Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
Insiden Di Gudang


__ADS_3

Indah berjalan terkaku-kaku ke arah pojok ruangan, ia tidak kuat melihat tawa lembut dan pujian yang dilontarkan Fattan padanya.


"Apa lagi ini?! Aku benar-benar tidak kuat menatapnya," gumamnya terlihat kedua pipi yang memerah bak buah persik.


Fattan kembali dibuat bingung oleh jalan Indah. Ia Melihat tangan kiri dan kaki kiri wanita di depannya itu bergerak secara bersamaan, begitupun saat menggerakkan tangan kanan dan kaki kanannya.


Pria itu berjalan ke arah Indah dan bertanya sambil memegang pundak wanita di depannya terkait kondisi Indah saat ini.


"CUKUP!" Teriak Indah refleks. Ia juga menepis tangan Fattan yang memegang pundaknya.


Hal itu membuat Fattan terkejut dengan ciri kedua matanya yang perlahan melebar menatap ke arah Indah.


Indah yang sadar telah membentak Fattan juga menepis tangannya dengan kencang pun merasa sangat bersalah dan langsung meminta maaf padanya.


"Ma...maaf," ucapnya terbata-bata.


"A...aku tidak bermaksud me.. membentakmu," tambahnya.


Dalam otaknya, Indah terus dihantui dengan pemikirannya bahwa kemungkinan Fattan membenci dirinya.


Ia terus berfikir dan berfikir mencari alasan yang tepat untuk meyakinkan Fattan bahwa dirinya tidak bermaksud membentak ataupun menepis tangaan pria di depannya itu.


"Maaf, aku masih terfikirkan dengan kejadian pagi, dan hal itu membuat tubuhku masih merasa lelah," ucapnya menundukkan kepala.


"Pasti berat ya," Fattan menatap ke arah Indah.


"Seandainya pagi tadi cincin miliku terjatuh lebih awal, mungkin kau tidak akan setrauma ini."


Mendengar ucapan barusan dari Fattan, Indah merasa sangat bersalah karena membuat pria di depannya itu berfikir bahwa ketelatan dirinya lah penyebabnya.


Sebenarnya ia telah melupakan kejadian tadi pagi. Hanya saja, ia membuat alasan agar Fattan tidak tahu bahwa memang ia tidak kuat dengan terbaran pesona pria itu.


"Tidak, tidak, ini bukan salahmu." Indah melambaikan kedua tangannya dengan cepat bertanda penolakan atau menyangkal ucapan Fattan.


"Ini semua gara-gara tubuhku yang gendut ini," tambah Indah kembali mengeluh sambil menundukkan kepalanya.


Namun Fattan kembali tersenyum dan berkata bahwa tidak ada yang aneh dari tubuh wanita di depannya itu.


"Aku rasa, tubuhmu sangat ideal dan profosional."


Mendengar pernyataan Fattan barusan, membuat Indah kembali malu dan langsung pergi meninggalkan Fattan. Sehingga membuat Fattan bingung dengan tingkah laku Indah itu.


Begitupun dengan Fattan, setelah ia di tinggal oleh Indah, pria tampan itu kembali membereskan rak-rak yang terlihat kotor dan berantakan.


Beberapa menit berlalu merekapun saling diam-diaman. Tidak ada suara satu patah kata pun dari mulut mereka, hanya anggota tubuh seperti tangan dan kaki saja yang mereka gerakan.


"Kenapa suasananya kembali hening?" Gumam Indah yang bingung mencari topik.


"Apa yang harus aku tanyakan padanya agar tidak canggung seperti ini?"

__ADS_1


"Cari topik, cari topik, CARI TOPIIIKKK INDAAAAH!" Ucap Indah pelan dengan penuh penekanan ucapan.


"Apa aku tanya saja rumahnya dimana?"


"Eh, tapi aku merasa melanggar privasinya."


"Apa aku tanya saja makanan favoritnya, atau minumannya?"


"Eh tapi, aku takut disebut Sok kenal sok dekat olehnya."


"Bagaimana ini?!"


Indah terus berkelahi dengan pikirannya, sampai-sampai wanita itu terhenti dari tugas untuk membersihkan rak di depannya.


Berfikir dan terus berfikir hingga ia menemuk apa yang harus dirinya lakukan pada Fattan.


"Anu... fatta-"


Namun, tiba-tiba lampu gudang pun padam.


"AAHHHHHHHHH!"


Indah berteriak, namun terhenti sesaat.


"Fattan? Fattan? Fattan? Kamu ada di sana?"


Indah terus memanggil-manggil Fattan di tengah gelapnya gudang. Ia juga perlahan berjalan menuju pintu gudang yang tiba-tiba tertutup rapat itu.


Gagang pintu ia pegang dan pintu pun ia buka. Namun ada sebuah kendala, pintu gudang tersebut tidak bisa dibuka sama sekali alias terkunci rapat.


"Lah, kenapa pintu gudang ini tidak bisa dibuka?"


Indah terus mendorong pintu gudang tersebut agar terbuka.


"Fattan? Fattan? Dimana kamu? Fattan?"


Ia juga terus memanggil-manggil nama Fattan, namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu.


"Kemana dia? Apa jangan-jangan yang melakukan semua ini adalah Fattan? Tapi kenapa?" Gumam Indah kembali overthinking.


"Tapi kenapa dia melakukan ini padaku?"


"Apa dia memang benar-benar membenciku?"


"Tapi apa penyebabnya dia membenciku? Apa karena ia menolongku tadi pagi?"


Tidak punya cari lain lagi, Indah langsung berteriak kencang supaya siapa saja yang berada di luar gudang mendengarnya.


"HEIIII, SIAPAAAAA SAJA TOLOOONG!!!"

__ADS_1


"DINDAAAAAAAAA, KAK MIRAAAAAA, PAK AHMAAAAAD!"


Sekitar kurang lebih dua menit Indah berteriak, namun tidak ada jawaban dari orang luar. Hingga ia terdiam dan perlahan duduk membelakangi pintu gudang.


"Apa yang sebenernya terjadi? Apa mereka sengaja melakukan ini padaku? Tapi kenapa?"


Indah pun mulai merenungi keadaannya. Ia merasa orang-orang memang membencinya, bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.


"Kenapa dengan orang-orang? Apakah aku memang aneh? Apa memang aku tidak pantas untuk hidup?"


Air mata pun tiba-tiba menetes. Namun tidak lama kemudian, terdengar suara dari arah luar gudang.


"Indah? Kamu di dalam gudang?" Tanya seseorang yang terdengar tidak asing di telinga Indah.


"Dinda? Apa itu kau? Tolong aku! Aku terkunci di dalam gudang," ucap Indah yang langsung berdiri sambil menggedor-gedor pintu.


"Oh ternyata kamu baik-baik saja, syukurlah," ucap Dinda di balik pintu.


"Kenapa pintu gudang ini bisa tekunci?" Tanya Indah penasaran. Ia juga ingin memastikan bahwa semua kejadian tersebut bukan ulah Fattan.


"Oh, ini ada sapu yang mengganjal pintu," jelas Indah yang langsung membuka pintu gudang.


Seketika Indah terdiam. Ia semakin yakin bahwa yang melakukan semua itu memanglah Fattan. Ia kecewa namun dalam batinnya tidak ingin membenci pria itu.


"Memang benar, Fattan sangat membenciku. Tapi kenapa dia sampai melakukan ini padaku?" Gumam Indah berdiri di pinggir Dinda sambil menundukkan kepalanya.


"Apa tadi pagi dia terpaksa menolongku?"


"Kalau begitu, kenapa tidak abaikan saja aku di perkaos oleh dua orang bejat itu!"


Tak henti-hentinya ia merasa kecewa pada Fattan, hatinya juga sangat sakit sesakit-sakitnya karena yang melakukan hal tersebut adalah pria idamannya.


"Kamu kenapa melamun Indah?" Tanya Dinda cemas.


"Kamu baik-baik saja?" Tambahanya memegang kedua pipi sahabatnya itu.


Namun, Indah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya atas pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya itu.


To Be Continued........


...----------------...


...JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL DENGAN JUDUL...


..."MENGEJAR CINTA YANG SALAH"...


...DENGAN CARA LIKE, COMMENT, SHARE, DAN TAMBAHKAN FAVORIT UNTUK MENDAPATKAN UPDATE BAB TERBARU....


...DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGIKU...

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


...----------------...


__ADS_2