
Suara teriakan seorang ibu di depan mini market membuat hati Asty tergerak untuk menolongnya, apalagi melihat ibu itu menangis membuat Asty merasa tak tega.
"kak, aku titip ini dulu ya. nanti aku ke sini lagi." ucap Asty pada kasir memberikan sebuah amplop coklat berisi CV lamaran pekerjaan.
"hey, jangan. itu berbahaya." teriak kasir itu.
Namun teriakannya tidak bisa menghentikan lari Asty yang terus mengejar pencopet. Sejak selalu di ejek tidak bisa berlari membuat Asty terus latihan, setiap sore hari ia pergi ke lapangan untuk melatih berlarinya. Hingga akhirnya ia pernah juara dalam lomba lari yang di adakan di sekolahnya dulu.
Kini Asty terus berlari mengejar pencopet di ikuti oleh dua orang security di belakangnya. Pencopet itu terlihat mulai kelelahan dan berlari melambat membuat Asty segera menambah lagi kecepatan larinya.
Pada akhirnya pencopet itu berhasil di tangkap oleh Asty. Napas pencopet itu terengah-engah ketika kedua tangannya di pegang oleh Asty dari belakang.
"makanya ga usah lari, bang. jadinya cape kan." ucap Asty mengambil tas dari tangan pencopet itu.
Dua security datang dan membawa pencopet ke kantor untuk di mintai pertanggungjawaban atas perbuatan tercelanya.
"awas kau, kalau kita ketemu lagi. tunggu pembalasanku." batin pencopet itu menatap sinis ke arah Asty.
Asty tidak memperhatikan pencopet itu karena ia sedang sibuk memakai sepatu hak tingginya kembali setelah ia berjalan di atas aspal.
"untung kaki gue kuat." gumam Asty kemudian berjalan kembali menuju mini market.
Ibu yang menjadi korban pencopetan terus menangis di depan mini market, berharap tasnya bisa kembali karena di dalamnya ada sejumlah uang untuk biaya semester anaknya.
Tangis kesedihan berubah menjadi tangis kebahagiaan ketika Asty memberikan tas kepada ibu itu dengan keadaan utuh.
"lain kali lebih waspada lagi ya, bu. zaman sekarang banyak orang-orang berbuat jahat, walau dia gak niat juga kalo ada kesempatan pasti dia lakuin." ucap Asty mengelus pundak korban pencopetan tadi.
"terimakasih, de." tak hentinya ucapan itu di lontarkan pada Asty.
Sorak sorai warga yang melihat aksi Asty membuat bu Rani ikut mengagumi keberanian Asty menangkap pencopet itu. Melihat pakaian yang di kenakan Asty, bu Rani menebak jika Asty sedang mencari pekerjaan. Ada keinginan untuk menjadikannya sebagai karyawan baru yang selama ini dicari.
Asty kembali masuk ke dalam minimarket untuk mengambil CV yang ditinggalkannya kasir.
"kak, aku mau ambil CV yang tadi." ucap Asty pada kasir itu.
__ADS_1
"kamu hebat sekali, de." ucap kasir berdecak kagum namun Asty hanya bisa tersenyum malu dan berpamitan untuk pulang karena hari sudah sore.
Sesampainya di kontrakan, Asty segera bersih-bersih dan memasak makan malam. Asty merasa tidak enak pada sang kakak karena belum mendapatkan pekerjaan dan ia merasa menambah beban sang kakak. Jadi ia membantu mengerjakan pekerjaan rumah agar kakaknya tidak bertambah lelah setelah seharian bekerja.
Setelah semuanya terlihat bersih dan rapi, baru Asty pergi mandi dan bersiap menyambut kepulangan sang kakak.
"wah.. rapi banget, jadi nyaman nih istirahat malem ini." ucap Laras langsung merebahkan diri di depan tv.
"mandi dulu, kak. jadi ketularan bau keringet kakak deh tuh kasur." seru Asty membuat Laras tertawa.
Sesaat kemudian Laras mencium aroma yang menggugah seleranya. "hmm.. kamu masak, de?" tanya Laras mencari sumber aroma yang membuatnya merasa lapar.
"hehe iya ka. dah sekarang kakak mandi dulu terus kita makan bareng." pinta Asty membuat Laras bergegas ke kamar mandi.
Setelah mereka selesai makan malam, kini mereka duduk bersama di depan tv.
"kak, maaf ya. aku belum dapet kerjaan." ucap Asty tertunduk lesu.
"nggak apa-apa de, sekarang emang susah cari kerja. kamu yang sabar ajah ya, nanti juga dapet kerjaan." jelas Laras membuat Asty semangat lagi mencari pekerjaan.
Asty tidak berani menceritakan kejadian di depan minimarket tadi, ia takut jika kakaknya merasa khawatir dan menyuruhnya kembali pulang menemani bu Tatum di rumah.
"hati-hati, de. semangat terus ya." teriak Laras kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
Dengan penuh semangat, Asty memasuki perusahaan tersebut. Namun hari ini tidak jauh berbeda dari hari kemarin. Sudah beberapa perusahaan ia masuki, tetap saja tidak ada satupun yang menerima karyawan baru.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencoba melamar di minimarket. Dengan penuh keyakinan, Asty memasuki kembali minimarket yang tengah mencari karyawan baru tersebut.
"eh kamu yang kemarin, mau ngelamar ya? ayo aku antar ketemu bos langsung." ajak seorang kasir yang telah di perintahkan bu Rani jika Asty datang kembali.
Mereka berdua berjalan menuju ruangan bu Rani. Sesampainya di dalam ruangan, Asty di persilahkan duduk langsung berhadapan dengan pemilik minimarket.
"kamu yang kemarin bikin rame minimarket saya kan?" tanya bu Rani memulai obrolan.
"i iya bu, maafkan saya." ucap Asty menundukan kepala.
__ADS_1
"hahaha.. tidak usah takut, saya justru senang kamu berhasil menangkap penjahat yang meresahkan di sini." jelas bu Rani tertawa. "sekarang perkenalkan diri kamu dan riwayat pendidikanmu." pinta bu Rani.
Asty segera memperkenalkan dirinya, ia merasa gugup karena ini kali pertama baginya melakukan wawancara kerja, di tambah lagi kemarin ialah yang membuat para warga berkumpul di depan minimarket. Namun karena keberaniannya kemarin, Asty di terima menjadi karyawan baru di minimarket dan langsung di posisikan sebagai admin.
Tanpa membaca CV Asty terlebih dahulu, bu Rani langsung menerima Asty karena menurutnya penjelasan dari Asty sendiri sudah cukup.
"besok kamu mulai bekerja di sini. siapa tadi nama kamu?" tanya bu Rani.
"nama saya Asty Anindita, bu. biasa di panggil Asty." jawab Asty dengan sopannya.
"Asty? rasanya nama itu tidak asing lagi, tapi dimana aku mendengarnya ya." batin bu Rani mengingat-ingat kejadian beberapa hari ke belakang.
Suasana hening terjadi selama beberapa menit, saat bu Rani tengah mengingat-ingat nama Asty yang di rasa bu Rani pernah mendengarnya.
"duh, abis gini aku ngapain. apa aku boleh pulang? kok bu Rani diem ajah sih." batin Asty merasa bingung.
Namun Asty mencoba memberanikan diri bertanya pada bu Rani. "maaf bu, apa saya boleh pulang sekarang? kan tadi kata ibu saya mulai kerjanya besok." tanya Asty tersenyum kaku.
"oh ya ampun, maaf Asty tadi ibu ngelamun ya. ya sudah kamu boleh pulang, besok jam 7 pagi kamu sudah ada di sini ya." seru bu Rani di jawab anggukan oleh Asty dan berpamitan pulang.
Asty sangat berbahagia, terlihat dari gaya berjalannya yang ia buat seperti mengikuti alunan musik dan sesekali ia bersenandung.
"nggak apa-apa deh jadi admin minimarket yang penting kan dapet gaji." gumam Asty tertawa dengan polosnya.
Kebetulan lokasi minimarket dan tempat tinggalnya tidak begitu jauh. Asty memilih untuk pulang dengan berjalan kaki yang menurutnya bisa menghemat biaya.
Sesampainya di kontrakan, Asty melakukan kegiatan yang seperti biasa di lakukannya saat kembali ke kontrakan kakaknya.
Hingga tak terasa tiba waktunya Laras pulang bekerja, Asty menyambut Laras dengan penuh kebahagiaan dan memberitahu bahwa besok ia mulai bekerja.
"apa, kamu kerja di Rani mart?" tanya Laras terkejut.
"iya kak. gak boleh ya?" tanya balik Asty dengan lesu.
"ya ampun Asty, itu minimarket udah legendaris banget. katanya dari sebelum kamu lahir juga tuh minimarket udah berdiri. nggak apa-apa Asty, bekerja itu gak harus di kantor." jelas Laras memeluk adiknya. "lagipula itu deket banget dari sini, jadi kamu gak perlu ongkos kan. hahaha" tambah Laras tertawa.
__ADS_1
Laras pergi membersihkan diri kemudian mereka makan bersama seperti biasanya. Setelah selesai makan malam, mereka bersiap untuk istirahat karena besok adalah hari pertama Asty bekerja.
Asty tidak ingin ia terlambat di hari pertamanya bekerja. "semoga besok jadi hari yang menyenangkan." gumam Asty sebelum memejamkan mata.