
Waktu berlalu begitu cepat, menandakan manusia begitu terlena dengan urusan dunianya masing-masing. Kini Asty telah lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya, ia telah masuk di sebuah SMA favorit yang di idamkan oleh semua siswa.
"kaka... aku menagih janjimu." teriak Asty menyambut kedatangan Laras yang menyempatkan diri pulang kampung demi menepati janjinya kepada Asty.
"iya bawel, bantuin kakak dulu kali. lagi repot begini juga." seru Laras menenteng berbagai macam oleh-oleh yang di bawa untuk keluarganya.
"hehe iya deh iya aku bantuin nih." jawab Asty berlari menghampiri Laras.
Asty membantu kakaknya membawakan barang-barangnya memasuki rumah.
"ibu... kak Laras udah nyampe nih." teriak Asty membuat bu Tatum mempercepat langkahnya dari kamar mandi.
Mereka menyambut Laras dengan hangat, sudah beberapa bulan Laras tidak bisa pulang karena sibuk dengan pekerjaannya. Saat ini pun ia hanya punya sedikit waktu untuk melepas rindu dengan keluarga.
"nih, spesial buat adikku yang katanya udah masuk ke SMA favorit. kakak belain pulang walau besok harus balik lagi." ucap Laras yang kini tengah duduk di kursi ruang keluarga.
Asty begitu antusias mendengarkan kata demi kata yang terucap dari mulut kakaknya, menantikan hadiah utama yang telah di janjikan sang kakak.
"buruan donk kak, mana hadiahnya." seru Asty dengan tangan yang terus menengadah di depan wajah Laras yang tengah sibuk menata barang bawaannya bersama sang ibu.
"ampun nih anak gak sabaran banget sih. nih ambil, di jaga yang bener ya. pinter-pinter ngatur waktu belajar, jangan hp mulu mentang-mentang baru punya hp." jelas Laras mengeluarkan sebuah kotak kecil yang masih tersegel rapi.
"woah.. hp baru, masih perawan ini." seru Asty dengan mata yang terbelalak menatap tiap sudut dus ponsel merk ternama yang di berikan oleh Laras lengkap dengan segel yang masih menempel.
"bilang apa kalo di kasih tuh?" tanya Laras sedikit kesal karena adiknya hanya fokus pada ponsel barunya.
"makasih kakak ku yang paling cantik, paling baik, makasih banget." ucap Asty yang langsung melompat mendekati Laras dan memeluk lalu menciumi seluruh wajah Laras dengan bahagianya.
"udah dek, ih. geli tau." jawab Laras mendorong-dorong Asty.
Setelah berterima kasih pada Laras, Asty segera berlari memasuki kamarnya membawa ponsel baru yang masih di dalam kardus dengan riang gembira kemudian menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"ampun dah, bukannya bantuin dulu ini beres-beres." seru Laras setelah mendengar bunyi pintu yang di tutup.
"udah biarin ajah, dia udah lama pengen punya ponsel, baru sekarang ke sampean. makasih ya kak." seru bu Tatum menepuk pundak Laras yang tengah membereskan barang-barangnya.
"iya ibu, aku juga seneng liat Asty semangat belajarnya. aku jadi gak ragu ngasih dia hadiah." jawab Laras tertawa.
Sinar matahari kian meredup menandakan siang akan berganti malam. Malam ini akan digunakan sebaik mungkin untuk Asty melepas rindu dengan sang kakak karena besok pagi, Laras akan kembali bekerja dan akan meninggalkan Asty dan bu Tatum kembali.
"kak, kakak kerjanya di perusahaan apa sih?" tanya Asty memulai pembicaraan ketika Laras sedang merebahkan diri di kasur lantai depan televisi.
"kakak kerja di AA Group, de. kenapa kamu mau ikut kerja bareng kakak?" tanya balik Laras sambil memainkan ponselnya.
"lucu banget sih namanya, tar aku mau kerja di BB Group ajah deh kak. hahah." seru Asty tertawa dengan mulut yang berisi keripik.
"itu di kunyah dulu kenapa de. pada muncrat kemana-mana tuh." seru Laras mengibaskan tangannya di atas kasur.
"heheh maaf kak, lagian lucu sih." seru Asty dengan polosnya.
"AA itu inisial nama pemilik perusahaan dek, katanya sih dia masih anak SMA. Ya seusia kamu lah." jelas Laras membuat Asty ternganga.
"iya namanya juga anak orang kaya. tapi kakak belum pernah ketemu sama dia." jelas Laras.
"hmm ya udah sih kak, yang penting gajian lancar kan. hahaha" seru Asty.
Kini Asty sudah tidak memikirkan tentang cinta lagi, ia mulai fokus pada sekolahnya dan mewujudkan impiannya membahagiakan orang tuanya.
Tak ada lagi Vian, tak ada lagi patah hati dalam pikirannya. Kini Asty sudah benar-benar menutup pintu hatinya untuk siapapun, karena ia takut patah hati lagi.
Asty memilih untuk memperbaiki diri, mendewasakan diri selama menanti cinta yang terbaik untuknya. Ia sudah lelah selalu mengejar cinta yang salah, cinta yang tidak pernah membuat dirinya merasa bahagia.
***
__ADS_1
Hari yang cerah selalu di rasakan oleh Asty, selama ia selalu ceria pasti hari-harinya akan selalu terasa cerah.
Hingga suatu ketika kecerahan yang selalu di pancarkan Asty menarik perhatian seseorang di sekolahnya. Seolah diri Asty di penuhi oleh cahaya, hanya Asty yang terlihat oleh matanya.
TRING ...
Suara notifikasi terdengar dari ponsel Asty yang tengah asyik menyeruput es jeruknya di kantin bersama Shela
"cie .. siapa tuh, gebetan baru nih kayaknya." ledek Shela yang juga mendengar bunyi notifikasi ponsel Asty yang di letakkan di atas meja.
"hust, gak ada gebetan segala. gue udah bosen pacaran." ketus Asty meraih ponsel kesayangannya itu.
[hai, gue Dani temen waktu SMP sekaligus temen latihan silat.]
"what? dulu gue ngejar lo, tapi lo cuek. sekarang lo dateng lagi? basi tau nggak." gumam Asty meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan dari Dani.
Ya, Dani adalah cowok yang dulu pernah Asty kagumi karena ia mirip dengan aktor kesayangannya.
"siapa sih?" tanya Shela penasaran melihat ekspresi Asty yang tiba-tiba kesal.
"itu cowok, dulu gue sempet ngefans sama dia tapi ya udahlah ngapain juga di bahas, bikin gue tambah bete ajh lo." ketus Asty melipat kedua tangannya di dada.
"haha ya maaf." Shela tertawa melihat Asty yang tadinya ceria sekarang berubah, terlihat wajahnya yang di tekuk merasa kesal.
Asty tidak menyadari jika Dani satu sekolahan dengannya. Setiap hari Dani memperhatikan Asty dari kejauhan yang selalu ceria membuatnya ikut merasa bahagia.
Sebenernya dahulu Dani juga menyadari jika Asty begitu mengaguminya, tapi karena ia pernah mendapat penolakan dari Vina, ia tak pernah berani mendekati seorang gadis lagi.
Dani berpikir bahwa prestasi lebih penting daripada seorang gadis yang akan menghancurkan prestasinya nanti, mengingat penolakan Vina yang berhasil membuat pikirannya menjadi kacau dan kurangnya fokus dalam belajar.
Akan tetapi berbeda dengan saat ini, ia merasa bahwa Asty selalu memberikan energi positif untuk orang-orang di sekitarnya dengan selalu memperlihatkan keceriaannya, membuat Dani ingin selalu berada di dekatnya.
__ADS_1
Setiap hari Dani menantikan kehadiran Asty yang selalu membawa keceriaannya, hingga akhirnya ia merasa jatuh cinta. Namun lain halnya dengan Asty, ia sudah menutup pintu hatinya untuk siapapun selama keinginannya terwujud.
Itulah janji Asty pada dirinya sendiri yang mungkin akan berubah ketika ia benar-benar merasa jatuh cinta.