Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Di Tolong Pemuda Tampan


__ADS_3

"Adik mau beli jamu apa?" tanya Sri yang menurunkan bakulnya dan sri mencoba melayani pembeli jamu.


"Mau kamu beras kencur, tapi sebentar menunggu ibu saya sedang mengambil uang." ucap gadis kecil itu yang kemudian masuk ke dalam rumah untuk memanggil ibunya.


"Kamu bisa Sri melayani pembeli kali ini?" tanya Minah yang juga menurunkan bakul jamunya.


"Sri akan mencobanya mbak!" ucap Sri yang kini duduk berlutut dan menunggu ibu dan anak gadis tadi keluar dari rumah.


"Ayo ma..! mbaknya sudah di luar." seru anak kecil tadi yang menarik tangan ibunya.


"Iya,iya sebentar!" ucap si ibu dari anak kecil itu.


"Mau beli jamu dik?" tanya Sri ramah.


"Iya, jamu acem..!" jawab si Adel itu dengan mimik wajah yang membayangkan masamnya buah asam.


"Oh, pakai gelas apa plastik ya?" tanya Sri yang mengambil botol jamu Sinom dan mengguncang-guncangkannya agar jamu yang mengendap bisa tercampur rata.


"Sri, nampaknya kamu lebih mahir dari aku!" bisik Minah yang tertegun dengan gaya jualan Sri.


"Ini karena Sri sering beli jamu di kampung jadi sering lihat, he..he..!" ucap Sri seraya mengulas senyum.


"Mbak di bungkus plastik saja buat putriku jamu Sinom dan kalau saya kami daun pepaya ada?" tanya si ibu gadis kecil itu.


"Oiya Bu" jawab Sri, yang kemudian Sri menuangkan jamu Sinom buat gadis kecil di hadapannya dan setelah itu dia mengambil gelas dan di tuangkannya jamu yang berwarna hijau daun pada gelas di hadapannya.


Setelah penuh, Sri memberikannya pada si ibu muda itu. Dan setelah itu tangan kanannya sudah membawa satu botol jamu Sinom.


Setelah si ibu tadi selesai minum jamu daun pepaya, Sri segera menuangkan jamu Sinom ya pada gelas kosong di tangan si ibu guna untuk menawarkan rasa pahitnya jamu daun pepaya.


"Makasih ya mbak!" ucap si ibu dengan mengulas senyum kepuasan setelah meminum jamu dan mengeluarkan uang lima ribuan pada Sri.


"Sama-sama Bu!" balas Sri yang kemudian memasukkan uang dari si ibu ke dompetnya.


Kemudian Sri dan Minah menggendong bakulnya lagi dan melangkahkan kakinya menuju ke taman, namun sebelumnya di berpamitan pada si ibu dan putrinya yan telah membeli jamunya tadi.


Beberapa menit kemudian ,mereka telah sampai di taman perumahan.


Dan benar saja di sana telah ramai warga perumahan dan sekitarnnya.


"Sri kita bagi tugas, kamu yang di sebelah sana dan aku yang di sini!" ucap Minah dan Sri menurutinya.


Mereka berdua berjualan secara berpencar diantara ramainya pengunjung taman itu.


Bermacam-macam pembali yang mereka layani. Mulai dari anak kecil hingga kakek dan nenek.

__ADS_1


Tanpa di sadari oleh Sri, ada dua orang laki-laki yang terus mengawasinya.


Kedua laki-laki itu yang satu botak dan yang satu berambut gondrong, mereka merupakan preman pasar. Tapi entah kenapa mereka bisa nyasar ke perumahan.


"Tak, kamu lihat gadis geulis penjual jamu itu?" tanya pria berambut gondrong itu pada temannya si botak itu.


"Iya, cantik sekali dia! ayo kita kerjai dia!" seru si botak saat Sri sudah menjual habis jamunya dan dia hendak melangkahkan kakinya untuk menghampiri Minah yang ternyata masih melayani pembeli jamunya.


"Hei nona manis, mau kemana?" tanya pria berambut gondrong yang sedikit menggoda Sri.


"Ma..mau apa kalian?" tanya sri yang sebetulnya sudah tahu maksud kedatangan kedua preman itu.


Kedua preman itu terus merayu dan memepet Sri, gadis itu mencoba menghindar.


"Berikan beberapa uang kamu, atau kam ikut dengan kami!" kata preman itu yang memberi pilihan.


"Aku tak mau dua-duanya!" seru Sri yang berusaha mengelak setiam tangan jahil preman itu menghampiri dagu dan pipinya.


"Tolooooong... tolooooong...!" seru Sri saat ada seorang pemuda yang tak sengaja lewat di samping Sri, yang awalnya dia cuek tak merespon.


Pemuda itu menoleh dan ada perasaan tak tega di hatinya.


"Hai kalian! jangan berbuat kejahatan di komplek ini, atau mau berurusan denganku!" seru pemuda itu yang berdiri di belakang para penjahat-penjahat itu.


"Haaah jangan ikut campur anak. muda!" seru preman gundul yang menoleh ke arah pemuda itu.


"Aku memang sibuk sekarang ini, sinung mengurusi kalian!" seru pemuda itu yang kini dalam posisi siap untuk melakukan perlawanan jika preman-preman itu menyerang.


"Kurang ajar! rasakan ini...!" seru preman gundul, dan kini keduanya mengeroyok pemuda itu.


"Bagh...Bugh....bagh...bugh...!!"


Preman gundul terkena pukulan dari pemuda itu.


"Sialan..dasar kampret..!" umpat preman gondrong dan dia menyerang pemuda itu dengan mengambil belati di saku belakang celananya.


"Oh, main senjata tajam ya!" seru pemuda itu tanpa gentar sedikit pun.


Mereka pun saling baku hantam,


"Bagh...Bugh....bagh... plekk...ugh...!!"


Pemuda itu memukul pergelangan tangan preman gondrong yang membawa belati, dan otomatis belati itu terlepas dari tangan preman gondrong itu.


"Kampret..! jago juga dia!" umpat preman itu dan terus menyerang pemuda itu dengan sekuat tenaganya.

__ADS_1


"Bagh...Bugh....bagh...ugh...!!"


Dan akhirnya dia bertekuk lutut pada pemuda itu.


Pemuda itu memanggil satpam komplek yang kebetulan lewat di sekitar tempatnya berdiri.


"Pak satpam!" panggil pemuda itu.


Dua Satpam yang sedang berkeliling menghampiri pemuda itu.


"Ada apa tuan? tanya salah satu satpam komplek saat sudah ada di hadapan pemuda itu.


"Bawa mereka ke polisi, agar tak mengotori komplek ini!" seru pemuda itu.


"Baik tuan!" jawab satpam yang lainnya.


"Buat laporan kalau mereka menggangu pedagang jamu!" kata pemuda itu lagi.


"Iya tuan" dan lagi satpam itu menjawab.


Tanpa ingin tahu keadaan Sri, pemuda itu meninggalkan tempat kejadian.


Sementara itu Sri yang sejak kedatangan pemuda yang menolongnya itu, kedua matanya tak bisa lepas dari pemuda yang menolongnya itu.


"Eh, siapa dia? cakep banget, mirip Lee min hoo. Wah, bisa kenalan nggak ya?" gumam dalam hati Sri saat melihat pemuda itu mengalahkan dua preman itu.


"Lha kok malah pergi? aku kan belum sempat kenalan, ya paling tidak mengucapkan terima kasih gitu?!" gumam Sri dalam hati yang sedikit kesal.


Setelah pemuda itu pergi, dan para satpam membawa para preman-preman itu ke kantor polisi, Sri melangkahkan kakinya untuk ke tujuan semula, yaitu menemui Minah.


Saat melangkah tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu yang berwarna hitam.


"A..apa ini?" Sri sangat terkejut.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


,


__ADS_2