
"Baiklah" balas Bima yang kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Tak berapa lama Bima telah selesai berwudlu, dan kemudian bergantian dengan Sri yang sebelumnya sudah menyiapkan sarung dan sajadah untuk suaminya serta mukenanya.
Selesai berwudlu keduanya sholat Subuh berjamaah. Setelah sholat dan berdoa, Bima mengusap wajahnya dengan kasar, dia termenung seperti memikirkan sesuatu.
"Mas Bima, mas Bima tidak apa-apa ka?" tanya Sri yang penasaran.
"Aku tak apa-apa Sri, hanya mas Bima kecewa kenapa Rafa dan Talina tidak mau menghadiri pernikahan kita?" tanya Bima seraya memandang ke arah Sri.
Sri sedikit gugup dan bingung mau berkata apa, karena pernikahan Rafa dan Talina serta Bima dan Sri bisa dikatakan pernikahan yang tidak ada Cinta. Mereka menikah karena keterpaksaan.
"Mas Bima jangan berpikir yang aneh-aneh, sebaiknya kita pikirkan rumah tangga kita. Bimbing sri agar Sri bisa menjadi istri yang salehah dan Sri bisa menjadi ibu yang baik untuk Sakti dan juga anak-anak kita nantinya." kata panjang lebar Sri.
"Tentu sayang, boleh kan suami kamu ini memeluk kamu?" tanya Bima lirih, namun masih bisa di dengar oleh Sri.
"Ya tentu saja boleh mas, Sri sudah menjadi milik mas Bima dan mas Bima milik Sri" ucap Sri yang menghampiri Bima yang sedang duduk di lantai bersandarkan bagian tepi tempat tidur.
Kemudian Bima merangkul dan mencium kening istrinya. Dan Sri menikmati kelembutan dan kehangatan yang diberikan suaminya padanya.
"Sayang kalau ada apa-apa, kamu cerita sama mas ya?" ucap Bima seraya menangkupkan kedua telapak tangannya dengan lembut di pipi Sri.
Sri menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan, seolah mengumpulkan semua keberaniannya.
"Apa aku harus cerita yang sebenarnya pada mas Bima ya?" tanay dalam hati Sri yang merasa khawatir jika setelah Bima tahu tentang apa yang menimpanya, Bima tidak akan bersikap seperti sekarang ini.
"Sri, ceritakanlah mas akan mendengarkannya. Mungkin mas bisa bantu permasalahan kamu" bisik Bima seraya memegang dagu istrinya itu.
"Sri mau cerita, tapi mas Bima janji jangan marah sama Sri. Mas Bima tetap sayang sama Sri, iya kan?' tanya Sri uang berkaca-kaca, entah berani .engingkapkan yang sebenarnya atau tidak.
"Mas Bima sangat mencintaimu Sri, jadi ceritakanlah. Mas Bima janji akan selalu menyayangimu Sri" ucap Bima seraya mengecup kembali ke ing istrinya yang memberi kekuatan pada Sri untuk bercerita.
"Apa mas Bima ingat waktu mas Rafa dalam keadaan mabuk menemuiku di Apartemen?" tanya Sri pada Bima yang saat ini mereka saling berhadapan.
"Oiya, tentu aku ingat itu" jawab Bima yang memang masih ingat dengan kejadian itu.
Kemudian Sri menceritakan kembali hal yang kemarin terjadi padanya.
"Waktu itu kan mas Rafa menggedor-gedor pintu apartemen" ucap Sri yang terlintas bayangan kejadian kemarin.
__ADS_1
🗓️Flashback on
"Dorr..dorr....doorr..!" Rafa menggedor pintu tersebut berulang kali hingga membuat keributan di sekelilingnya.
"Dorr..dorr....doorr..!" sekali lagi Rafa menggedor pintu tersebut dan banyak orang yang sengaja melihat kelakuan Rafa yang mabuk berat itu.
Sementara itu Sri yang ada di dalam juga merasa sangat terganggu. Akhirnya dia melangkahkan kaki dan kemudian mengintip dari lubang pintu yang memang dibuat untuk melihat siapa tamu yang datang itu.
"Mas Rafa, mau apa dia datang lagi?" tanya dalam hati Sri yang ada rasa takut karena kejadian semalam tapi juga rasa kesal karena gedoran pintu dari Rafa yang mengganggu telinganya itu.
Dengan terpaksa Sri membuka pintu dan mempersilahkan Rafa untuk masuk.
"Mas Rafa!" seru Sri yang terkejut saat Rafa langsung saja masuk dengan langkah sempoyongan dan ambruk tepat diatas sofa.
Sri kemudian menutup dan mengunci pintu apartemen itu, kemudian menghampiri Rafa yang terlihat sangat kacau itu.
"Kenapa aku dipaksa menikah! kenapa aku dipaksa menikah!"
Racauan yang terdengar dari bibir Rafa yang seketika itu juga membuat Sri penasaran.
"Mas Rafa dipaksa menikah?" tanya Sri dalam hati.
"Tokk...tokk...tokk...!" tiba-tiba ada yang mengetuk pintu apartemen.
Sri terkejut katena, dan dia melangkahkan kaki kembali menuju ke pintu, dan kemudian melihat siapa yang ada di luar pintu.
"Mas Bima, Talina? mau apa mereka?" tanya dalam hati Sri yang penasaran saat melihat Bima dan Talina dengan membawa dua orang bodyguardnya.
Sri segera membuka pintu dan Talina langsung menerobos masuk tanpa melihat Sri.
Talina kemudian melihat Rafa yang terbaring karena teler.
Perempuan itu kemudian melihat ke arah Sri dengan wajah memerah karena emosi.
"Kau coba rayu suamiku ya!' seru Talina yang mendorong Sri dengan kasar.
"Apa suami? apa maksud kamu?" tanya Sri yang penasaran.
"Rafa sudah jadi suamiku! dan kamu mau merusak malam pertamaku rupanya!" seru Talina yang menarik rambut Sri.
__ADS_1
"Aagh....lepaskan!" jerit Sri, namun tak dihiraukan oleh Talian yang sudah dalam keadaan marah karena cemburu berusaha memukul menarik rambut Sri sekenanya.
🗓️Flashback off
"Dan mas Bima sakti itu melerai dengan membelakangi Sri." Ucap Sri dan Bima menganggukkan kepalanya karena ingat kejadian itu.
"Iya Sri, mas Bima ingat akan hal itu" ucap Bima yang menyeka air mata Sri yang menetes di pipi mulus Sri.
"Sri saat itu sangat-sangat terpuruk, kalau tak ada mas Bima mungkin Sri bunuh diri!" racau Sri yang membuat Bima sangat terkejut.
"Astaghfirullah Sri, apa yang menimpamu?" tanya Bima yang sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Hati hancur, saat tahu mas Rafa menikah dengan Talina. Kalau sekedar pacar, Sri masih sanggup menghadapi kenyataan. Hiks..!" ucap Sri dengan sesenggukan.
"A..a..apa Rafa melakukan sesuatu pada kamu?" tanya Bima yang mencoba menebaknya, dan Sri mengangguk.
"Astaghfirullah Rafaaaaa...!" seru Bima yang mengepalkan tangannya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hiks...Mas Bima masih sayang sama Sri kan?" tanya Sri dengan lebih sesenggukan.
"Sri, apa pun yang terjadi pada kamu mas tetap sayang pada kamu. Apalagi setelah tahu kalau Rafa melukaimu hingga membuatmu trauma, mas semakin menyayangimu Sri. Kamu sudah menjadi istri mas Bima, jadi mas wajib membuatmu sembuh dari trauma yang kamu alami ini" ucap Bima sembari memeluk istrinya dengan erat.
"Jadi mas tidak marah dan menyalahkan Sri?" Tanya Sri yang memastikan perasaan Bima padanya.
"Tentu saja mas Bima tidak marah maupun menyalahkan kamu. Malah mas yang berkewajiban melindungi dan menyayangi kamu dengan sepenuh hati. Mas Bima yang merasa bersalah dengan sikap dan perbuatan adik mas Bima." jelas Bima yang kembali menyeka air mata Sri
"Mas Bima!" Sri menghamburkan diri untuk memeluk Bima. Dan keduanya kini saling berpelukan dengan erat dengan perasaan masing-masing.
...~¥~...
...Mohon q para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel MBAK JAMU NAIK LEVEL ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
,