Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 74


__ADS_3

Teriakan Asty membuat Laras terkejut pada saat membuka pintu, kebetulan Laras baru saja pulang kerja. Laras buru-buru menghampiri Asty yang tengah menutupi wajahnya dengan bantal sambil terus berteriak.


"de, kamu kenapa?" tanya Laras menggoyangkan badan Asty agar ia tersadar.


Asty kembali menangis di pelukan Laras, namun ia tak menjawab pertanyaan dari Laras. Rasa khawatir pada adiknya membuat Laras terus bertanya ada masalah apa yang telah terjadi hingga membuat adik kesayangannya itu menangis histeris.


Asty hanya menggeleng, ia tidak mau berbagi kesedihan bersama kakaknya. Laras berusaha menghibur adiknya dengan mengajaknya berjalan-jalan ke taman kota, namun Asty menolak karena tadi siang juga dia sudah ke taman dan tempat itu telah menjadi saksi penyebab kesedihan nya saat ini.


Menurutnya makan setelah mengeluarkan banyak air mata itu lebih baik dari segalanya. Demi mengembalikan keceriaan Asty, Laras pergi membeli berbagai jenis makanan yang di pesan oleh Asty.


"kamu minta makanan sebanyak ini apa bisa kamu habiskan, hah." tanya Laras menatap berbagai jenis makanan yang sudah di tata rapih di hadapan Asty.


"kita undang kak Zidan ajah kak, buat bantu habisin." usul Asty tersenyum pada Laras.


"sayang sekali, dia sedang lembur malam ini." seru Laras tersenyum pada Asty sambil menggelengkan kepalanya membuat Asty memperlihatkan wajah kecewanya.


Keakraban Asty dan Zidan memang sudah seperti kakak dan adiknya membuat Laras senang jika Zidan bisa di terima dengan baik oleh Asty. Sifat Asty yang kekanakan akan membahayakan jika ia tidak menyukai Zidan, hal apapun akan dilakukannya untuk memisahkan kakaknya dari pria yang tidak baik.


Di malam hari yang sama, dua sejoli yang tengah menjalin kisah mereka kembali sedang menikmati dinner di rooftop sebuah restoran ternama di kota itu.


Dinner malam itu terasa sangat romantis karena di temani ribuan bintang yang bertaburan menghiasi langit dan bisa di nikmati secara langsung.


"terimakasih sudah mau menerima lamaran ku." ucap Qenan menggenggam tangan Lusy.


"sama-sama sayang, aku sangat senang akhirnya kita bisa bersama kembali." balas Lusy tersenyum.


Dalam pikirannya, Lusy ingin sekali bertemu dengan Arka yang tidak lain adalah sepupu Qenan sendiri dan ingin menanyakan dengan siapa tadi dia duduk berduaan di taman. Sesungguhnya masih ada perasaan untuk Arka yang usianya lebih muda dari Lusy walau kini ia telah mendapatkan Qenan kembali.


Bahkan sudah di lamar Qenan pun, Lusy tetap berniat untuk selingkuh lagi dengan Arka. Lusy menyukai berondong, kedekatannya dengan Qenan karena keinginan ayahnya agar perusahaan nya makin berkembang.


***

__ADS_1


Pagi hari yang cerah, namun tidak membuat hati Asty ikut cerah juga. Dengan semangat yang masih tersisa, ia pergi bekerja karena bu Rani terus memintanya masuk kerja.


Asty berjalan gontai menuju minimarket, tak peduli apa yang ada di sekitarnya, bahkan suara teriakan orang yang sedang mengejar pencuri pun tidak di pedulikan olehnya. Ia hanya merentangkan kakinya ketika kebetulan berpapasan dengan seorang pencuri yang tengah dalam pengejaran warga hingga akhirnya si pencuri itu jatuh tersungkur yang kemudian di tangkap dengan mudahnya oleh para warga.


"terimakasih, de." ucap salah satu warga. Asty hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Asty terus berjalan tanpa membantu meringkus pencuri itu, saat ini tubuhnya seperti kehilangan raganya. Pikirannya melayang memikirkan kehidupan asmaranya yang penuh dengan liku, kedatangan Vian kembali dalam hidupnya membuat dirinya merasa ingin menghilang dari muka bumi.


Ketakutan pada masa lalunya saat bersama Vian, terus menyelimuti hatinya. Setelah sekian lama ia bersusah payah melupakan Vian dan kembali menjalani kehidupannya, Vian malah kembali lagi.


Tanpa di sadari, Asty sudah sampai di depan minimarket.


"udah sehat?" tanya Dika yang tengah duduk menikmati secangkir kopi.


"udah, kak. duluan ya, kak." seru Asty menganggukkan kepalanya kemudian berlalu menuju ruangan kerjanya.


Dika merasa aneh ketika melihat Asty yang masuk tanpa melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


Diam-diam Dika menyukai Asty, berawal dari kekagumannya pada semangat dan keberanian Asty. Kini rasa khawatir di tunjukan Dika kepada Asty yang terlihat tidak bersemangat.


"kalo butuh bantuan, bilang ajah. gak usah sungkan-sungkan." ucap Dika tersenyum.


"iya kak, makasih." jawab Asty ramah.


Para karyawan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, begitu pula dengan Asty. Ia terlihat fokus pada layar komputernya, mencoba profesional dalam bekerja.


"hah.. akhirnya selesai juga." gumam Asty meregangkan otot-otot tangannya.


Asty menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sebelum waktunya pulang, akhirnya ia memilih untuk ikut turun membantu karyawan lain sambil mengalihkan pikirannya yang sedang kacau.


"halo kak, aku bantu ya." ucap Asty pada salah seorang karyawan yang sedang mengecek tanggal kadaluarsa.

__ADS_1


Asty sangat mencintai pekerjaannya, ia akrab dengan semua karyawan yang membuatnya semakin semangat bekerja.


"mama harusnya di rumah saja, biarkan karyawan mama yang mengurus semuanya."


Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga Asty hingga ia mengalihkan pandangannya pada pemilik suara tersebut. Di lihatnya pria dengan tubuh proporsional dan wajah yang begitu mempesona, membuat siapa saja yang menatapnya akan langsung jatuh hati.


Qenan sudah meninggalkan penampilan culunnya, baru kali ini Asty melihat Qenan dengan penampilan seperti pria dewasa lainnya, tanpa gerakan manja yang selalu di tunjukan pada ibunya.


"mama mau ngasih minimarket ini buat menantu mama nanti.." ucap bu Rani yang segera di potong oleh Lusy yang berada tepat di samping Qenan dan terus memegangi tangan Qenan.


"terimakasih mama, pasti akan aku kelola dengan baik minimarket ini." seru Lusy dengan penuh percaya dirinya.


"hah. apa maksud kamu?" tanya bu Rani terkejut.


"aku udah melamarnya kemarin, ma. tinggal kita buat acara resminya, aku ke sini ingin meminta restu." seru Qenan tersenyum.


"tidak, mama tidak setuju." ucap bu Rani dengan nada tinggi.


"mama.." ucap Qenan.


Lusy berlari begitu saja menuju toilet, menutupi rasa malunya karena berkata terlalu percaya diri.


Qenan pun di tinggalkan bu Rani karena kesal anaknya membuat keputusan sendiri untuk melamar gadis yang sudah berselingkuh di belakangnya.


Qenan bingung harus berbuat apa lagi. Di tengah kebingungannya, ia melihat seorang gadis yang tengah memegang sebuah kaleng makanan. Gadis yang terasa tidak asing lagi di matanya, walau ia mengenakan masker yang membuat wajahnya sulit di kenali.


Perlahan Qenan mendekati gadis yang tengah serius memilah makanan dengan tanggal kadaluarsa yang sudah dekat.


Asty terkejut karena tiba-tiba Qenan sudah berdiri tepat di depannya, Asty hanya terdiam menatap Qenan.


"hey, kamu mau maling ya." ucap Qenan dengan gaya cool melipat kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2