
Sore hari yang menyenangkan bagi Qenan, hari itu dia merasa sangat bahagia setelah bertemu dengan Asty. Walau seharian ini dia terus di kejar-kejar oleh bodyguard Lusy layaknya seorang pelaku kejahatan yang tengah dalam kejaran pihak berwajib.
Kini ia tengah merendam tubuh atletisnya dengan air hangat di dalam bathtub yang berada di kamar mandi pribadinya. Kacamata super tebalnya ia lepaskan, sehingga siapa saja yang kini melihatnya tidak akan percaya jika dia adalah seorang pria lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa selain mendapat bantuan dari orang lain.
Qenan sangat menikmati hangatnya air yang merendam tubuhnya. Sambil memejamkan mata, ia melihat bayang-bayang wajah Asty saat mereka bertemu tadi.
"kenapa aku jadi seneng kalo bayangin wajah dia ya." gumam Qenan menutup wajahnya dengan kedua tangan, tersipu malu.
Sementara itu Asty dan Laras tengah mengelilingi taman kota yang nampak banyak sekali penjual makanan, tentu saja mencari makan malam sekaligus mengenalkan Asty pada wisata malam ala Laras selama ia tinggal di kota.
Mata Asty begitu di manjakan dengan berbagai jenis makanan, dari mulai makanan ringan hingga berat semua ada di depan mata Asty yang membuatnya lupa diri dan ingin membeli semua yang di lihatnya.
Kilauan cahaya berwarna-warni membuat Asty merasa terhibur, sejenak rasa lelah hati dan tubuhnya menghilang. Selama ini belum pernah ia keluar rumah saat malam hari, ia hanya sibuk dengan tumpukan buku pelajarannya.
Sepasang mata Asty terus menatap keramaian di sekelilingnya seraya menenteng kantong plastik berisi berbagai jenis makanan, karena hampir semua pedagang di taman itu ia hampiri dan membeli dagangannya. Laras hanya bisa menuruti keinginan adiknya yang baru saja merasakan indahnya dunia di malam hari, seperti seekor kucing yang terlepas dari kandangnya.
Walaupun mereka berkeliling sambil memakan jajanan yang mereka beli di taman kota, tidak membuat perut Asty merasa kenyang. Kini ia merasakan lelah setelah berkeliling dan mengajak Laras kembali ke kontrakan untuk menyantap makanan yang di belinya.
Mereka berdua pulang menaiki taksi online yang telah di pesan oleh Laras. Sesampainya di kontrakan, Asty segera membuka beberapa kantong plastik yang di bawanya tadi dan menyantapnya dengan lahap.
Rasa lelah menghampirinya setelah melakukan perjalanan seharian dari desa menuju kota, di tambah lagi dengan perasaan mendebarkan yang ia rasakan ketika bertemu dengan dua pria berbadan besar dan satu pria culun.
Hal yang paling membuatnya berdebar adalah ketika saling beradu pandang dengan Qenan, ia merasa di balik kacamata tebalnya itu tersimpan sebuah kenangan yang begitu pahit bagi Qenan.
Saat ini Asty tengah membaringkan tubuhnya di atas kasur lantai dengan nyamannya, setelah membereskan dapur dan berkas-berkas untuk melamar pekerjaan besok.
"yah, dia udah ngorok di situ." seru Laras ketika melihat Asty ternyata sudah terlelap dengan suara dengkuran kecil yang menandakan bahwa hari ini begitu melelahkan baginya.
__ADS_1
Tadinya Laras akan menyuruh Asty untuk tidur di atas tempat tidur bersamanya, namun melihat Asty sudah tertidur pulas, membuatnya tidak tega membangunkan Asty walau sekedar menyuruhnya tidur di tempat yang lebih nyaman.
Laras hanya menyelimuti seluruh tubuh Asty tanpa bersuara sedikit pun agar ia tidak mengganggu tidur sang adik.
Malam kian larut, Laras mulai mengantuk dan segera membaringkan badan di atas tempat tidurnya, mengingat besok ia harus berangkat ke kantor dalam keadaan segar agar semangat dalam bekerja.
****
Di pagi hari yang cerah, keluarga Bagaskara tengah bersiap di meja makan untuk memulai sarapannya. Tuan dan nyonya Bagaskara terlihat sangat tenang walau anak semata wayangnya mengidap sebuah sindrom yang mengakibatkan dirinya berperilaku layaknya anak remaja walau usianya sudah 26 tahun.
Mereka berharap agar Qenan bisa segera normal kembali karena tahun ini rencananya Qenan akan menjadi presiden direktur perusahaan Bagaskara menggantikan sang ayah.
Sedangkan bu Rani harus mengurus mini market miliknya yang menjadi saksi awal kesuksesan keluarga Bagaskara.
"harusnya mama beristirahat di rumah saja dan tutup mini market itu." seru Bagaskara melihat sang istri berpakaian formal.
"papa juga sama, ma. pengen di rumah, urusan kantor biar anak kita yang ngatur. tapi, ya sudahlah." seru pak Bagas tertunduk lesu.
Sedangkan yang tengah di sindir malah sibuk dengan sendok dan piringnya, membuat Bagas dan Rani merasa putus asa akan masa depan sang anak. Namun di tengah keputusasaan mereka, muncul satu ide dari kepala bu Rani.
"gimana kalo kita cari anak yang kemarin katanya tolongin Qenan, pah." seru bu Rani tiba-tiba membuat pak Bagas terbatuk-batuk.
"mama ini ada-ada ajah, masa kita mau jodohin dia sama anak kita. kalo dia nggak mau gimana." protes pak Bagas melihat penampilan sang anak yang seperti anak-anak.
"ya, daripada sama si Lusy itu. walaupun di mencintai Qenan, tapi dia itu hanya memanfaatkan Qenan, pah." jelas bu Rani.
Ketika tengah terjadi perdebatan, Qenan memutuskan untuk meninggalkan meja makan. "aku udah selesai makan, aku mau ke taman belakang." seru Qenan meninggalkan papa dan mama nya.
__ADS_1
Melihat sang anak yang seperti itu membuat pak Bagas merasa pening. "sudahlah, papa mau ke kantor. soal Qenan, papa serahkan pada mama." ucap pak Bagas memakai jasnya dan berjalan menuju halaman depan dimana sang sopir sudah siap mengantar.
Di pagi yang sama, Asty tengah bersiap untuk mencari pekerjaan. Setelah menghabiskan sarapannya, ia dan Laras keluar rumah bersama sekalian Laras juga akan berangkat kerja.
"semangat, de." seru Laras ketika Asty turun dari taksi online.
Asty menumpang taksi online bersama sang kakak, namun ia minta d turunkan di sebuah perusahaan yang tidak jauh dari kantor sang kakak.
Ia memasuki sebuah perusahaan dan ternyata di sana sedang tidak membuka lowongan pekerjaan. Kemudian ia berpindah ke perusahaan lainnya, namun hasilnya tetap sama.
Tanpa rasa lelah, ia terus keluar masuk satu perusahaan ke perusahaan lainnya hingga tiba waktu makan siang. Ia memutuskan untuk pergi makan siang terlebih dahulu setelah itu ia akan melanjutkan lagi pencarian lowongan kerja.
Hari mulai sore ketika Asty masih berjalan mencari pekerjaan, tubuhnya mulai terasa lelah dan merasa kehausan. Langkahnya terhenti di depan sebuah mini market, di atasnya tertulis Rani Mart. Asty berdecak kagum melihat mini market berlantai dua tersebut.
"wah, mini market ajah sebesar ini." ucap Asty menggelengkan kepala kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam mini market.
Kakinya terus melangkah menuju lemari pendingin mencari sesuatu yang menyegarkan dan menghilangkan dahaga. Setelah itu ia langsung menuju kasir, di lihatnya sebuah tulisan pencarian karyawan baru.
"maaf kak, di sini lagi buka lowongan kerja ya?" tanya Asty pada seorang kasir wanita yang usianya lebih tua darinya.
"iya, de. tapi agak susah masuk sini, udah banyak yang ngelamar tapi dari sekian banyak CV, belum ada yang di lihat sama bos." jelas kasir ramah.
"memangnya kenapa, kak?" tanya Asty penasaran.
"aku juga gak tau de." jawab kasir santai.
Tak lama kemudian terdengar suara teriakan seorang ibu-ibu.
__ADS_1
"copet.. copet.."