
Fattan berkata bahwa dirinya sama sekali belum berkenalan dengan wanita yang duduk di sampingnya itu walaupun terhalang satu sekat kursi kosong.
"Ya sudah, sebaiknya kita semua memperkenalkan diri. Karena saya yakin, baik Mira ataupun Dinda juga belum mengetahui nama mereka berdua," ucap pak Ahmad.
Kemudian mereka semua memperkenalkan dirinya masing-masing mulai dari karyawan baru yaitu Indah.
Ia berdiri dan langsung memperkenalkan dirinya secara lengkap.
"Perkenalan nama saya Indah, salam kenal semuanya," ucap Indah yang kembali duduk di kursi.
Setelah itu, pak Ahmad menunjuk ke arah Fattan untuk memperkenalkan dirinya.
Fattan pun berdiri dan langsung memperkenalkan dirinya.
"Fattan," ucap pria tampan itu tersenyum manis, lalu kembali duduk.
Melihat senyum manis yang dibuat Fattan, membuat semua wanita yang berada di dalam ruangan terpesona. Tidah hanya mereka bertiga, pak Ahmad yang notabennya sebagai seorang pria juga dibuat terpesona.
Suasana hening seketika, mereka masih terkagum-kagum dengan senyum manis Fattan, hingga membuat pria itu bingung dibuatnya.
Sadar dengan rasa kagumnya itu, pak Ahmad kembali fokus dan langsung melanjutkan perkenalan seluruh anggotanya.
"Kita lanjut pada Dinda."
Pak Ahmad mempersilahkan Dinda untuk memperkenalkan dirinya.
"Perkenalan nama saya Dinda, salam kenal Indah, Fattan," ucap Dinda tersenyum pada mereka berdua.
Perkenalan Dinda pun di sambut dengan anggukan dan senyuman dari Indah juga Fattan.
Setelah Dinda memperkenalkan dirinya, kini pak Ahmad menunjuk Mira untuk memperkenalkan diri.
Mira pun berdiri, namun ada hal yang tidak terduga, tiba-tiba kursi yang ia duduki terjatuh begitu saja, hal itu membuat orang-orang sekitar sedikit terkejut.
Mira sebagai pelaku pun ikut terkejut.
"E ayam, apa itu, apa?" Mira terkejut dan langsung menatap ke arah belakang.
Ia melihat kursinya terjatuh dan langsung jongkok untuk memperbaiki posisi kursinya.
Namun, saat hendak berdiri, punggung Mira terkena meja sehingga membuat punggungnya terasa sakit.
"Awwwwww!" Mira berteriak juga mengelus-elus punggungnya.
"Kau baik-baik saja Mira?" Tanya pak Ahmad sambil celingak-celinguk melihat kondisi Mira.
"Sakit punggung saya pak," ucap Mira masih mengelus-elus punggungnya.
"Ada-ada saja kau ini," ucap pak Ahmad menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Siapa sih yang mindahin meja ini ke sini?"
Mira tiba-tiba sewot, ia juga memukul meja karena kesal.
"Lah dari dulu juga sudah ada di sini kali Mir," ucap Dinda.
Mira hanya cemberut, karena masih kesal dengan meja yang membuat punggungnya sakit.
"Kau mau memperkenalkan diri atau tidak?" Tanya pak Ahmad.
"Ya mau lah pak ," ucap Mira.
"Saya Mira, salam kenal, Indah, Fattan."
Setelah memperkenalkan dirinya, Mira kembali duduk dalam suasana hati yang masih terasa sedikit kesal.
Dirasa seluruh anggotanya telah memperkenalkan diri, kini giliran pak Ahmad memperkenalkan dirinya. Perlahan ia berdiri dengan percaya diri dengan dada di busungkan ke depan.
"Perkenalan nama saya Ahmad Sanusi, di kedia kopi ini saya menjabat sebagai kepala sekaligus yang bertanggung jawab atas kemajuan kedai ini. Dan saya berharap lebih pada kalian semua untuk membantu melancarkan kemajuan kedai kopi ini, sekian terima kasih."
Pak Ahmad pun kembali duduk setelah memperkenalkan dirinya.
Satu jam kemudian setelah mereka semua memperkenalkan dirinya masing-masing, kedai kopi dinyatakan buka.
Tugas utama untuk karyawan baru hanya mengamati cara kerja senior dan membersihkan tempat-tempat yang di rasa kotor.
Di sisi lain ruangan, terlihat Indah yang sedang memegang sapu sambil melihat cara kerja kedua seniornya yang sedang melayani pelanggan yang datang.
"Indaaah."
Saat sedang menikmati dengan pengamatannya, pak Ahmad tiba-tiba memanggil.tanpa pikir panjang, Indah langsung bergegas menuju tempat pak Ahmad berada.
"Ia ada apa pak?" Tanya Indah penasaran dan masih memegang sapu di tangannya.
"Tolong, simpan gelas yang tidak terpakai ini ke dalam gudang," perintah pak Ahmad sambil memberikan sekardus berisi gelas.
Indah pun menerima kardus berisi gelas tersebut, dan bertanya letak gudang untuk menyimpan barang yang pak Ahmad perintah.
"Posisinya ada di dalam ruangan karyawan, nah nanti juga ada pintu yang bertulis gudang," ucap pak Ahmad sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya.
Mengerti dengan penjelasan kepala kedai tersebut, Indah menganggukan kepalanya, ia pun langsung bergegas menuju tempat tujuan.
Sebelum ia bener-bener pergi, pak Ahmad kembali meminta Indah untuk membantu beres-beres di dalam gudang.
Tanpa pikir panjang, Indah menganggukan kepalanya dan pergi begitu saja.
Beberapa saat kemudian, ia tiba di depan pintu gudang yang terbuka. Ia heran, kenapa pintu gudang tersebut bisa terbuka cukup lebar.
"Oh mungkin sengaja," ucap Indah yang tidak memperdulikan rasa penasarannya dan langsung masuk ke dalam gudang untuk menyimpan kardus berisi gelas.
__ADS_1
Saat diri menginjakan kakinya ke dalam gudang, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seseorang, sehingga dirinya terkejut dan membuat kardus yang ia pegang terjatuh ke bawah.
Ternyata yang bertabrakan dengan Indah adalah Fattan, ia juga tekejut saat bertabrakan dan refleks ia langsung memeluk Indah agar tidak terjatuh.
"Duk," suara kardus terjatuh.
Indah pun melepaskan diri dari pelukan Fattan, ia langsung mengambil kardus berisi gelas dalam keadaan jantung dag dig dug.
"Bagaimana ini, aku harap tidak ada satupun gelas yang pecah," ucap Indah cemas.
"Kenapa?" Tanya Fattan langsung jongkok dan menatap ke arah kardus.
Indah kembali dibuat terkejut, ternyata orang yang dirinya tabrak itu adalah Fattan.
Sambil membuka kardus untuk melihat kondisi gelas di dalamnya, ia terus menerus menyelasi kesempatan yang datang barusan itu.
"Kenapa?! Kenapa aku melepaskan dirinya dari pelukannya tadi," gumam Indah sambil membuka kardus gelas.
"Aku memang bodoh, membuang kesempatan yang datang," tambahnya dalam hati.
"Untung saja gelas plastik," ucap Fattan yang langsung mengetahui bahwa kardus yang terjatuh itu adalah gelas yang tidak mudah pecah.
Begitupun dengan Indah, ia merasa bersyukur karena tidak ada satupun gelas yang pecah.
Karena ia tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan seandainya gelas dalam kardus tersebut pecah. Apalagi di hari pertamanya kerja.
"Syukurlah," ucap Indah merasa lega sambil mengelus dadanya.
Ia langsung membawa kardus berisi gelas tersebut ke dalam gudang.
"Ternyata Fattan berada di dalam gudang. Pantas saja, aku tidak melihat ia di manapun," gumam Indah.
"Bagaimana ini, aku harus mencari topik untuk mengobrol dengannya," tambahnya dalam hati.
"Ka...kamu sedang apa di dalam gudang," tanya Indah pada Fattan sambil memalingkan badannya.
To Be Continued......
...----------------...
...JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL DENGAN JUDUL...
..."MENGEJAR CINTA YANG SALAH"...
...DENGAN CARA LIKE, COMMENT, SHARE, DAN TAMBAHKAN FAVORIT UNTUK MENDAPATKAN UPDATE BAB TERBARU....
...DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGIKU...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...----------------...