Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 78


__ADS_3

Langit yang biasanya begitu cerah, kini nampak gelap, seperti perasaan Qenan yang kini terasa gelap sejak kepergian Asty. Qenan terus mengemudikan mobilnya mengelilingi kota untuk mencari keberadaan Asty, Qenan begitu menyesal karena baru mengingat semua kebenaran saat Asty sudah pergi.


Hatinya begitu hancur mengingat kejadian kemarin yang juga menghancurkan hati Asty.


Tanpa mengenal lelah, Qenan terus memutar-putarkan kemudinya mencari jejak dimana Asty berada, hingga bunyi notifikasi ponsel membuatnya memperlambat laju mobilnya.


Di raihnya ponsel yang tergeletak di sebelahnya, tiba-tiba ia menginjak rem setelah membuka sebuah foto yang di kirimkan oleh Lusy.


"Arka.." Ucap Qenan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tanpa membalas pesan Lusy, Qenan segera menuju rumah Vian. Emosinya yang sudah tertampung begitu banyak, akan segera meledak ketika melihat orang yang di cintai nya kembali di ambil oleh Vian.


Sementara Vian kini telah membawa Asty ke sebuah vila miliknya, di sana Vian memperlakukan Asty dengan tidak manusiawi. Vian begitu marah karena Asty sudah berusaha kabur darinya, kini Vian mengikat Asty dengan posisi berdiri.


Tangan Asty terlihat memiliki banyak luka akibat ikatan tali di tangannya, wajah dan tubuhnya penuh luka akibat siksaan dari Vian.


"Kenapa lo nggak akhiri ajah hidup gue sekarang, hah." teriak Asty yang mulai melemah.


"Nanti, setelah aku merasa bosan padamu." bisik Vian di telinga Asty kemudian tertawa meninggalkan Asty sendirian.


Qenan harus menelan kekecewaan karena tidak menemukan Asty di rumah Vian, serta para pelayan dan penjaga tidak mau memberitahu dimana keberadaan Vian karena mereka takut pada tuannya. Ponsel Vian juga sudah tidak bisa di hubungi, membuat Qenan semakin frustasi.


***


Hari terus berjalan walau Qenan belum bertemu dengan Asty. Sudah satu minggu hilangnya Asty, pihak berwajib pun tidak menemukan titik terang keberadaan Asty.


Laras begitu terpukul atas hilangnya sang adik kesayangan, begitu pula dengan bu Tatum yang mulai sering sakit karena memikirkan keadaan Asty. Qenan menghentikan pencarian Asty karena ia juga sudah mulai bekerja kembali, namun dalam hatinya ia tidak akan pernah melupakan Asty.


"Kamu dimana Asty, bagaimana keadaanmu.. Aku sangat merindukan senyuman mu." Ucap Qenan mengusap wajah Asty dari ponselnya.

__ADS_1


Rasa rindu kian menyiksanya saat ini, penyesalan selalu menghampirinya. Andai saja Qenan bisa memutar waktu, ia tak akan pernah meninggalkan Asty karena dialah yang selalu membuat Qenan merasa bahagia dan menjadi dirinya sendiri.


Di hari yang sama, Asty juga tengah mengalami penyiksaan dari Vian. Seolah Asty adalah mainan baru untuk Vian, setiap hari Vian melampiaskan emosinya dengan menyiksa Asty yang sudah tampak sangat lemah.


Dalam pikiran Asty, hidupnya kini hanya tinggal hitungan hari karena Vian tanpa hentinya memaksa darahnya terus mengalir. Berteriak minta tolong pun rasanya percuma bagi Asty karena posisinya saat ini berada di vila yang jauh dari pemukiman warga.


Melihat Asty yang begitu pasrah, Vian merasa kesal karena yang dia inginkan hanyalah teriakan minta tolong yang keluar dari mulut Asty. Tiba-tiba muncul sebuah ide dari kepala Vian, ia mendekati Asty dan melepaskan tali yang mengikat tangannya.


"Pergilah bersihkan dirimu." bisik Vian begitu lembut di telinga Asty.


"Lo mau ngapain, hah?" tanya Asty menjauh dari Vian.


"Aku mau melihatmu tampil cantik, sayang." ucap Vian meraih dagu Asty.


Kemudian Vian memanggil para pelayan untuk membantu Asty membersihkan diri dan mengobati lukanya, sedangkan Vian menunggu sambil bersantai di sofa sambil memainkan ponselnya.


Awalnya Asty menolak, namun karena paksaan beberapa pelayan akhirnya Asty menuruti semua keinginan Vian. Setelah menunggu beberapa lama, Vian di kejutkan dengan kehadiran Asty di depannya.


"Kau sangat cantik, sayang." seru Vian menarik dagu Asty agar wajahnya menghadap ke arahnya.


"Gue gak butuh pujian dari lo, apa setelah ini lo bakal langsung bu-... hmmmptt."


Belum selesai Asty berbicara tiba-tiba mulutnya dibungkam oleh Vian yang sejak tadi terus menatap bibir lembut Asty.


BRAK..


Vian terjatuh ke lantai setelah Asty mengumpulkan tenaganya untuk mendorong Vian.


"Lo emang udah gila, Alvian." teriak Asty mengusap bibir merahnya dengan kasar.

__ADS_1


Vian hanya tertawa walau dalam keadaan terjatuh, ia terus menyeringai dan segera bangkit menarik tangan Asty yang berjalan meninggalkannya hingga Asty terjatuh ke dalam pelukannya.


"Kau tidak bisa pergi meninggalkanku begitu saja, sayang." bisik Vian memeluk Asty dari belakang.


"Lepasin gue, Alvian." Asty berusaha menyingkirkan tangan Vian yang melingkar di pinggang rampingnya.


Bukannya melepaskan, Vian malah menggendong Asty menuju balkon kamarnya, dimana mereka akan melakukan makan malam romantis yang di temani taburan bintang.


Vian tidak mau mengajak Asty keluar vila karena berita hilangnya Asty sudah menyebar ke seluruh penjuru, Vian tidak mau menyerahkan tawanannya begitu saja.


Besok Vian akan pergi ke kota untuk kembali mengurus perusahaannya, mendengar hal itu membuat hati Asty sedikit berbunga. Asty mulai menyusun rencana untuk pelariannya pada saat Vian tidak ada di vila.


"Malam ini adalah pertemuan terakhir kita, ku harap kau tidak merasa sakit karena merindukan ku." Vian tersenyum menatap Asty.


"Ya, aku harap kau juga tidak sakit karena menahan rindu padaku." balas Asty dengan tatapan sendu, tapi dalam hatinya ia tertawa karena ini akan menjadi pertemuan terakhir Vian dengan Asty yang selamanya tidak akan bertemu kembali.


"Oh rupanya sekarang kau mulai jatuh cinta padaku. Aku suka saat kita mengobrol dengan panggilan aku dan kamu, bukan lagi lo dan gue." Vian terkekeh.


"Yah, aku sudah pasrah dengan takdirku. Aku tidak akan bisa jauh-jauh darimu." ucap Asty tersenyum padahal dalam hatinya ia ingin muntah.


Setelah selesai menyantap makan malam, Vian menggendong Asty ala bridal style menuju tempat tidur king size nya. Vian membaringkan tubuh Asty kemudian ia ikut berbaring di sebelahnya.


"Apa hukuman ku sudah selesai?" tanya Asty melihat kedua tangannya yang tidak terikat.


"Hukuman mu masih belum selesai, sayang. Aku ingin kau tidur menemaniku malam ini." bisik Vian di telinga Asty kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Asty.


Beberapa saat kemudian Vian sudah terlelap sambil memeluk Asty layaknya bantal guling. Merasa badannya berat dan sesak nafas oleh tangan Vian, Asty perlahan memindahkan tangan Vian dari pinggangnya, Vian yang terlihat sangat lelah sudah tidak merasakan apapun.


Sedangkan Asty turun dari tempat tidur untuk berganti pakaian di kamar mandi karena ia merasa risih saat tidur mengenakan dress.

__ADS_1


"Hah, rencana ku kali ini harus berhasil." gumam Asty menatap pantulan dirinya dari cermin.


"Asty..." teriakan Vian membuat jantung Asty berdegup begitu kencang, tanpa menjawab terlebih dahulu Asty bergegas ke luar dari kamar mandi.


__ADS_2