
"Iya nyonya, sebaiknya kita turun dari mobil sekarang juga." ucap mang Ujang dan ketiganya pun turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat jual-beli ponsel itu.
Sesampainya di counter hp, mereka disambut dengan ramah oleh penjaga counter handpone. Dan proses pembelian ponsel itu terjadi.
"Mang Ujang, tolong mang Ujang kirimkan nomor-nomor keluarga dan termasuk nomor mas Bima di luar negeri." pinta Sri pada sopirnya untuk mengisi phonebook ponsel Sri.
"Baik nyonya." balas Mang Ujang yang kemudian mengirimkan beberapa nomor penting pada ponsel baru Sri.
Setelah selesai dan Sri membayarnya, Sri, Sakti dan Mang Ujang meninggalkan counter handphon tersebut.
"Mama Ci, telepon papa mama Ci!" pinta Sakti saat berada di dalam mobil.
"Jam segini di luar negeri masih malam mas Sakti!" seru mang Ujang seraya mengemudikan ponselnya.
"Yah, Sakti kan kangen sama papa!" ucap Sakti yang kesal.
"Begini saja, mama Ci kirim chat dulu. Biar nanti kalau papa bangun dari istirahatnya bisa menghubungi kita!" ucap Sri dan dimengerti oleh Sakti.
Sri kemudian mengirim chat pada suaminya Bima, yang saat ini sedang berada di luar negeri.
^^^📩 "Assalamu'alaikum!"^^^
^^^📩 "Mas Bima, ini saya Sri. Istri mas Bima. Mas Bima apa kabarnya disana?"^^^
^^^📩 "Sri dan Sakti saat ini dalam keadaan sehat wal"Afiat, Sri harap mas Bima juga demikian. Sehat tak kurang apa-pun"^^^
^^^📩 "Kalau ada waktu balas chat Sri ya? Aku sangat rindu padamu mas."^^^
Kemudian Sri menutup ponselnya, dan dia menatap ke arah Sakti yang melihat ke arahnya.
"Belum dapat jawaban dari papa kamu Sakti, sudah nanti juga segera dapat balasan!" ucap Sri uang berusaha menenangkan putra tirinya itu.
"Iya ma, Sakti hanya kangen sama Papa." Ucap Sakti yang bersandar di bahu Sri.
Sri mengusap lembut kepala bocah itu, dan perjalanan pun lancar hingga sampai di rumah.
Waktu berjalan sebagaimana mestinya, dan sejauh ini Sri tak menemukan Rafa di dalam rumah.
"Syukurlah kalau mas Rafa tidak ada di rumah seperti ini, tapi aku harus tetap waspada." gumam dalam hati Sri yang sedang menina bobo Sakti di kamarnya.
Setelah Sakti tertidur, Sri melangkahkan kakinya menuju ke jendela kamar Sakti. Dia membuka layar ponsel dengan sesekali melihat ke luar jendela.
"Eh, mas Bima menjawab!" gumam dalam hati Sri Yaang mengukas senyumnya.
Dia kemudian membaca chat dari Suaminya.
📩 "Wa'alaikumsalam..!"
📩 "Wah, handphone baru ya?"
📩 "Nah, gitu dong beli handphone, biar kita bisa saling berkomunikasi. Saling memberi kabar."
📩 "Alhamdulillah kalau kalian baik-baik saja, Mas Bima di sini juga baik-baik saja."
📩 "Mas Bima juga sangat merindukan kalian semuanya."
__ADS_1
📩 "Disini pagi hari, saat ini mas baru bangun tidur."
📩 "Mas Sarapan dulu ya!"
Dan Chat dari Bima selesai sampai disini. Kemudian Sri membalas chat dari suaminya itu.
^^^📩 "Iya mas, jangan lupa berdo'a"^^^
Dan ternyata mendapat respon dari Bima.
📩 "Iya sayang. Kamu jangn lupa makan dan istirahat. Jangan capek-capek, karena kamu sudah berbadan dua."
^^^📩 "Iya mas, Sri akan selalu ingat itu."^^^
📩 "Kamu memang istriku! he...he...!"
^^^📩 "Mas Bima bisa saja. Oiya mas, Sri mau cerita. Tapi mas jangan marah sama Sri ya?"^^^
📩 "Cerita apa sayang?"
^^^📩 "Mas, Rafa dan Talina pulang dan menetap di rumah mama. Sri takut mas!"^^^
📩 "Eh bagus dong ada temannya, trus kamu takutnya kenapa?"
^^^📩 "Mas Rafa sering gangguin Sri, mas! Dia selalu mencari kesempatan kalau tidak ada siapa pun di dekat Sri. Sampai-sampai dia bisa masuk kamar kita dan hendak memaksa Sri. Bahkan Sri Sampai mengancam bunuh diri, jika Rafa tidak pergi dari hadapan Sri. Sri takut mas!"^^^
📩 "Ya Allah, senekat itu kah Rafa pada istriku? Rafa boleh saja benci sama aku, tapi jangan istriku!"
^^^📩 "Sri harus bagaimana mas?"^^^
^^^📩"I...iya mas, Sri pikir sebaiknya begitu, Sri akan mulai berkemas-kemas!"^^^
📩 "Iya, sayang. Ma'afkan mas tidak bisa selalu menjagamu!"
^^^📩 "Tidak apa-apa mas, Sri masih sanggup untuk menjaga diri Sri sendiri!"^^^
📩 "Ya sudah, kamu yang hati-hati ya!"
^^^📩 "Iya mas."^^^
📩 "Sebetulnya mas masih rindu, tapi mas harus berangkat bekerja. Hari ini banyak customer yang akan mas temui."
^^^📩 "Iya mas, mas Bima yang semangat ya! Sri dan Sakti baik-baik saja!"^^^
📩 "Makasih telah jaga Sakti untukku."
^^^📩 "Mas Bima ini apa sih? anak mas Bima kan anak Sri juga!"^^^
📩 "Pokoknya kamulah yang terbaik untuk mas Bima!"
^^^📩 "Mas Bima juga yang terbaik buat Sri."^^^
📩 "Makasih, I love you!"
^^^📩 "I love you too!"^^^
__ADS_1
📩 "Assalamu'alaikum!"
^^^📩 "Wa'alaikumsalam!"^^^
Sri menutup ponselnya dengan mengulas senyumnya, walaupu sedikit kerinduannya yang kini telah terobati. Perempuan itu menghela nafasnya panjang dan kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Istri Bima itu mulai berkemas-kemas memasukkan beberapa pakaian dan juga barang-barang pribadinya ke dalam tas ranselnya.
"Saya rasa tak perlu pakai koper, sedikit saja barang yang aku bawa. Lagi pula di rumah pakaian aku juga banyak!" gumam dalam hati Sri saat telah selesai mengemas pakaiannya.
...****...
Beberapa jam kemudian, waktunya untuk makan malam. Dan semua anggota keluarga berkumpul untuk makan bersama.
Acara makan yang santai karena banyak candaan dan juga cerita lucu yang mereka perbincangkan. Terlebih lagi bila Sakti mulai berceloteh.
Sri tahu kalau Rafa sering memperhatikan dirinya. Sri berusaha untuk tidak melihat maupun memperhatikan Rafa.
Hingga acara makan malam telah selesai dan Sri mulai mengutarakan isi hatinya untuk berpamitan.
"Mohon ma'af ya jika Sri mendadak! Sri mau pamit karena besok Sri mau pulang kampung." ucap Sri yang tiba-tiba dan membuat uang mendengarkannya pun terkejut. Terutama Rafa dan juga Sakti.
"Mama Ci, mama Ci kenapa mau pulang kampung?" tanya Sakti yang semula sumringah berubah menjadi sendu.
Demikian pula dengan Rafa, yang tak mengira akan secepat itu Sri pulang kampung dan meninggalkan mereka.
"Mama Ci harus bantu kakek dan nenek di kampung, jadi Mas Sakti di sini sampai selesai sekolahnya ya!" jawab Sri yang mengulas senyumnya.
"Tidak mau, mama Ci jangan pergi! Hua.....!" tangis Sakti pecah dan Sri merusaha mendiamkannya.
"Hua,...!" sakti terus menangis.
"Ini pasti karena Om Rafa ya?" ucap ceplos Sakti yang membuat semuanya terkejut.
"Apa? om Rafa ngapain Sakti?" tanya Marlina yang penasaran.
Sri berusaha membuat Sakti untuk diam. Tapi Sakti terus berbicara.
"Ka...kalian jangan salah mengartikan, Maksud Sakti karena kemarin sebenarnya aku mau menggoda Sakti, eh ternyata mengenai Sri!' ucap Rafa yang berbohong untuk menutupi apa yang dia lakukan tersebut.
Dan akhirnya suasana yang tadinya tegang, kini santai kembali dan acara bercengkerama mereka berpindah ke ruang keluarga.
Malam semakin larut, mereka satu-persatu berangkat ke peraduannya. Termasuk Sri dan Sakti yang tidur di kamar Bima malam ini.
...~Â¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untu k novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1