
"Ada apa Sri?"tanya Rafa penasaran.
"Pokoknya Sri nggak mau foto seperti di foto itu!" seru Sri kesal.
"Apa sih Sri?"Rafa yang penasaran dan gemas akan tingkah Sri.
"Mas Rafa, kalau mas Rafa pernah memfoto kayak begitu, berarti mas Rafa pernah lihat bagian sensitif perempuan?" tanya Sri dengan polosnya.
"He..he..!"
Rafa terkekeh melihat keluguan gadis di depannya itu.
"Sri, kamu begitu polosnya. Aku semakin tertarik dengan kamu. Aku mau bersaing dengan kak Bima" gumam dalam hati Rafa yang terus memandang wajah Sri dalam-dalam.
"Mas Rafa, kenapa kamu memandangku seperti itu? kamu membuat jantungku tak karuan!" batin Sri yang saat ini menundukkan kepalanya.
Rafa yang semula duduk di kursi, kemudian bangkit dan duduk di meja tepat di depan Sri.
Tangan kanannya meraih dagu gadis di depannya itu dan dia mengangkat wajah Sri, dan terlihat jelas wajah Sri yang memerah seperti kepiting rebus.
"Mas Rafa, kenapa seperti ini sih? Sri jadi malu" ucap Sri dalam hati.
"Kamu itu ya, semakin buat aku gemas saja!" ucap Rafa tanpa tedeng aling-aling.
"Sadar Sri, mas Rafa banyak di kelilingi cewek cantik. Jangan sampai kamu tergoda dengan dia!" kata dalam hati Sri.
"Hm...hm..! ma'af mas, bisakah anda kembali duduk di tempat anda?" pinta Sri yang berusaha menguasai emosinya.
"Aku mau melihat kamu lebih dekat! heran saja kenapa kakakku suka sama kamu!' ucap Rafa seraya mengulas senyum pada Sri.
"Apa maksud mas Rafa?" tanya Sri yang terkejut dengan ucapan Rafa.
"Sudahlah lupakan saja!"ucap Rafa yang kemudian berdiri karena melihat ada seseorang yang membuka pintu ruangannya.
"Makan siang sudah datang!" seru seseorang yang masuk itu yang tak lain adalah Dafi, asisten Rafa yang tadi disuruh Rafa untuk membelikan makan siang untuk Rafa dan Sri.
"Menu apa makan siang kita Dafi?" tanya Rafa yang sudah duduk di tempatnya seperti semula.
"Adanya Ayam kremes mas! Dafi beli tiga, satunya buat Dafi" jawab Dafi sambil membongkar kotak nasi dari kantung plastiknya.
"Hei, kamu jangan ganggu kami ya! makan saja di ruangan kamu sendiri!" seru Rafa yang membuka nasi boxnya.
"Iya-iya mas Rafa, aku juga nggak mau jadi orang ketiga dari kalian! he..he..!" ucap Dafi seraya mengangkat nasi boxnya yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar.
"Nah, begitu dong! sebagai asisten ngertiin atasannya!" seru Rafa.
__ADS_1
"Iya-iya bos Rafa yang sok ganteng!" ucap Dafi sebelum menutup pintu ruangan.
Sri dan Rafa tersenyum melihat tingkah Dafi yang seperti itu.
"Ayo Sri dimakan nasinya!" ucap Rafa sembari menyendok nasinya.
"Iya mas" ucap Sri, yang sebelum makan dia berdoa terlebih dahulu.
Mereka berdua kemudian menghabiskan makanan mereka.
Rafa kemudian mengambil dua botol air mineral yang ada di lemari es yang ada di ruangannya.
"Minum Sri!" ucap Rafa saat memberikan satu botol air mineral tersebut untuk Sri.
"Makasih mas!" ucap Sri yang memang dia sedikit tersedak.
"Sama-sama!" ucap Rafa yang juga membuka botol air mineralnya.
"Sri, aku mau buat nama artis kamu!" kata Rafa saat selesai makan.
"Nama artis?" tanya Sri penasaran.
"Iya, nama tenar begitu! kan nggak banget masak model kok namanya Sri!" jawab Rafa seraya mengulas senyum.
"Terus nama Sri apa mas?" tanya Sri penasaran.
"Cherry? boleh juga mas, lucu jadi ingat buah cerry! he..he..!" ucap Sri. sembari tersenyum.
"Good thoughts bear good fruit, bad thoughts bear bad fruit." kata Rafa yang mengingat sebuah kata mutiara dari James Allen.
"Pa artinya mas, Sri nggak tahu artinya?" tanya Sri yang memang tidak tahu.
"Artinya, Pikiran yang baik menghasilkan buah yang bagus, pikiran yang buruk menghasilkan buah yang buruk.Jadi Sri, Mas harap kelak jika sudah tenar tetaplah seperti Sri saat ini. Sri yang lugu,polos dan juga baik hati. Agar Cherry tetap bagus dan manis!" jelas Rafa yang membuat Sri berbinar-binar.
"In syaa Allah mas, Cherry tetaplah Sri!" ucap Sri yang sembari mengulas senyumnya.
"Oke, ayo bersiap ke ruang. pemotretan!" ajak Rafa yang kemudian bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Sri.
Setelah membuka pintu Rafa memang sengaja menggandeng Sri, mereka berjalan melewati ruang tunggu dimana empat model cantik masih menunggu gilirannya di panggil Rafa
Keempat model itu seakan tak percaya jika Rafa menggandeng Sri.
"Apa benar yang aku lihat ini?" tanya Chika yang tak percaya yang dilihatnya.
"Benar, gadis desa itu di gandeng sama mas Rafa!" jawab Hera dan keempat model itu mendadak mengambil kipas tangannya yang ada di tas masing-masing.
__ADS_1
"Apa Air Conditionernya kurang dingin, kok kalian masih pakai kipas tangan?" tanya Dafi yang sebetulnya hanya untuk menggoda para modelnya itu.
"Iya kurang pol ACnya!" seru Hera kesal.
"Ha..ha..! jangan suka marah-marah, kalau cepat tua maka nggak akan di pakai sama mas Rafa!" goda Dafi yang kemudian melangkahkan kaki mengikuti Rafa dan Sri yang sudah berada di ruang foto.
Sri sedang berganti pakaian dan saat ini sedang merias wajahnya yang di bantu oleh asisten make up Rafa.
Sementara itu Rafa sibuk dengan kameranya
Dafi yang baru saja tiba segera menyiapkan latar dan juga lampu-lampu pencahayaannya.
"Sis Cherry, anda beda sekali lho!" ucap asisten make Up Rafa yabg terkagum akan hasil karyanya memake Up Sri, dan yang sebelumnya sudah di beri tahu oleh Rafa tentang nama tenar Sri.
"Makasih, inikan hasil karya anda mabuk!" ucap Sri yang mengulas senyum manisnya.
"Ah, mbak Cherry ini merendah. Hasil make Up saya tidak akan keluar jika yang di make up ini tidak memiliki inter beauty yang dominan!" seru asisi
ten make Up Rafa itu yang sudah selesai dan mempersilahkan Sri untuk melangkahkahkan kakinya menuju ke ruang foto.
"Cherry, kau kah itu?"tanya Rafa yang terkejut sekali saat melihat Sri yang saat ini sudah berbeda dari sebelumnya.
"Iya mas Rafa, ini dia si Cherry! " ucap asisten make Up sambil membenarkan blush on di rahang pipi kanan Sri.
"Kerja bagus Orin!" puji Rafa pada asisten make up nya yang Rafa panggil Orin tadi
"Makasih mas Rafa! tumben muji-muji!" kata Orin dengan lirih.
"Apa mau aku marah-marah lagi!" seru Rafa dengan serius.
"He..he..! nggak mas dah cakepan nggak marah begini!" ucap Orin sembari mengulas senyumnya.
Sri dan Dafi yang melihat itu ikut tertawa.
"Mbak Orin, memangnya mas Rafa suka marah-marah ya?" tanya Sri yang penasaran.
"Iya sis Cherry, dia kan terkenal bos jutek dan dingin!" ucap Orin sembari mengulas senyumnya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...