
Mohon maaf, harap bijak dalam membaca. Ada adegan +18
...💗💗Happy Reading💗💗...
"Aku mau angkat Lucy dulu dan kamu bantu aku buka pintunya ya Fa!" seru Ando seraya memberikan kunci mobilnya pada Rafa.
"Oh iya!" jawab Rafa sembari menerima kunci mobil tersebut, walaupun merasa sakit kepala yang teramat sangat melandanya kini.
"Hati-hati dalam berkendara ya!" pesan John saat melihat kedua sahabatnya melangkahkan kaki melewati dirinya dan keluar dari Cafe tempat acara pesta itu.
Rafa dan Ando yang membopong Lucy melangkahkan kaki menuju ke tempat dimana mobil Ando terparkir.
Setelah ketiganya masuk ke mobil, Ando melajukan mobilnya menuju ke jalan raya dengan kecepatan sedang.
Rafa yang mabuk berat itu merasakan pusing yang sangat luar biasa.
"Fa, kamu turun di apartemen kamu biasanya kan?" tanya Ando sambil terus mengemudi.
"Iya, terserah kamulah!" racau Rafa yang sudah tak bisa mengingat sesuatu.
Ando yang dalam kondisi setengah mabuk, masih bisa menguasai dirinya untuk mengemudikan mobilnya.
Sedangkan dua teman yang dibawanya, masih dalam kondisi teler.
Tak berapa lama, mobil itu masuk ke dalam kawasan tempat parkir sebuah apartemen mewah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ando keluar dari mobil dan kemudian membuka pintu belakang mobil.
Ando berusaha membuat Rafa bangun dan keluar dari mobilnya.
Setelah menutup dan mengunci mobilnya, Ando bergegas memapah Rafa dengan tertatih-tatih menuju ke apartemennya.
"Semoga saja aku masih ingat apartemen kamu Fa!" ucap Ando pada saat mereka berjalan menuju lift.
"Ini sudah benar jalannya, nanti aku kasih tahu kalau salah!" racau Rafa dengan kondisi terhuyun-huyun.
Keduanya masuk kedalam lift tanpa menghiraukan tatapan banyak orang di sekitar mereka.
"Dasar kamu Fa! tumben-tumbennya kamu itu teler. Apa kamu ada masalah, hah!" gerutu Ando saat mereka ada di dalam lift.
"Kamu tahu, aku tak suka dijodohkan! kenapa aku seperti barang dagangan saja, main jodoh-jodohkan segala!" racau Rafa yang tetap dalam posisi di rangkul oleh sahabatnya Ando.
"Ha..ha..! pantas saja kamu mabok begini, ternyata mau dijodohkan!" ucap Ando dan tak berapa lama pintu lift pun terbuka.
"Ting..!"
Keduanya segera keluar dari dalam lift dan melangkahkan kakinya keluar dari lift tersebut .
Ando yang sedang berjalan tertatih memapah Rafa, berjalan menyusuri lorong gedung bertingkat itu.
__ADS_1
Tak berapa lama mereka telah sampai di depan sebuah pintu apartemen.
"Sudah sampai disini saja, aku sudah bisa sendiri. kasihan Lucy yang kamu tinggal sendirian" racau Rafa yang berdiri bersandar di pintu dan menepuk pundak sahabatnya itu.
"Bener kamu bisa sendiri?" tanya Ando yang penasaran.
" Iya, jangan khawatir!" ucap Rafa yang kemudian membuka kata sandi pintu apartemennya.
Dan pintu itu terbuka, Rafa kemudian melambaikan tangannya pada Ando, dan Ando mengerti.
Pemuda itu melangkahkan kakinya meninggalkan Rafa di apartemennya.
Sementara itu Rafa segera menutup dan mengunci kembali pintu itu dengan sandinya.
Dengan langkah gontai, Rafa melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur.
Dimana di tempat tidur itu ada seorang gadis yang sedang tidur nyenyak, sampai tak menyadari kedatangan Rafa.
"Ayah memang kejam, secantik apapun si Talina, kalau aku tak suka ya tidak suka! aku kan sukannya sama yang disukai kak Bima!" racau Rafa yang sudah duduk di tepi tempat tidur dan sedang melepaskan sepatu dan kaos kakinya secara berantakan.
Rafa melepaskan jaket yang dia kenakan dan melepaskan dua kancing kemeja bagian atasnya untuk melonggarkan bajunya karena dia merasakan hawa panas di tubuhnya.
"Akhirnya tidur juga!" seru Rafa yang membaringkan tubuhnya, kemudian dia menoleh ke samping.
Walau tanpa jelas dia melihat apa yang ada di depannya akibat pengaruh alkohol, Rafa melihat gadis yang dia sukai ada di depannya.
"Benar kamu Cherry! kamu harus aku miliki dan jangan sampai kak Bima memilikimu!" racau Rafa yang kemudian mengusap wajah Sri , yang otomatis membuat Sri terbangun dan tersentak kaget.
Karena mendapati tubuh Rafa ada disampingnya.
"Mas, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sri yang berusaha bangkit, namun tak bisa.
Tubuh Rafa sudah berada di atasnya saat ini.
"Apa-apa'an ini! mas Rafa menjauhlah!" seru Sri yang dengan kedua tangannya hendak mendorong tubuh gagah Rafa yang ada diatasnya itu.
"Apa kau memilih mas Bima dari pada aku yang jelas masih bujang? kau tahu, aku tidak akan merelakannya!" racau Rafa dengan dunianya sendiri yang tak di mengerti Sri.
Rafa membentangkan tangan Sri dan mencengkeramnya dengan kuat.
Sri meronta-ronta sebisa mungkin, dan dalam hatinya terus berucap,
"Apa yang akan dilakukan sama mas Rafa? apa dia akan berbuat senonoh padaku?"
Sri dengan sekuat tenaganya meronta yang dia bisa dan berusaha menyadarkan Rafa.
"Mas Rafa! sadar mas apa yang akan kamu lakukan, kita belum menikah!" seru Sri yang berharap Rafa mengurungkan keinginannya.
Namun bukannya Rafa merespon ucapan Sri, dia semakin menggila
__ADS_1
Rafa berusaha menciumi wajah manis dan ayu Sri, walaupun si pemilik wajah terus menghindari setiap bibir Rafa yang mengarah padanya.
Karena usahanya tak juga berhasil, Rafa reflek menampar pipi Sri dengan kuat.
"Plakk...!" tanda merah dipipi Sri pun terukir, dan darah segar mengalir di sudut bibir kanan Sri.
"Aaaghh..! mas Rafa sakit!" erangan dan racauan Sri yang kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Cherry, ka..kau menangis? apa kamu sakit? ma..ma'af kan aku, a..aku sangat mencintaimu. Aku tak mau kehilanganmu!" racau Rafa yang mengendurkan peganannya.
Hal itu di manfaatkan oleh Sri untuk mendorong tubuh Rafa dan dia berhasil membuat dirinya terlepas dari Rafa.
Sri berlari menuju ke pintu keluar dan berusaha untuk membukanya, namun tak juga berhasil. Karena Rafa mengubah kata sandinya.
"Kenapa tidak bisa terbuka!" racau sri yang gemetar karena diliputi rasa takut yang sangat mendalam.
Sementara Rafa bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menghampiri Sri.
"Ayah, jadi kamu memilih mas Bima dari pada aku ya!" seru Rafa sembari menarik bahu Sri yang semula membelakanginya.
"Aaaghh! jangan mas Rafa! jangan..!" racau Sri yang ketakutan.
"Kau harus jadi milikku! tak ada orang lain yang boleh memilikimu, walaupun itu kakakku sendiri!" seru Rafa yang wajahnya berubah dari ganteng kini sangat menakutkan dengan mata yang memerah.
"Mas Rafa!" seru Sri yang gemetaran dan ketakutan.
Tiba-tiba saja pandangannya tertuju ke arah kamar mandi.
"Aku harus ke sana! iya kamar mandi, aku akan menghindari mas Rafa dengan bersembunyi di kamar mandi!" ucap dalam hati Sri.
Dan ketika ada kesempatan, Sri mendorong Rafa yang hampir terjatuh namun bisa Rafa kuasai tubuhnya kembali.
Sedangkan Sri terus berlari menuju ke kamar mandi,
Mengetahui mangsanya yang berusaha memberontak , Rafa mengejar mangsanya dengan sekuat tenaganya.
...~Â¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
"
__ADS_1