Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 46


__ADS_3

Dengan santainya Vian meletakan ranselnya di bangku samping Asty dan duduk bersandar dengan kedua tangan di belakang kepalanya sebagai tumpuan.


"kamu gak bisa duduk di sini, tempat kamu di sana sama si Toby." seru Asty mengarahkan telunjuknya ke arah Toby.


"gimana nih, orang gue mau cerita sama Asty kalo tadi malem gue ketemu dia. Bisa gawat kalo gue ngomong ada orangnya sih." batin Shela menatap Vian.


"aku mau temenin kamu sayang, kasian kamu duduk sendirian ajah." seru Vian dengan santainya membuat Asty merasa geli mendengarnya.


"dih.. ogah gue, pindah sana. kalo kamu gak mau pindah, mending aku yang pindah sekolah sekalian." ancam Asty membuat Vian ketakutan, ia tak mau jika harus berpisah dengan Asty.


"No, jangan sayang. aku gak bisa jauh-jauh dari kamu. okeh aku pindah sekarang." seru Vian langsung berdiri menenteng ranselnya dan pergi menghampiri Toby.


"good boy." Asty mengacungkan jempolnya pada Vian dan di sambut senyuman oleh Vian dari jarak yang cukup jauh, karena Asty duduk di pojok sebelah kanan sedangkan Vian di pojok sebelah kiri.


Akhirnya Shela bisa bernapas lega melihat Vian sudah berada cukup jauh dan tidak mungkin bisa mendengar percakapan nya dengan Asty.


"sekarang saatnya gue cerita sama Asty, kasian kan dia terus di permainkan kayak gini." batin Shela menatap Asty yang tengah menenggak air mineralnya.


Melihat situasi dalam keadaan aman karena Vian juga tengah mengobrol dengan Toby, Shela pun berpindah posisi duduk di sebelah Asty.


"Asty, gue punya info penting nih buat lo. gue yakin lo juga gak tau masalah ini." bisik Shela dengan meyakini ucapannya.


"apaan sih Shel?" tanya Asty yang juga ikut berbisik.


"semalem ya, gue kan ke bioskop sama kakak gue. eh tahunya gue liat ada si Vian dan gue kira dia mau nonton sama lo, tapi ternyata pas gue liat dia dateng sama cewe **** abis. body nya, beuh.. kayak model-model terkenal gitu. kira-kira lo tau gak dia siapa? apa jangan-jangan dia juga ceweknya Vian." Shela menutup mulutnya yang sudah terbuka lebar karena terkejut dengan ucapannya sendiri.


Asty terdiam sejenak mencerna setiap kata yang terucap dari mulut bawel cewek yang doyan jajanan manis itu dan bikin badannya entah selebar apa.


Mendengar cerita Shela membuatnya sudah pasti terkejut dan mulai menyadari apa yang ia takutkan kini perlahan mulai terungkap.

__ADS_1


"Asty, kok lo malah bengong sih?" tanya Shela melihat Asty yang hanya terdiam sedari tadi.


"Eh sorry Shel, gue terlalu serius denger cerita lo sampe gue bayangin tuh cewek bentuknya kayak apa." seru Asty tertawa kaku.


"dih, malah di bayangin. sebenernya lo tau ngga siapa tuh cewek, kali si Vian ngomong dulu sama lo kalo mau keluar malem, apa mungkin tuh cewek sodaranya." ucap Shela mulai merasa tidak enak karena takutnya merusak hubungan mereka, tapi Shela juga merasa kasihan pada Asty jika ia di permainkan oleh Vian.


"gue nggak tau, Shel. Dia gak pernah bilang apa-apa sama gue. tapi makasih yaa udah kasih tau gue, kalo bisa lo foto biar gue tau siapa orangnya." seru Asty tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.


"iya Asty, gue cuma takut kalo si kadal itu mainin perasaan lo doang. tapi lo jangan bilang-bilang dia dulu ya, soalnya gue ga punya bukti takutnya dia malah ngapa-ngapain gue lagi. tau sendiri kan cowok lo tuh gimana." pinta Shela.


"okeh lo tenang ajah ya." jawab Asty.


Perbincangan mereka pun harus berakhir karena seorang guru yang sudah masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran hari itu.


Saat pelajaran berlangsung, Asty terlihat banyak melamun memikirkan pembicaraan Shela beberapa saat yang lalu.


Namun Asty tetap harus tersadar agar tidak terlalu dalam mencintai Vian, karena jika ia sudah benar-benar mencintai Vian akan terasa sakit jika sudah terbukti bahwa Vian hanya mempermainkannya saja.


Tak terasa jam pelajaran sudah selesai, kini saatnya para siswa untuk beristirahat.


Setelah membereskan buku-bukunya, Vian segera menghampiri Asty dan mengajaknya pergi ke kantin bersama.


"sayang, ayo kita ke kantin." ajak Vian tidak segan mengucap panggilan sayang pada Asty di depan para siswa.


"bisakah kamu memanggilku dengan nama saja?" tanya Asty menajamkan matanya ke arah Vian.


"oh tentu saja aku tidak bisa melakukannya nona." jawab Vian membungkukkan badannya.


"Ya ampun, drama macam apa lagi ini." teriak Shela memegang keningnya yang tidak sedang demam.

__ADS_1


"dasar kadal gila." gumam Asty meninggalkan Vian.


"hey sayang tunggu aku." teriak Vian mengejar Asty.


Vian kini memang sudah tidak berpredikat siswa nakal lagi semenjak bertemu dengan Asty.


Vian sudah tidak pernah bolos lagi, selalu mengikuti pelajaran sampai selesai dan yang pasti tidak menjahili siswa ataupun para guru lagi, semua itu karena Asty. Selama ada Asty, hidup Vian menjadi berwarna ia tidak pernah mencari kesenangannya lagi lewat kenakalan melainkan saat ini memiliki kesenangan baru yaitu mengikuti Asty kemanapun ia pergi.


Seperti saat ini mereka sudah duduk dalam satu meja yang sama dan terus memandangi Asty yang ada di hadapannya.


"apa kamu gak ada kerjaan lain lagi selain liatin aku, hah?" tanya Asty yang mulai risih di tatap Vian.


"nggak.." Vian terus menatap Asty yang tengah melahap mie ayam kesukaannya sambil tersenyum.


"emang dasar aneh." umpat Asty mengaduk-aduk mie ayam dengan sumpitnya.


"kamu itu makhluk terindah yang ada di muka bumi ini tau, aku gak akan menyia-nyiakan mu." seru Vian membuat Asty menatapnya dengan untaian mie yang masih ada di bibirnya.


"gak akan menyia-nyiakan buat di kerjain maksud lo?" dalam hatinya Asty berbicara sambil menatap Vian.


"itu di makan dulu yang bener sayang, aku jadi makin gemes sama kamu." seru Vian mengacak rambut Asty tak lupa dengan senyumannya.


Semua mata tertuju pada mereka, membuat para siswi merasa iri pada Asty karena ia berhasil meluluhkan hati si pembuat onar dan merubahnya menjadi lebih baik lagi.


Namun berbeda dengan Asty, ia masih dalam mode siaganya agar tidak terlalu sakit hati saat mengetahui maksud Vian sebenarnya.


Asty baru pertama kali merasakan memiliki seorang kekasih, ia masih takut untuk membuka hati terlalu lebar untuk Vian yang memang sudah jelas adalah mantan seorang pembuat onar.


Walaupun Vian terlihat lembut padanya, Asty mencoba untuk tidak tertipu agar tidak membuat hatinya terlalu sakit ketika harus berpisah dengan Vian suatu saat nanti.

__ADS_1


__ADS_2