
Vian melajukan motornya menembus gelapnya malam bersama gadis yang begitu menyebalkan baginya menuju sebuah bioskop di tengah kota.
Cahaya lampu yang berwarna-warni menambah keindahan di malam itu membuat Vian teringat pada Asty.
"hah, andai gue bawa dia kesini sekarang pasti dia bakalan seneng banget. Hal sederhana ajah udah bisa bikin dia tersenyum, gue jadi kangen senyumannya." batin Vian menatap jalanan yang ramai.
Kini Vian dan Hara sudah sampai di bioskop, Hara segera membeli tiket dan beberapa snack sementara Vian hanya duduk menunggu Hara sambil memainkan ponselnya.
Sebelumnya Hara meminta Vian untuk membeli tiket namun Vian menolaknya dengan beralasan Hara yang ingin nonton maka Hara juga yang harus mengantri beli tiket. Tanpa perdebatan, Hara pun menuruti Vian karena ia juga masih ingin memanfaatkan waktu bersama Vian malam itu.
Ketika Vian sedang duduk menunggu Hara, dari jarak yang tidak terlalu jauh ada Shela teman sekelas Vian yang kebetulan akan menonton juga bersama kakaknya.
"Loh itu bukanya si Vian ya, ngapain dia sendirian duduk di situ? apa dia lagi nungguin si Asty ya?" gumam Shela dan hendak menemui Vian karena ia mengira Vian sedang bersama Asty.
Langkah Shela terhenti ketika melihat Hara menghampiri Vian dan mereka bersiap untuk menonton.
"eh.. kok si Vian, sama siapa dia? kok bukan Asty sih?" Shela bertanya-tanya dalam hatinya.
Sementara di rumah Asty, waktu telah menunjukan pukul 10 malam namun Asty masih terjaga. Ia tak dapat memejamkan matanya, entah perasaan apa yang terus saja mengganggu pikirannya.
Di atas tempat tidurnya ia terus berguling-guling tak karuan, tampak kegelisahan dari raut wajahnya. Sudah berbagai macam posisi ia lakukan agar bisa tertidur, seluruh badanya ia tutupi dengan selimut dan hanya kepalanya saja yang terlihat namun mata itu masih tidak bisa terpejam.
"ishh.. ini kenapa sih mata gak bisa di tutup, aduh.." Asty terduduk dan mengusap kedua matanya dengan kasar.
"Alvian Arka Saputra." gumam Asty.
Asty tiba-tiba teringat pada satu nama yang mengganggu tidurnya, ia berfikir sepertinya kencan tadi siang membuatnya selalu mengingat Vian. Keceriaannya yang membuat Vian seperti hidup kembali dan bisa tersenyum, namun setelah teringat saat tadi siang, perasaan Asty malah semakin tidak nyaman.
"apa yang akan dia lakukan selanjutnya." ucap Asty.
Sebenarnya Asty belum benar-benar jatuh cinta pada Vian, berbeda dengan Vian yang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
__ADS_1
Asty masih merasa Vian hanya mempermainkannya saja, mengingat Vian adalah raja dari setiap kejahilan yang ada di sekolah.
Walau Asty sudah lama ingin memiliki kekasih, namun saat ini hanya separuh hatinya saja yang bisa menerima Vian. Setiap hati Asty meyakinkan dirinya ketika menilai ketulusan yang di berikan Vian padanya, perlahan mulai menerima namun masih tetap waspada agar tidak merasakan kekecewaan. Itu yang selalu ada dalam benak Asty.
Malam kian larut, Asty mulai merasakan lelah. Bola matanya yang sedari tadi sulit untuk terpejam, kini perlahan mulai melemah dan akhirnya Asty terlelap dengan sebuah novel di tanganya. Novel yang menceritakan perjalanan seorang gadis pemberani yang di berikan oleh Andri dahulu sebelum ia pergi ke luar kota sebagai motivasi Asty agar menjadi pemberani.
***
Sinar mentari perlahan mulai menghangatkan dinginya udara di pagi hari, ayam jago terus berkokok membangunkan siapa saja yang masih terlena dalam mimpinya tak terkecuali Asty.
Walau ia terlelap larut malam, namun ia terbangun karena suara ayam berkokok yang memekakan sepasang telinganya dan memaksa untuk segera bangkit dari mimpinya.
"haduhh.. iya ayam iya, gue udah bangun nih. hoam .. perasaan baru ajah merem nih mata." gumam Asty merenggangkan badannya sambil sesekali menguap tanda ia masih ingin tidur.
Aroma masakan ibu membangkitkan semangat Asty, langkah kakinya seolah di papah oleh aroma masakan hingga akhirnya kini ia telah duduk di ruang makan dengan masakan bu Tatum di hadapannya.
Hidungnya terus mengendus aroma menggugah selera itu namun matanya masih tertutup.
"Asty, kamu ngapain di sini bukanya sana mandi. Rambut acak-acakan begitu udah duduk di depan makanan, sana mandi dulu." seru bu Tatum terkejut melihat anak gadis nya sudah hadir di ruang makan.
"belum mandi main cium-cium ajah." gumam bu Tatum melihat Asty yang berlalu menuju kamar mandi. Setelah selesai sarapan, Asty bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Sementara tanpa sepengetahuan Asty ternyata Vian sudah menunggu di depan rumahnya. "selamat pagi bidadari cantikku." sapa Vian mengulurkan tanganya menyambut Asty yang menghampirinya.
"sejak kapan kamu ada di sini? kenapa gak manggil tadi?" tanya Asty terkejut melihat Vian yang tadi duduk di atas motornya.
"aku tidak ingin mengganggu sarapan mu." jawab Vian dengan senyum manisnya memegang tangan Asty.
"Ekhem.." bu Tatum tiba-tiba datang mengejutkan Vian dan Asty.
"eh tante, pagi tante." sapa Vian kikuk langsung mencium punggung tangan bu Tatum.
__ADS_1
"pagi. cepetan berangkat sana, nanti terlambat. Langsung ke sekolah ya, jangan mampir-mampir dulu." seru bu Tatum membuat mereka bergegas.
Selesai berpamitan, mereka segera berangkat menuju ke sekolah. Vian sengaja melambatkan laju motornya agar bisa berlama-lama sampai ke sekolah.
"Vian, cepat sedikit. kita bisa terlambat ini." protes Asty dan di sambut tawa oleh Vian.
"tenang ajah, kita gak bakal di marahin kok.!" seru Vian.
"Alvian..." Asty mulai kesal dan mengepalkan tangannya.
Melihat Asty dalam mode bersiap, Vian langsung menaikan gasnya dan melaju mengejar waktu sebelum gerbang sekolah di tutup.
Terlihat pintu gerbang sedang di tutup oleh satpam dan hanya sedikit lagi gerbang akan tertutup sempurna.
"tunggu pak ...!!" teriak Asty walau masih di atas motor Vian yang melaju cukup kencang membuat pak satpam menghentikan aktivitas mendorong gerbangnya.
Kini Asty sudah berada di dalam kelasnya setelah melewati detik-detik mendebarkan baginya, karena sebelumnya ia tak pernah terlambat masuk ke sekolah walau kadang jadi murid terakhir yang masuk sebelum gerbang di tutup.
Asty duduk di bangku paling belakang sambil mengatur napasnya ia meletakan ranselnya di atas meja dengan kasar.
"abis lomba lari ya? ngos-ngosan gitu sih." tanya Shela yang sudah duduk di depan Asty dengan nada setengah meledek.
"iya nih. abis lomba lari sama pak satpam." jawab Asty ngasal.
Tak lama kemudian Vian datang menghampiri Asty dan memberikan sebotol air mineral karena melihat kekasihnya seperti sudah berlari ribuan kilometer.
"terimakasih." ucap Asty meraih botol dari tangan Vian dan segera meminumnya.
"sama-sama." jawab Vian meletakan ranselnya di bangku sebelah Asty.
"kamu ngapain di sini?" tanya Asty heran karena tempat duduk Vian harusnya bersebelahan dengan Toby.
__ADS_1
"aku mau duduk di sini sama kamu, boleh kan?" tanya Vian balik.
"apa?" Shela dan Asty terkejut bersama.