
Raut murung masih tergambar di wajah Indah. Ia masih tidak percaya dengan kejadian di gudang barusan mengenai dirinya juga Fattan.
Dinda teman dekatnya saat SMP itu menyadari ketidak semangatan Indah dan langsung mengelus punggung bermaksud untuk menenangkannya.
"Tenangkan dirimu, sekarang kamu sudah aman di sini," ucap Dinda yang masih mengelus-elus punggung Indah.
Indah pun menatap ke arah Dinda dan langsung memberikan senyuman yang terlihat memaksa.
"Lalu dimana pria yang bersamamu saat di gudang?"
Tiba-tiba Mira bertanya pada Indah.
Namun Indah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah yang masih terlihat murung.
"Apa maksudmu?" Mira kembali bertanya sambil mendekatkan wajahnya tepat ke arah wajah Indah.
Refleks Indah memundurkan kepalanya dan berkata bahwa dirinya tidak melihat keberadaan Fattan setelah mati lampu.
"Lagian, kenapa bisa mati lampu begini ya?" Dinda bertanya sambil terheran-heran.
"Aku pun tidak tahu," pungkas Mira.
Dari arah luar, tiba-tiba datang pak Ahmad berjalan ke arah mereka bertiga yang sedang duduk di kursi pelanggan.
Pria kepala empat itu langsung memberi tahu bahwa mati lampu yang sedang terjadi kemungkinan besar akan lama.
"Kemungkinan mati lampu ini akan lama, entah sampai pukul dua belas siang entah sampai pukul empat sore," jelas pak Ahmad.
Ia juga menambahkan bahwa untuk membuka kedai kopi tersebut hal yang paling utama dibutuhkan adalah listrik.
Jika tidak ada aliran listrik, maka mereka tidak akan bisa membuat secangkir kopi pun.
"Jadi, Fattan bantu saya mengambil Genset di gudang," pinta pak Ahmad pada Fattan.
Namun, pak Ahmad terheran-heran saat melihat sekeliling tidak ditemukannya keberadaan pria itu.
"Mana Fattan?" Tanya Pak Ahmad bingung.
Namun, ketiga wanita itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa kalian diam saja? Mana Fattan?" Pak Ahmad kembali bertanya dengan raut wajah yang terlihat cemas.
Lagi-lagi ketiga wanita itu hanya terdiam membatu.
"Indah, bukannya tadi Fattan bersamamu di gudang?"
Sambil menatap ke arah Indah, pak Ahmad bertanya padanya.
"Apa dia masih di dalam gudang?" Pak Ahmad kembali bertanya.
Indah pun menjawab, bahwa dirinya tidak melihat keberadaan Fattan lagi setelah kejadian mati lampu tadi. Ia juga bercerita bahwa dirinya sempat terkunci di dalam gudang sendirian tanpa adanya keberadaan Fattan.
__ADS_1
"Maksudmu dia kabur?" Pak Ahmad kembali bertanya.
Namun jawaban Indah hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Hhhhhh." Pak Ahmad menghela nafas.
"Ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja," jelas pak Ahmad santai.
Waktu terus berjalan, jadwal buka kedai kopi di hari tersebut pun perlahan tiba. Karena tidak ingin membuang waktu lagi, pak Ahmad mengajak Indah dan Mira untuk membantunya mengambil mesin genset di gudang.
Namun sebelum itu, pak Ahmad pergi ke sebuah lemari untuk mengambil senter karena ia pikir akan sangat gelap jika tidak membawa alat penerang sama sekali.
"Kamu di sini saja Dinda," perintah pak Ahmad.
"Ayo, Mira, Indah."
Mereka bertiga pun pergi menuju gudang.
Saat berada di dalam gudang, senter yang tengah menyala itu di arahkan ke berbagai sudut untuk mengecek situasi gudang.
"Lupa lagi saya simpan genset di sebelah mana," ucap pak Ahmad yang masih menyenter ke berbagai sudut gudang.
"Kau tahu Mira?" Tiba-tiba pak Ahmad bertanya pada Mira yang berada tepat di belakang punggungnya.
"Mana saya tahu pak, dari dulu saya tidak pernah pegang mesin-mesin berat, apalagi genset," ucap Mira.
"Ya juga ya, mana ada kamu pegang-pegang begituan. Yang ada malah rusak tuh mesih," ucap pak Ahmad becanda.
"Apa sih pak Ahmad, memangnya saya pembawa sial apa?!" Ucap Mira sedikit bete.
"Tau kok, saya juga becanda, pura-pura bete," pungkas Mira.
Perlahan mereka bertiga pun melangkahkan kakinya ke dalam gudang. Cahaya senter mengarah ke berbagai arah dalam gudang untuk menerangin gelapnya tempat tersebut.
Dengan posisi pak Ahmad yang berada paling depan dan Mira juga Indah yang berada dibelakang punggung pak Ahmad.
Mereka bertiga terus berjalan menuju ujung gudang dan seketika berhenti.
"Kalian merasakannya juga?" Tanya pak Ahmad penasaran.
Indah mengangguk bertanda bahwa dirinya juga merasakan apa yang kepala kedai itu rasakan.
Namun, berbeda dengan Mira, ia justru kembali bertanya apa maksud dari ucapan pak Ahmad barusan.
"Merasakan apa memangnya?" Tanya Mira celingak-celinguk menggaruk kepalanya.
"Kau tadi merasa menginjak sesuatu kah?" Tanya Pak Ahmad pada Mira.
"Oh ia pak, aku merasa menginjak sesuatu yang empuk," ucap Mira langsung ngeh.
"Kira-kira, menurutmu apa itu?" Pak Ahmad kembali bertanya.
__ADS_1
"Coba senter pak"
Indah meminta pak Ahmad untuk menyenter ke arah yang menurutnya janggal itu. Tidak membutuhkan waktu lama lagi, pak Ahmad langsung menyenternya.
Dan hal yang tidak terduga terjadi, ternyata sesuatu yang sempat mereka bertiga injak itu adalah tubuh Fattan yang sedang tergeletak di lantai.
"FATTAN!!"
Teriak mereka bertiga sambil berlari ke arah pria yang terkujur tidur itu.
Tidak lama juga lampu gudang tiba-tiba menyala, namun perhatian mereka tetap fokus pada Fattan yang masih terkujur tidur.
"Fattan, hey Fattan, bangun," ucap Pak Ahmad sambil menggoyang-goyangkan tubuh pria itu.
"Kenapa dia bisa tidur di gudang?" Tanya pak Ahmad yang masih menggoyang-goyangkan tubuh Fattan.
"Apa dia kelelahan?" Tanya Indah menerka-nerka kenapa Fattan bisa tidur di gudang.
"Bisa jadi, mungkin dia begadang semalaman," ucap Mira.
"Oh kasian sekali," tambahnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Indah kembali bertanya pada pak Ahmad.
"Ya sudah, gini saja. Mira kamu, kedepan dan kasih tahu Dinda untuk segera membuka kedai. Sedangkan Indah diam disini dengan saya." Perintah pak Ahmad.
Namun Mira menolak. Ia ingin tetap di dalam gudang bersama mereka dan malah menyuruh Indah untuk menggantikan posisinya.
"Kenapa kamu malah melempar tugasmu Mira?!" Tanya Pak Ahmad sedikit sewot.
"Kenapa harus saya pak?! Kan karyawan baru disini Indah?!"
"Oh, mentang-mentang karyawan baru, disuruh seenaknya begitu?" Tanya pak Ahmad sedikit sewot pada Mira.
"Sudah-sudah pak, tidak apa-apa, biar saya saja yang ke depan, untuk memberitahu Dinda," ucap Indah menengahi.
"Ya sudah, sebaiknya kalian berdua saja yang kedepan. Biar saya saja yang urus Fattan," ucap pak Ahmad.
Indah dan Mira pun menuruti perintah pak Ahmad. Mereka berdua pun pergi meninggalkan pak Ahmad di dalam gudang bersama Fattan yang terkujur tidur, untuk memberi tahu Dinda bahwa kedai kopi harus segera di buka.
To Be Continued.....
...----------------...
...JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL DENGAN JUDUL...
..."MENGEJAR CINTA YANG SALAH"...
...DENGAN CARA LIKE, COMMENT, SHARE, DAN TAMBAHKAN FAVORIT UNTUK MENDAPATKAN UPDATE BAB TERBARU....
...DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGIKU...
__ADS_1
...TERIMA KASIH...
...----------------...