kalian berdua adalah jalan surga Bima. Bima sayang dan cinta kalian berdua dan tambah lagi Sakti!" Seru Bima yang kemudian memeluk mamanya dengan erat.
"Ya sudah, sana cari istri kamu!" seru Marlina saat Bima melepaskan pelukannya.
"Makasih mama!" ucap Bima yang kemudian mengecup kening mamanya. Setelah itu Bima melangkahkan kakinya menghampiri istrinya Sri yang masih berada kolam renang.
"Assalamu' Alaikum!" ucap salam Bima yang mempercepat langkah kakinya menghampiri Sri.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam" jawab Sri seraya menoleh ke sumber suara dan dia bangkit dari duduknya.
"Mama Ci nya sakti!" panggil Bima pada Sri.
"Kepanjangan panggilnya mas!" seru Sri yang kemudian mencium punggung tangan kanan suaminya.
"Habisnya aku rindu sekali sama kamu!" seru Bima seraya mengecup kening istrinya.
"Sri juga rindu sama suamiku tercinta ini!" balas Sri seraya memeluk tubuh suaminya dengan erat.
"Papa...mama Ci! Sakti juga kepingin di peluk!" seru Sakti yang masih berada di dalam kolam renang.
"Ah, kamu kan masih basah! nanti kalau sudah kering! he..he..!" seru Bima sembari tertawa terkekeh.
"Yah papa!" sahut Sakti yang kemudian melanjutkan acara berenangnya.
"Sri, ada yang ingin aku bicarakan Sam kamu!" ucap Bima yang menatap wajah Sri.
"Ya bicara saja mas, Sri akan mendengarkannya!" kata Sri yang membalas tatapan mata suaminya.
"Tidak disini, tapi di kamar" ucap Bima yang membuat Sri penasaran.
"Kenapa di kamar sih mas?" tanya Sri dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Karena ada hal penting" jawab Bima yang menatap intens istrinya.
"Terus bagaimana dengan Sakti?" tanya Sri yang tak tega jika Sakti sendirian.
Kemudian Bima melambaikan tangannya pada putranya Sakti, untuk menyampaikan pesannya.
"Sakti! lima belas menit lagi keluar dari kolam ya!" seru Bima dan Sakti menoleh ke arah ayahnya.
"Ada apa pa!" seru Sakti yang tidak begitu jelas mendengarkan seruan dari ayahnya.
"Lima belas menit lagi, kamu keluar dari kolam renang ya!' seru Bima yang mengulangi lagi.
"I..iya pa!" seru Sakti yang menunjukkan jari jempol kanannya.
"Ayo sayang!" ajak Bima yang menggandeng tangan kiri istrinya.
"I..iya mas!" jawab Sri yang mengikuti setiap langkah suaminya.
Tak berapa lama mereka sudah masuk ke rumah, Bima menebarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
"Tuan Bima mencari siapa?" tanya mbok Ni dari ruangan dapur.
"Mama mbok! kemana mama mbok?" tanya Bima yang menatap mbok Ni.
"Nyonya jam segini biasanya sedang mandi tuan." jawab mbok Ni yang tahu kebiasaan majikannya.
__ADS_1
"Mbok Ni apakah masih memasak?" tanya Bima.
"Sudah selesai tuan, ini mau menyuruh mas Sakti mandi" jawab mbok Ni.
"Oh, kebetulan. Ya sudah mbok, Sakti masih berada di kolam renang!" ucap Sri yang memberitahu keberadaan Sakti.
"Iya, terima kasih nyonya, permisi" ucap mbok Ni yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kolam renang, sementara Bima dan Sri melanjutkan langkah mereka ke kamar.
Setelah menaiki tangga, mereka telah sampai di depan pintu kamar dan Bima membuka pintu kamarnya.
Sri masuk ke kamar dan diikuti Bima yang kemudian menutup dan mengunci pintu kamarnya.
"Mas Bima mau bicara apa sih? kenapa harus di kamar segala?" tanya Sri yang penasaran.
"Ini tentang pekerjaan Sri!" jawab Bima yang kemudian dia mengambil air minum dingin dengan menekan Dispensernya.
"Pekerjaan? apa hubungannya dengan Sri mas?" tanya Sri yang penasaran seraya duduk di sofa yang ada di dalam kamar Bima.
Bima menyelesaikan minum air putihnya dan kemudian meletakkan gelasnya di tempatnya.
Papanya Sakti itu kemudian melangkahkan kakinya menghampiri istrinya. Dia kemudian duduk disamping Mama Ci - nya Sakti.
"Sri, mas Bima mau ke luar negeri beberapa bulan. Apa kamu tak apa - apa mas tinggal?" tanya Bima yang penasaran.
"Apa Sri tak boleh ikut mas?" tanya Sri yang penasaran.
"Mas juga ingin sekali kamu ikut. Selain karena kamu sedang hamil, Sakti baru saja punya mama baru. Aku tak tega merampas kebahagiaan putraku" jawab Bima sembari menatap ke arah istrinya.
"Mas, yang jelas Sri akan selalu merindukan mas Bima!" ucap Sri yang mulai berkaca - kaca.
"Mas Bima juga akan selalu merindukan kamu, apalagi bayi kita! apa mas bisa lihat dia lahir nantinya!" ucap lirih Bima sembari mengusap perut Sri yang masih kempes.
"Apakah harus berbulan - bulan mas?" tanya Sri yang penasaran.
"Iya Sri, karena ada sepuluh negara yang akan mas Bima datangi. Mas janji kalau mas Bima akan secepatnya untuk pulang, dan kita bisa berkumpul kembali." ucap Bima seraya menyeka air mata Sri yang mulai jatuh di pipi mulus Sri.
"Mas Bima! hiks, jangan pergi mas!" racau Sri yang memeluk suaminya dengan erat.
"Mas juga tak ingin pergi sayang, tapi apa boleh buat, semua demi masa depan kita!" ucap Bima yang suaranya terdengar parau, karena menahan diri untuk menangis.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
,