
"Lima puluh persen dari saham perusahaan keluarga kamu adalah milik papa aku yang secara otomatis itu akan menjadi milikku, dan aku sendiri punya sepuluh persen saham di perusahaan itu. Maka aku bisa saja mengambil alih perusahaan kamu itu, atau dengan mudahnya aku bisa menarik semua sahamku dan jika aku sudah menarik saham aku, kamu akan tahu sendiri! semua perusahaan kecil yang mendukung produk perusahaan kalian akan memboikot dan tidak akan menyuplai bahan baku lagi pada perusahaan kalian!" ancam Talina.
"Apa yang kau bilang!" seru Rafa yang kini tersulut emosinya.
"Akan aku buat kalian bangkrut, jika sampai kamu ceraikan aku dan kamu kembali pada penjual jamu itu !" seru Talina yang menatap Rafa dengan tajam.
"Kau, tidak akan berbuat seperti itu bukan!" seru Rafa yang sudah keadaan kacau.
Di satu sisi dia ingin kembali pada Sri, disisi lain dia tak ingin Rafa tak ingin perusahaan papanya akan hancur begitu saja.
"Akan aku lakukan! karena aku sudah kamu bohongi, aku sudah kamu khianati sampai detik ini! Aku mencintaimu dan sangat berharap jika mas Rafa bisa mencintaiku dengan tulus, aku akan buat perusahaan keluarga mas Rafa terus meningkat. Tapi jika mas Rafa berpaling dariku! akan aku buat semua pemasok menghentikan pasokannya, dan kalian pasti akan bangkrut!" ancam Talina dan hal itu membuat Rafa yang sudah geram semakin kalap.
Rafa memukuli Talina, dan Talina membalas pukulan Rafa. Kemudian Rafa membanting Talina dan Talina mengerang kesakitan.
"Bugh...!"
"Agh....!" Talina yang mengerang kesakitan itu kembali melawan Rafa dengan berusaha menendang milik Rafa.
"Dugh...!"
"Aaaghh...!" Spontan Rafa memegang miliknya yang sakit karena tendangan Rafa.
Talina berusaha bangkit dan hendak melangkah keluar menjauh dari Rafa.
Namun Rafa menarik lengan Talina dan mendorong Talina ke atas Sofa.
Entah setan apa yang merasuki Rafa, dia mencekik Talina, dan Talina dengan sekuat tenaga memegang tangan Rafa untuk membuka cekikan tangan Rafa.
"To...tolong....!" dengan sisa-sisa tenaganya, Talina berusaha meminta pertolongan.
Tiba-tiba saja ada yang mendobrak pintu utama rumah besar Marlina itu.
"Brakk...!" pintu terbuka lebar.
Nampak dua lelaki dengan tubuh kekar berlari masuk dan menghampiri Rafa yang sedang mencekik Talina di sofa.
Salah satu dari laki-laki itu memukul Rata dari belakang.
"Dugh...!"
"Aaaghh...!" Rafa mengerang kesakitan.
"Brugh...!" suami Talina jatuh tersungkur di atas lantai.
Dua orang itu adalah bodyguard kepercayaan keluarga Talina, yang selama ini selalu melindungi Talina.
__ADS_1
Keduanya berbagi tugas, satu orang membawa Talina ke rumah sakit dan satu orang membawa Rafa ke kantor polisi.
Pada saat akan dibawa ke kantor polisi, Rafa berusaha untuk kabur. Dan bodyguard yang mengawasi Rafa itu berusaha mengejar Rafa.
Karena ketakutan, Rafa berlari tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri. Dan dia tak melihat adanya sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya dan seketika itu juga menabrak tubuh Rafa.
"Brugh...!"
"Aagh..!" Rafa jatuh dan darah berlinang darah disekitar tubuh Rafa, dan pengendara mobil itu melarikan diri.
Bodyguad yang mengejar Rafa itu kemudian menelepon polisi dan juga ambulan.
...*****...
Sementara itu dirumah sakit, Bima dan Sri yang masih menunggu di ruang tunggu instalasi gawat darurat.
Bima terkejut dengan keberadaan salah satu bodyguard Talina yang baru saja datang bersama para perawat yang mendorong tempat tidur.
"Itu bukannya bodyguardnya Talina?" tanya Bima yang terus menatap seososok laki-laki yang bertubuh kekar itu.
"Bodyguardnya Talina?" tanya Sri yang jug menatap ke arah yang di maksud oleh suaminya itu.
Setelah perawat dan seseorang yang didorong dengan tempat tidur itu masuk ke ruang instalasi gawat darurat, bodyguar itu melangkahkan kaki menuju ke ruang tunggu.
"Ma'af permisi, bukankah kamu salah satu bodyguard Talina?" tanya Bima pada saat mendekat pada bodyguard itu seraya mengulurkan tangannya.
"Iya, anda tuan Bima ya? kakaknya tuan Rafa?" jawab sekaligus tanya bodyguard itu saat membalas uluran tangan Bima.
"Kenapa kamu ada disini? Siapa yang sakit?" tanya Bima yang penasaran.
"Nyonya Talina tuan!" jawab bodyguard itu dengan tatapan yang sangat sedih, dan berita itu membuat Bima serta Sri tercengang.
"Talina?" ucap Bima dan Sri yang bersamaan.
"Tadi beliau bertengkar hebat dengan tuan Rafa. Pada saat kami mengintip dari jendela, tuang Rafa berusaha mencekik nyonya Talina." jawab bodyguard itu pada Bima dan juga Sri.
"A....apa mencekik!" seru Sri seraya meraba lehernya.
"Astaghfirullah, apa yang membuat Rafa kembali ke sifatnya yang dulu?" tanya Bima seraya berpikir.
Tak berapa lama beberapa perawat kembali mendorong Brankar dorong ke pintu darurat rumah sakit.
Bima dan Sri saling berpandangan saat melihat sosok bodyguard Talina yang lain bersama para perawat yang mendorong Brankar tersebut bersama para perawat.
"Itu rekan saya yang tadi mengurus aqtuan Rafa!" seru bodyguard yang ada disamping Bima.
__ADS_1
"Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Rafa?" ujar Bima yang mencoba menebak.
"Bodyguard dua, kemarilah!" panggil bodyguard yang ada di samping Bima pada bodyguard yang tadi mengiringi Brankar dorong yang membawa Rafa.
"Hai bodyguard satu!" balas bodyguard dua yang berjalan menghampiri Bodyguard satu, Bima dan juga Sri.
"Apa yang telah terjadi? ada apa dengan tuan Rafa?" tanya bodyguard satu yang menatap ke arah bodyguard dua.
"Pada saat akan dibawa ke kantor polisi, Tuan Rafa berusaha untuk kabur. Dan bodyguard yang mengawasi Rafa itu berusaha mengejar Rafa. Karena ketakutan, Rafa berlari tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri. Dan dia tak melihat adanya sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya dan seketika itu juga menabrak tubuh Rafa." jelas bodyguard dua.
"Apa? Rafa kecelakaan?" tanya Bima yang begitu khawatir dengan kondisi adik tirinya.
"Iya. Tuan Rafa jatuh dan darah berlinang darah disekitar tubuh Rafa, dan pengendara mobil itu melarikan diri. Kemudian saya menelepon polisi dan juga ambulan, dan membawanya ke mari." jawab Bodyguard dua.
"Semoga saja tak ada yang serius dengan mas Rafa." ucap Sri yang kedua matanya berkaca-kaca.
"Aamiin ya Robbal alaamiin." jawab Bima dan kedua bodyguard yang ada bersama mereka.
"Sebenarnya apa yang membuat mereka bertengkar?" tanya Bima yang sangat cemas.
"Kami juga belum tahu!" jawab bodyguard dua.
Terlihat ada seorang perawat yang masuk ke ruangan mamanya Bima, baru beberapa detik .masuk perawat itu tiba-tiba seorang dokter yang ditemani dua perawat masuk dengan tergesa-gesa ke ruangan dimana neneknya Sakti dirawat.
"Mas, ada apa dengan mama?" tanya Sri yang sudah ketakutan.
"Mas juga tidak tahu, sebaiknya kita mendekat!" jawab Bima dan mereka pun mendekat ke ruangan tersebut.
Tak berapa lama seorang perawat keluar dari ruangan rawat mamanya Bima.
"Keluarga dari pasien nyonya Marlina!" panggil perawat itu yang menatap ke arah semua orang yang ada didepannya satu persatu.
"Kami keluarganya suster, apa ada sesuatu tentang mama saya?" tanya Bima yang melangkah maju membelakangi Sri dan kedua bodyguard Talina.
...~¥~...
...Mohon para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1