
Setelah menurunkan dua pedagang jamu lainnya, kini tinggal Sri yang akan diantar oleh Karyo.
"Sri, Minah kalau pagi sering di sekolah-sekolah, dan pasar!" kata Karyo sembari terus mengemudi.
"O, begitu ya!" ucap Sri.
"Nanti kalau ada yang tanya tentang jamu, bilang saja dari rumah jamu Sumilah";Jelas Karyo yang sudah menepikan kendaraannya.
"Iya mas Karyo, Sri mengerti!" ucap Sri saat mobil telah berhenti dan Sri bersiap-siap untuk turun.
"Sri, kamu bawa handpone kan?" tanya Karyo sebelum Sri turun.
"Oiya mas, sebentar mas!" jawab Sri yang kemudian mengeluarkan ponsel dan menyerahkan pada Karyo.
Karyo kemudian mengetik nomor ponselnya pada ponsel Sri dan kemudian menelepon ke nomor ponselnya.
"Sudah selesai, nanti kalau ada apa-apa telepon mas Karyo ya!" ucap Karyo seraya memberikan ponsel Sri pada empunya.
"Terima kasih ya mas!" balas Sri seraya menerima ponselnya dari Karyo.
Sri kemudian turun dan menutup pintu mobil pick up itu, kemudian mengambil bakul yang berisi jamu di bak belakang.
"Daaa,.. mas Karyo, saya tinggal sebentar ya!" seru Sri seraya melambaikan tangannya saat bakul yang berisi jamu berada di punggungnya.
"Laris manis Sri!" seru Karyo yang membalas Sri seraya melambaikan tangannya ke arah Sri.
Sri melangkahkan kaki masuk kedalam perkampungan dan Sri mulai menjajakannya jamunya.
"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"
"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"
Pada awalnya tak ada yang menggubris suara Sri yang menawarkan jamunya.
Sri kemudian berhenti di depan sebuah playgroup, dan Sri menjajakannya dengan menawarkan jamunya pada ibu-ibu yang sedang menunggui balita mereka sekolah.
Satu, dua orang membeli jamu, dan setelah merasakan enak mereka membeli lagi untuk di bawa pulang.
"Mbak beli jamunya ya!" panggil seorang ibu-ibu yang menghampiri Sri.
"Iya Bu, jamu apa?" tanya Sri sembari tersenyum.
"Jamu kunyit sirih ya satu, penawarnya minta jamu Sinom saja." ucap si ibu itu.
"Baik Bu" jawab Sri
Sri kemudian menuangkan setengah gelas jamu kunyit dan setengah gelas jamu Sirih.
Jamu kunyit Sirih telah tetamu dan di berikan pada si ibu pemesan.
"Bismillahirohmanirrohiim."
Ibu itu berdoa untuk meminum jamu tersebut, Sri menyiapkan jamu Sinom sebagai penawar jamu kunyit sirih yang di minum si ibu.
Setelah selesai, si ibu minta lagi tapi di bungkus untuk di minum di rumah.
Tak berapa lama, waktu istirahat untuk para murid playgroup.
__ADS_1
Saat itulah Sri kewalahan menghadapi balita-balita yang merengek-rengek pada ibu mereka untuk membeli jamu Sinom dan beras kencur.
"Mbak, mbak jamu..! sakti mau beli jamunya ya!" pinta seorang anak laki-laki yang berusia empat tahun bernama Sakti.
"Iyaa, sebentar ya!" jawab Sri seraya melayani pembeli kecil lainnya.
"Mau beli Jamu apa sayang?" tanya Sri setelah menyelesaikan melayani pembeli cilik lainnya.
"Jamu acem mbak, satu gelas saja!" jawab Sakti dengan senyum manjanya.
"Iya, mbak buatkan khusus buat adik ganteng!" ucap Sri seraya menuangkan jamu sinomnya di dalam gelas dan di serahkan pada anak kecil yang bernama sakti itu.
"Pangeran ganteng, namanya siapa?" tanya Sri yang penasaran dengan ketampanan bocah kecil itu.
"Sakti mbak!" jawab Sakti yang sudah menghabiskan jamu sinomnya.
"Enak jamunya?"tanya Sri yang menatap anak kecil di depannya.
Satu jam lamanya Sri melayani pembeli kecilnya, dan kamu yang di bawanya tinggallah sedikit.
"Mbak beli jamunya!" seru seorang wanita yang keluar dari playgroup itu, bersama dua orang wanita lainnya.
Ketiganya memakai seragam sama, seragam seragam yayasan playgroup itu.
Tanpa Sri ketahui, ada seseorang yang telah mengawasinya sedari tadi.
Nama orang itu adalah Bima, duda anak satu yang bernama Sakti itu, sedang menunggui putranya yang sedang sekolah di playgroup itu.
"Gadis penjual jamu itu, mirip dengan Lastri, siapa ya namanya?"tanya dalam hati bima yang terus mengawasi gerak-gerik Sri.
"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"
"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"
"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"
"Jamu...jamu...! jamune Bu,mbak adik! jamu...jamu...!"
Dengan gigih Sri menawarkan jamu dagangannya pada para warga.
Tak kunjung jua Sri mendapatkan pembeli lagi.
Satu orang ibu hamil yang memborong jamunya.
"Beneran ini mbak? mbak mau borong jamu saya?"tanya Sri yang Sumringah.
"iya, aku beli semuanya buat persediaan." ucap Wanita itu yang mengulurkan uang kepada Sri setelah Sri memindah semua jamunya ke dalam botol yang si sediakan oleh wanita hamil itu.
"Terima kasih ya mbak!" ucap Sri yang kemudian meninggalkan tempat itu.
"Aku telpon mas Karyo saja, buat jemput di tempat tadi!" ucap Sri yang kemudian menelepon Karyo.
^^^📱"Assalamu'alaikum.. Mas Karyo, jemput Sri ke tempat tadi ya!"^^^
📱"Wa'alaikumsalam...Oiya dik Sri! Otewe.."
Karyo menutup ponselnya dan demikian dengan Sri yang juga menutup ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.
__ADS_1
Sri melangkahkan kakinya menuju ke jalan raya dengan jalan lain.
Tak berapa lama Sri sudah sampai di jalan raya. Cukup lama juga Sri menunggu mobil pick up Karyo muncul.
Muncullah sebuah mobil sedan yang di kemudikan oleh duda beranak satu Bima dengan putranya Sakti.
"Pa, itu mbak Jamu!" seru Sakti serya menunjuk ke arah Sri yang duduk di halte seraya memainkan ponselnya.
"Oiya, kita tanya yuk! mungkin butuh tumpangan!" ucap Bima yang menepikan kendaraannya.
"Ayo pa!" ucap Sakti yang melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil, dan Bima juga melakukan hal yang sama.
"Mbak Jamu!" panggil Sakti saat dia berlari menghampiri Sri.
Sementara Bima menutup mobil dan berjalan menghampiri Sri dan Sakti yang sudah berada di samping Sri.
"Eh, pangeran tampan! kamu sama siapa?" sapa Sri seraya bertanya pada Sakti.
"Sama papa mbak!" jawab Sakti seraya duduk di samping Sri.
"Papa?" Sri sedikit terkejut, karena bayangan wajah tampan dari ayah Sakti si pangeran tampan itu.
"Halo apa kabar!" sapa Bima seraya mengulurkan tangannya.
"Ba..baik!" balas Sri yang menoleh ke arah sumber suara.
Wajah tampan seperti yang di bayangkan ya ada di depannya saat ini.
Wajah itu mengingatkannya pada seseorang, tapi dia lupa sang pemilik wajah itu.
Bima merebut ponsel Sri dan mengetik beberapa angka di ponsel itu.
"Eh, tuan!" seru Sri yang terkejut, karena secara tiba-tiba ponselnya berpindah tangan.
"Nama kamu siapa?" tanya Bima seraya mengembalikan ponsel Sri.
"Terima kasih! Buat apa anda ingin tahu nama saya?" tanya Sri penasaran.
"Tentunya ingin mengenalmu lebih jauh mbak Jamu!" jawab Bima yang menatap Sri intens.
"Hmm...hmm...!"
...~Â¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
,
'
__ADS_1