
Vian terus berlari mencari keberadaan Asty dengan sesekali berteriak memanggil namanya. Namun sudah begitu jauh ia berlari, Asty tak kunjung ia temukan hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke sekolah.
"kamu pergi kemana, aku tau kamu gak pinter lari, tapi kenapa aku gak bisa temuin kamu." gumam Vian sepanjang perjalanan menuju sekolah.
Sementara yang di cari-cari tengah asyik bercanda dengan Rehan di taman belakang sekolah.
"cape gue ketawa mulu, udah lah gue mau pulang." seru Asty bangkit dari duduknya.
"gue anterin yah, sekalian gue juga mau pulang." tawar Rehan menahan langkah Asty.
"lah, bukannya lo lagi tanding ya?" tanya Asty heran.
"ya ampun, pertandingan udah selesai sejak lo tadi lewat lapangan juga. orang patah hati gak merhatiin sekitarnya ya, heran gue." jawab Rehan menggelengkan kepalanya.
"hehe .. ya maaf, gue gak sempet nengok tadi." dengan santainya Asty menjawab.
Mereka berdua pun berjalan berdua dari taman menuju parkiran untuk mengambil motor Rehan. Ketika sampai di parkiran, mereka bertemu Vian yang baru saja memarkirkan motornya.
"hadeeh... pake acara ketemu si kadal lagi." gumam Rehan memutar bola mata malas.
Dengan jarak yang tidak terlalu jauh Vian menatap Asty dan segera menghampirinya.
"kamu kemana ajah, dari tadi aku cari-cari kamu." seru Vian menarik pergelangan tangan Asty.
"lepasin. gue mau kemana ke terserah gue, bukan urusan lo." seru Asty menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Vian.
"aku minta waktu kamu sebentar, aku mau jelasin semuanya sama kamu." Vian memohon.
"nggak ada yang perlu di jelasin lagi Vian, semuanya udah jelas buat gue." jelas Asty menahan emosinya.
"tapi sayang, aku mohon dengerin penjelasan dari aku dulu." Vian terus memohon.
Melihat pasangan mantan kekasih itu beradu mulut membuat Rehan geram dan akhirnya memisahkan mereka.
"cukup Vian, Asty sudah tidak ingin meneruskan hubungan yang kamu bangun dari sebuah kebohongan ini. lebih baik kamu lupakan Asty biarkan dia tenang menjalani kehidupannya." ucap Rehan menepuk-nepuk pundak Vian.
__ADS_1
Vian terdiam seraya menatap Rehan membawa pulang orang yang sangat ia cintai, orang yang telah berhasil mewarnai hidupnya yang kelabu.
Kini Vian menyesali semua yang telah ia lakukan pada Asty. Andai waktu bisa dia putarkan kembali, ia akan memperbaiki semua kebodohan yang telah ia lakukan.
Asty telah menjadi bagian dari hidupnya walau ia belum lama mengenal Asty namun rasa nyaman itu selalu ada saat ia bersama Asty. Rasa hangat yang belum pernah ia dapatkan sejak kedua orangtuanya berpisah, dapat ia rasakan ketika melihat tawa riang Asty di hadapannya.
Semuanya sudah terlambat, tak bisa Vian perbaiki lagi. Asty sudah pergi meninggalkannya seorang diri, hanya sepi yang kini Vian rasakan setelah kepergian Asty.
Seolah tak ada lagi pikiran jernih dalam otaknya, Vian tidak rela jika Asty di miliki oleh orang lain. Dalam benaknya, lebih baik Asty mati daripada di miliki orang lain.
"jika kau tak ingin ku miliki, maka siapapun tak boleh memilikimu atau lebih baik kamu mati saja agar tidak ada yang bisa memilikimu." gumam Vian menyeringai.
Terdengar mengerikan memang, tapi kesedihan yang terlalu dalam di rasakan oleh Vian membuatnya hilang akal sehat dan akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
***
Mentari tetap bersinar menghangatkan dinginnya udara di pagi hari walau hati Asty sedang dilanda badai yang begitu dahsyat.
Dengan rasa malas Asty bangun dari tempat tidurnya, ia melipat selimut kesayangannya dan meletakkan di ujung tempat tidur. Meski merasa malas, ia tetap harus melakukan kegiatan paginya seperti biasa.
"hmm .. males banget hari ini berangkat sekolah, tapi masa iya gara-gara masalah gini doank bolos sekolah. no, itu bukan Asty Anindita." gumam Asty memandang pantulan dirinya di cermin.
Setelah selesai mempersiapkan diri, ia pergi menuju ruang makan untuk menyantap sarapannya yang sudah di siapkan oleh bu Tatum.
"pagi bu." sapa Asty kemudian duduk di bangku meja makan.
"pagi anak bontot, ayo kita sarapan." seru bu Tatum yang sudah duduk menanti datangnya Asty.
Sementara di rumah Vian tengah terjadi sebuah keributan. Vian melemparkan barang-barangnya ke segala arah, para pelayan merasa bingung sekaligus takut melihat tuan mudanya yang tiba-tiba mengamuk hilang kendali.
"tuan muda, tenanglah." seru pak Rudi kepala pelayan yang usianya lebih dari setengah abad itu mencoba untuk memenangkan Vian.
Pak Rudi memegang kedua pundak Vian dan mengelus-elus dengan lembut membuat Vian menghentikan aktivitasnya.
Melihat tuan mudanya sedikit tenang, pak Rudi mulai menanyakan apa yang terjadi.
__ADS_1
"tuan, apa yang sedang terjadi. coba ceritakan kepadaku." pak Rudi menuntun Vian untuk duduk di sofa.
"aku tidak apa-apa pak." jawab Vian menggelengkan kepala.
Pak Rudi merasa aneh melihat tingkah laku Vian yang tiba-tiba saja mengamuk.
"aku mau berangkat sekolah, pak." seru Vian bangkit dari duduknya berlalu menuju kamar seolah tidak terjadi apa-apa.
Di kamarnya, Vian menyiapkan perlengkapan sekolahnya dan menyelipkan sebuah pisau lipat di antara barisan buku-bukunya, kemudian ia bergegas menuju sekolahnya.
Sesampainya di sekolah, ia berpapasan dengan Asty tetapi ia terlihat tidak seperti biasanya. Vian hanya diam tidak sedikitpun melihat ke arah Asty.
"mungkin dia sudah move on, haha .." gumam Asty tersenyum sambil berjalan menuju toilet.
Vian yang tadi hanya berpura-pura tidak melihat Asty, kini tengah menyusul Asty ke toilet. Vian menunggu di depan pintu toilet dengan melipat kedua tangannya di dada.
Tak lama kemudian Asty keluar dari toilet dan terkejut melihat Vian sedang menunggunya.
"mau ngapain lo?" tanya Asty terkejut melihat raut wajah Vian yang tidak seperti biasanya.
Raut wajah yang belum pernah Asty lihat sebelumnya. Saat mereka belum dekat juga Asty tidak melihat raut wajah seperti itu.
Vian terus melangkahkan kakinya mendekati Asty dengan perlahan. Ekspresi wajah yang sulit di tebak membuat Asty ketakutan melihatnya di tambah lagi Vian tidak mengucapkan sepatah katapun.
Seperti orang yang sedang kerasukan Vian terus mendekati Asty. Asty yang ketakutan terus melangkah mundur hingga akhirnya tubuhnya sudah menempel di tembok dan di kunci oleh tangan Vian sehingga Asty tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
"apa mau lo, hah?" tanya Asty dengan penuh keringat di dahinya.
"gue cuma mau lo mati." bisik Vian menyeringai sambil mengarahkan pisau ke leher Asty.
"ah Vian, lo beneran udah gila." ucap Asty.
"iya, lo yang udah buat gue gila, sayang." Vian mengusap keringat Asty yang mulai mengalir ke pelipisnya.
Suasana sekolah yang sudah sepi karena para siswa sudah masuk ke kelas masing-masing memudahkan Vian melancarkan aksinya.
__ADS_1
"Alvian sadarlah. gue tau ini bukan lo yang sebenarnya." seru Asty mencoba menyadarkan Vian.