
Sri masuk ke alam mimpinya, yang dimana dirinya kembali ke masa lalunya.
...ðŸ’ðŸ’ðŸ’ðŸ’...
Tiba - tiba Sri berada di sebuah mobil pick up yang melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.
"Ke tempat biasanya ya?" tanya seorang pemuda yang tak lain adalah Karyo teman Sri sewaktu di rumah jamu Sumilah, Karyo bertanya sembari melirik ke arah Minah.
"Iya mas Karyo, tujuan kita ke perumahan Indah Selalu.Jadi kebiasaan selalu tanya lokasi, padahal dari dulu ya di situ dan di situ!" gerutu Minah dengan pandangan tetap ke depan, melihat jalan raya.
"Marah..!" goda Karyo seraya tertawa kecil dan demikian pula Sri.
Tak berapa lama, mobil pick up yang di tumpangi tiga orang itu kini menepi di dekat sebuah perumahan Elite.
"Mas Karyo tunggu di sini ya, seperti biasa!" kata Minah seraya tersenyum.
"Iya, iya.. aku mau mimpi'in dik Sri saja! soalnya dik Minah-nya orangnya judes! he..he..!" goda Karyo sembari tertawa kecil.
"Biarin wekk...!" balas Minah yang sudah menggendong bakul di punggungnya dan demikian pula Sri yang juga sudah menggendong bakul jamu di punggungnya.
"Ayo Sri, kita jalan menyusuri jalan di gang itu. Nanti jalur itu langsung menuju ke taman. Di taman jam segini biasanya banyak yang berkunjung di sana" jelas Minah sembari terus melangkah.
"Iya mbak!" ucap Sri yang berjalan beriringan dengan Minah.
"Nah perhatikan ya cara aku menjajakan jamunya." kata Minah.
"Iya mbak!" jawab Sri yang kemudian memperhatikan cara Minah menjajakan jamunya.
"Jamu...jamu...jamunya Bu,mbak, adik, Mbah Putri, jamu...jamu...!" seru Minah dengan suara tinggi.
"Jamu..!" seru seseorang yang rumahnya telah terlewati.
"Mbak ada yang beli" seru Sri yang kemudian menepuk bahu Minah.
'Oh iya, dimana?" tanya Minah seraya menoleh ke belakang.
"Itu di sana!' ucap Sri seraya menunjuk ke arah orang yang memanggil mereka.
"Iya Bu kami akan ke sana!' seru Minah yang kemudian bersama Sri kembali melangkahkan kaki menghampiri ibu-ibu yang hendak membeli jamu tadi.
"Beli jamu ya Bu?" tanya Minah sembari tersenyum.
"Iya mbak, jamu yang biasanya ya, kunyit sirih ya!" pesan si ibu.
Minah menuangkan jamu kunyit setengah gelas dan jamu sirihnya yang setengah gelas, lalu Minah memberikannya pada si ibu tadi.
Selama si ibu meminum jamunya, Minah sudah menyiapkan jamu untuk menawar rasa pahitnya yaitu jamu Sinom.
Si ibu telah selesai meminum semua jamunya.
"Berapa mbak?" tanya si Ibu tadi.
__ADS_1
"Tiga ribu Bu!" jawab Minah.
Si ibu itu mengeluarkan uang kertas dua ribu rupiah dan seribu rupiah.
Tiba-tiba ada sepeda motor yang berhenti tepat di depan rumah si ibu tadi.
Dan ketika Minah dan Sri hendak melanjutkan perjalanannya, turunlah dua bocah yang nampak riang sekali.
"Nenek...! saya minta jamu..!"
"Saya juga nek..!"
"Mbak jamunya lagi yang beras kencur ya, buat cucu-cucu saya!' ucap si ibu.
Mau tak mau Minah kembali menurunkan bakul jamunya dan melayani dua pelanggan kecilnya itu.
"Mbak saya mau kamu kunyit asam satu botol air mineral ini ya!" pinta seorang gadis yang menyodorkan botol air mineral ukuran 600ml.
Ternyata gadis tersebut adalah putri si ibu tadi yang habis menjemput dua keponakannya yaitu dua anak kecil tadi.
Minah menuangkannya jamu dari botol jamu kunyit dengan takaran setengah botol dan jamu Sinom atau gula asam untuk yang sisanya.
Dengan perlahan-lahan Minah menuangkannya. Dan tak berapa lama, jamu itu telah penuh dan Minah memberikannya pada gadis tadi.
"Berapa semuanya mbak?" tanya si ibu pada Minah.
Minah pun menghitungnya dan kemudian memberitahukannya pada si ibu.
"Dua ribu di tambah dua ribu lalu di tambah lagi delapan ribu, jadi semuanya dua belas ribu rupiah." jawab Minah sembari tersenyum.
Dan Minah menerimanya dengan suka cita,
"Terima kasih bu," ucap Minah dan kemudian melanjutkan perjalanannya itu ketamanyang berada di tengah perumahan tersebut.
"Mbak Minah masih jauhkan tempatnya?" tanya Sri yang masih melangkahkan kakinya.
"Tidak lama kok, cuma di perempatan itu disana!" ucap Minah seraya menunjuk ke perempatan yang ada di depannya.
Tanpa di duga Sri dan Minah, keduanya di hadang oleh seorang gadis kecil, yang tadinya bersama ibunya hh.
"Berhenti kak! ibu mau beli jamu, kak!" seru gadis kecil itu.
Minah dan Sri menghentikan langkahnya dan keduanya saling pandang kemudian melangkahkan kaki mereka untuk menghampiri gadis itu.
"Adik; Adik mau membeli jamu ya?" tanya Minah dan anak kecil itu mengangguk pelan.
"Adik mau beli jamu apa?" tanya Sri yang menurunkan bakulnya dan sri mencoba melayani pembeli jamu.
"Mau kamu beras kencur, tapi sebentar menunggu ibu saya sedang mengambil uang." ucap gadis kecil itu yang kemudian masuk ke dalam rumah untuk memanggil ibunya.
"Kamu bisa Sri melayani pembeli kali ini?" tanya Minah yang juga menurunkan bakul jamunya.
__ADS_1
"Sri akan mencobanya mbak!" ucap Sri yang kini duduk berlutut dan menunggu ibu dan anak gadis tadi keluar dari rumah.
"Ayo ma..! mbaknya sudah di luar." seru anak kecil tadi yang menarik tangan ibunya.
"Iya,iya sebentar!" ucap si ibu dari anak kecil itu.
"Mau beli jamu dik?" tanya Sri ramah.
"Iya, jamu acem..!" jawab si Adel itu dengan mimik wajah yang membayangkan masamnya buah asam.
"Oh, pakai gelas apa plastik ya?" tanya Sri yang mengambil botol jamu Sinom dan mengguncang-guncangkannya agar jamu yang mengendap bisa tercampur rata.
"Sri, nampaknya kamu lebih mahir dari aku!" bisik Minah yang tertegun dengan gaya jualan Sri.
"Ini karena Sri sering beli jamu di kampung jadi sering lihat, he..he..!" ucap Sri seraya mengulas senyum.
"Mbak di bungkus plastik saja buat putriku jamu Sinom dan kalau saya kami daun pepaya ada?" tanya si ibu gadis kecil itu.
"Oiya Bu" jawab Sri, yang kemudian Sri menuangkan jamu Sinom buat gadis kecil di hadapannya dan setelah itu dia mengambil gelas dan di tuangkannya jamu yang berwarna hijau daun pada gelas di hadapannya.
Setelah penuh, Sri memberikannya pada si ibu muda itu. Dan setelah itu tangan kanannya sudah membawa satu botol jamu Sinom.
Setelah si ibu tadi selesai minum jamu daun pepaya, Sri segera menuangkan jamu Sinom ya pada gelas kosong di tangan si ibu guna untuk menawarkan rasa pahitnya jamu daun pepaya.
"Makasih ya mbak!" ucap si ibu dengan mengulas senyum kepuasan setelah meminum jamu dan mengeluarkan uang lima ribuan pada Sri.
"Sama-sama Bu!" balas Sri yang kemudian memasukkan uang dari si ibu ke dompetnya.
Kemudian Sri dan Minah menggendong bakulnya lagi dan melangkahkan kakinya menuju ke taman, namun sebelumnya di berpamitan pada si ibu dan putrinya yan telah membeli jamunya tadi.
Nah sekarang coba kamu pakai cara aku menjajakan jamunya." kata Minah pada Sri.
"Iya mbak!" jawab Sri yang kemudian mempraktekkan cara Minah menjajakan jamunya.
"Jamu...jamu...jamunya Bu,mbak, adik, Mbah Putri, jamu...jamu...!" seru Sri dengan suara tinggi.
...ðŸ’ðŸ’ðŸ’ðŸ’...
"Jamu...jamu...jamunya Bu,mbak, adik, Mbah Putri, jamu...jamu...!" tanpa sadar Sri mengigau.
"Jamu...jamu..ja...mu!"
...~Â¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
,