
"Bukannya tidak suka sama mas Aryo, siapa sih yang nggak kenal mas Aryo? Sri hanya ingin melanjutkan sekolah. Sri ingin kerja cari uang buat Sri sendiri, tanpa meminta pada Bapak, dan simbok. Sri ingin menikmati masa muda Sri lebih dulu. Agar kelak Sri nggak menyesal!" jelas Sri yang membuat Aryo tersentak dengan pengakuan Sri.
"Kalau itu maumu, kita tunangan dulu nggak apa-apa kan dik Sri!" kata Aryo yang tak ingin melepaskan gadis di depannya, yaitu Sri Sutini.
"Tunangan? itu sama saja masih membelengguku mas!" seru Sri yang kemudian menghabiskan es kelapa mudanya.
"Tapi aku sangat mencintaimu dik Sri, kita Tunangan dulu. Agar tak ada yang mendekatimu Sri!" jelas Aryo yang juga menghabiskan es kelapa mudanya.
"Huh...! tak ada gunanya juga aku menentang. Malah semakin mendesak ke arah pernikahan!" gumam Sri dalam hati.
Sri hanya diam dan mendengarkan Aryo yang terus merayunya.
Dan sesekali Sri menghela nafasnya.
"Ayo dik Sri, kita pulang sudah sore! nanti takut dimarahi bapak" ucap Aryo yang kemudian bangkit dari duduknya dan dia melangkahkan kaki menuju ke pemilik warung untuk membayar makanan dan es kelapa mudanya.
Sri mengangguk dan kemudian bangkit dari duduknya lalu mengikuti Aryo.
Kemudian mereka berjalan menuju ke tempat parkir sepeda Aryo.
Dengan kecepatan sedang Aryo mengemudikan sepeda motornya menuju ke rumah keluarga Sri.
Sesampainya di rumah Sri, kedua orang tua Sri dan orang tua Aryo, mereka telah membuat kesepakatan.
"Assalamu'alaikum...!" ucap salam Sri saat masuk ke rumah dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan dilanjut kedua orang tua Aryo.
"Wa'alaikumsalam..!' jawab kedua orang tua Sri dan Aryo bersamaan.
Aryo pun juga mencium punggung tangan Kedua orang tua Sri dan juga kedua orang tuanya.
"Sri dan Aryo, kami telah bersepakat kalau bulan depan kalian menikah!" ucap Bapaknya Sri.
Aryo mengulas senyumnya, sementara Sri tersentak kaget.
"Apa nggak bisa mundur pak? satu tahun lagi begitu?" Sri yang mencoba menawar.
"Ora iso, pokoke sasi ngarep awakmu nikah karo Aryo!" seru bapaknya Sri yang tidak mau di bantah.
(Tidak bisa, pokoknya bulan depan kamu menikah dengan Aryo)
Sri hanya bisa diam, tak berani membantah. Dia hanya menjadi pendengar setia mana kala kedua oang tuanya , kedua orang tua Aryo dan juga Aryo yang saling cerita dan bersendau gurau, hingga tak terasa sampai waktu menjelang maghrib.
"Wah sudah sore, kami pamit. Takut kelamaan di sini malah merepotkan keluarga calon besan. he..he..!" ucap Bapaknya Aryo.
"Ah, nggak apa-apa. Kan jarang-jarang kita bisa kumpul-kumpul begini!" ucap Bapaknya Sri.
"Wah sepertinya malah di suruh menginap! " kelakar Aryo dan semua tertawa karenanya.
"Ha..ha..! bisa saja kamu Yo..Aryo..!!" ucap Bapaknya Sri.
"Makanya cepat menikah!" ucap ibunya Sri yang juga ikut nimbrung.
Kemudian Arya dan kedua orang tuanya bangkit dari duduk mereka dan saling bersalaman dengan Sri dan kedua orang tua Sri.
"Assalamu'alaikum..!" salam pamit keluarga Aryo.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam..!" balas keluarga Sri.
Bapak, ibu dan Sri mengantarkan para tamunya sampai ke depan pintu rumah.
Setelah itu, Sri membereskan semua gelas dan makanan yang berada di atas meja.
"Sri, kami sudah tidak boleh keluar rumah, kamu sudah dalam prosesi di pingit."kata Ibunya Sri.
"Umbah-umbah wonten kali nggih mboten angsal Bu?" tanya Sri.
(Nyuci baju di sungai juga nggak boleh Bu?)
"Yo ora oleh!" jawab ibunya Sri.
(Ya tidak boleh)
Sri kecewa sekali, walaupun begitu diavtak berani menentang keinginan kedua orang tuanya itu.
Gadis itu kemudian mencuci piring dan gelas.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Sri segera mandi dan berganti pakaian.
Kemudian di lanjut menunaikan sholat Ashar.
"Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu.Apa yang harus hamba lakukan?" salah satu doa Sri saat selesai sholat.
Sri terus mengurung diri hingga tiba waktu sholat Maghrib.
Gadis itu keluar dari kamarnya untuk mengambil wudhlu dan kemudian kembali lagi ke kamarnya untuk sholat Maghrib.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Tokk...Tokk....tokkk...!"
"Sri ayo makan dulu, kamu jangan sampai telat makan nanti bisa sakit lho!" ucap suara di balik pintu.
"Iya Bu" sahut Sri yang kemudian dia keluar dari kamarnya.
Sri ikut dalam makan malam keluarganya yang hanya berjumlah empat orang.
Dirinya bapak ,ibunya dan adiknya Martani.
"Aku harus bagaimana ini?" tanya dalam hati Sri yang terus berkecamuk.
"Pokoknya aku harus segera pergi dari kampung ini secepat." ucap dalam Sri saat sudah berada kamarnya.
Setelah sholat Isya, Sri kembali termenung.
Gadis itu sudah membulatkan tekatnya untuk pergi dari rumahnya.
Sri mengemasi barang-barang yang sekiranya dibutuhkan saat dia meninggalkan rumah nantinya.
Setelah itu Sri membaringkan tubuhnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sejenak dari beban hidupnya
Dan kedua mata gadis itu lama-kelamaan menutup mata dan sudah berada di alam mimpinya.
__ADS_1
Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 pagi.
Sri bangun dari tidurnya dan hendak menunaikan sholat malam.
Gadis itu melangkah keluar kamar dan menuju ke sumur.
Setelah berwudlu, Sri kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya.
Diambilnya mukena yang biasa dia pakai untuk sholat, dan Sri mulai Menunaikan Ibadah sholat malam.
"Ya Allah, jika keputusan hamba pergi dari rumah ini adalah benar, tunjukkanlah jalan yang mudah. Aamiin ya Robbal alaamiin." do'a Sri setelah sholat malam.
"Oiya, biasanya kan ada mobil pick up penjual tahu yang lewat, mereka kan rutin ke pasar tiap jam tiga pagi. Aku naik mobil pick up itu saja." kata dalam hati Sri, yang kemudian memasukkan mukenanya ke dalam tas ransel.
Sri menulis surat untuk kedua orang tuanya yangvdi letakkan di atas meja belajarnya, gadis itu kemudian gadis itu keluar dari rumah dengan lewat jendela kamarnya.
Setelah menutup kembali jendela kamarnya dengan pelan-pelan, Sri mengendap-endap keluar dari halaman rumahnya dan melangkahkan kakinya menuju ke jalan yang biasa di lalui mobil pick Up penjual tahu.
Sesampainya di jalan itu, Sri menoleh ke kanan dan ke ke kiri. Takut bila ada warga yang melihatnya.
Tak berapa lama Sri melihat sorot lampu mobil dari kejauhan.
"Itu pasti mobil pick up si penjual tahu!" gumam Sri.
Gadis itu melambaikan tangannya, dan mobil itu pun berhenti.
"Arep Nyang ngendi nduk?" tanya sopir mobil pick Up itu.
(Mau kemana dik?)
"Mau ke pasar pak, saya ikut ya!" jawab sekaligus pinta Sri.
"Oh Nyang pasar, ndhang mlebu!" kata sopir itu.
(Oh ke pasar, cepat masuk!)
"Jo, pindaho Nyang mburi! kene ben dinggo gendhuk ayu kui!" seru sopir mobil pick up kepada orang yang di sampingnya.
(Jo, pindah ke belakang! di sini biar di pakai adik cantik itu)
Yang dipanggil dengan Jo itu pun menuruti perintah si sopir dan dia turun dari mobil pick up itu dan kembali naik lagi ke belakang bersama ember-ember yang berisi banyak tahu.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
,
__ADS_1