
"Daaa... mama Ci, Sakti akan selalu merindukan mama Ci!" balas Sakti seraya kiss by ke arah Sri.
Sri membalas Kiss by dari Sakti sampai bocah itu masuk ke kelasnya.
Setelah keadaan sepi karena para siswa mulai dengan proses belajarnya, Sri mulai berpamitan dengan para ibu-ibu dan belum sempat bertemu dengan Minah. Sri sudah naik ke mobil dan mang Ujang membawa mobil tersebut kembali menyusuri jalan raya yang mengarah ke terminal.
"Brakk...!"
Belum sampai di terminal, tiba-tiba mobil yang dikendarai mang Ujang menabrak seorang ibu-ibu dengan membawa gerobak dorong yang menjual macam-macam jamu.
"Aduh bagaimana ini nyonya?" tanya mang Ujang yang ketakutan.
"Bagaimana ya Mang? coba kita minta damai dulu!" ucap Sri yang kemudian keluar dari mobil dan menghampiri ibu-ibu yang ketabrak oleh mang Ujang tadi.
"Ma'af ibu, kami tidak sengaja. Apakah ada yang terluka?" tanya Sri dengan sopan.
"Terluka? tentu saja terluka! lihatlah kalau aku sakit begini, siapa yang akan menghidupi keluargaku?" tanya ibu-ibu yang tertabrak tadi.
"Ibu, ini ada uang sebagai uang damai. Ibu bisa gunakan uang ini buat berobat dan juga memperbaiki gerobaknya!" ucap Sri sembari mengulurkan sejumlah uang untuk ibu tersebut.
"Baiklah akan saya terima, tapi saya juga mau anda bekerja dengan saya sampai suami saya pulang dari rumah sakit!" seru ibu itu pada Sri.
"Suami ibu ada dirumah sakit?" tanya Sri yang timbul rasa ibanya.
"Iya, dan saya tidak bisa merawat suami saya jika saya jualan. Tapi kalau tidak jualan, mana bisa saya bayar rumah sakit nantinya." ucap ibu itu seraya meneteskan air matanya.
"Ibu, bisa tunjukan di rumah sakit mana suami ibu di rawat. Dan sekalian ibu periksa keadaan kaki ibu!" ucap mang Ujang yang ikut dalam pembicaraan itu.
"Oh gitu ya? boleh-boleh, tapi gerobaknya bagaimana?" tanya ibu itu yang berusaha bangkit dari duduknya.
"Titipkan pada saya, saya ketua RT disini. Dan profesi saya tukang reparasi gerobak dan lainnya, jadi nanti sekalian saya perbaiki gerobak ibu." ucap seorang bapak-bapak yang ikut mengerubutin kejadian kecelakaan tersebut.
"Wah kebetulan, kalau begitu saya minta tolong nitip sekalian perbaiki gerobak ini ya pak." ucap Sri seraya menatap bapak-bapak itu.
"Iya, ini tugas saya. Dan rumah saya ada di sebelah sana!" balas bapak RT itu seraya menunjuk ke arah rumah yang tertera papan ketua RT tersebut.
"Baiklah, kami percaya dengan bapak. Sekarang kami harus ke rumah sakit untuk berobat sekalian menjenguk suami ibu ini." ucap Sri seraya membantu si ibu itu masuk ke mobil.
Setelah ibu itu masuk ke mobil, Sri juga ikut masuk dan demikian juga dengan mang Ujang yang juga masuk ke mobil di bagian kemudi.
__ADS_1
Sementara Bapak RT itu membereskan botol-botol kosong jamu yang telah habis terjual itu. Kemudian bapak RT itu membawa gerobak dorong itu ke rumahnya.
Sedangkan mobil yang sudah ditumpangi Sri, mang Ujang dan si ibu yang jadi korban kecelakaan itu melaju ke arah rumah sakit.
"Kalau boleh saya tahu, nama ibu siapa?" tanya Sri yang penasaran.
"Nama saya Karti, sedangkan nama suami saya bernama Fahrul. Kalau mbaknya namanya siapa?" jawab sekaligus tanya ibu yang bernama Karti itu.
"Saya Sri Sutini, asli dari Solo. Rencananya tadi saya mau ke terminal untuk pulang kampung." jawab Sri yang bicara sesungguhnya.
"Solo? Solonya dimana?' tanya Bu Karti itu pada Sri.
"Tepatnya antara Solo dan Wonogiri sih Bu!" seru Sri sembari mengulas senyumnya.
"Wah, sepertinya kita sedaerah! ibu dari kota Nguter!" ucap Ibu Karti dan obrolan mereka berlangsung dan mereka menjadi akrab karena mereka yang sedaerah.
Dan tak berapa lama mereka telah sampai di halaman rumah sakit, mang Ujang pun memarkirkan mobil di tempat parkir mobil.
Setelah mobil terparkir, mereka segera menuju ke ruang instalasi gawat darurat guna mengobati kondisi ibu Karti.
"Nyonya, ini waktunya mas Sakti pulang. Kalau saya tinggal bagaimana dengan nyonya?" tanya mang Ujang yang khawatir.
"Jemput Sakti mang, aku tidak apa-apa. Kalau saya nanti perlu bantuan bisa hubungi mang Ujang. Jangan sampai sakti menunggu lama." jawab Sri saat menunggu hasil pemeriksaan dari kondisi ibu Karti.
"Wa'aikumsalam, iya mang! mang Ujang juga yang hati-hati dalam membawa mobilnya." balas Sri sembari mengulas senyumnya.
"Iya nyonya!'' ucap mang Ujang yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Sri.
Sementara Sri masih menunggu hasil pemeriksaan dari ibu Karti.
Tak berapa lama dokter yang memeriksa Ibu Karti memanggil Sri dan menjelaskan bahwa kondisi dari Ibu Karti, tidak mengalami cidera yang serius.
"Dari hasil pemeriksaan kami, kalau pasien tidak mengalami cidera yang serius. Dan ini resep untuk pereda nyeri dan obat luka untuk pasien!" ucap dokter itu yang menyerahkan secarik kertas resep obat pada Sri.
Sri menerima kertas resep itu dan kemudian bersama Ibu Karti melangkahkan kaki menuju ke apotik rumah sakit untuk menebus obat yang diperuntukkan pada ibu Karti
Setelah selesai di apotik, keduanya melangkahkan kaki menuju ke ruangan dimana bapak Fahrul dirawat.
Di ruangan rawat kelas tiga, keduanya masuk dan mendapati satu ruangan untuk lima orang.
__ADS_1
"Nah itu, suami saya nak Sri!" seru ibu Karti yang tergopoh-gopoh menghampiri seorang laki-laki paruh baya, yang terbaring di atas tempat tidur.
"Ibu, ibu sama siapa?" tanya laki-laki yang terbaring lemah itu.
"Ini nak Sri, tadi mobilnya menabrak ibu dan gerobak ibu." jawab Ibu Karti yang memperkenalkan Sri pada suaminya.
Sri mendekati suami ibu Karti dan mereka saling membicarakan tentang penyakit dan juga keseharian mereka.
Hari sudah beranjak sore, Sri dan Ibu Karti meninggalkan rumah sakit dan mereka naik kendaraan umum. Untuk menuju ke rumah kontrakan ibu Karti.
Tak berapa lama mereka sampai di depan rumah pak RT yang tadi oleh Sri gerobak dorong ibu Karti dititipkan di sana.
Dan benar saja gerobak dorong itu sudah diperbaiki oleh bapak RT tersebut.
"Terima kasih pak, gerobaknya sudah bisa buat jualan lagi!" ucap Sri sembari melihat-lihat gerobak tersebut.
"Iya, Alhamdulillah punya sedikit ilmu yang bisa dimanfaatkan!" ucap bapak RT tersebut sambil mengulas senyumnya.
"Bapak bisa saja, ini rejeki buat ilmu bapak!" ucap Sri yang memberikan beberapa lembar uang pada pak RT tersebut.
"Wah ini kebanyakan Bu!" seru bapak RT itu yang hendak mengembalikan beberapa lembar uang pada Sri.
"Sudah tidak apa-apa pak, saya Ikhlas kok!" ucap Sri dengan mengulas senyumnya.
"Terima saja, rejeki pak!" seru Bu Karti yang juga mengulas senyumnya.
"Kalau begitu kami pergi pak, Assalamu'alaikum!" ucap pamit Sri.
"Wa'alaikumsalam!" jawab pak Rt. Kemudian Sri dan Bu Karti mendorong gerobak dorong itu meninggalkan rumah pak RT.
Langkah mereka perlahan-lahan mendekati rumah kontrakan Bu Karti dan bapak Fahrul yang terletak dikawasan perkampungan padat penduduk.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untu k novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...