Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 85


__ADS_3

Rasa kehilangan dan penyesalan terus menyelimuti hati Qenan sejak mengetahui Asty telah pergi untuk selamanya. Dia menyesali perbuatannya yang telah menyakiti perasaan Asty dengan melamar Lusy dan melupakan Asty. Kini ia begitu merasa kehilangan sosok yang selalu ada untuknya dan selalu menyemangati dirinya untuk bisa kembali hidup normal.


Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Asty di dalam hatinya saat ini, walau ada Dita yang begitu mirip dengan Asty, ia tetap tidak bisa membuka hatinya untuk gadis lain.


Bahkan, foto Asty masih tersimpan rapih di dalam bingkai yang di letakkan di meja kerjanya agar bisa ia pandangi setiap saat. Dalam hatinya sangat meyakini jika Asty masih ada di dunia ini, walau ia tidak tahu harus mencari kemana.


Cinta yang begitu tulus dari gadis yang polos seperti Asty membuat dirinya tak bisa lepas dari bayang-bayang wajahnya, apalagi pada saat Asty tersenyum selalu membuat Qenan dengan spontan ikut tersenyum juga.


***


Di rumah sakit, Dita tengah bersiap untuk pulang di bantu oleh bu Rani. Setelah semua selesai, Dita mencari-cari keberadaan ponselnya untuk memesan taksi online.


Namun ia tidak menemukan dimana ponsel dan kunci kostnya berada, tiba-tiba ia teringat jika tasnya yang berisi ponsel dan kunci kostnya berada di atas meja kerjanya karena kemarin saat ia di bawa ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Ya sudah, nanti biar Qenan yang bawakan tas kamu. Sekarang kita ke supermarket dulu beli makanan buat kamu di kost nanti." Ajak bu Rani tersenyum mengelus pundak Dita dengan lembut.


"T-tapi bu, saya takut merepotkan pak Qenan." seru Dita.


"Sama sekali tidak, Dita." Seru bu Rani menggandeng tangan Dita berjalan menuju mobil bu Rani.


Bu Rani sangat menyukai Dita, rasanya seperti Asty hadir kembali di hadapannya. Sambil menunggu Qenan membawakan tas Dita, bu Rani mengajak Dita ke supermarket membeli buah-buahan untuk di bawa pulang oleh Dita.


Dita tampak senang ketika melihat deretan sayur dan buah yang berwarna-warni, rasanya seperti menyejukkan mata. Bu Rani tersenyum ketika melihat Dita tengah asyik menatap berbagai jenis sayur dan buah yang mereka lewati.


Ketika bu Rani dan Dita tengah asyik memilih buah, dari kejauhan tampak seorang gadis yang juga membawa troli belanjaan memperhatikan mereka.


"Loh, itu kok tante Rani sama si Asty sih. Kata bang Arka, si Asty udah mati. Tapi kok, dia kayak beda. Apa dia kembarannya?" Kiara bertanya-tanya dalam hatinya.


Tak lama kemudian Kiara mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar Dita bersama bu Rani untuk di perlihatkan pada Vian.


Sementara di kantor Qenan, ia tengah kesal pada ibunya karena terlalu memanjakan sekretaris barunya sampai-sampai ia sebagai bosnya juga harus ikut repot. Awalnya ia menolak dengan alasan banyak pekerjaan di kantornya, tetapi bu Rani tetap memaksa dan akhirnya Qenan menuruti permintaan bu Rani.


"Mama ini kenapa sih, anak baru itu di manjakan banget. Sedangkan aku, anaknya sendiri di suruh-suruh mulu, hah." Gumam Qenan berjalan menuju meja Dita untuk mengambil tasnya dan segera pergi menemui ibunya.


Melihat raut wajah bosnya sedang kesal, Gisel menyapanya dengan tujuan mencari perhatian dari Qenan.

__ADS_1


"Ada masalah apa, pak? Kenapa sekretaris baru itu tidak datang hari ini?" Tanya Gisel sambil memainkan rambut ikalnya.


"Dia sedang sakit, sepertinya ada salah satu karyawan saya yang tidak menyukainya." Ucap Qenan menatap tajam ke arah Gisel kemudian berlalu menuju tempat parkir.


'Gawat, kayaknya gue ketahuan nih.'


Gisel terlihat panik saat Qenan menatap sinis ke arahnya. Jelas Qenan sudah melihat rekaman CCTV yang berada di kantornya, tetapi ia belum sempat untuk mengurusnya.


Qenan membelah keramaian jalan kala itu, tak peduli dengan umpatan para pengendara lain, yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar bisa cepat sampai ke supermarket dan memberikan tas Dita kemudian ia kembali ke kantornya secepat kilat.


Setibanya di supermarket, ia mencari keberadaan ibunya dan tak lama mereka bertemu di salah satu food court.


"Qen, kamu mau pesan apa?" tanya bu Rani dengan wajah sangat bahagia.


"Nggak, mam. Aku buru-buru, banyak kerjaan." Seru Qenan memberikan tas pada Dita dengan tatapan sinis nya.


Dita merasa tidak enak hati pada bosnya, walau bagaimanapun ia sudah menolak tawaran bu Rani, tetapi bu Rani tetap melakukan hal yang sudah menjadi keinginan nya.


"Terimakasih, pak. Maafkan saya." Ucap Dita menundukkan kepalanya.


Namun bu Rani hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya yang masih seperti dulu, mau menuruti keinginan ibunya walau ia sudah menolaknya. Berbeda dengan Dita yang menatap kepergian Qenan dengan penuh rasa bersalahnya.


"Sudahlah, biarkan saja dia. Nanti juga kalau dia sudah tahu yang sebenarnya, dia akan menyesal telah melakukan ini padamu. Tetaplah menjadi Dita sampai besok, aku ingin melihat bagaimana ekspresi wajahnya" Ucap bu Rani tertawa kecil.


Tanpa di sadari, obrolan mereka ternyata telah di dengar oleh Kiara yang berada tidak jauh dari tempat duduk mereka. Kiara sengaja diam-diam mengikuti bu Rani dan Dita untuk mengetahui hal yang sebenarnya.


***


Di malam yang bertaburan bintang, seorang gadis tengah duduk sendiri menikmati indahnya malam. Tiba-tiba suara seorang pemuda yang mengejutkan lamunannya.


"Asty, cepetan deh lo cerita yang sebenernya sama Qenan. Pasti lo gak akan sendirian kayak gini." Ucap Dani yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Ya gue juga maunya gitu, tapi gue takut dia kecewa dan marah sama gue." Ucapnya tertunduk lesu.


"Ya ampun, mau sampe kapan lo terus ngumpet kayak gini. Bentar lagi kak Laras mau married, masa lo juga dateng pake identitas palsu lo ini sih." Seru Dani menepuk keningnya.

__ADS_1


"Ini gak palsu, Dan. Dianya ajah yang gak nyadar hehe.." seru Asty tertawa.


Asty memang sebenarnya masih hidup dan berhasil lolos dari kejaran para pengawal Vian.


*Beberapa minggu yang lalu..


Vila tempat Asty di sekap berada di atas bukit, Asty hanya berusaha menuruni bukit dan berharap akan menemukan jalan raya untuk selanjutnya meminta bantuan. Ia menuruni bukit dengan sangat tergesa-gesa hingga membuatnya harus berulang kali terjatuh, gelang yang di pakainya sengaja ia jatuhkan di tepi jurang untuk mengecoh para pengawal Vian.


Setelah lama menuruni bukit, akhirnya ia berhasil menemukan jalan raya. Di lihatnya seorang pria berseragam petugas keamanan di seberang jalan membuatnya begitu bahagia, ia berlari saja menuju pria tersebut hingga tanpa di sadari sebuah mobil mendekat ke arahnya.


"Aaaaahhh. ." teriakan Asty membuat pengemudi mobil menghentikan laju kendaraannya.


Untungnya kondisi jalan tengah sepi karena memang jarang sekali orang melewati jalanan itu dan mobil pun dalam kecepatan rendah hingga bisa mengerem tepat waktu.


"Woy kalo nyebrang yang bener dong." Ucap pengemudi itu menghampiri Asty yang tengah menutup wajahnya.


"Maaf, saya tadi buru-buru." Ucap Asty menatap lawan bicaranya.


Asty terkejut ketika melihat wajah pengemudi tersebut, wajah yang tak asing lagi baginya karena tidak banyak perubahan pada dirinya.


"Dani.." pekik Asty.


Pria tersebut merasa heran, kenapa gadis berpenampilan berantakan dengan penuh luka di tangan dan darah yang mulai mengering di ujung bibirnya itu bisa tahu namanya.


"Kamu Dani, kan? Aku Asty." seru Asty meyakinkan pria tersebut.


Obrolan mereka di tengah jalan membuat pengendara lain kesulitan untuk lewat, protes dari para warga membuat mereka melanjutkan obrolan di dalam mobil.


Dani awalnya tidak mempercayai jika yang ada di hadapannya adalah Asty. Tapi setelah mendengar cerita Asty, ia percaya jika itu benar-benar Asty.


Kini mereka berdua berada di rumah Dani, orang tua Dani merasa kasihan melihat kondisi Asty. Mereka mengizinkan untuk sementara waktu Asty tinggal di rumah mereka.


Hari berlalu seiring sembuhnya luka pada wajah Asty, tetapi bekas luka di kedua tangannya masih belum benar-benar menghilang. Pada saat di rumah Dani, Asty meminta tolong pada Dani untuk mengabarkan keluarganya jika dia baik-baik saja.


Namun Asty merahasiakan keberadaan dirinya pada Qenan dan bu Rani karena ia ingin mengetahui apakah Qenan benar-benar mencari keberadaannya sesuai yang ia dengar dari percakapan antara Lusy dan Vian waktu itu.

__ADS_1


Ia juga ingin memastikan jika Qenan benar-benar mencintainya, karena Asty tidak ingin kembali mengejar cinta yang salah.


__ADS_2