
Asty terkejut mendengar pengakuan Andri membuatnya kembali mengingat perasaanya yang dahulu sama seperti Andri.
Dengan refleks Asty memegang wajah Andri yang tengah tertunduk dengan kedua tanganya dan mengangkatnya agar bisa ia tatap.
"aku juga sayang sama kamu, tapi aku nggak mau ngelawan orangtuamu. Lebih baik kita sama-sama lupakan perasaan kita ini."
Asty menatap mata Andri sesaat dan melepas tanganya perlahan yang sedari tadi mengusap lembut kedua pipi Andri sambil menahan air matanya.
"Akan sangat sulit dan butuh waktu lama untuk melakukan itu Asty."
Andri meraih tangan Asty yang perlahan menjauhinya kemudian ia mengeluarkan sebuah gelang couple berwarna hitam yang terbuat dari tali dan kayu yang sudah terukir nama Asty.
"aku mau kamu pake ini sebagai kenangan dariku yang pernah menyayangimu. Aku harap kamu mengingatku dan kita masih bisa menjalin hubungan baik walau bukan sebagai sepasang kekasih."
Andri memasangkan gelang itu pada tangan kanan Asty kemudian ia memasangkan gelang miliknya pada tangan kirinya. Asty hanya tersenyum melihat mereka memakai gelang yang sama.
"terimakasih, aku akan selalu mengingatmu sebagai sahabatku yang selalu menolongku dari orang-orang yang tidak menyukaiku."
Asty tersenyum menguatkan hatinya, kemudian Andri mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto berdua sebagai kenangan.
Setelah itu mereka pergi menghampiri Rehan dan yang lainya dengan bergandengan tangan. Mereka membuat heboh seisi sekolah dan mengira mereka telah meresmikan sebuah hubungan.
"Jadi, kalian udh resmi nih?" Ledek Rehan melihat gelang yang mereka kenakan dan senyum yang mereka berikan mempertegas tebakan Rehan.
"kita ngga jadian kok, kita cuma temenan aja." Asty menjawab pertanyaan Rehan dengan tegas agar meyakinkan mereka.
"gue titip Asty ya Han, kalian kan bakal satu sekolahan. Jaga dia jangan sampe jatuh ke cinta yang salah, gue emang cinta sama dia tapi kita gak akan bisa bareng-bareng. gue mau ikut mommy ke luar kota."
Andri menitipkan Asty pada Rehan dengan tersenyum memandangi Asty menerima kenyataan bahwa mereka tidak akan bisa bersatu.
Hari itu menjadi pertemuan terakhir antara Asty dan Andri, Asty menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang istimewa, pasti di kota sana Andri akan mendapatkan gadis yang lebih dari dirinya dan dapat diterima oleh mommy Astrid.
.
.
.
.
.
Masa pengenalan lingkungan sekolah sudah usai, saatnya Asty melakukan kegiatan belajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Walaupun satu sekolah dengan sahabatnya dulu, tapi mereka tidak berada dalam kelas yang sama membuat mereka saling jauh dengan kesibukan masing-masing.
Sekolah baru, teman baru. Akan tetapi Rehan masih memantau Asty dari kejauhan sesuai pesan dari Andri walau mereka beda kelas.
__ADS_1
"hey, kamu sendirian ajah." Sapa Elena yang tengah duduk bersama Vania di depan bangku Asty.
"hmm iya nih, kayaknya jumlah muridnya ganjil deh." Asty menjawab dengan santai duduk dibangku barisan paling belakang.
"haha.. ya udah gak apa-apa kita temenin kok." jawab Vania sangat ramah.
Vania terlihat sangat anggun berbeda dengan Elena yang terlihat sedikit lebih santai dan bebas.
Akhirnya mereka bertiga bersahabat, saling berbagi cerita masalah pribadi masing-masing.
Bel istirahat berbunyi, mereka beristirahat didalam kelas menikmati cemilan sambil melihat para anak laki-laki bermain basket di lapangan yang tepat berada di depan kelas mereka.
Tiba-tiba fokus Asty tertuju pada seorang anak lelaki yang tengah mendrible bola basket, dia adalah Dani.
"wah ternyata dia juga sekolah disini." batin Asty sambil terus menatapnya kagum.
"udah ganteng, jago silat, jago basket pula. aiiihh perfect banget sihh." tambahnya sambil tersenyum-senyum.
"Hey Asty, hello.. Lo sehat kan? Lo baik-baik ajah kan?"
Elena mencurigai sahabat barunya ini yang sedari tadi senyum-senyum gak jelas.
"Eh iya, aku baik-baik ajah kok."
Asty terkekeh melihat lambaian tangan Elena didepan wajahnya.
Bagaimanapun Asty harus segera melupan Andri, karena saat ini berharap bisa berama dengan Andripun sudah tidak bisa ia lakukan dan tak ada gunanya ia selalu memikirkan hal yang tak mungkin bisa ia gapai.
Asty mengalihkan pembicaraan agar tidak dicurigai lebih jauh lagi oleh Elena.
"Vania lagi di UKS, dia kan anak PMR. hari ini dia lagi jaga disana."
jelas Elena dan Asty hanya ber oh ria.
Jam sekolahpun telah usai, saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Karena jarak rumah Asty lumayan dekat, jadi dia pulang berjalan kaki sendirian sedangkan teman-temanya menaiki kendaraan umum.
Setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah, Asty selalu berjalan kaki. Terkadang ia merasa iri melihat teman-temanya yang membawa sepeda motor ke sekolah, tapi ia sadar untuk apa manaiki sepeda motor dengan jarak yang dekat tak mungkin juga ia merengek pada orangtuanya meminta dibelikan sepeda motor, bisa sekolahpun ia merasa sangat bersyukur, lagipula lebih seru berjalan kaki karena bisa menikmati sejuknya angin yang menerpa wajahnya.
.
.
.
.
Tak terasa akhirnya Asty tiba dirumah, terlihat kak Laras tengah sibuk mempersiapkan berkas untuk melamar pekerjaan.
__ADS_1
"kakak jadi mau kerja di kota?" Tanya Asty sedikit lesu karena akan ditinggalkan oleh kakak yang bawel dan super jahil seperti Laras.
"iya de, kakak udah lulus sekolah. kakak harus kerja, kasian ayah sama ibu udah tua masa harus kerja terus."
Laras menghentikan kegiatan beberes berkasnya sejenak dan menatap ke arah sang adik yang tengah bersedih.
"ehh... enak ajah, ayah belum tua tau. ayah sama ibu belum juga punya cucu masa udah dibilang tua."
Pak Reno terkekeh menyahuti jawaban Laras dari arah dapur bersama bu Tatum, kemudian mengusap lembut kepala Asty.
"kamu sedih yaa mau ditinggal kakak ?" tanya bu Tatum dan di jawab anggukan oleh Asty.
"jiaahh... gak usah lebay deh lo. kakak berangkat juga masih lama, nunggu ktp dulu belum jadi nih. lagian nanti juga kalo kakak ada waktu pasti pulang kok, doain ajah kakak biar nyampe sana cepet dapet kerjaan ya," Seru Laras mengacak rambut Asty yang memang sudah acak-acakan terkena angin dan debu jalanan.
"dah sana mandi dulu, bau keringet tau." tambah Laras sambil menutup hidungnya membuat Asty langsung ngacir ke kamar mandi.
"hmmm.. dasar kakak sama ade emang pada hobi ngelawak yaa." seru bu Tatum. Pak Reno yang tengah duduk di sofa memanggil Laras dan bu Tatum untuk duduk bersama.
"Anak ayah sekarang sudah besar ya, sudah pengen cepet-cepet kerja."seru pak Reno membelai rambut Laras.
"iya ayah, aku pengen bahagiain ayah sama ibu yang udah ngerawat aku dari kecil. aku pengen bales semua kebaikan kalian selama ini."
"sayang, itu udah jadi tugas kita sebagai orangtua. Kami senang melihat kamu sudah tumbuh dewasa." seru bu Tatum yang duduk di sebelah Laras
"selama kamu dikota, jaga diri kamu baik-baik ya. jangan lakuin hal yang dilarang agama, jaga nama baik keluarga." seru pak Reno.
"tenang ajah ayah, aku bisa jaga diri. aku kan udah jago silat nih. heheh" jawab Laras terkekeh.
"oh iya, berkat kamu ngajakin Asty latihan silat, sekarang dia jadi lebih berani yaa. gak kayak dulu penakut dan suka di kerjain temen-temenya." ucap bu Tatum.
Obrolan merekapun berlanjut hingga waktu makan siang tiba, mencerminkan bahwa mereka memang keluarga sederhana yang harmonis walau tak bergelimang harta tapi mereka tetap hidup bahagia.
.
.
.
.
.
bersambung...
mana nihh komentarnya 😁
ceritanya bosenin yaa 🙈
__ADS_1
aku juga bosen ga di semangatin readers 😂😂😂
jadi makin lama tamatnya deehh... 😌