Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Menemui Suami dan Mertua


__ADS_3

"Sakti, Ma'afkan mama Ci!" gumam Sri yang merasa bersalah meninggalkan Sakti. Sri menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya secara pelan-pelan.


Sri dan Mbok Ni tiba di depan sebuah ruang rawat inap darurat. Dan keduanya melihat Bima yang sedang menunggui ibunya yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit itu dari balik pintu yang ada jendela kacanya. Sehingga Sri dan mbok Ni bisa melihat orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Nyonya, sebaiknya nyonya masuk ke ruangan sekarang juga. Saya tak sanggup melihat mas Bima yang tampak sayu begitu!" ucap Mbok Ni yang sejak kecil merawat Bima itu seperti putranya sendiri, serasa tak kuat menahan air matanya yang jatuh di kedua pipinya itu.


"Iya mbok Ni, saya akan masuk sekarang juga!" ucap Sri yang sebenarnya juga merasakan sesak di dadanya, tak sanggup melihat kesedihan suaminya itu.


Namun rasa rindu dan ingin menghibur suamilah yang menguatkan hati perempuan yang sedang hamil itu.


Sri melangkahkan kakinya masuk ke ruang rawat inap gawat darurat itu. Setelah membuka pintu, Sri berjalan menghampiri suaminya yang memegang jari tangan ibunya.


Istri Bima memegang bahu suaminya perlahan, dan seketika Bima terkejut dan menoleh kearah Sri.


"Istriku!" panggil Bima yang seakan tak percaya kalau yang ada dihadapannya itu Sri. Bima kemudian bangkit dan menubah posisinya menghadap ke arah Sri.


"Suamiku!" balas Sri yang memeluk Bima dengan eratnya dan tumpahlah air mata Sri dan juga Bima.


"Sri, apa kabarmu sayang?" tanya Bima yang mencium kening dan juga kedua pipi istrinya.


"Mas, mama kenapa?" tanya Sri yang penasaran.


"Sebaiknya kita bicara diluar saja!" jawab Bima sembari merangkul istrinya untuk berjalan menuju ke pintu ruangan tersebut.


"Oh iya mas." ucap Sri yang amenurut saja. Tanpa sengaja Bima melihat perut istrinya yang sudah membesar.


Bima mengusap perut Sri dengan lembut dan Sri tersenyum karena baru pertama kali perutnya diusap oleh suaminya.


"Apakah sudah waktunya lahir, sayang?" tanya Bima yang penasaran.


"Masih jalan tujuh mas, tadinya saya mau pulang ke kampung. Nggak jadi pulang karena Sri mendengar kalau Sakti sakit." jawab Sri yang sudah keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke kursi yang berjajar, dimana mbok Ni sedang duduk dan kemudian bangkit karena melihat kedua majikannya keluar dari ruang rawat gawat darurat itu.


"Tuan, nyonya!" panggil mbok Ni pada saat Bima dan Sri menghampiri mbok Ni.


"Mbok Ni, tolong jaga mama ya! kami mau makan di kantin rumah sakit sebentar." ucap Bima yang kini mulai merasakan selera makannya, setelah beberapa hari ini dia tak berselera makan.


"I....iya tuan, jangan khawatir. Lagi pula tuan kan jarang makan yang saya lihat!" sahut mbok Ni sembari tersenyum saat melihat ada wajah berseri di raut wajah Bima.


"Makasih ya mbok Ni, apa mbok Ni mau nitip? biar kami belikan sekalian?" ucap dan tanya Sri yang membalas senyum Mbok Ni.

__ADS_1


"Ah nyonya kalau ditawarin sih yan mau saja! he...he...!" balas Mbok Ni sembari tertawa kecil.


"Ini serius mbok Ni, mbok Ni mau makan apa?" tanya Bima yang menambahi.


"Pesan dua nasi bungkus dan dua teh manis Tuan dan nyonya!" ucap Mbok Ni dengan semangat.


"Kok dua? satunya buat siapa?" tanya Bima yang merasa heran.


"Mang Ujang tuan, mang Ujang sekarang ini sedang menunggui mas Sakti!" jawab Mbok Ni.


"Oh, baiklah. Kami tinggal ya mbok!' ucap Bima dan Sri yang hampir bersamaan.


"Iya tuan dan nyonya!" jawab Mbok Ni yang kemudian kembali duduk di kursi ruang tunggu dimana sebelumnya dirinya duduk.


Sementara itu Bima menggandeng Sri melangkahkan kaki menyusuri lorong rumah sakit, sembari bercerita.


"Sri, ma'af jika mas tidak memberi kabar sebelumnya pada kamu perihal kedatangan mas Bima ini." ucap Bisma yang sesekali menatap ke arah istrinya.


"Ah, tidak apa-apa mas. Sri juga mengerti." ucap Sri yang juga sesekali menatap kearah Sri.


"Niat mas pulang mau memberi kejutan pada kamu, tapi emosi mas mengalahkan semuanya."ucap Bima yang menarik nafasnya panjang dan menghempaskannya secara pelan-pelan.


"Pikiran mas kalut karena memikirkan kamu, belum lagi Sakti yang berada di rumah sakit. Di tambah mas bertemu Rafa di rumah!" jelas Bima yang berhenti dan menatap ke arah Sri.


"Mas bertemu mas Rafa? apa kalian bertengkar?" tanya Sri yang penasaran.


"Iya, kami bertengkar hebat! dan membuat mama yang bangun dari tidurnya, mendadak shock dan pingsan sampai sekarang!" ucap Bima yang mengepalkan telapak tangannya.


"Apa yang kalian ributkan mas?" tanya Sri yang penasaran.


"Kemarin waktu mendengar kabar kalau Sakti berada di rumah sakit, aku duduk di sofa untuk melepaskan rasa capek dan kekhawatiran ku sambil mengusap kepalaku dengan kasar. Tiba-tiba saja Rafa muncul dan berdiri di hadapanku dengan berkacak pinggang" ucap Bima seraya menatap kearah Sri.


"Mas Rafa begitu padamu mas?" tanya sri yang hampir tak percaya dengan ucapan Bima.


"Iya dan ceritanya begini....!" ucap Bima yang kemudian mulai bercerita seraya membayangkan apa yang terjadi kemarin.


🗓️Flashback on


"Mas Bima! Lancang sekali mas Bima mengambil Sri dariku!" seru seorang laki-laki yang berdiri dihadapan, dengan berkacak pinggang. Orang itu yang tak lain adalah Rafa.

__ADS_1


"Apa yang kamu bilang? mengambil Sri dari kamu?" tanya Bima yang kemudian bangkit dari duduknya.


"Iya, sri itu pacarku, kekasihku!" jawab rafa dengan sambil berseru.


"Pacar? Kekasihmu yang telah kamu buang. Kamu tega campakkan dia yang sebelumnya kamu telah berbuat mesum padanya!" seru Bima dengan suara keras yang membuat Marlina yang tadinya sudah tertidur, dan kini. terbangun karena merasa terganggu denga suara keras yang sesautandari kedua putranya yang satu ayah kandung tapi beda ibu itu.


"Kalau saja aku tak memenuhi wasiat papa, aku yang akan menikahi Sri! Aku minta mas Bima ceraikan Sri, agar kami bisa bersatu kembali! Kami saling mencintai mas Bima!" seru Rafa dengan suara keras.


"Mencintai? Rasakan ini pembalasan Sri untukmu!" seru Bima yang bersiap memberikan bogem mentah pada adik tirinya itu.


"Dugh...!" sebuah pukulan dari kepalan tangan kanan Bima yang melayang di pipi kiri Rafa.


"Dugh....!" kembali pukulan dari kepalan tangan kiri Bima yang melayang di pipi kanan Rafa.


"Bugh...! bugh....!" kemudian kepalan tangan kanan Bima mendarat di perut Rafa.


"Aaaugh....!" Rafa mengerang kesakitan yang terhuyun-huyun yang tangan kirinya memegang perutnya dan tangan kanannya memegang pipi kanannya.


Darah segar di sudut bibir suami Talina itu.


"Setelah kamu menyakiti dan membuat Sri hamil, kemudian meninggalkannya begitu saja! masih berani kamu mau balikan padanya!" seru Bima dengan terengah-engah yang membuat Marlina yang mendengarkan pertengkaran keduan putranya itu sangat terkejut.


"A....apa yang kamu bilang Bima?" tanya Marlina yang tak percaya dengan ucapan Bima.


"Apa? Sri hamil anakku?" tanya Rafa yang tubuhnya gemetaran dan terduduk dengan lemas di lantai.


Sementara itu Marlina tiba-tiba ambruk, dan Bima yang melihat hal itu bergegas menangkap dan memposisikan tubuh Mamanya dengan benar.


...~¥~...


...Mohon para Readers untuk memberi like/komvotenyaentar/favorite/rate 5/gift maupun untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2