Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 71


__ADS_3

"huwwaaa... Asty, kamu emang adik yang nyebelin. tapi aku nggak siap buat kehilangan kamu." ucap Laras sambil terus menangis. "kalo kamu pulang luka-luka begini, kakak mau bilang apa sama ibu." tambah Laras.


"ya gak usah bilang donk kak, anggep ajah gak terjadi apa-apa. lagi pula aku masih bisa berjalan kok, kakak tenang ajah." ucap Asty santai.


Asty nampak kuat, namun tidak ada yang tahu jika hatinya sedang kacau. Perasaannya sangat tidak enak jika mengingat Qenan, terasa seperti akan ada suatu hal buruk terjadi pada Asty.


Di tengah malam Laras terbangun karena mendengar suara rintihan Asty. Di lihatnya tubuh Asty tengah terbalut oleh selimut tebal dan suara rintihan terdengar keluar dari mulutnya.


Laras mengulurkan tangan dan menyentuh kening Asty, badannya begitu panas hingga membuatnya berbicara dengan tidak jelas.


Laras panik melihat adiknya demam, segera ia meletakan handuk basah di kening Asty, berharap panasnya segera turun.


Asty terus mengigau memanggil ibunya, karena jika dia demam. Pasti ibunya lah yang merawat hingga sehat kembali.


Semalaman Laras tak bisa memejamkan matanya kembali karena terus menjaga Asty. Perlahan demamnya mulai turun dan sudah tidak mengigau lagi, Laras pun mulai tertidur.


***


Mentari telah menyapa, membangunkan siapa saja yang tengah terlelap dalam tidurnya. Perlahan Asty membuka matanya, ia merasakan sakit di seluruh tubuh dan kepalanya juga terasa sakit.


Asty mengulurkan tangannya ke arah Laras yang tidur di sampingnya.


"kak.." Lirih Asty, tangannya menyentuh wajah Laras yang menghadap padanya.


Merasakan sentuhan di wajahnya membuat Laras membuka mata, ia terkejut ternyata hari sudah pagi. Laras segera bangun dan mengecek suhu badan Asty yang ternyata sudah normal kembali, namun Asty terlihat tidak memiliki tenaga.


"udah kamu diem ajah di sini, jangan kemana-mana. kakak mau siapin sarapan dulu." pinta Laras sambil mengikat rambutnya, belum mendapat jawaban dari Asty, Laras segera menuju dapur.


Dengan lihainya Laras memainkan alat-alat dapur sendirian, ia memang sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri, karena ia tinggal sendirian jauh dari keluarga.


Setelah selesai, Laras membawa sarapan untuk Asty dan menyuapinya.


"aku bisa sendiri, kak. kakak siap-siap sana, ini udah siang nanti telat lho." seru Asty meminta piring yang tengah di pegang Laras.


"nggak de, kakak ajah yang suapin. kakak hari ini gak masuk kerja, tadi udah izin kok." ucap Laras tersenyum mengarahkan sendok pada mulut Asty.

__ADS_1


"maaf ya, kak. gara-gara aku, kakak jadi nggak kerja." seru Asty.


"nggak apa-apa, de. yang penting buat kakak sekarang itu kamu cepet sehat lagi." ucap Laras membuat Asty terharu memiliki kakak yang begitu sayang padanya.


Sementara di rumah sakit, bu Rani masih setia menanti Qenan bangun dari komanya. Ia terus berdoa meminta yang terbaik untuk anak semata wayangnya, ia sudah ikhlas menerima semua kenyataan yang di alaminya saat ini.


Di dalam ruangan yang hanya terdengar suara alat penunjang kehidupan Qenan, bu Rani terus membelai lembut wajah anaknya seorang diri karena pak Bagas mendadak ada rapat penting di kantor.


Tetesan air mata terus membasahi wajah pucat bu Rani, ia nampak lelah terus menitikkan air mata yang tak bisa di hentikan olehnya.


Saat bu Rani hendak pergi ke luar ruangan, terlihat jari jemari Qenan memberikan gerakan yang cukup intens membuat bu Rani tersenyum bahagia dan segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Qenan.


"sayang, kamu udah bangun?" bisik bu Rani menembus telinga Qenan dan membantunya untuk membuka mata.


Perlahan mata Qenan terbuka, mulutnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu.


"Lusy.." ucap Qenan dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa terbaca oleh bu Rani.


"apa, Lusy? kenapa dia memanggil nama wanita itu." batin bu Rani.


Dokter datang untuk memeriksa keadaan Qenan, bu Rani diminta untuk menunggu di luar ruangan.


Setelah lama menunggu, bu Rani diperbolehkan untuk menemui Qenan yang saat ini berada di ruang perawatan.


"mama, dimana Lusy?" tanya Qenan saat melihat bu Rani berjalan seorang diri menemuinya.


"apa, Lusy? kenapa kamu mencarinya?" tanya bu Rani mengernyitkan dahinya merasa bingung atas pertanyaan Qenan.


"iya Lusy. aku ingat ketika aku akan menemui Lusy untuk melamarnya, aku mengalami kecelakaan. apa dia tidak di beritahu, ma?" jelas Qenan dengan nada bicara yang telah lama di rindukan bu Rani.


Bu Rani terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana. Ia memang merasa senang anaknya kembali, namun ia tidak suka jika Qenan kembali mengingat Lusy dan melanjutkan hubungan mereka.


Hidup bu Rani rasanya seperti menaiki rollercoaster, jantungnya selalu berdebar saat menghadapi anak semata wayangnya itu. Kadang ia di bawa melambung tinggi namun akhirnya ia di jatuhkan kembali.


"mam, mama kenapa? apa mama sakit? wajahmu pucat sekali. apa mama kelelahan menemaniku yang tak juga bangun." Qenan merasa khawatir melihat bu Rani terus terdiam dan hanya menitikkan air mata.

__ADS_1


"tidak, sayang. mama baik-baik saja, hanya mungkin akhir-akhir ini mama terlalu banyak pikiran." jawab bu Rani tersenyum membelai wajah Qenan yang selalu di rindukannya.


Tak lama kemudian pak Bagas datang menemui Qenan. Setelah bu Rani memberi kabar tentang Qenan, pak Bagas segera meninggalkan kantornya dan pergi menuju rumah sakit.


"Qen, kamu udah sadar nak.!" seru pak Bagas masih memegang gagang pintu melihat Qenan yang tengah duduk bersandar di brankar.


"iya papa, tapi aku belum bisa kembali bekerja." ucap Qenan sedikit tertawa.


"oh akhirnya kamu kembali, Qen. kita harus berterimakasih kepada Asty karena dia telah membuat Qenan kembali." seru pak Bagas bahagia mendengar nada bicara Qenan yang dewasa.


"iya pah, aku kembali setelah sekian lama mengalami koma. tapi, siapa Asty? apa aku mengenalnya?" tanya Qenan merasa kebingungan.


Pak Bagas dan bu Rani saling pandang mendengar ucapan Qenan. Padahal baru dua hari ini Qenan mengalami koma, tapi sepertinya dia berpikir selama satu tahun perubahan sifatnya inilah masa dia mengalami koma dan di masa itu, ia tidak merasa pernah bertemu Asty.


"sebaiknya kamu istirahat dulu, nak. mama dan papa mau keluar, kata dokter kamu jangan banyak bicara dulu." ucap bu Rani.


Mereka meninggalkan Qenan sendirian, membiarkannya beristirahat. Bu Rani merasa bahagia bercampur kesal menceritakan saat Qenan tersadar dari komanya pada pak Bagas.


Tiba-tiba bu Rani teringat pada Asty, tadi pagi ia menelpon bu Rani meminta izin tidak masuk karena sakit. Bu Rani mengkhawatirkan perasaan Asty jika ia mengetahui ingatan Qenan kembali namun tak mengenali dirinya.


Bu Rani meminta pak Ujang untuk mengantarnya ke rumah Asty, sementara pak Bagas tetap di rumah sakit menemani Qenan.


Setibanya di tempat tinggal Asty, bu Rani menanyakan keadaan Asty terlebih dahulu sebelum memberitahu tentang Qenan. Wajah Asty terlihat masih pucat, untuk berjalan pun ia belum bisa seperti biasanya karena tubuhnya terasa begitu lemah.


"oh iya bu, maaf kemarin saya lupa mengembalikan ini." seru Asty menyodorkan kartu ATM berwarna hitam pada bu Rani.


"aku bahkan lupa dengan kartu ini, padahal dia bisa menyimpannya dan di gunakan sendiri. memang anak yang jujur dan baik, andai Qenan bisa menjadikan Asty sebagai istrinya bukan si Lusy yang glamor itu." batin bu Rani menerima kartu ATM dari tangan Asty.


Melihat bu Rani terdiam membuat Asty merasa tidak enak, ia mengira jika bu Rani menganggapnya menggunakan kartu itu seenaknya.


"maaf bu, saya baru bisa mengembalikan kartu itu saat bu Rani ke sini. tadinya akan saya kembalikan saat bertemu di minimarket, saya malah gak bisa bangun. tapi saya tidak menggunakannya sendiri, bu." jelas Asty membuat bu Rani terkekeh.


"iya Asty saya percaya sama kamu, kok." ucap bu Rani tersenyum membuat hati Asty tenang.


"oh iya bu, bagaimana keadaan Qenan?" tanya Asty dengan rasa penasaran dan khawatirnya.

__ADS_1


Akhirnya pertanyaan yang membuat resah bu Rani keluar dari mulut Asty. Kini bu Rani merasa bingung bagaimana menjawab pertanyaan Asty, bu Rani takut akan menyakiti perasaan Asty jika mengatakan yang sejujurnya.


"Qenan..." ucap bu Rani dengan raut wajah bingungnya.


__ADS_2