Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 94


__ADS_3

Hari demi hari berganti, berlalu begitu cepatnya karena kehidupan Asty kini di penuhi dengan kebahagiaan. Mendapatkan pasangan hidup yang begitu mencintainya dan juga memiliki orang tua baru yang sudah menganggapnya sebagai anak.


Namun tangis haru tengah menyelimuti bu Tatum yang kini berada di dalam pelukan kedua anak perempuannya.


"Tak terasa, kini dua anak gadis ibu sudah berkeluarga." Ucap bu Tatum menyeka air matanya.


Acara akad nikah Laras dan Zidan sudah di laksanakan, saat ini bu Tatum, Laras dan Asty tengah berada di dalam kamar yang sudah dipenuhi dengan hiasan khas kamar pengantin.


Aroma dari bunga melati yang tengah di kenakan Laras sebagai riasan menyebar di seluruh sudut ruangan membuat Asty tiba-tiba saja merasa tidak nyaman. Rasa ingin mengeluarkan seluruh isi perut membuatnya segera berlari menuju toilet di luar kamar.


Melihat istrinya yang berlari dengan mulut yang di tutupi oleh kedua tangan, membuat Qenan merasa panik dan segera menyusul Asty.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Qenan panik saat mendapati Asty tengah berdiri di depan wastafel dengan wajah pucat.


"A-aku gak tahan sama bau bunga melati." Jawab Asty dengan napas tersengal kemudian membungkukkan badan kembali ke wastafel.


Qenan hanya bisa memijat leher Asty berharap bisa meringankan derita yang di rasakan nya.


Kepanikan kian menjadi saat Qenan melihat wajah Asty yang semakin pucat dan tubuh yang sangat lemas hingga terjatuh ke dalam pelukan Qenan. Di saat yang sama bu Tatum datang menghampiri Asty di ikuti oleh bu Rani yang mendengar jika menantu kesayangannya tengah sakit.


Kedua ibu itu ikut panik dan meminta Qenan untuk segera membawa Asty ke rumah sakit. Asty yang dalam keadaan setengah sadar di gendong oleh Qenan menuju tempat parkir membuat para tamu undangan terkejut, tak terkecuali Zidan yang tengah menemui para tamu.


"Asty kenapa?" Tanya Zidan pada Laras yang sudah berderai air mata.


"Aku juga nggak ngerti, dia tiba-tiba mual pas lagi di kamar sama aku." Jawab Laras panik.


Zidan terus mendekap Laras dan memegang tangannya untuk sekedar menenangkan istri tercintanya itu.


"Apa jangan-jangan kita mau punya ponakan, sayang." Ucap Zidan melengkungkan senyuman membuat Laras ikut tersenyum.

__ADS_1


Laras menyeka air matanya dan segera berjalan menuju bu Tatum dan bu Rani yang tengah mencemaskan Asty, ia memberitahukan kemungkinan yang terjadi pada Asty karena memperlihatkan tanda-tanda kehamilan.


Setelah mendengar ucapan Laras, terlihat raut wajah bahagia pada bu Rani dan bu Tatum.


"Kita bakalan jadi nenek." Seru bu Rani tersenyum bahagia.


Sementara Qenan tengah merasakan kepanikan yang luar biasa melihat Asty yang terbaring lemah karena terus menerus memuntahkan isi perutnya. Qenan terus memegangi tangan Asty sambil mendorong brankar menuju ruang pemeriksaan, langkah kaki Qenan terasa semakin berat, jarak menuju ruang pemeriksaan terasa begitu jauh.


Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di ruang pemeriksaan. Qenan semakin panik saat berada di depan ruang pemeriksaan, menunggu pemeriksaan selesai di lakukan oleh dokter.


Doa-doa terus di lantunkan oleh Qenan, mengingat saat ia berpisah dengan orang yang sangat di cintainya. Betapa perih hatinya ketika sekian lama berpisah dengan Asty dan saat baru saja di pertemukan kembali, ia harus melihat Asty yang terbaring tak sadarkan diri di atas brankar sama seperti saat ini.


"Aku tidak ingin berpisah dengannya untuk yang ke sekian kalinya." Lirih Qenan yang tengah duduk di bangku depan ruang pemeriksaan.


Qenan sudah tak peduli lagi jika air matanya terus menetes membasahi wajahnya yang selama ini memperlihatkan ketegasan.


Suara langkah kaki yang sudah tak asing di telinga Qenan mengalihkan perhatiannya. Bu Rani datang menghampiri Qenan yang terlihat mengusap air matanya begitu terburu-buru.


Qenan tak pernah terlihat menangis, sekalipun ia mengalami hal yang begitu menyakitkan bagi hatinya, tetapi kali ini ia meneteskan air matanya.


"Iya, ma. Aku takut kehilangan Asty lagi, aku cuma mau kita bisa bersama selamanya." Qenan menahan kepala dengan satu tangannya.


Ia menutupi wajahnya yang terlihat sangat lusuh dengan tetesan air mata membasahi kedua pipinya. Ia tak bisa menahan kesedihannya saat membayangkan jika Asty harus pergi meninggalkannya kembali.


Bu Rani terus menenangkan Qenan, karena jika ia ikut panik makan Qenan akan semakin sangat frustasi.


Tak lama kemudian dokter yang menangani Asty membukakan pintu dan segera di sambut oleh Qenan yang sudah mengusap air mata di wajahnya.


"Selamat pak, anda akan menjadi seorang ayah." Seru seorang dokter wanita dengan senyuman ramahnya.

__ADS_1


Qenan terdiam mencerna kalimat yang terucap dari mulut sang dokter, kemudian bu Rani yang sudah tampak sangat bahagia menjelaskan pada Qenan maksud dari dokter tersebut.


Seolah ada pelangi setelah hujan deras, Qenan segera masuk menemui Asty tanpa berkata sepatah katapun membuat dokter dan bu Rani saling melemparkan senyuman.


Dengan perasaan bahagianya Qenan memegang tangan Asty yang masih terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dan selang infus yang terpasang di tangan sebelahnya.


Qenan mendaratkan sebuah kecupan di kening Asty kemudian tak hentinya mencium tangan Asty membuat sang pemilik tangan merasa heran dengan sikap berlebihan dari Qenan.


"Kamu kenapa sih, kok dateng-dateng cium terus tangan aku, geli tau." Ucap Asty dengan nada rendah menandakan ia masih begitu lemas karena sejak tadi ia terus merasakan mual.


Asty tidak segera memberitahu Qenan jika tadi ia telah menjalani tes kehamilan karena ia pikir dokter juga pasti sudah memberitahunya.


Qenan terus memegang tangan Asty dan membelai rambut hitamnya dengan penuh kasih sayang saat mengatakan ia sangat bahagia mendengar kabar jika Asty tengah mengandung buah cintanya.


Melihat raut wajah Qenan membuat Asty ikut merasa bahagia dan dalam hatinya ia berjanji akan menjaga bayi dalam kandungannya dengan sebaik mungkin.


Qenan kembali mendaratkan sebuah kecupan di kening Asty, kebahagiaannya terasa datang kembali saat melihat senyuman di bibir Asty yang begitu membuatnya tenang.


"Ekhm.. mama juga mau ngucapin selamat dong sama anak kesayangan mama. Cium-ciumannya nanti lagi." Ledek bu Rani menatap ke arah Qenan.


Qenan hanya bisa tersenyum sambil menunduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal menutupi wajah memerahnya.


Bu Rani menghampiri Asty dan membelai lembut kepala Asty dengan penuh kasih sayang.


"Selamat ya, nak. Sebentar lagi kamu akan jadi ibu. Oh iya, ibu kamu gak bisa ke sini sekarang soalnya masih banyak tamu yang datang." Ucap bu Rani membuat Asty merasa sedikit lega.


Bu Tatum sangat bahagia setelah mendapat kabar dari bu Rani jika Asty benar-benar tengah mengandung cucu pertamanya, begitu pula dengan Laras dan Zidan yang akan segera memiliki keponakan. Acara resepsi pernikahan Laras pun kembali di langsungkan setelah mempelai wanita yang tadi terlihat kepanikan tetapi sekarang terlihat sangat berbahagia.


"Kayaknya kita harus lembur nih, sayang. Kita gak boleh kalah sama Asty." Bisik Zidan saat mereka duduk di atas pelaminan membuat wajah Laras seketika itu memerah.

__ADS_1


Laras hanya bisa mencubit tangan Zidan yang kini telah resmi menjadi suaminya itu dengan raut wajah malunya membuat Zidan semakin senang meledek istrinya yang biasa terlihat galak itu.


__ADS_2