
*Flash back on
Beberapa jam sebelumnya...
Setelah mendengar percakapan Antara Asty dan teman-temannya, Nuri menemukan ide jahatnya.
"ahh.. gue harus ngasih tau tante Astrid dulu nih." seru Nuri memegangi ponselnya dan bergegas menuju toilet.
Setibanya di toilet, ia langsung menelpon Mommy Astrid.
"hallo tante." sapa Nuri.
"iya Nuri, ada apa ya?" tanya Mommy Astrid.
"maaf ganggu tante, aku cuma mau ngasih tau soal Andri." seru Nuri terpotong-potong membuat Mommy Astrid penasaran.
"Andri? ada apa sama Andri?" tanya Mommy Astrid.
"Andri gak masuk sekolah tante, katanya lagi ngga enak badan. terus itu si Asty cari muka sama Andri, dia katanya mau jenguk Andri mumpung ngga ada tante di rumah, gitu katanya tante." jelas Nuri sambil tersenyum jahat.
"apa? berani banget dia yaa, mentang-mentang ngga ada saya di rumah, dia seenaknya mau deketin Andri." jawab Mommy Astrid kesal.
"iya Tante, apa boleh saya mencegahnya tante?" tanya Nuri lagi.
"iya, kamu nanti ke rumah tante. pastiin kalo Asty nggak bisa deketin Andri yaa Nuri. selama nunggu tante pulang" pinta Mommy Astrid.
"Iyya tante, saya pasti tidak akan mengecewakan tante. Tante bisa mengandalkan saya. Tante hati-hati ya di jalan." jawab Nuri.
"terimakasih ya Nuri." seru Mommy Astrid dan kemudian menutup telponnya..
.
.
.
"terimakasih juga tante udah mau percaya sama gue." seru Nuri dengan senyuman jahatnya setelah sambungan telepon terputus.
"akhh... emang kurang ajar tuh bocah, udah di ancem juga malah nyari-nyari kesempatan. aku harus buru-buru pulang nih." seru Mommy Astrid setelah menutup telponnya kemudian bersiap untuk menuju ke rumahnya.
Sementara Asty dan teman-temannya sedang asyik berceloteh di dalam kelas, hingga akhirnya Nuri yang baru saja dari toilet setelah menelpon Mommy Astrid masuk ke ruang kelas dengan senyum sinisnya menatap ke arah Asty yang tengah tertawa.
"eh, kenapa tuh nenek sihir. kayaknya dia abis rencanain sesuatu deh." seru Tina.
"ya udah deh, biarin ajah. nanti juga dia capek sendiri." jawab Asty santai.
__ADS_1
"iya, lagian kalo lo kenapa-kenapa juga kan ada gue. lo tenang ajah yaah." seru Rehan menatap lembut Asty.
"idiihh... awas ada buaya lagi beraksi." seru Topan.
"sialan lu.." jawab Rehan menoyor kepala Topan. Tina dan Asty hanya terawa melihat dua sahabat itu saling ejek.
Semenjak Andri dekat dengan Asty, dua sahabatnya pun ikut akrab dengannya. Kini Asty tidak sendiri lagi, setelah bersahabat dengan Tina dan ditambah dua sahabat Andri yang selalu siap melindunginya.
Tak terasa waktu cepat berlalu, tiba saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
"eh kita jadi kan jenguk Andri?" tanya Tina pada Rehan dan Topan sambil memasukkan buku-bukunya kedalam tas.
"yaa jadi donk, gue juga pengen liat kayak apa sih tuh anak kalo lagi sakit." jawab Rehan sambil menopang kepalanya dengan satu tangan di atas meja.
"gila lu ya.. bukannya sedih sahabat lagi sakit juga." seru Topan menoyor kepala Rehan hingga terbentur ke atas meja.
"eh buset dah, sakit oyy jidat gue." seru Rehan memegangi keningnya.
"udah napa, pada ribut mulu. ayo kita jalan, aku udah beres nih." ajak Asty.
"duuh.. gak sabaran banget nih yang mau ketemu pangerannya." ledek Topan.
"ihhh apaan sih kamu, dah sana jalan duluan." seru Asty
Mereka bergegas meninggalkan ruang kelas, tanpa mereka sadari ternyata ada Nuri yang sedang memerhatikan mereka.
"okeh sekarang kalian duluan kesana, nanti gue nyusul bakal ngasih kejutan buat kalian. hahah.." gumam Nuri dengan tawa jahatnya.
*Flash back off
Setelah beberapa saat terdiam, Mommy menghampiri Nico dan mengarahkan telunjuknya pada wajah Nico.
"diam kamu Nico, sekarang kamu udah berani jawab yaa.." seru Mommy Astrid menatap tajam Nico.
Nico hanya bisa terdiam, takut Mommy Astrid melakukan hal yang tidak di inginkan mengingat masih ada Asty dan teman-temannya di sana.
"Sekarang juga kamu pergi dari rumah saya dan ingat, jangan pernah kamu berani mendekati anak saya. Melihatmu saja aku sudah merasa jijik. Pergi kamu..!!!" Bentak Mommy Astrid marah pada Asty.
"Baik tante, saya akan pergi dari sini. Saya memang orang tak punya harta seperti anda, tapi bukan berarti anda berhak membentak saya, dari kecil orang tua saya tidak pernah membentak. saya bersyukur punya keluarga yang bahagia walau banyak kekurangan dalam materi. saya juga manusia ciptaan Allah sama seperti tante, jadi tante tidak berhak menyebut saya menjijikan. Permisi tante.." jawab Asty sambil menahan tangisnya setelah di bentak oleh Mommy Astrid kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Saya juga permisi tante." Seru Tina mengejar Asty. Disusul oleh Rehan dan Topan.
"Kami juga pamit tante, asal tante tau ajah kalo Asty kesini saya yang mengajak bukan kemauannya sendiri. Dia tidak ada niat untuk mendekati Andri, dia kesini sekedar berempati terhadap teman sekelasnya tidak lebih dari itu. Permisi tante." Jelas Rehan kemudian berlalu mengejar Asty dan Tina.
"Apapun itu, saya tidak peduli. Yang pasti saya tidak mau kalo anak-anak saya berhubungan dengan anak-anaknya si Tatum penikung itu." Gumam Mommy Astrid geram.
__ADS_1
"Udah mom, aku ini lagi sakit. Tolong jangan bikin keributan. Mending semuanya pada keluar deh, terutama lo yang bisanya memperkeruh suasana." Seru Andri menatap tajam Nuri.
"Lahh. Kok gue sih, kan yang bikin masalah si gembel Asty." Seru Nuri membela diri.
"Andri bener, dah sekarang mendingan lo balik gih sono." Seru Nico menarik tangan Nuri.
"Awww... Sakit ka, aku bisa keluar sendiri. Gak usah tarik-tarik gini." Seru Nuri memegang pergelangan tangannya dan beranjak dari duduknya.
"Tante, aku pamit pulang dulu ya.." seru Nuri menghampiri Mommy Astrid yang tengah berdiri di dekat tempat tidur Andri.
"Iya. Kamu hati-hati ya, terimakasih udah jenguk Andri." Jawab Mommy Astrid lembut.
"Ciihh.. giliran ngomong sama biang kerok lembut banget." Batin Andri.
Setelah keluar kamar Andri, Asty berlari menuju halaman rumah sambil meneteskan air mata yang tadi sempat tertahan. Asty emang anak yang cengeng, tidak bisa mendengar kata-kata kasar sedikit. Tapi ini sedikit kemajuan, ia bisa menahan tangisnya sambil menjawab bentakan Mommy Astrid.
"Asty tunggu .." panggil Tina berlari di belakang Asty. Astypun berhenti namun air matanya semakin deras di pelukan Tina.
"Ssttt.. udah Asty, aku tau pasti sakit banget rasanya. Tapi kamu hebat loh, tadi bisa tegas jawab bentakan tante Astrid." Seru Tina tersenyum sambil mengelus punggung Asty.
"Ahhh masa sih?" Tanya Asty menyeka air matanya.
"Iya Asty kamu hebat." Seru Rehan dari belakang Asty dan Tina.
"iya bener Asty lo hebat banget, gue ajah ngeri tiap ketemu tante Astrid. takut di makan gue sama dia." tambah Topan.
"waahh.. gue bilangin nih, biar di makan beneran." seru Rehan meledek.
"ihhh jangan donk.. udah yuk kita pulang, nanti keburu keliatan lagi sama tante Astrid." Seru Topan bergidik ngeri.
Merekapun bergegas meninggalkan rumah Andri sambil menertawakan Topan yang ketakutan membayangkan marahnya tante Astrid, membuat Asty tidak merasa sedih lagi. Memang mereka paling cocok jadi temennya Asty.
Satu kemajuan yang di tunjukan Asty, semakin hari ia sudah semakin berani membela dirinya sendiri. Asty sadar kalau ia tidak selamanya sembunyi di belakang orang lain dan meminta untuk melindunginya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1