Mbak Jamu Naik Level

Mbak Jamu Naik Level
Di Ruang Keluarga


__ADS_3

"Mas juga tak ingin pergi sayang, tapi ada boleh buat! semua demi masa depan kita!" ucap Bima yang suaranya terdengar parau, karena menahan diri untuk menangis.


"Sri akan kesepian bila tanpa mas Bima" ucap Sri sembari mendongakkan kepalanya.


"Apalagi mas Bima, kalau kamu kan masih ada Sakti dan mama serta mbok Ni. Kalau mas Bima di luar negeri, adanya para bule. He..he..!" Ucap Bima sembari terkekeh.


"Mas Bima!" panggil Sri yang kembali memeluk suaminya.


"Kapan mas Bima berangkatnya?" lanjut tanya Sri sembari mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah suaminya.


"Besok pagi sayang!" jawab Bima yang mengecup kening istrinya.


"Cepat sekali mas?" tanya Sri yang penasaran.


"Iya, karena jadwalnya juga demikian sayang."jawab Bima yang menciumi pipi istrinya.


"Mas boleh minta jatah sore ini?" lanjut tanya Bima sembari mengulas senyumnya.


Sri mengangguk pelan dan hal itu membuat hati Bima sangat bahagia.


Bima mulai bermain di mulut istrinya dengan masih berdiri. Dan Sri menikmati setiap permainan suaminya, hingga tak terasa satu persatu pakaian mereka tanggalkan.


Permainan mereka perlahan - lahan menuju ke tempat tidur, dan keduanya memadu kenikmatan sampai mereka kelelahan dan tertidur dengan saling berpelukan.


Adzan Maghrib berkumandang, Sri membuka matanya dan bangun untuk melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam petang hari.


Sri memakai pakaiannya dan mengambil pakaian gantinya kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dan Sri mulai dengan ritual mandinya.


Setelah itu Sri berwudlu, kemudian keluar dari kamar mandi.


Pada saat sudah keluar dari kamar mandi, Sri membangunkan suaminya untuk mandi.


"Mas, mas Bima bangun!" seru Sri seraya menggoyang - goyangkan tubuh suaminya. Cukup lama Sri menggoyang - goyangkan lengan kiri suaminya. Dan pada akhirnya suaminya mau juga bangun dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi.


Sri mengambil perlengkapan sholat dan tak berapa lama Bima keluar dari kamar mandi. Setelah itu, mereka mengerjakan sholat Maghrib berjama'ah.


"Ayo kita makan, pasti mbok Ni sudah menyiapkan semua makan kita" ucap Bima saat sudah selesai sholat Maghrib.


"Iya, Sri juga sudah lapar" jawab Sri selesai melipat mukenanya. kemudian mereka melangkahkan kaki bersama - sama keluar dari kamar mereka .


Keduanya menuruni tangga dan melangkahkan kaki menuju ke ruang makan. Sesampainya disana, ternyata semuanya sudah berkumpul.


"Papa, mama Ci, kenapa lama sekali sih turunnya?" tanya Sakti dengan polosnya.


"Jagoan papa, papa tadi ketiduran karena kecapekan bekerja. Sampai -- sampai mama Ci yang membangunkan papa tadi." Ucap Bima yang berusaha membuat putranya tidak kecewa.


"Sakti mau disuapin sama mama Ci, Nek Ni!" seru Sakti pada mbok Ni, Nek Ni adalah panggilan Sakti untuk Mbok Ni.

__ADS_1


"Iya-Iya ini mama Ci makanannya mas Sakti." ucap mbok Ni Sakti yang semula menyuapi Sakti kemudian menyerahkan makanannya Sakti pada Sri.


Dan Sri menerimanya dengan setelah sebelumnya mengambilkan nasi untuk suaminya.


"Iya, sini mama Ci suapinya. Kalau yang suapi mama Ci harus habis banyak ya!" seru Sri yang kemudian menyuapi Sakti.


"Kalau ada mama Ci - nya, Oma sama Nek Ni seperti penonton saja!" canda Marlina dan membuat semuanya tertawa tak terkecuali dengan Bima.


"Pilihan Bima tepat ya ma, menikah dengan Sri. Bisa melayani suami dan juga putra Bima" ucap Bima sembari mengulas senyumnya.


"Iya, pilihan kamu tepat adanya!" jawab Marlina sembari mengulas senyumnya, dan mereka pun makan malam bersama.


Selesai makan bersama, mereka melanjutkan bincang - bincang mereka di ruang keluarga.


Sementara Mbok Ni menyelesaikan mencuci piringnya.


Bima, Sri, Sakti dan Marlina berada di ruang keluarga sembari menonton televisi dan berbincang - bincang, sesekali Sri mengajari Sakti cara menghitung dan bermain puzzle bareng Sakti.


"Ma, besok pagi Bima mau berangkat ke luar negeri dalam jangka waktu yang lama. Bima titip Sri dan Sakti ya ma" ucap Bima lirih saat duduk bersama mamanya, karena Sri dan Sakti berada di atas karpet.


"Ke luar negeri? berapa lama?" tanya Marlina yang sangat terkejut.


"Cukup lama ma, karena Bima juga mau melihat pemasaran disana nantinya" jawab Bima sembari menatap mamanya.


"Papa - papa mau pergi jauh ya?" tanya Sakti sembari memasang puzzlenya.


"Kalau begitu, nanti Sakti mau bobok sama mama dan papa" pinta Sakti yang kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri papanya.


"Baiklah, kalau begitu kita bobok sekarang ya!" seru Bima yang kemudian menggendong putranya itu.


"Iya papa, ha..ha..!" ucap Sakti sembari tertawa riang.


"Ayo Mama Ci!' ajak Bima yang sudah melangkahkan kakinya menuju kamar Sakti.


"Iya sebentar, Mama bereskan mainan Sakti ini lebih dulu!" balas Sri yang kemudian mempercepat dirinya membereskan mainan putra dari suaminya itu.


"Tanpa Bima, hari - hariku akan sepi!" ucap Marlina yang didengarkan oleh Sri yang telah selesai membereskan mainan Sakti.


"Ma nantikan masih ada Sakti, Sri dan mbok ni juga" ucap Sri sembari duduk disamping mertuanya.


"Kan beda kalau sama anak sendiri!" ucap Marlina yang berkaca - kaca. Dan hal itu membuat hati Sri trenyuh, saat melihat air mata seorang ibu yang menangis karena akan di tinggalkan putranya.


"Mama Ci! ayo, kesini!" panggil Sakti yang sebelumnya sudah masuk ke kamarnya dan kemudian membuka pintu dan memanggil Sri


"Iya, sebentar!" jawab Sri yang menoleh ke arah Sakti.


"Mama, mama yang tabah ya" ucap Sri yang kemudian bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Iya, mama tak apa -apa kok! Sana Sakti sedang membutuhkan kamu!" seru Marlina sembari menyeka air matanya.


"I..iya ma, tapi mama jangan bersedih lagi ya" ucap Sri yang dibalas anggukan dan mengulas senyum dari


Marlina.


Sri kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar dimana Sakti yang saat ini di temani oleh papanya.


"Tokk...tok...tokk...!"


"Assalamu'alaikum!" ucap salam Sri saat masuk ke kamar Sakti.


"Wa'alaikumsalam" jawab Bima dan Sakti yang sedang kompak.


"Mama Ci sini!" panggil Sakti dan Sri masuk kemudian menutup pintu kamar.


"Iya Sakti sayang" balas Sri yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur Sakti yang kecil.


Mereka bertiga kemudian saling sahut - sahutan dalam menyanyi sampai ke hafalan surat - surat pendek dalam Al Qur'an.


"Huahahemm...!" Sakti mulai menguap dan rasa kantuk sudah menyerangnya.


"Sebelum tidur, berdoa dulu sayang!" seru Sri dan kemudian Sakti mengucapkan do'a sebelum tidur.


اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَأَمُوتُ


Bacaan latin: "Allahumma bismika ahya wa amut"


Artinya: "Ya Allah! Dalam namaMu aku hidup dan mati."


Perlahan -lahan Sakti memejamkan kedua matanya dan dia terlelap dalam tidurnya.


Setelah Sakti benar -benar terlelap dalam tidurnya, Bima mengajak Sri untuk pindah ke kamar mereka.


...~¥~...


...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel JAMU NAIK LEVEL ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


,

__ADS_1


__ADS_2