
"Entah merasa bangga atau sedih mendengar hal barusan," ucap Indah pada teman SMPnya itu.
Hal itu membuat Dinda bingung dan bertanya dengan perkataan Indah.
"Apa maksud dengan ucapanmu barusan?"
Namun Indah hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Indah!! Apa maksud kata-katamu barusan?"
Dinda penasaran, ia juga menggoyang-menggoyangkan badan Indah sedikit kencang.
Indah tidak bergeming sedikitpun dengan perbuatan temannya itu. Hal itu membuat Dinda semakin penasaran dan semakin kencang menggoyangkan tubuh Indah.
"Indaaah, apa maksudmu? Kenapa kau merasa sedih sekaligus bangga? Hal apa yang membuatmu begitu?"
Tidak tahan dengan kelakuan temannya dan juga rengekannya, Indah membuka suara.
Ia berkata bahwa ia bangga yang menjadi mentor kerjanya adalah orang yang ia kenal. Namun yang menjadikannya sedih adalah mentornya itu adalah Dinda teman SMPnya.
Mendengar hal tersebut, raut wajah Dinda berubah drastis cemberut dengan bibir manyun kedepan juga kedua tangan yang dilipatkan di depan.
Indah tiba-tiba tersenyum saat melihat Dinda temannya itu cemberut, ia langsung mencubit kedua pipi Dinda.
"Yang aku sedihkan itu karena aku bakal sering ngerjain kamu Dindaaa!"
"Ihhhh dasar kamu ya! Ku kira apa ternyata kau mau ngerjain aku! Ku kira kau akan berubah, ternyata sama saja!" Ucap Dinda semakin cemberut.
Indah semakin tersenyum lebar melihat Dinda semakin cemberut, ia kemudian memeluk temannya itu sambil berkata bahwa dirinya sangat beruntung bisa satu kerjaan dengan Dinda.
Raut wajah Dinda pun berubah, ia juga membalas pelukan Indah sambil tersenyum senang.
"Aku juga sangat bahagia, bisa satu kerjaan denganmu Indah."
Saat mereka saling peluk memeluk, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam toko dengan raut wajah yang terlihat cemas. Bukan hanya itu, ia juga terlihat kelelahan.
"Ma... maaf dengan keterlambatanku," ucapnya sambil berjalan cepat ke arah Dinda dan Indah.
Dinda tersenyum ke arah wanita di depannya. Sedangkan Indah hanya terdiam bingung dengan wanita yang baru pertama kali dirinya lihat.
"Tenang saja Mir, lagian pak Ahmad gak bakalan marah juga," ucap Dinda santai.
"Ta...tapi aku sangat merasa bersalah," ucap wanita yang terlambat dengan nama Mira itu.
Mira masih terlihat was-was, Dinda yang mengetahui temannya itu masih cemas, ia langsung berdiri dan memegang kedua pundaknya.
"Tenangkan hatimu terlebih dahulu Mira," ucap Dinda yang memapah Mira untuk segera duduk di kursi.
Ia juga mengambil segelas air hangat dan langsung di berikan pada Mira.
__ADS_1
"Nih minum dulu," ucap Dinda memberikan segelas air hangat pada Mira.
Mira langsung mengambil segelas air hangat tawaran Dinda, ia juga langsung meminumnya sampai habis tidak tersisa, hingga membuat perasaannya perlahan membaik dan tenang.
"Kamu selalu saja begitu, selalu cemas walaupun dalam keadaan santai begini," ucap Dinda.
"Lagian, hari ini kedai buka sedikit lebih siang," tambahnya.
"Eh?"
Mira terkejut, ia bingung dengan ucapan Dinda barusan mengenai kedai kopi yang buka sedikit lebih siang.
"Kenapa begitu Dinda?"
"Apa semalam kau tidak membuka pesan grup? Padahal pak Ahmad sudah memberi tahu sangat detail dan jelas loh," ucap Dinda heran.
Mira menggaruk-garuk kepalanya. Sambil tersenyum, ia berkata bahwa kabel charger handphonenya rusak, otomatis ia tidak bisa mengisi daya handphonenya dan yang lebih parah ia tidak bisa membuka pesan grup sama sekali malam itu.
"Haaaaah!"
Dinda menghela nafas, ia memaklumi insiden yang di alamai temannya itu. Apalagi orang itu adalah Mira yang memiliki sifat ceroboh dan suka panikan.
Saat pandangannya mengarah ke arah Indah, Mira sedikit terkejut dengan kehadirannya. Ia mengira bahwa Indah adalah pelanggan yang datang terlalu pagi.
"Bukannya kedai ini masih tutup Din?" Tanya Mira bingung.
"Memang."
"Haaaaaah!"
Dinda kembali menghela nafas.
"Bener-bener kamu ya! Berapa lama tidak membuka handphone sampai berita sepenting ini kamu tidam tahu?!" Tanya Dinda.
"Seminggu," ucapannya polos.
"Lagian, kabel charger handphoneku rusak seminggu yang lalu," tambahnya manyun.
Dinda terkejut mendengar pernyataan temannya mengenai kabel charger yang sudah rusak seminggu yang lalu. Ia heran kenapa Mira tidak membeli kabel charger yang baru. Apalagi kabel tersebut kemungkinan besar harganya hanya dua puluh ribu rupiah.
"Lalu, saat kerja kemarin-kemarin, kamu tidak menyimak pembicaraan pak Ahmad juga?" Dinda kembali bertanya.
Mira menggeleng-gelengkan kepalanya, bertanda bahwa ia tidak menyimak sama sekali pembicara pak Ahmad mengenai sesuatu yang penting.
"Astaga, bener-bener kamu ya Mira," ucap Dinda kembali menghela nafas.
"Dia ini Indah, karyawan baru di kedai ini. Dan hari ini adalah hari pertama ia bekerja di sini," jelas Dinda memperkenalkan Indah.
"Salam kenal, kak Mira," ucap Indah tersenyum manis pada Mira.
__ADS_1
Mira pun membalas senyuman Indah sambil menganggukan kepalanya.
"Oalah karyawan baru toh," ucap Mira.
"Bagus deh, biar kerjaan semakin ringan. Lagian kedai toko ini kekurangan personil setelah kak Aliya berhenti," tambahnya.
"Semoga kamu betah ya Indah," ucap Mira tersenyum manis pada Indah.
Dan ucapan itu dibalas oleh anggukan dan senyuman manis dari Indah.
Setelah itu mereka bertiga berbincang-bincang begitu lamanya. hingga di tengah-tengah perbincangan mereka pintu salah satu ruangan terbuka.
Dari pintu tersebut, keluarlah seorang pria dengan pakaian rapi dan kacamata yang terpasang di wajahnya keluar. Pria itu adalah pak Ahmad selaku Kepala kedai kopi itu.
"Oh, Indah juga sudah datang ternyata," ucap pak Ahmad berjalan perlahan ke arah Indah sambil membetulkan posisi kacamatanya.
"Kebetulan, Fattan datang lebih awal dan sekarang ia sedang berada di dalam ruangan karyawan. Dan karena semua karyawan lama telah berkumpul di sini, sebaiknya kita bicarakan dan diskusi saja di sini," ucap pak Ahmad.
"Apa maksudnya pak?" Tanya Dinda bingung.
Mira ikut mengangguk karena sama-sama tidak mengerti dengan ucapan pak Ahmad.
"Aish, bagaimana kalian ini." Pak Ahmad menepuk jidatnya.
"Ada hal penting yang harus kita bertiga bicarakan. Makanya dari itu, Indah sebaiknya kamu tunggu di ruang karyawan dengan Fattan. Dan tidak boleh mendengar diskusi kita."
Pak Ahmad memerintah Indah untuk masuk ke dalam ruang karyawan. Kepala kedai itu, tidak ingin Indah mendengar pembicaraannya dengan karyawan lamanaya itu.
"Baiklah."
Indah pun perlahan berjalan menuju ruang karyawan. Dan diskusi yang dilakukan antara kepala kedai juga karyawan lama pun dimulai.
"Ada apa pak? Sampai-sampai karyawan baru tidak boleh mendengar diskusi kita?" Tanya Dinda penasaran.
"Jadi begini....."
Dan pak Ahmad pun memulai pembicaraan rahasianya.
To Be Continued......
...----------------...
...JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL DENGAN JUDUL...
..."MENGEJAR CINTA YANG SALAH"...
...DENGAN CARA LIKE, COMMENT, SHARE, DAN TAMBAHKAN FAVORIT UNTUK MENDAPATKAN UPDATE BAB TERBARU....
...DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGIKU...
__ADS_1
...TERIMA KASIH...
...----------------...