Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 89


__ADS_3

Matahari sudah tidak menampakkan lagi sinarnya, udara dingin menyelimuti pasangan suami istri yang baru saja melangsungkan akad nikah. Qenan dan Asty masih berada di dalam kamar ketika bu Rani menyiapkan makan malam, mereka masih terlelap karena merasa hari ini begitu melelahkan.


Suara ketukan pintu memaksa mereka untuk secepatnya membuka mata, Asty terbangun dan hendak membukakan pintu tetapi tangannya ditahan oleh Qenan.


"Biar aku saja yang membukanya, kau tetaplah di sini." Ucap Qenan menatap dengan penuh kasih.


Qenan beranjak dari tempat tidurnya menghampiri pintu kamar dan segera meraih gagang pintunya. Bu Rani yang berdiri di balik pintu terkejut ketika Qenan membukakan pintu kamar yang memperlihatkan penampilan Qenan yang baru bangun tidur tetapi masih mengenakan setelan jas yang di pakai untuk melakukan ijab qobul siang tadi.


"Ya ampun Qen, kamu tidur gak ganti baju dulu? Ck.. jorok sekali kamu, buruan mandi terus kita makan malem bareng, udah mama siapin." Ucap bu Rani berdecak kemudian segera kembali menuju ruang makan tanpa mendengar jawaban Qenan terlebih dahulu yang tengah menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memperlihatkan giginya.


Setelah acara yang begitu mendebarkan dan pertama kalinya terjadi dalam hidup Qenan siang tadi, membuatnya merasa lelah. Tidur dalam posisi memeluk Asty mengantarnya menuju alam mimpi yang indah sehingga ia melupakan untuk sekedar berganti pakaian, sepatu yang ia kenakan pun Asty yang melepaskannya.


Jika Asty tidak terbangun karena merasa tidak nyaman tidur menggunakan kebaya, mungkin saat ini Qenan masih mengenakan sepatunya dan akan menambah omelan bu Rani.


Qenan kembali merebahkan badannya di atas kasur sembari menanti Asty yang tengah mandi, beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.


"Kak, ayo mandi. Aku udah siapin air hangat." Ucap Asty yang masih mengenakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya.


Qenan yang sedang berbaring di atas tempat tidur seketika terbangun saat melihat istrinya yang hanya memakai handuk. Perlahan Qenan mendekati gadis yang saat ini sudah sah menjadi istrinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Qenan meraih pinggang ramping Asty hingga menempel di tubuhnya. Tangannya menjelajahi setiap inci tubuh Asty yang begitu lembut, mulai dari leher kemudian turun ke pundak yang tampak putih bersih.


Namun itu semua hanya khayalan Qenan, saat ini ia masih duduk di atas tempat tidur menatap Asty dengan penuh kasih sayang kemudian ia bangkit dan berbisik di telinga Asty.


"Saat ini aku masih bisa menahannya karena kamu masih sakit." Qenan mencium kening Asty kemudian segera memasuki kamar mandi untuk menenangkan diri meninggalkan Asty dengan seribu pertanyaan.

__ADS_1


Sementara di meja makan, bu Rani tengah mengomel karena kesal pada Qenan yang sama sekali belum mengganti pakaiannya setelah acara selesai.


"Udahlah, mam. Mungkin dia cape, jadi gak sempet buat ganti baju." Ucap pak Bagas membela Qenan.


Tak lama kemudian Qenan dan Asty bergandengan menuruni tangga menuju meja makan, membuat bu Rani yang tadi merasa kesal berubah menjadi senang dan pak Bagas pun tersenyum bahagia menatap mereka yang kini telah menjadi pasangan suami istri.


Mereka ikut merasa senang mengingat perjuangan Qenan dan Asty untuk bersatu memang lah penuh liku, tapi saat ini mereka terlihat sangat bahagia menikmati buah hasil perjuangannya.


"Malam bu, pak." Sapa Asty menatap bu Rani dan pak Bagas bergantian, sementara Qenan menarik kursi dan mempersilahkan Asty untuk duduk.


"Mulai sekarang kamu panggil mama sama papa, kayak Qenan biasa manggil kita. Sekarang kan kita juga udah jadi orang tua kamu juga." Jelas bu Rani menatap pak Bagas.


"Iya benar kata mama, kami udah menjadi orang tua kamu. Jangan sungkan-sungkan ya.." tambah pak Bagas.


Acara makan malam pun di mulai, Qenan tampak romantis pada Asty dengan sesekali menyuapinya. Setelah selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi.


Qenan memegang lembut tangan Asty dengan satu tangannya dan tangan yang satunya lagi memegangi pundak Asty, ia memapah Asty yang berjalan perlahan menaiki anak tangga, sebenarnya Qenan sudah gemas ingin menggendongnya tetapi ia takut jika Asty merasa kesakitan seperti saat tadi ia menggendongnya dengan paksa.


"Kalo kesel, kamu boleh jalan duluan saja kak." Ucap Asty.


"Tidak, justru aku senang bisa berlama-lama memelukmu seperti ini." Jawab Qenan tersenyum manis.


"Lama-lama aku bisa diabetes, kak. Tiap hari melihat senyum manis mu." Ucap Asty tersipu malu membuat Qenan tertawa mengusap wajah Asty dengan lembut.


Berbeda dengan pasangan baru yang tengah di mabuk asmara, Vian atau yang populer di sebut dengan panggilan Arka saat ini tengah berada di sebuah bar menghabiskan beberapa botol minuman. Ia kadang menangis dan kadang tiba-tiba tertawa karena pengaruh minuman yang sudah banyak di habiskanya.

__ADS_1


Meletakkan kepala di atas meja yang berada di hadapannya, meja itu telah dipenuhi dengan botol-botol minuman kosong yang berserakan. Tiba-tiba dalam kesendiriannya, hadir seorang gadis yang pernah ia jumpai sebelumnya, gadis itu adalah Gisel.


Ia sengaja mengikuti kemana Arka pergi, hingga sampai saat Arka sudah mabuk berat ia baru berani menghampirinya. Kini ia sudah duduk di sebelah Arka, ia membelai lembut kepala Arka. Gisel merasa kasihan melihat Arka yang terlihat begitu frustasi saat mengetahui cinta pertamanya sudah menikah dengan sepupunya sendiri.


Arka merasakan sebuah sentuhan lembut pada kepalanya saat ia terus saja meracau, ia mengira jika yang membelai lembut kepalanya itu adalah Asty.


"Kenapa kau ada disini, suamimu akan memukulku jika mengetahui kau ada disini." Arka menegakkan tubuhnya, menatap siapa yang telah membelainya.


Dalam pandangannya yang samar-samar, ia melihat antara wajah Asty dan Gisel yang ada di hadapannya. Kepalanya semakin pusing, ia kembali menjatuhkan kepalanya di atas meja.


"Sebenarnya kau siapa, hah." Arka kembali meracau tetapi Gisel hanya diam saja.


Melihat keadaan Arka yang semakin parah, Gisel berinisiatif membawanya pergi ke sebuah hotel. Tanpa banyak perlawanan, Gisel berhasil memapah Arka masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil, Arka hanya diam memejamkan matanya tanpa meracau lagi. Gisel melihat dari kaca mobil ke arah Arka yang tergeletak di kursi belakang.


"Kasihan sekali orang ini, di tinggalkan cinta pertamanya. Pasti terasa begitu sakit." Gumam Gisel.


Ia melajukan mobilnya menuju hotel yang sebelumnya ia telah menghubungi Kiara untuk mengabarkan jika kakak kesayangannya tengah mabuk berat.


Hanya beberapa menit, Gisel sudah sampai di sebuah hotel. Setelah selesai check in, Gisel memapah Arka ke kamar dan merebahkannya di atas tempat tidur.


"Hah, tubuhmu berat sekali." Keluh Gisel mengusap keringat di dahinya dan meninggalkan Arka sendiri.


Namun ketika Gisel berjalan hendak meninggalkan Arka, tiba-tiba saja Arka menarik tangan Gisel hingga membuatnya terjerembab ke dalam pelukan Arka.

__ADS_1


"Temani aku disini." Ucap Arka memeluk Gisel.


__ADS_2