Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
Pamit Berangkat Kerja


__ADS_3

"Tunit, tunit, tunit, tunit, tunit,"


Suara jam weker berbunyi cukup kencang.


Seorang wanita yang terbaring di atas kasur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk bagian kepala, terbangun karena suara jam weker yang tak henti-henti.


Tangan kanan yang terlindung dari selimut tiba-tiba keluar,


dan meraba-raba meja pinggir tempat tidur untuk menghentikan Suara jam weker yang dirasa cukup berisik menurutnya, apalagi di pagi hari dengan suasana yang masih terasa hening dan sepi.


"Hoaaaaaam."


Wanita itu terbangun dan langsung menguap. Ia kemudian terdiam dan terduduk di atas kasur dengan tatapan mata kosong menghadap ke arah depan.


Tatapan kosong dengan mata yang masih terkantuk-kantuk yang terdapat toping belek di pangkalan mata, dirinya termenung karena menunggu semua Sukma tubuhnya terkumpul.


"Indaaaaah, bangun nak, bukannya hari ini kamu berangkat kerja?"


Dari arah luar kamar, tiba-tiba terdengar suara wanita tua sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar.


Wanita tua itu adalah ibu dari seseorang yang bernama Indah.


"Ia bu, Indah udah bangun," jawabnya menatap ke arah pintu kamar.


Belek yang masih menempel di pinggiran matanya, kini ia bersihkan dengan cara mengucek-ngucek kedua matanya.


Wanita itu atau Indah pun beranjak dari atas kasur. Ia langsung menatap ke arah cermin yang sama tinggi dengan tubuhnya.


Ia menatap seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan meraba-raba pipinya sambil memikirkan sesuatu di dalam pikirannya.


Celana jeans super pendek dan baju ketak berwarna putih adalah outpit yang ia kenakan sekarang.


Wanita yang memiliki ciri rambut panjang lurus berwarna hitam, bola mata hitam dan wajah polos itu memiliki tubuh yang ideal walaupun tinggi tubuhnya sedikit lebih pendek dari yang disebut wanita idela.


Kelebihan lainnya dari ciri fisik wanita itu adalah kedua gunungnya yang menempel di dada memiliki ukuran yang di sukai kebanyakan pria, yaitu F cup atau jika dalam bentuk sentimeter yaitu sekitar 22 sentimeter.


Namun, ukuran itu membuat Indah justru tidak menyukainya, dengan alasan ia selalu di lihat oleh mata-mata pria sekitarnya. Hal itu juga yang membuat wanita itu malu untuk melakukan aktivitas di luar rumah atau di tempat umum.


"Apakah tempat kerjaku kali ini akan baik-baik saja?"


Indah bergumam dalam hatinya mengenai tempat kerjanya.


Memang hari ini adalah hari pertama ia memulai pekerjaan disuatu tempat. Lebih tepatnya di sebuah kedai kopi yang sudah memiliki nama dan memiliki cabang di mana-mana.


Walaupun bukan kali pertama ia bekerja, tapi perasaannya kini campur aduk antara gelisan, gundah dan senang.


Ia pernah bekerja di tempat lain dan memutuskan Keluar karena alasan tertentu. Dan karena satu-satunya lowongan pekerjaan yang ada untuk tingkatan dirinya saat itu hanyalah di kedai kopi tersebut.


Zaman sekarang memang sangat susah untuk mencari pekerjaan, apalagi Indah  hanyalah seorang lulusan SMA yang memiliki nilai rata-rata di ijazahnya.

__ADS_1


"Indaaaah, ini sudah siang nak."


Suara wanita tua itu kembali terdengar. Indah yang mendengarnya langsung menyaut suara tersebut dan langsung bergegas ke luar kamarnya.


"Trak," suara pintu kamar terbuka.


"Selamat pagi bu," ucap Indah tersenyum pada ibunya dan langsung pergi meninggalkannya di depan kamar.


"Cepetan mandi!" Perintah sang ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena heran melihat kelakuan anaknya itu.


"Iya, ini juga mau mandi."


"Jangan lama-lama di kamar mandi, nanti telat!" Perintah sang ibu.


"Ia ia tahu."


"Jangan ia ia saja!" Ucap sang ibu.


Indah pun terdiam, ia bingung dengan ucapan ibunya barusan.


"Lah jambu? Terus kalau jangan jawab ia, Indah harus jawab apa dong bu?"


Sang ibu pun mendekat, ia mendekatkan mulutnya tepat di telinga Indah dan berkata.


"Tuan putri maha agung nyonya besar, siap laksanakan."


Ibu pun pergi setelah mengatakan kata-kata barusan. Namun, Indah masih terdiam terheran-heran dengan ucapan ibunya barusan.


Indah memang heran dengan kelakuan ibunya barusan, karena ia tidak pernah melihat ibunya bercanda seperti itu padanya.


"Kau kenapa bengong begitu?! Cepat mandi, nanti telat! Apalagi sekarang hari pertamamu kerja!"


Ibu kembali menyuruh Indah untuk segera mandi walaupun kehadiran tubuhnya tidak terlihat oleh mata Indah. Tidak pikir lama, wanita itu langsung pergi ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian setelah dirinya mandi dan rapi mengenakan pakaian hitam putih, karena memang rules karyawan baru memang begitu, ia berpamitan pada ibunya untuk segera pergi menuju tempat kerja.


"Indah pergi dulu ya bu, selamat tinggal," ucapnya sambil mencium tangan ibunya.


"Ia hati-hati. Semoga betah juga di tempat kerja barumu itu."


"Semoga saja bu," pungkas Indah.


Ia pun pergi meninggalkan sang ibu yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya sambil menunggu kepergian putrinya itu.


Wajah cemas tergambar jelas dari wajah ibu Indah. Ia sangat khawatir dengan apapun yang dilakukan anaknya itu.


"Hoaaammm."


Tiba-tiba terdengar suara menguap dari belakang tubuh ibu Indah.

__ADS_1


"Dia sudah berangkat kerja bu?"


Seseorang bertanya mengenai kepergian Indah.


"Sudah barusan," jelas ibu.


Pria dengan mata yang masih terkantuk-kantuk itu adalah kakak Indah yang baru bangun dari tidurnya.


Pria dengan ciri rambut acak-acakan dan kelopak mata hitam itu adalah pengangguran korban PHK perusahaan.


Bukan hanya itu, akibat dari penganggurannya, ia sampai di usir oleh istrinya karena tidak bisa menafkahi keluarga kecilnya.


Pria dengan outfit kaos obling dan celana kolor itu terlihat santai tidak memikirkan masalah dirinya sambil menggaruk-garuk perutnya yang gatal.


"Kau tidak ada niatan cari kerja juga Roy?" Tanya sang ibu pada anak prianya.


"Ini juga sedang berusaha bu," ucap Roy santai.


"Berusaha dari mana, ibu lihat kau hanya tidur makan, tidur makan saja."


"Haaaaaah," Roy menghela nafas.


"Begini bu, semua lowongan pekerjaan tidak ada yang sesuai dengan yang aku inginkan."


"Haaaaah," ibu menghela nafas.


"Pantas saja, istrimu mengusirmu dari rumahnya. Ya karena kelakuanmu sendiri," ucap ibu.


"Ibu tidak mau tahu ya, pokoknya jangan sampai istrimu mengajukan cerai kepadamu. Kalau hal itu terjadi, jangan harap kau masih tinggal di rumah ini."


Ibu memperingati Roy kakak Indah untuk segera mencari kerja dan berbaikan dengan istrinya. Ia tidak mau, akibat keegoisan anaknya, sang cucu terkena imbasnya.


'ia ia aku tahu, bawel," ucap Roy yang langsung meninggalkan ibunya dengan wajah yang terlihat bete.


Sang ibu hanya bisa mengelus dada dengan kelakuan anak pertamanya itu.


To Be Continued.......


...----------------...


...JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL DENGAN JUDUL...


..."MENGEJAR CINTA YANG SALAH"...


...DENGAN CARA LIKE, COMMENT, SHARE, DAN TAMBAHKAN FAVORIT UNTUK MENDAPATKAN UPDATE BAB TERBARU....


...DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGIKU...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2