Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 84


__ADS_3

Seperti biasa suasana jalanan pagi hari begitu padat, tetapi tidak menyurutkan niat bu Rani untuk menjenguk Dita. Entah kenapa bu Rani merasa begitu dekat dengan Dita seperti halnya ia dekat dengan Asty, bu Rani masih merasa kehilangan Asty, tetapi rasa rindunya sedikit terobati ketika bersama Dita.


Setelah beberapa lama terjebak di jalanan yang macet, akhirnya bu Rani sampai di rumah sakit. Ia segera menuju ruang rawat VIP yang di tempati Dita, bu Rani sangat akrab dengan Dita.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya bu Rani memegang tangan Dita.


"Sudah baikan, bu. Hari ini boleh pulang." jawab Dita tersenyum.


Namun Qenan tidak suka dengan keakraban ibunya dengan Dita yang terlihat sangat berlebihan, Qenan memutuskan untuk pulang dan bersiap pergi ke kantor.


"Kau sudah bisa pulang sendiri, kan? Kau pulang sendiri saja, aku mau ke kantor." tanya Qenan dengan wajah kesal.


Dita hanya bisa menganggukkan kepalanya menatap wajah Qenan yang terlihat tidak menyukainya.


"Qen, kenapa kamu ngomongnya kayak gitu. Kasihan Dita, dia baru sembuh." seru bu Rani menatap Qenan yang melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan.


Qenan hanya mendengarkan ucapan ibunya kemudian ia berlalu meninggalkan ruangan setelah bu Rani selesai berbicara, bu Rani hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Qenan.


"Tidak apa-apa, bu. Aku bisa pulang sendiri naik taksi online." seru Dita tersenyum.


Qenan berjalan menuju tempat parkir dengan rasa kesalnya, ia menyayangkan sikap ibunya yang terlalu berlebihan pada sekretaris barunya, ia hanya menginginkan bu Rani bersikap ramah pada Asty saja.


Walau sesekali Qenan juga merasa jika ketika bersama Dita sama halnya seperti saat ia bersama Asty.


Kini Qenan tengah melajukan mobilnya menuju rumah untuk berganti pakaian dan selanjutnya pergi ke kantor.

__ADS_1


***


Di pagi yang sama, Vian tengah di sibukkan dengan pekerjaannya. Pandangannya hanya fokus pada layar laptopnya hingga suara panggilan masuk di ponselnya berbunyi, ia segera meraih ponsel yang ada di atas meja.


Di lihatnya nama yang tertera di ponselnya itu adalah Kiara, Vian mengangkat teleponnya setelah menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Ada apa lagi adikku yang manis." Ucap Vian setelah menekan tombol berwarna hijau di ponselnya.


"hmm aku tidak menyukai panggilan seperti ini. aku hanya ingin memberitahu mu jika nanti malam kalian sudah bisa berkencan." seru Kiara.


Vian mengernyitkan keningnya ketika mendengar kata kencan. Ia melupakan jika tadi telah memilih salah satu foto yang di berikan oleh Kiara, sebenarnya Vian hanya asal memberikan foto pada adiknya agar bisa segera meninggalkan Kiara karena ia merasa kesal dengan adiknya yang selalu mencarikan seorang gadis untuknya.


"Ya ampun Kiara..." Keluh Vian menepuk keningnya kemudian bersandar di kursinya.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya abang harus pergi kencan." Seru Kiara menutup teleponnya sepihak.


"Dia memang benar-benar menyebalkan." gumam Vian meletakkan ponselnya kembali di atas meja.


Hubungan mereka memang sangat dekat walau mereka bukan saudara kandung. Saat pertama kali Vian melangkahkan kakinya di rumah ayahnya yang terdapat adik dan ibu sambungnya Vian di sambut begitu hangat oleh Kiara dan ibunya.


Vian yang kala itu merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi dan berniat untuk mengakhiri hidup, bagai bunga layu yang di sirami air dan kembali berdiri tegak.


Pelukan hangat yang pertama kali Kiara berikan padanya seperti kembali mencairkan sisi hatinya yang telah membeku. Kiara begitu antusias menyambut kakaknya walau hanya saudara tiri, Kiara memang sangat berharap bisa merasakan kasih sayang dari seorang kakak.


Sejak saat itu mereka berdua selalu bersama, Vian merasa selalu ingin segera sampai di rumah dan menemani Kiara bermain setiap selesai sekolah. Adiknya yang lucu dan menggemaskan membuat Vian sedikit melupakan masa lalunya.

__ADS_1


Begitu juga dengan ibu sambungnya, tak seperti ibu sambung lain yang tampak baik saat ada ayahnya tapi jahat disaat ayahnya tidak ada. Ibu sambungnya begitu menyayangi Vian dan menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri, membuat Vian merasa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya di dalam sebuah keluarga.


Kehangatan dalam keluarga mengantarkan Vian menjadi anak yang cerdas hingga ia bisa menyelesaikan sekolahnya dengan lebih cepat dibandingkan murid lain. Berbeda saat di sekolahnya dahulu yang selalu membuat onar untuk sekedar mencari perhatian yang tidak pernah ia dapatkan sejak perpisahan kedua orangtuanya.


Ia mampu mengelola perusahaannya sendiri dan menjadi pimpinan termuda, ambisinya untuk selalu menjadi yang terbaik membuatnya rela melakukan apa saja termasuk merebut kekasih sepupunya sendiri demi menghancurkan hidup sepupunya.


Kehidupan Vian sudah cukup bahagia, hingga suatu ketika ia melihat masa lalunya hadir kembali, tetapi orang yang dulu sangat ia cintai berada di pihak musuhnya. Ia tidak rela jika cinta pertamanya jatuh di pelukan musuhnya.


Vian berubah, ia kembali menjadi seseorang yang kejam dan tidak peduli jika tindakannya itu dapat membahayakan orang lain. Ia akan melakukan apa saja demi mendapatkan cinta pertama kembali dan akan membuatnya tetap berada di sisinya.


Hingga akhirnya ia berhasil mendapatkan Asty untuk terus berada di sisinya. Semakin hari ia semakin bahagia ketika bisa melihat Asty dari jarak yang sangat dekat walau Asty terlihat kesakitan tetapi itu tidak membuat Vian merasa iba, Vian malah menyukai penampilan Asty yang terlihat berantakan dan derai air mata membasahi wajahnya.


Ia memperlakukan Asty seperti barang koleksinya, ia hanya meletakkan Asty bagaikan patung yang berdiri tegak dan meletakkan di ruangan khususnya sendiri agar ia bisa melihat dengan jelas setiap jengkal tubuhnya.


Setiap hari ia gores kan luka di tangan Asty, tak peduli banyaknya darah yang mengalir bersama air matanya.


Penyiksaan demi penyiksaan yang dilakukan oleh Vian tidak membuat Asty berteriak minta tolong, ia sudah pasrah karena ia tahu tidak akan ada yang bisa menolongnya kecuali adanya sebuah keajaiban yang selalu ia nantikan.


Melihat Asty yang sudah pasrah dengan apa yang dilakukannya, Vian merasa sedikit iba karena walau bagaimanapun Asty pernah mengisi hatinya yang kosong dan mewarnainya. Ia merencanakan makan malam romantis yang sejak dulu ia impikan bersama Asty.


Vian tidak tahu jika rasa iba nya akan mengantarkan Asty untuk pergi dari hidupnya untuk yang kedua kalinya. Malam itu Vian merasa sangat bahagia melihat Asty yang begitu cantik dengan riasan wajah dan dress yang di kenakan nya, rasa ingin memilikinya begitu menggebu di hatinya.


Namun harapan Vian untuk menjadikan Asty satu-satunya musnah begitu saja, Asty berhasil melarikan diri darinya. Hatinya kembali hancur saat mengetahui Asty telah pergi dari kehidupannya untuk selamanya.


Hari-harinya kini terasa hampa, akan tetapi ia harus tetap berdiri demi perusahaan yang dibangunnya bukan dengan cara yang instan. Ia mencoba untuk melupakan Asty dengan cara mencari gadis lain pengganti Asty, tetapi rasa bahagianya hanya sesaat, setelah itu ia kembali lagi mengingat Asty.

__ADS_1


Melihat kakaknya terpuruk karena cinta, Kiara tidak tinggal diam. Ia mengumpulkan wanita-wanita cantik di kotanya untuk mencari pengganti Asty.


__ADS_2