
Malam semakin larut, namun obrolan mereka bertiga semakin mengasyikkan. Mereka menghabiskan malam terakhir bersama Vian sebelum ia pergi ke kota esok hari dan entah kapan mereka akan berjumpa kembali.
"bro, di kota pasti ceweknya cantik-cantik terus **** lagi ya.." ucap Toby mengundang tawa Haikal dan Vian.
"ampun deh, otak lo isinya cewek melulu ya." seru Haikal dengan tawanya.
"yah, gue mau nyari cewek lah. malu gue, tadi deketin Vina eh malah dia udah punya cowok. ancur deh reputasi gue sebagai cowok tampan." jawab Toby meratapi nasibnya membuat Haikal semakin mengencangkan tawanya.
"tunggu dulu, lo tadi deketin Vina? Vina yang suka di UKS itu kan?" tanya Vian memastikan.
"iya bro, berkat tadi lo pukulin gue. gue jadi bisa di obatin dia, tangannya yang halus bikin luka gue cepet sembuh." jelas Toby mengusap wajahnya dan membayangkan kejadian tadi siang di UKS.
"gila lo. udah jelas dia udah punya cowok, malah di bayangin mulu. dosa tau lo bayangin cewek orang." seru Vian menoyor kepala Toby yang tengah mengkhayal.
Vian terlihat bahagia bersama teman-temannya, seolah ia melupakan kejadian mengerikan yang telah ia lakukan tadi pagi di sekolah.
Tak sedikitpun ia membahas tentang Asty, begitupun dengan teman-temannya yang tidak berani memulai pembicaraan mengenai Asty karena mereka takut akan melukai Vian kembali.
Canda tawa mereka harus berakhir seiring malam yang kian larut. Vian harus pulang karena besok ia akan pergi bersama sang ayah ke kota untuk memulai hidup barunya.
"gue balik dulu yah. gak usah lebay deh lo, kita masih bisa chatting, bisa video call juga." ucap Vian mengacak rambut Toby yang sedang menangisi kepergiannya.
"gue gak ada temen di sekolah bro kalo ga ada lo." seru Toby menyeka air matanya.
"mungkin ini waktunya buat lo tobat bro, minta maaflah sama Rangga. lo udah banyak banget salah sama dia." pinta Vian dengan tawanya.
"huwaaa ... terus lo nyuruh gue temenan sama dia gitu, lo nyuruh gue pake kacamata super tebel terus rambut gue di pakein minyak sayur biar klimis....." Toby terus nyerocos sambil terisak hingga akhirnya Haikal menyela ucapannya.
"stop Toby, jangan lebay deh lo. malu sama badan, masa badan doank yang gede tapi cengeng. haha.." Haikal dan Vian tak bisa menahan tawanya melihat Toby yang berbadan tinggi besar tapi menitikkan air mata ketika akan di tinggal oleh Vian.
"ucapan Vian ada benernya juga, sekarang waktunya lo buat tobat. bentar lagi lo kelas 9, ujian, terus masuk SMA. masa lo mau kayak gini terus, gimana masa depan lo, mau jadi apa lo nanti hah?" jelas Haikal membuat Toby sedikit tersadar.
"ya udah, gue pamit dulu yah. bokap udah nelponin ajah nih dari tadi." seru Vian melihat ponselnya.
__ADS_1
"iya bro, sukses ya di sana. semoga dapet cinta yang lebih baik lagi." seru Haikal menepuk pundak Vian.
"iya bang, makasih." balas Vian.
"jangan lupa ngabarin yah." seru Toby seolah akan di tinggal kekasihnya.
"iya sayangku." ledek Vian.
"eh gila lo, gue gak belok kali." jawab Toby kesal.
Vian pun melajukan motornya menuju rumah menembus gelap dan dinginnya malam itu. Dalam benaknya ia masih tidak rela berpisah dengan Asty, namun ia bertekad untuk kembali menemuinya ketika ia sudah sukses dan membuat Asty bertekuk lutut di hadapannya.
"tunggu aku kembali, sayang." gumam Vian di tengah gelapnya malam sambil menyeringai tajam.
****
Pagi ini tetesan air turun dari langit membasahi semua yang ada di bumi menciptakan udara yang sangat sejuk dan membuat Asty begitu nyaman di balik selimutnya.
Ia enggan beranjak dari tempat tidurnya karena saking begitu nyamannya Asty tertidur dengan di temani suara rintikan hujan yang memberikan aroma begitu menenangkan baginya.
"hmm ibu, bolehkah aku gak berangkat sekolah sehari ajah." ucap Asty dengan mata yang masih terpejam dan tak mau beranjak dari tempat tidurnya.
"oh, gak mau sekolah ya. okeh ibu kasih tau kak Laras biar gak usah beliin kamu hp ya." ucap bu Tatum dengan santai meninggalkan Asty yang masih berada di bawah selimutnya.
Laras memang sudah berjanji akan membelikan sebuah ponsel untuk Asty ketika ia masuk SMA agar Asty lebih rajin belajar lagi.
"jangan bu. aku udah bangun nih, aku siap-siap mau mandi." teriak Asty menghentikan langkah bu Tatum sambil merapihkan tempat tidurnya.
Bu Tatum hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Asty membereskan tempat tidurnya dengan cepat namun rapih.
"nah, gitu donk. ibu tunggu d meja makan ya. jangan lama-lama nanti telat kamu, ini udah siang loh." ucap bu Tatum meninggalkan Asty di kamarnya.
"aduh aduh.. ini harus cepet." gumam Asty menyiapkan perlengkapan sekolahnya dengan cepat sebelum ia pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Asty sudah berada di meja makan sedang menyantap nasi goreng buatan sang ibu.
"cepet banget, kamu nggak mandi ya?" ledek bu Tatum.
"ih enak ajah, aku mandi donk bu. gak ada yang bisa ngalahin mandi secepat kilatnya aku." jawab Asty santai memasukan sendok ke dalam mulutnya.
"iya deh, ibu percaya." jawab bu Tatum menghindari perdebatan di pagi hari.
Hujan sudah mulai reda, sinar matahari pun perlahan menyinari bumi dan memberikan kehangatan membuat Asty dengan semangat barunya pergi ke sekolah.
Setelah berpamitan dengan bu Tatum, Asty segera melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Seperti yang di katakan bu Tatum jika Asty tidak mempercepat langkahnya, ia pasti akan terlambat.
Kini ia mempercepat langkahnya berharap tidak terlambat sampai di sekolah. Tak peduli sebecek apapun jalanan kala itu, yang ada di pikiran Asty hanyalah cepat sampai di sekolah dan tidak terlambat.
Ketika ia mempercepat langkahnya, tiba-tiba suara mesin motor menghampirinya dan berhenti tepat di depannya.
"wouy buruan naik, lo jalan kaki kapan nyampenya coba." teriak Toby menoleh ke arah Asty yang berada tepat di belakangnya.
"bener juga ya." Asty menatap jam pada lengannya lalu segera menaiki motor Toby.
Di tengah perjalanan, Asty mencoba memulai pembicaraan agar suasana tidak terasa tegang mengingat awal pertemuan mereka dulu di warnai dengan baku hantam.
"lo boncengin gue emang cewek lo nanti ga marah?" tanya Asty pada Toby yang tengah asyik membawa motornya meliuk-liuk mendahului siapa saja yang ada di depannya.
"hahaha ... jangan ngeledek lo, gue jomblo mana ada cewek yang marah. jomblo itu bebas lakuin apa ajah, gak perlu mikirin perasaan pacar." jawab Toby sedikit berteriak karena ramainya jalan di pagi itu.
"bener juga ya." gumam Asty.
"lo sendiri gimana, apa lo udah dapet penggantinya si Vian?" tanya Toby kembali saat melihat Asty terdiam.
"hah, ya nggak lah. gue gak mau pacaran dulu. pacaran itu cuma bisa ninggalin luka hati doank. gue gak mau nyakitin orang lagi." jelas Asty sedikit mencondongkan wajahnya ke depan agar suaranya terdengar oleh Toby.
Obrolan mereka pun berakhir sesampainya mereka di gerbang sekolah. Asty meminta di turunkan di pintu gerbang sekolah saja karena tidak ingin di lihat oleh para siswa sekolah.
__ADS_1
Asty berjalan seorang diri menuju ruang kelasnya. Suasana sekolah tampak sepi karena banyak siswa yang tidak masuk beralasan karena hujan telah terjadi di mana-mana.
Langkah kaki Asty sejenak melambat ketika ia merasa ada yang sedang memperhatikannya. Belum sempat ia mencari tahu siapa yang sedang memperhatikannya, suara bel masuk terdengar begitu nyaring di telinga Asty membuatnya berlari menuju ruang kelasnya yang cukup jauh dari pintu gerbang sekolah.