Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 48


__ADS_3

Hara sengaja menempel pada Vian dan terlihat bermanja-manja agar membuat Asty cemburu.


"oh ya ampun, kenapa sesak sekali melihatnya." gumam Asty memegangi dadanya.


Walau Asty selalu menjaga jarak dengan Vian agar tidak merasa sakit hati ketika mereka harus berpisah, tetapi tetap saja rasa sesak itu nyata adanya.


Seperti saat ini ketika Asty melihat gadis lain mendekati Vian, rasa sakit itu semakin nyata dan tak terasa membuat butiran bening menetes dari matanya. Asty menangis, ya untuk kesekian kalinya ia menangis karena seorang lelaki.


Beberapa saat ia menenangkan diri dan menguatkan hatinya untuk menemui Vian, mengakhiri segala luka hati yang Vian buat.


"gue harus kuat. Ya, ini kali terakhir gue nangis karena cowok." Asty memantapkan hati untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.


Perlahan Asty melangkahkan kakinya menghampiri Vian yang tangannya tengah di pegang erat oleh gadis yang terlihat lebih menarik dari dirinya.


"Alvian .." ucap Asty sambil tersenyum berdiri di belakang Vian.


Asty memang lebih senang memanggil nama depan Vian, itu yang membuat Vian tahu bahwa Asty yang memanggilnya karena hanya Asty yang memanggil menggunakan nama depan nya.


"Asty ." ucap Vian kemudian ia membalikkan badannya.


Saat ini mereka saling berhadapan, tangan Hara masih menempel erat pada tangan Vian membuat pandangan Asty terfokus pada tangan mereka.


"lepaskan.." ucap Vian segera menyingkirkan tangan Hara setelah melihat arah pandangan Asty.


Setelah tangannya terlepas, Vian segera menghampiri Asty dan memegang erat kedua telapak tangan Asty seakan menahan Asty agar tidak pergi meninggalkannya.


"aku bisa jelasin semuanya sayang." ucap Vian sedikit ada rasa takut.


Vian sangat takut Asty akan meninggalkannya, karena ia merasa Asty sudah menjadi bagian dari hidupnya, ia tak ingin Asty pergi begitu saja meninggalkan dirinya sendirian.


"coba jelaskan, ada apa sebenarnya dan siapa gadis itu?" tanya Asty berharap penjelasan Vian bisa menyelamatkan hubungan mereka.


Melihat Vian yang berusaha keras untuk menyelamatkan hubungannya membuat Hara semakin cemas karena ia tidak ingin hubungan Vian dengan Asty akan baik-baik saja.


"gue adalah pacarnya Vian, sebentar lagi kita juga akan bertunangan." ucap Hara tiba-tiba melangkah mendekati Vian dan melingkarkan tangannya pada tangan Vian.


DEG..!!!

__ADS_1


Pernyataan yang mengejutkan keluar dari mulut Hara membuat hati Asty semakin sakit mendengarnya.


"diem lo, gak usah ngarang cerita. bikin tambah keruh ajah." Vian melepaskan tangan Hara dengan kasar.


Air mata Asty sudah tidak bisa di bendung lagi, kini derayan air mata Asty jatuh membasahi bumi yang tengah di pijaknya.


"nggak sayang, itu semua gak bener. cuma kamu yang aku cinta, cuma kamu yang bisa bikin aku nyaman dan kamu adalah cinta pertama dan terakhir ku Asty.." jelas Vian dengan sungguh-sungguh.


"benarkah itu Vian? oh itu sangat romantis sekali." Ledek Hara kemudian mengambil ponselnya dan menyalakan rekaman suara Toby yang di gunakan Hara untuk mengancam Vian selama ini.


"aduh, telat gue gak buru-buru ambil tuh hape." sesal Toby.


Asty mendengarkan rekaman suara itu dengan seksama sampai akhirnya suara itu tak terdengar lagi. Asty terdiam sejenak mencerna maksud dari rekaman tersebut.


"sayang, aku bisa jelasin semua ini." Vian menggenggam tangan Asty dengan erat namun Asty melepaskan tangannya dengan kasar.


"cukup Vian. Dari awal juga gue udah nyangka semua ini pasti cuma permainan lo doank, gue juga sama sekali gak pernah ada rasa sama lo. Asal lo tau, gue nerima lo karena permintaan temen-temen, bukan keinginan gue sendiri. Mulai detik ini, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi."


Suara Asty bergetar, ia sangat emosi mengetahui kebenarannya. Ia hanya di anggap sebagai bahan taruhan saja oleh Vian. Sakit hati dan kecewa yang saat ini ia rasakan, namun sekuat tenaga ia tak meneteskan air mata di hadapan Vian.


"tapi aku saat ini benar-benar mencintaimu Asty. tolong jangan tinggalkan aku." Vian menarik pergelangan tangan Asty menghentikan langkahnya yang hendak meninggalkan Vian.


"tidak Vian, gue gak suka hubungan yang di awali dengan kebohongan. gue gak mau kalo nanti terus-terusan di bohongi." ucap Asty melepaskan tangannya dengan kasar dan berlari meninggalkan Vian.


Ketika Vian akan mengejar Asty, tangannya di tahan oleh Hara.


"udah gak usah di kejar, lagian dia udah gak mau lagi kan sama kamu. kamu mending sama aku ajah." rayu Hara namun malah membuat Vian semakin emosi dan mendorong Hara hingga terjatuh.


Vian berlari mengejar Asty yang sudah tidak terlihat lagi.


"Asty, kemana kamu.." teriak Vian merasa frustasi.


Sementara Asty yang memilih berlari masuk kembali ke sekolah agar tidak terlihat oleh Vian. Asty memang tak pandai berlari di bandingkan dengan Vian, jika ia berlari menuju rumah pasti akan ketahuan, jadi Asty memutuskan untuk bersembunyi di taman sekolah.


Kebetulan gerbang sekolah masih terbuka karena sedang ada pertandingan basket, membuat Asty mudah kembali memasuki sekolah.


Asty terus berlari menuju taman belakang sekolah tanpa menghiraukan apapun, termasuk Rehan yang sedari tadi memperhatikannya.

__ADS_1


Rehan yang memang telah mengikuti pertandingan, meninggalkan lapangan begitu saja tanpa berpamitan pada temanya.


"wouy mau kemana lo?" teriak teman Rehan.


"gue balik duluan, lagian udah gak ada pertandingan lagi kan." jawab Rehan melambaikan tangan sambil terus berjalan.


Rehan mencari-cari Asty dan akhirnya ia menemukan Asty tengah duduk di bangku taman sendirian dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya.


"lagi-lagi nangis karena cowok, dan lagi-lagi gue yang nemenin." ucap Rehan menyodorkan tisu di depan wajah Asty.


"makasih." seru Asty mengambil lembaran tisu dari tangan Rehan.


"apa yang di lakuin si kadal buntung itu sampe-sampe lo nangis kayak gini hah? cerita sama gue." Rehan duduk di sebelah Asty yang tengah sibuk mengusap air matanya dan sangat siap mendengarkan cerita Asty.


"hah .." Asty menghembuskan nafasnya dengan kasar, menyiapkan diri untuk bercerita.


"dia deketin gue cuma buat ikut taruhan sama temen-temennya." jelas Asty singkat menahan air matanya agar tidak menetes kembali.


"udah gue duga, dia pasti ada maksud tertentu deketin lo. emang kurang ajar tuh anak, beraninya mainin perasaan cewek." geram Rehan mengepalkan tangannya.


Sementara Asty hanya diam menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.


Melihat Asty yang sangat tersiksa menahan air mata, Rehan mempersilahkan Asty menangis di bahunya.


"jangan di tahan, lepasin ajah sampe lo ngerasa tenang. Sini, gue siap jadi sandaran kok." seru Rehan menepuk pundaknya.


Asty hanya terdiam melihat ke arah Rehan yang masih menggunakan jersey basketnya, memperlihatkan otot-otot tangannya yang masih basah oleh keringat.


"nih, udah gue lap. udah bersih tuh, lagian keringet gue wangi kok." seru Rehan setelah mengelap badannya dengan handuk kecil yang dia bawa.


"ppfff.. lo sebenernya pemain basket apa petinju sih, tangan lo gede banget." Asty tiba-tiba tertawa melihat tingkah Rehan.


"dih dia gak tau, nih tangan gue tuh udah ratusan kali masukin bola ke dalem ring. jadi begini deh, lagian cewek-cewek pada suka tangan kayak begini." jelas rehan mengangkat kedua tangannya ala binaragawan.


Asty terus tertawa melihat tingkah laku teman sekolah dasarnya itu. Melihat Asty sudah bisa tertawa membuat Rehan merasa lega, walau harus membuat dirinya sekonyol mungkin di hadapan Asty.


"apapun bakal gue lakuin biar lo gak sedih lagi." batin Rehan tersenyum melihat Asty.

__ADS_1


__ADS_2