
"kamu kenapa?" tanya Qenan ketika masuk ke dalam mobil melihat Asty tengah memukuli mulutnya.
"eh, nggak kenapa-kenapa kok." Asty terkejut ketika Qenan ternyata sudah masuk ke dalam mobil dan memperhatikannya.
Qenan segera melajukan mobilnya menuju alamat yang di berikan Asty, di tengah perjalanan Asty tertidur karena merasa begitu lelah dan suasana hening di dalam mobil membuatnya semakin terlelap.
Qenan tidak berani mengajak Asty mengobrol sepanjang perjalanan, itu yang membuat suasana mobil terasa hening sehingga dengan mudahnya mengantarkan Asty ke alam mimpi.
Qenan yang sibuk dengan kemudinya tidak menyadari jika Asty sudah terlelap, hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Qenan mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya tanpa melihat ke arah Asty yang berada di sampingnya.
"Asty kita sudah sampai." seru Qenan melepas sabuk pengaman yang ia pakai dan melihat ke arah Asty."ya ampun ternyata dia tidur." serunya lagi.
Hari sudah gelap, lampu penerangan jalan pun sudah menyala. Awalnya Qenan tidak berani membangunkan Asty, namun ia takut terlihat oleh para warga dan akan menjadi hal yang tidak di inginkan.
"Asty bangun, kita sudah sampai." Qenan menyentuh bahu Asty menggunakan botol air mineral yang ada di depannya karena ia tidak berani menyentuh Asty secara langsung.
Merasakan ada sesuatu yang menyentuh bahunya, Asty terbangun dengan tangan yang bersiap untuk melakukan penyerangan. "maju lo kalo berani." seru Asty mengejutkan Qenan.
"ampun.. ampun aku nggak ngapa-ngapain kok." ucap Qenan mengangkat kedua tangan menutupi kepalanya dan memejamkan matanya.
Asty tersadar dan melihat Qenan sedang ketakutan. "hey lo kenapa?" tanya Asty tanpa rasa bersalah.
"tadi kamu mau mukul aku." jawab Qenan masih ketakutan.
"ya ampun, maaf yah. tadi aku mimpi lagi berantem. hehehe" ucap Asty tertawa.
"ya udah, ayo kita turun. udah sampe nih." ajak Qenan membuka pintunya kemudian berjalan untuk membukakan pintu Asty. Mereka berjalan bersama menuju sebuah kontrakan.
"udah sampe sini ajah anterin nya." seru Asty karena Qenan terus mengikuti langkahnya.
"tidak, aku harus memastikan jika itu alamat yang benar. kalo salah biar aku antar lagi." jelas Qenan dan di iyakan oleh Asty.
Tiba di depan pintu salah satu kontrakan, Asty mengetuk pintunya. "Assalammualaikum.." teriak Asty.
"Waalaikumsalam." terdengar jawaban dari dalam kontrakan.
__ADS_1
"tuh, itu suara kakak gue. pasti bener nih alamatnya." ucap Asty berbalik kebelakang dimana Qenan berada.
Pintu segera terbuka setelah suara jawaban dari dalam.
"ya ampun Asty, kamu lama banget sih nyampenya. kakak khawatir tau, ibu dari tadi telpon terus. katanya telpon kamu gak aktif." ucap Laras tanpa mempersilahkan Asty masuk terlebih dahulu.
"hehe maaf kak, hp aku mati terus angkutan umum yang aku naikin tadi pecah ban eh pas mau naik yang lain malah penuh, jadi aku jalan kaki deh." jelas Asty dengan manjanya.
"aneh banget nih anak, tadi ajah sok jagoan. ngomongnya gue lo, eh pas ketemu kakaknya manja banget." batin Qenan pura-pura tidak memperhatikan Asty.
"eh siapa dia?" tanya Laras ketika melihat sosok pria berkacamata berdiri di belakang Asty.
"oh iya, dia Qenan kak. tadi ketemu di jalan pas aku jalan kaki ke sini." ucap Asty.
"kamu kenal sama dia?" tanya Laras heran.
"tadi aku tolongin dia pas dia lagi di kejar orang-orang yang badannya gede, kayak bodyguard gitu, kak." jelas Asty.
"apa? terus kamu gak apa-apa kan? apa ada yang luka nggak?" tanya Laras memutarkan badan Asty memeriksa apakah adiknya terluka.
"ya ampun kakak, pusing nih di puter-puter begini." seru Asty.
Tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu telpon dari mamanya. Ketika Qenan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan meminta izin untuk mengangkat telpon, Laras dan Asty tercengang melihat ponsel yang di gunakan oleh Qenan.
Ponsel keluaran terbaru dari merk nomor satu di dunia itu pasti harganya begitu fantastis.
"de, sebenernya dia itu siapa?" tanya Laras dengan wajah terkejutnya.
"aku juga nggak tau, kak." jawab Asty sama-sama melongo.
Setelah selesai menjawab telpon, Qenan kembali menghampiri Asty dan berpamitan karena sudah di telpon oleh orangtuanya.
"Asty, aku pulang dulu ya. mama aku udah nelpon." seru Qenan dengan jujurnya menyebut mama, membuat Laras menahan tawanya.
"oh ya udah, terimakasih ya udah nganterin. hati-hati di jalannya, jangan sampe ketemu om-om serem tadi lagi." seru Asty dan di jawab anggukan kepala oleh Qenan.
Setelah Qenan pergi, Laras dan Asty memasuki kontrakan yang tidak begitu sempit dan tidak juga luas. Laras masih penasaran dengan Qenan, sebenarnya siapa dia, seperti anak pengusaha ternama di kota itu tapi penampilanya yang culun membuatnya tidak meyakini tebakannya.
__ADS_1
"de, kakak masih penasaran sama dia, sebenernya dia itu siapa sih?" tanya Laras duduk di depan televisi memainkan ponselnya.
Sementara Asty tengah celingukan mencari sesuatu dalam lemari pendingin milik sang kakak.
"udah deh kak, jangan mikirin ajah dia. gak tau apa adeknya kelaperan nih." seru Asty memperlihatkan wajah cemberutnya setelah menutup pintu lemari pendingin.
"ya amoun adeku sayang, maafin kakak ya." seru Laras memeluk Asty dengan erat. "ya udah kita keluar cari makan yuk, kakak juga udah laper. tapi kamu mandi dulu sans, bau keringet." tambah Laras melepas pelukannya dan kini menutup hidung menjauhi Asty.
"iya deh, kakak ku yang wangi." ledek Asty segera pergi ke kamar mandi.
Di waktu yang sama namun berbeda tempat, Qenan mengemudikan mobilnya menembus keramaian ibu kota.
Dengan sesekali bersenandung mengikuti alunan musik yang ia nyalakan di dalam mobilnya, terlihat sangat bahagia hari itu. Hingga tanpa terasa mobilnya sudah memasuki halaman sebuah rumah mewah bercat putih dan berlantai dua.
Deru mobilnya membuat seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan sang putra sematawayangnya.
"Qenan, kamu kemana saja." bu Rani merentangkan kedua tangannya untuk memberi pelukan hangat kepada sang anak.
"mama.." Qenan berlari ke dalam pelukan ibunya dengan raut wajah bahagia yang belum pernah di perlihatkan selama setahun belakangan ini.
"apa yang sudah terjadi sehingga membuatmu terlihat sebahagia ini, sayang?" tanya bu Rani ikut merasakan kebahagiaan.
"aku tadi ketemu cewek mam, cantik, baik, ceria pokoknya dia hebat deh." Qenan menggambarkan dengan begitu antusias, seperti anak kecil yang baru pertama kali pergi ke taman bermain.
"cewek? jangan bilang kamu udah ketemu Lusy. apa bodyguardnya Lusy berhasil nangkap kamu, hah. kamu di sakiti sama mereka? mana yang luka sayang, kasih tau mama sekarang." rentetan pertanyaan muncul dari mulut bu Rani karena merasa khawatir terhadap sang anak sematawayangnya.
"aduh, aku pusing mam." teriak Qenan saat sang ibu memutarkan badannya memeriksa setiap inci tubuh Qenan.
"oh maaf sayang, maafin mama." seru bu Rani mengelus dada bidang sang anak.
"lagian siapa sih Lusy, orang tadi aku ketemu cewek namanya Asty. kayaknya dia baru lulus SMA deh, dia ke sini mau nyari kerja." ucap Qenan dengan wajah kekanakannya.
Ketika anak dan ibu sedang berbincang, terdengar suara langkah kaki menghampiri mereka.
"wah, sepertinya anak papa lagi jatuh cinta nih." ledek pak Bagas menghampiri anak dan istrinya yang sedang mengobrol.
"ih, papa apaan sih." seru Qenan tersipu malu. "udah ah, aku mau mandi dulu. bau acem." tambah Qenan dengan tingkah manjanya dan segera pergi bersiap untuk mandi.
__ADS_1
"papa.. kapan anak kita bisa normal lagi, mama kasian liatnya." seru bu Rani terisak menatap Qenan yang tengah berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya ke lantai, persis seperti Qenan di waktu kecil.
"sabar ma, pasti sebentar lagi Qenan sembuh." ucap pak Bagas memeluk bu Rani yang tengah mengusap air matanya.