Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 73


__ADS_3

Hembusan angin di taman siang itu, menyejukkan siapa saja yang tengah berada di sana. Walau matahari tepat di atas kepala, tetapi yang mereka rasakan hanyalah kesejukan.


Banyaknya pohon yang rindang dan tanaman bunga berwarna-warni membuat mereka betah berlama-lama berada di taman, tak terkecuali Asty. Sejak bertemu Qenan bersama Lusy secara langsung di hadapan matanya, tidak membuat Asty begitu saja meninggalkan taman yang membuatnya tenang.


Asty berpindah tempat menjauhi dua sejoli yang tengah berduaan, ia tidak ingin merusak acara mereka. Kini Asty duduk sendiri di bawah pohon yang rindang, sesekali ia membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya untuk sekedar menghirup udara yang begitu menentramkan hatinya.


Di suasana yang damai, Asty teringat Qenan yang nampak bahagia ketika berjalan bersamanya. Berbeda dengan saat ini, Qenan terlihat sangat tertekan berjalan dengan Lusy yang mudah merajuk.


Andai Asty bisa memutar waktu, ia tidak akan memupuk benih cinta yang saat ini sudah terlanjur tumbuh di hatinya, seorang diri.


Ia merasa jika dirinya adalah gadis bodoh yang mencintai seseorang yang bahkan tidak mengenali dirinya sama sekali.


Lusy terus merajuk karena Qenan tidak peka dengan apa yang diinginkannya, Lusy terus berjalan meninggalkan Qenan yang berada jauh di belakangnya.


Hingga akhirnya Qenan berhasil mengejar Lusy dan saat ini ia tengah berlutut di hadapan Lusy dan segera menggenggam tangannya.


"maafkan aku sayang. aku pikir tempat ini bisa menambah kesan romantis, ternyata menurutmu tidak demikian. tapi maukah kau menikah denganku." ucap Qenan mengeluarkan kotak kecil berisi cincin berlian yang cantik.


Wanita mana yang tidak merasa bahagia saat di lamar kekasihnya, begitu pula yang tengah di rasakan oleh Lusy. Setelah tadi ia cemberut saja, saat ini ia tengah kegirangan memperhatikan cincin berlian yang telah Qenan pasangkan di jari manisnya.


"terimakasih sayang, aku suka sekali dengan cincinnya." seru Lusy mengecup pipi Qenan.


"iya sayang. seharusnya sudah lama aku berikan nya padamu, tapi gara-gara kecelakaan itu baru saat ini bisa aku berikan." ucap Qenan dengan wajah sendu.


"tidak apa-apa sayang, yang terpenting saat ini aku sudah memakainya. ayo kita merayakan hari bahagia ini." ajak Lusy tersenyum bergelayut di tangan Qenan.


Saat mereka berbahagia, ada sepasang mata yang tengah membendung air matanya agar tidak jatuh begitu saja.

__ADS_1


"padahal gue udah menjauh, kenapa sih harus di depan mata gue." gumam Asty yang sedang menonton acara lamaran dadakan tepat berada tepat di hadapannya.


Saat Qenan mengejar Lusy, ia berhenti tepat di depan pepohonan rindang yang di bawahnya ada Asty tengah duduk santai di sebuah bangku taman.


"bukankah terasa begitu menyakitkan, melihat orang yang kita cintai malah mencintai orang lain."


Kalimat itu terdengar di dekat telinga Asty dengan suara bariton nya, kemudian ia segera menoleh ke sumber suara yang mengetahui suara hatinya itu.


"lo.." ucap Asty terkejut, segera menggeser posisi duduknya menjauhi pria itu yang ternyata sudah duduk di dekatnya.


"halo sayang, apa kabar mu? tak ku sangka kita berjumpa lagi di sini." ucap pria itu menyeringai, seolah Asty adalah mangsa yang akan segera di lahapnya.


Asty begitu ketakutan melihatnya, segera ia bangkit dan berusaha lari. Namun tangannya sudah berada dalam cengkraman tangan kekar pria tersebut.


Pria dengan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih lengkap dengan dasi yang masih terpasang rapi dan juga sepatu yang terlihat begitu mengkilap hingga bisa memantulkan bayangan benda-benda yang ada di dekatnya.


"haha.. silahkan saja kamu berteriak, jika kamu mau orang suruhan ku membungkam mulutmu." seru pria itu dengan tatapan yang lurus ke depan tak lupa dengan seringainya.


Asty menatap ke sekeliling nya ternyata banyak pria berbadan besar dengan seragam yang sama menyebar di seluruh taman. Dengan kondisi Asty yang belum benar-benar pulih, ia berpikir tidak akan bisa melawan mereka.


"apa mau lo sebenernya?" tanya Asty memilih duduk berjauhan.


Pria itu menarik Asty hingga terjatuh ke dalam pelukannya, kemudian berbisik "aku mau kamu."


Merinding seluruh tubuh Asty mendengar bisikan yang menurutnya sangat mengerikan.


Di saat yang sama, Lusy yang tengah berjalan meninggalkan taman bersama Qenan, memperhatikan pria yang tengah duduk dengan Asty.

__ADS_1


"Arka, sedang apa dia di sana. lalu siapa gadis yang bersamanya?" sejumlah pertanyaan pun muncul dalam benak Lusy.


Mereka saling beradu pandang, namun Arka hanya melambaikan satu tangannya pada Lusy tanpa berbicara. Sedangkan tangan satunya lagi tengah asyik merangkul Asty yang tengah merasa ketakutan duduk bersamanya, sehingga Asty tidak melihat aktifitas yang sedang di lakukan Arka.


"lepasin gue, Alvian. gue mau pulang sekarang." ucap Asty melepaskan tangan Vian yang berada di bahunya.


"ah, aku sangat merindukan panggilan itu. karena hanya kamu lah yang memanggilku seperti itu." ucap Vian membelai rambut Asty. "kenapa rambutmu sekarang pendek, aku hampir saja tidak mengenalimu karena ini. tapi aku tetap menyukaimu." tambahnya sambil terus memainkan rambut Asty yang begitu lembut.


Vian mengetahui Asty ada di kota sejak melihat Qenan sering pergi berdua bersama Asty. Vian dengan segala kekuasaan yang dimilikinya, dalam hitungan jam ia mampu mengetahui siapa wanita yang sedang berada di sisi Qenan.


"aku sangat merindukan mu, sayang. bertahun-tahun aku mencoba melupakanmu, tapi aku tidak pernah berhasil." ucap Vian perlahan membuka masker yang di gunakan Asty.


Vian membelai lembut luka di wajah Asty, mengagumi kecantikannya walaupun ada beberapa bekas luka yang belum sembuh.


Asty mulai risih dengan apa yang tengah di lakukan oleh Vian.


"sudah cukup, Vian. gue mau pulang, tolong jangan ganggu hidup gue lagi." ucap Asty menepiskan tangan Vian kemudian berlalu meninggalkannya.


Dari kejauhan orang-orang suruhan Vian sudah bersiap untuk mengejar Asty, namun Vian mengangkat tangannya ke arah mereka agar tidak perlu mengejar Asty.


"untuk saat ini aku biarkan kamu pergi, tapi nanti jangan harap kamu bisa pergi dariku. karena kamu adalah milikku, hanya aku yang berhak memilikimu." gumam Vian menyeringai menatap Asty yang sudah jauh meninggalkan nya.


Sejenak hati Asty tidak merasakan perih melihat Qenan berduaan dengan Lusy. Kini yang ia rasakan adalah kebenciannya pada Vian, orang yang telah hilang dari ingatannya selama ini, telah kembali lagi.


Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipi ketika kepingan memori ingatan tentang dirinya dan Vian kembali tersusun membuat rasa sakitnya yang dulu telah sembuh, kini mulai terasa kembali.


"kenapa lo datang lagi, setelah pergi gitu aja tanpa sepatah kata pun buat gue. gue benci sama lo, gue benci..." teriak Asty.

__ADS_1


__ADS_2