
"Mbak Orin, memangnya mas Rafa suka marah-marah ya?" tanya Sri yang penasaran.
"Iya sis Cherry, dia kan terkenal bos jutek dan dingin!" ucap Orin sembari mengulas senyumnya.
Rafa menatap wajah Orin, dan Orin tersenyum seraya membentuk huruf V pada jarinya.
"Cherry ayo dimulai ambil gambarnya, lihat di luar sudah pada antri" ucap Rafa yang mengingatkan.
Sri atau Cherry melangkahkan kakinya menuju ke depan kamera dengan pencahayaan yang sudah diatur oleh Dafi.
Kemudian Cherry bergaya seperti yang diinginkan oleh Rafa, dan terkadang Rafa mendekat pada Sri hanya sekedar untuk mengkoreksi gaya Cherry.
Dan saat kedua mata beradu, nampak ada gejolak di hati mereka. Namun mereka masih malu mengakuinya.
"Ingat Sri, mas Rafa selalu dikelilingi gadis cantik!" ucap dalam hati Sri.
"Rafa, serius kamu jangan tertarik sama gadis ini. Kak Bima menyukainya Rafa, Ingat itu!' Rafa yang membatin.
"Hm..hmm...hmm..!" sampai kapan kalian saling bertatap muka seperti itu!" seru Dafi yang ada di samping Rafa bersama Orin.
"Sampai-sampai tak menyadari orang yang disampingnya!" seru Orin yang melipat tangannya di perutnya.
"Eh, ma'af! Ayo mulai lagi pemotretannya.!" seru Ragmfa yang beranjak kembali ke belakang kameranya.
Setelah beberapa kali pengambilan gambar, akhirnya selesai juga acara pemotretan Cherry.
"Kamu tunggu di ruang tunggu dulu ya Cherry, Aku mau melanjutkan memotret yang lainnya!" ucap Rafa.
"Iya mas!" jawab Cherry yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke ruang ganti.
Setelah keluar dari ruang ganti, ternyata sudah ada model- model cantik yang tadi di ruang tunggu.
Mereka sudah profesional, dan tanpa harus di koreksi lagi oleh Rafa.
"Aku sedikit minder bila melihat mereka, tapi sudahlah mas Rafa menyuruhku ke ruang tunggu." gumam dalam hati Sri yang kemudian melangkahkan kakinya ke ruang tunggu.
Cukup lama Sri menunggu Rafa di ruang tunggu.
"Hoahahahem...!" Sri menguap, rasa kantuknya tak tertahankan lagi.
"Tidur saja dulu, mungkin masih lama lagi!" ucap dalam hati Sri.
Sri pun tertidur dengan memakai tiga kursi yang di jadikannya alas untuk tidur.
Tak berapa lama para model itu keluar dengan canda dan tawa mereka.
Saat mereka lewat dan tahu Sri yang tertidur di kursi ruang tunggu.
"Eh, lihat tuh si muka udik. ketiduran dia! ha..ha.. !" bisik Hera pada yang lainnya.
"Eh..eh .kerjain yuk!" usul Chika semangat.
__ADS_1
"Yuk..yuk...!" ucap yang lainnya semangat.
Mereka mengeluarkan spidol dan mulai membuat hasil karya mereka di wajah Sri.
Sri yang kecapekkan tak merasakan hal itu. Dia tetap pulas dengan tidurnya.
"Sudah yuk, kita tinggalin dia!" ucap Hera sambil tertawa yang ditutupi.
"Yuk..Ayuk, sebelum ketahuan masa Rafa dan mas Dafi!" bisik yang lainnya.
"Benar juga, ayo kita pergi dari sini!" seru Chika dan mereka pun meninggalkan Sri dengan cemongan di wajah Sri.
Beberapa saat kemudian Sri atau Cherry terbangun dari tidurnya.
"Mas Rafa kenapa belum keluar dari ruang pemotretannya ya?" tanya dalam hati Cherry yang kemudian memposisikan dirinya untuk duduk.l
Dan akhirnya Rafa keluar dari ruang pemotretan bersama Dafi dan Orin.
"Cherry..!" panggil Rafa yang terkejut dan seketika tertawa, demikian pula dengan Dafi dan Orin saat melihat wajah Sri.
"A..ada apa sih? kenapa kalian tertawa? memangnya ada yang lucu?" tanya Sri yang penasaran.
"Cher, coba kamu lihat!" ucap Orin yang kemudian memberika bedak yang terdapat cerminnya pada Sri.
Sri kemudian menerima bedak itu dan membukanya.
Betapa terkejutnya dia, melihat wajahnya yang penuh dengan coretan di wajahnya.
"Ayo kita bersihkan di kamar mandi. " ajak Orin dan Sri mengangguk mengiyakan.
Kedua gadis itu melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi.
Dafi kemudian mengotak-atik ponselnya dan membuka Cctv yang ada di Studio Rafa itu.
"Rupanya ke empat model tadi yang usil sama Sri!" ucap Dafi yang memperlihatkan hasil Cctvnya pada Rafa.
"Oh, rupanya mereka kurang kerjaan ya!" ucap Rafa yang memperhatikan video di ponsel Dafi.
"Nampaknya kita harus memberi mereka sibuk ya mas Rafa?" ucap Dafi dan Rafa mengiyakannya.
Keduanya pun mengatur rencana untuk memberi pelajaran pada ke empat model itu.
sementara itu Sri dan Orin sibuk membersihkan coretan-coretan di wajah Sri.
"Siapa sih yang usil sama kamu Cher?" tanya Orin yang mengeluarkan sabun mukanya untuk Sri.
"Aku juga ndak tahu mbak!" ucap Sri sedikit medhok jawanya sambil menerima sabun muka dari Orin.
Sri kemudian memakainya, dengan oerlahan-lahan mengusapkannya di wajahnya.
"Kurang kerjaan banget tuh orang! coba saja wajah mereka di buat begini? apa mereka mau!" gerutu Orin walaupun tak mengalaminya, namun dia merasa kesal karena perbuatan yang tak menyenangkan itu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Sri telah selesai membersihkan wajahnya.
"Ya Allah sampai memerah wajah kamu Cher!" ucap Orin yang memperhatikan secara detail wajah Sri.
"Iya, mungkin karena terlalu berlebihan pakai sabun mukanya mbak!" ucap Sri yang memperhatikan wajahnya pada kaca di wastafel kamar mandi.
"Kamu bawa krim wajah kamu kan?" ucap Orin yang memberi solusi pada Sri dengan wajahnya
"Bawa mbak!" ucap Sri yang kemudian membuka tasnya.
Sri mengeluarkan krim wajahnya dan menunjukan pada Orin.
"Kamu pakai tipis-tipis saja!" ucap Orin yang memberi saran pada Sri.
Sri kemudian mengikuti saran dari Orin, dengan memakai krim wajahnya secara tipis-tipis ke wajahnya.
"Selesai juga, ayo kita kembali ke ruang tunggu!" ajak Orin.
"Iya mbak!" jawab Sri dan keduanya melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke ruang tunggu dimana Rafa dan Dafi berada.
"Maaf ya, lama menunggu kami?" ucap Orin saat sudah sampai di hadapan Rafa dan Dafi.
"Ya lumayanlah, ayo kita cari makan dulu!" ucap Dafi yang merasakan perutnya yang keroncongan.
"Iya, setelah itu aku akan antar Sri pulang!" ucap Rafa yang kemudian menggandeng Sri.
Dafi dan Orin yang melihatnya saling pandang dan tersenyum.
"Hmm...hmm.. yang erat yang menggandengnya, awas nanti diambil orang!" goda Dafi saat ke empat orang itu melangkahkan kaki menuju ke pintu keluar studio.
"Yang di belakang jangan syirik ya!" balas Rafa yang memandang Sri dengan mengulas senyumnya dan menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan wajahnya yang tadi merah karena terlalu lama mencuci mukanya dengan sabun muka, kini merah karena tersipu oleh ucapan dan perilaku Rafa.
Mereka sampai didepan pintu studio Rafa.
Setelah mengunci pintu, mereka menuju ke mobil mereka masing-masing.
Rafa dan Sri satu mobil di mobil Rafa, sedangkan Dafi dan Orin satu mobil di mobil Dafi.
Dan kedua mobil itu meluncur menuju restoran langganan Rafa.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1