Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
eposode 53


__ADS_3

Toby dan Haikal memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe untuk menceritakan permasalahan yang sedang terjadi.


"kita ngobrol di sini ajah." seru Haikal menarik sebuah kursi kemudian memesan camilan untuk menemani obrolan mereka.


"terserah lo ajah bang." jawab Toby sudah duduk dengan santainya.


"jadi, bagaimana ceritanya Vian bisa mukulin lo?" tanya Haikal.


Toby menceritakan kronologi kejadian dari awal, Haikal begitu terkejut mendengar cerita Toby. Haikal tidak menyangka Vian berbuat senekat itu pada Asty.


"sekarang rupanya dia nggak bisa terima kenyataan." seru Haikal menggeleng.


"yah, nggak kayak gue bisa menerima kenyataan kalo dia udah jadi milik orang lain." ucap Toby meletakkan kepala di atas meja dengan malasnya.


"wouy bangun lo, gak malu apa di liatin banyak orang. emang lo lagi deketin siapa, hah?" tanya Haikal mainkan sedotan dalam gelasnya.


"cewek cantik yang udah ngobatin luka gue ini." ucap Toby mengangkat kepalanya dari meja dan menunjuk wajahnya.


Pada saat ia sudah duduk tegak berhadapan dengan Haikal, pandangannya tertuju pada sepasang kekasih yang tengah bermesraan, saling menyuapi secara bergantian membuat Toby semakin iri melihatnya.


Toby terdiam seolah dia membeku saat melihat gadis yang dia suka sedang bersama orang lain.


Melihat Toby tiba-tiba bengong membuat Haikal penasaran apa yang sedang Toby lihat. Haikal pun menoleh ke belakang untuk melihat apa yang membuat Toby membeku layaknya bongkahan es di kutub Utara.


"oh jadi itu cewek yang lo taksir." seru Haikal setelah menoleh ke belakang.


"iya bang, tapi dia udah punya cowok." lirih Toby.


"lah ya udah sih, masih banyak cewek di dunia ini bro. jangan lo ngejar cinta yang salah, masa cewek orang mau lo kejar sih. gila kali lo." seru Haikal menggeleng.


Matahari sudah mulai turun menuju ke peraduannya. Di sebuah rumah yang sangat megah terlihat seorang anak laki-laki sedang berdiri di balkon kamarnya, memperhatikan langit jingga di sore hari itu.


tak .. tak.. tak..


Suara langkah kaki memecah keheningan dan lamunannya.


"Vian. papa pulang, nak." seru pak Farel mendekati Vian yang tengah berdiri di balkon seorang diri.

__ADS_1


"untuk apa kau pulang, bukankah kehidupanmu di kota sana bersama istri barumu." ucap Vian tanpa sedikitpun menoleh ke arah pak Farel yang berjalan tepat di belakangnya.


"aku ke sini untuk menjemputmu, mari kita tinggal bersama. memulai semuanya dari awal lagi." ajak pak Farel yang kini sudah berdiri di samping Vian.


Vian hanya diam mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut ayahnya. Sejenak muncul bayangan masa lalu dalam benaknya, teringat bagaimana ketika kedua orangtuanya bertengkar hebat di depan matanya hingga mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah.


Tanpa terasa air mata Vian terjun bebas dari matanya membuatnya tak bisa mengucap sepatah katapun. Senakal apapun Vian, dia hanyalah seorang anak biasa yang tak mendapat perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Oleh sebab itu, Vian menjadi nakal dan melakukan apapun yang dia inginkan.


"maafkan papa, Vian. maafkan papa." ucap pak Farel memeluk Vian dengan erat dan menitikkan air mata.


Nampak rasa penyesalan dalam wajah sang ayah. Vian masih terdiam, hanya tangisnya yang terdengar saat ini. Namun ia merasakan kehangatan dalam pelukan sang ayah, membuatnya membalas pelukan sang ayah.


"maafkan aku juga, pah. aku selalu membantah mu." lirih Vian.


"sekarang kamu mau kan ikut papa, di sana kamu tidak akan merasa kesepian. mama baru mu mengharapkan agar kamu bisa ikut dan di sana juga kamu memiliki seorang adik perempuan. pasti hari-hari mu di sana akan jadi lebih berwarna." ajak pak Farel.


"baiklah, tapi sebelumnya aku harus bertemu Toby dulu untuk meminta maaf." seru Vian di balas anggukan kepala oleh pak Farel yang sedari tadi sibuk mengusap air mata Vian yang mulai mengering.


Langit tampak gelap, namun terlihat indah dengan taburan bintang di langit serta cahaya bulan yang menambah keindahan langit malam ini.


"aku nggak mikirin apa-apa kok bu, aku cuma seneng ajah liat bintang, rasanya tuh tenang." jelas Asty kemudian merebahkan tubuhnya di teras rumah.


"ya udah, tapi jangan lama-lama ya. kamu harus istirahat, lagian leher kamu masih sakit kan." seru bu Tatum membelai wajah Asty.


"iya ibu, bentar lagi aku masuk." ucap Asty masih menatap langit.


Asty tidak berani menceritakan kejadian tadi di sekolah pada ibunya, karena ia tak ingin masalah ini berbuntut panjang nantinya. Ia mengatakan bahwa luka yang di dapatkannya itu akibat ia terjatuh di lapangan.


Kini Asty berada di teras rumah sendirian setelah bu Tatum memilih untuk masuk ke dalam rumah. Dalam kesendiriannya, Asty memikirkan kejadian-kejadian yang menimpanya saat ingin sekali memiliki seorang kekasih.


"hah, apa seperti ini rasanya memiliki pacar. perpisahan membuat luka hati yang sangat mendalam dan akan menjadi sebuah permusuhan saja." gumam Asty seolah tengah mengobrol dengan bintang-bintang di langit.


Sementara di bawah langit yang sama, Vian tengah menemui Toby dan Haikal di tempat mereka melakukan balapan, karena seperti biasanya setiap malam mereka berkumpul di sana.


Sebenernya Vian sudah malas ke tempat itu karena pasti akan ada Hara juga di sana, tapi Vian harus bertemu dengan Toby dan Haikal untuk meminta maaf sekaligus berpamitan.


Vian menghentikan motornya di depan Toby dan Haikal yang tengah duduk di atas motor masing-masing.

__ADS_1


"hey bro, apa kabar?" tanya Haikal tersenyum mengangkat tangannya.


"baik bang." jawab Vian turun dari motornya dan berjalan menghampiri Toby.


"bro, soal tadi pagi di sekolah. maafin gue ya." seru Vian mengulurkan tangannya sedikit ragu karena melihat wajah Toby yang terluka karena dirinya.


Bukannya Toby marah pada Vian, akan tetapi ia tersenyum dan menyambut uluran tangan Vian kemudian memeluknya seolah untuk menguatkan hati Vian.


"lo tenang ajah bro, gue udah maafin lo sebelum lo minta maaf juga. lagian kita kan udah temenan lama banget, gue ngerti keadaan lo gimana saat itu." seru Toby melepaskan pelukannya.


"makasih, bro." ucap Vian tersenyum.


"gue ke sini juga sekalian mau pamitan. besok gue berangkat ke kota ikut bokap." tambah Vian.


"lo mau pindah ke sana bro?" tanya Haikal.


"iya bro. kata bokap, gue bakal jadi penerus perusahaan di sana nanti." jelas Vian tersenyum seolah tengah menyusun rencana masa depannya.


"wah keren lo, bro. semangat ya, sekolah yang bener lo di sana. jangan bikin onar lagi." ledek Toby mengacak rambut Vian.


Mereka bertiga pun tertawa bersama mengingat kenakalan yang dulu pernah mereka lakukan.


Di tengah candaan mereka, datang seorang gadis yang sangat menyebalkan bagi mereka. Siapa lagi kalau bukan Hara.


"hai tampan." goda Hara mendekati Vian.


"mau apa lagi lo ke sini? belum puas lo udah hancurin hubungan gue, hah" ucap Vian penuh dengan emosi.


"uuhh.. jangan galak-galak dong sayang, kalo kamu udah putus sama dia kan bisa sama aku, iya kan?" Hara berbisik di telinga Vian membuatnya merinding.


"hih .. pergi sana lo, dasar ulet bulu. nempel-nempel sama gue, bikin gue gatel ajah." seru Vian mendorong Hara hingga terjatuh.


"ayo, kita pergi ajah. gak betah gue lama-lama di sini." ajak Vian pada dua temannya.


"Vian, kamu jahat banget sih sama aku." teriak Hara sambil di bantu bangun oleh dua temannya.


Vian, Toby dan Haikal melajukan motornya menuju ke markas mereka untuk melanjutkan perbincangan terakhir sebelum Vian berangkat ke kota esok hari.

__ADS_1


__ADS_2