
Rasa bahagia tengah menyelimuti hati Qenan, ia merasa jika semangatnya yang selama dua tahun ini menghilang, kini hadir kembali di hidupnya. Ia segera pergi tidur berharap pagi akan segera tiba agar ia bisa bertemu kembali dengan Dita, tak lama kemudian ia telah memasuki alam mimpi.
Di dalam mimpinya ia bertemu dengan Asty yang berada di sebuah ruangan bernuansa putih, di sana tampak Asty dengan senyumannya tengah menggenggam setangkai bunga mawar merah berjalan menghampiri Qenan untuk membelai wajahnya seraya berkata, "Aku menyayangimu, menikahlah dengannya."
Qenan terbuai dalam mimpinya, rasanya ia tak ingin terbangun dari tidurnya. Tetapi tak lama kemudian Asty pun menghilang dari mimpinya dan membuat Qenan seketika terbangun.
Hari sudah pagi, Qenan segera bersiap untuk pergi ke kantornya. Setelah selesai sarapan, ia mengendarai mobilnya menuju kantor dengan penuh semangat ia masih mengingat tentang mimpinya bertemu dengan Asty.
Sesampainya di kantor, ia segera menyelesaikan seluruh pekerjaannya, berharap agar bisa secepatnya pergi ke rumah orangtuanya dan segera bertemu dengan Dita.
Sementara di rumah bu Rani, tampak Dita tengah asyik mengobrol bersama bu Rani dan pak Bagas. Mereka tampak akrab, seperti sudah lama saling mengenal. Dita yang memiliki kepribadian menyenangkan membuat bu Rani senang berbagi cerita dengannya.
Dita terkejut saat melihat sebuah figura yang berisikan foto Asty, wajah mereka benar-benar mirip hanya saja Dita tidak memiliki kemampuan beladiri seperti Asty.
"Dia adalah Asty, istri yang sangat di sayangi oleh Qenan. Ia meninggal karena di tabrak oleh seseorang yang sampai saat ini belum di ketahui." Bu Rani berdiri di samping Dita yang tengah menatap foto Asty.
"maaf bu, kalo boleh saya tahu apa penyebab nyonya Asty bisa tertabrak?" tanya Dita penasaran.
"Dia tertabrak pada saat mengantarkan Qenan ke depan pintu gerbang rumahnya, sebelum Qenan pergi ke luar kota. Mereka sebenarnya tidak ingin berpisah tetapi karena pekerjaan, Asty mengizinkan Qenan untuk pergi." Bu Rani mengusap air matanya yang menetes begitu saja dari ujung matanya.
Dita sangat terkejut mendengar cerita bu Rani karena itu sama seperti mimpi yang sering di alaminya. Dita terdiam sejenak, dalam benaknya ia mencari-cari maksud dari mimpi dan cerita bu Rani. Melihat Dita terdiam, bu Rani merasa penasaran dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Dita hingga akhirnya bu Rani menanyakannya secara langsung kepada Dita.
Bu Rani terkejut ketika mendengar cerita Dita yang pernah mengalami mimpi yang sama seperti kejadian kecelakaan Asty. Mata bu Rani berbinar, jari jemarinya dengan refleks membelai wajah Dita yang mirip sekali dengan wajah Asty kemudian ia memeluknya. "Apa kamu kembali lagi, nak." Bu Rani tak kuasa menahan air matanya ketika memeluk Dita.
Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore, Qenan bergegas meninggalkan kantornya menuju rumah orang tuanya. Sesampainya di rumah orangtuanya, ia langsung di sambut dengan senyuman Dita yang seolah menjadi penghilang lelahnya selama bekerja.
"selamat sore tuan," sapa Dita.
__ADS_1
"Jangan panggil aku tuan, panggil saja kakak. Seperti yang selalu di ucapkan oleh mendiang istri ku." Qenan tersenyum kepada Dita yang telah membukakan pintu untuknya.
Bu Rani berjalan menghampiri Qenan yang tengah beradu pandang dengan Dita, kemudian ia berkata. "Ayo masuk, mama mau bicara."
Bu Rani dan pak Bagas berencana untuk menikahkan Qenan dengan Dita secepatnya karena mereka takut jika ayahnya Dita tengah mencari keberadaan Dita dan akan kembali menjadikannya bahan taruhan. Mendengar permintaan kedua orangtuanya, Qenan dengan senang hati menyetujuinya. Kemudian mereka bertiga menemui Dita yang tengah duduk sendirian di ruang tamu menantikan obrolan mereka selesai.
Qenan berlutut di hadapan Dita, ia mengeluarkan sebuah cincin yang di belinya setelah keluar dari kantornya. "Maukah kamu menjadi istriku?" Qenan menyodorkan kotak merah berbentuk hati yang berisi cincin berlian kepada Dita.
"apakah ini tidak terlalu cepat?" tanya Dita.
"Tidak, aku sudah yakin dengan keputusanku dan orang tua ku juga menyetujuinya." Qenan meraih jemari tangan Dita dan memasangkan cincinnya.
Dita tersenyum menatap Qenan dan kedua orangtuanya, selama hidupnya ia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti saat ini, ia merasa sangat beruntung bertemu dengan Qenan yang melepaskannya dari kesengsaraan hidup yang dialami selama ini.
"baiklah, kalo begitu satu minggu lagi kita akan mengadakan pesta besar. Jangan lupa kenalkan Dita pada bu Tatum dan Laras, mereka juga pasti akan merasa senang," ucap pak Bagas.
Bu Tatum dan Laras hanya bisa bergeming saat melihat calon istri Qenan tersenyum di depan mata mereka.
"Asty!" seru bu Tatum.
"Ibu, dia bukan Asty. Tapi mereka sangatlah mirip." Laras memegangi tangan bu Tatum dan menatap lekat wajah Dita.
Tanpa terasa air mata menetes begitu saja membasahi wajah mereka.
"bolehkah ibu memelukmu, nak!" pinta bu Tatum kepada Dita dan di jawab anggukan kepala oleh Dita.
Bu Tatum segera memeluk dan membelai lembut rambut Dita yang terurai begitu indahnya, Dita pun merasa nyaman berada di dalam pelukan bu Tatum. Selama ini ia tidak pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ibu karena ia sama sekali belum melihat seperti apa rupa ibunya.
__ADS_1
Satu minggu kemudian...
Di sebuah hotel mewah tengah berlangsung acara resepsi pernikahan antara Qenan dan Dita, mereka berdua tampak berbahagia menyalami tamu undangan yang telah hadir, ucapan selamat pun tak hentinya terucap dari para tamu undangan kepada mereka yang tampak begitu berbahagia.
Acara malam itu juga di hadiri oleh bu Tatum dan Laras, mereka juga tampak bahagia melihat Qenan dan Dita bersanding di pelaminan seperti saat mereka melihat Asty.
Malam kian larut, acara resepsi pernikahan mereka pun telah usai. Rasa lelah tampak dari raut wajah Dita, ia menahan beban gaun dan riasan yang di kenakan nya selama berjam-jam. Melihat istrinya melangkah dengan tertatih, Qenan segera menggendongnya ala bridal style menuju kamar hotel.
"turunkan aku, tubuhku berat. Biar aku jalan sendiri saja!" pinta Dita.
Qenan tertawa mendengar ucapan istrinya itu, "kau tenang saja, bagiku tubuhmu itu seringan kapas,"
Dita tersenyum melihat tawa Qenan dari jarak yang sangat dekat, ia melingkarkan tangannya dengan kencang pada leher Qenan yang terus melangkahkan kakinya menuju kamar pengantin mereka. Malam ini akan menjadi malam pertama bagi mereka setelah melangsungkan acara pernikahan, berada di atas tempat tidur yang sama dan saling menghangatkan satu sama lain.
Malam yang sangat panjang telah mereka lalui berdua, sinar mentari mengusik tidur Qenan hingga membuatnya terbangun. Matanya segera tertuju pada wanita yang terlelap di sampingnya, seolah ia merasa begitu nyaman memejamkan mata di dalam dekapan Qenan.
Jari jemari Qenan dengan lembut membelai rambut panjang Dita yang menutupi sebagian wajahnya seraya berkata. "Selamat pagi istriku." Tanpa ragu Qenan mendaratkan sebuah kecupan di kening Dita dan membuatnya menggeliat tanpa membuka kedua matanya, ia merasa sangat lelah setelah pertarungan sengit di malam pertama mereka.
Melihat istrinya yang tampak masih kelelahan, Qenan berinisiatif untuk pergi terlebih dahulu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan meninggalkan Dita yang kembali tertidur dengan posisi tengkurap.
"aku mandi duluan, ya," bisik Qenan dan di jawab anggukan kepala oleh Dita.
Beberapa saat kemudian setelah mereka membersihkan diri, Qenan mengajak Dita untuk berjalan-jalan di pantai yang tak jauh dari hotel tempat mereka melangsungkan acara resepsi pernikahan.
Mereka berjalan bergandengan tangan menelusuri tepian pantai menikmati sejuknya udara di pagi hari itu. Deburan ombak di pantai seolah menjadi alunan musik yang mengiringi langkah kaki mereka, tiba-tiba Qenan menghentikan langkahnya. Ia menggenggam kedua tangan Dita dan berkata. "Walau kamu baru mengenal ku, tapi aku yakin kamu lah cinta yang selama ini aku kejar. Kita hanya terpisah beberapa waktu, tetapi pada akhirnya kita pun bisa bersama kembali dan aku berjanji kali ini aku akan selalu menjagamu."
Mendengar untaian kata yang terucap dari mulut Qenan membuat Dita merasa jika dia sudah mengenal Qenan sejak lama walau baru saat ini mereka bisa bertemu secara langsung, takdir lah yang mempertemukan mereka kembali agar mereka bisa membangun lagi istana kebahagiaan yang telah lama mereka rancang bersama tanpa ada yang mengacaukannya lagi.
__ADS_1