
Hari berlalu begitu cepat, Asty yang mulai memfokuskan diri untuk belajar tak terasa saat ini sudah naik kelas.
Dikelas barunya ia berpisah dengan Elena dan Vina tapi ia malah masih satu kelas dengan Vian dan Toby komplotan trouble maker beserta Rangga si target rundungan.
"hadeeh., kenapa harus bareng mereka lagi sih. menyebalkan." teriak Asty dalam hatinya.
Setiap hari Asty disuguhkan dengan pemandangan Toby yang terus menjahili Rangga si anak berkacamata tebal.
Awalnya Asty cuek dan pura-pura tidak melihatnya karena tidak mau berurusan dengan geng trouble maker akan tetapi ia merasa geram melihat perlakuan Toby. Sedangkan Vian selalu saja asik dengan ponselnya tanpa menghentikan aksi Toby.
Terbawa oleh nuraninya, Asty menghampiri Toby untuk menghentikan aksi jahilnya yang menyiksa Rangga.
"wouy, si kereta kotak. berhenti ngga lo jailin Rangga." teriak Asty berjalan menghampiri Toby, membuat Vian mengalihkan fokusnya pada Asty.
"apa lo bilang kereta kotak? gak sekalian panggil tuh si Thomas, Gordon, Emily, Percy juga suruh pada kesini?" balas Toby.
"eh ternyata dia hafal nama temen-temenya gaes.." Ledek Asty membuat para siswa tertawa.
"kenapa juga malah pada ngobrolin kartun, dikira mau ribut." teriak Vian dari kejauhan kemudian ia kembali fokus pada gamenya.
"eh gue ke sini gak nyari ribut ya, gue sebagai penghuni kelas ini ngerasa gak nyaman liat ada temen sekelas gue yang selalu lo kerjain." seru Asty santai yang memang ia tidak mau memamerkan ilmu silat yang ia pelajari untuk mencari ribut.
"oh jadi lo penghuni sini, gue kira penghuni alam lain. Kalo lo ga nyaman ya tinggal gak usah diliat ajh, beres kan." jawab Toby dengan senyum sinisnya.
"eh buset dah dikira gue uka-uka apa. Heh masih ga nyadar cowok kotak ini, gimana gue ga liat ya orang badan lo segede truk kontainer begini, orang dari jauh juga udah keliatan kali." Ledek Asty membuat Toby mulai geram terlihat dari kepalan tanganya, Toby mulai jengkel karena ucapan Asty memancing para siswa untuk kembali menertawakanya.
"udah Asty, tinggalin ajah. kamu gak bakal menang lawan dia." seru Rangga yang sedari tadi merasa takut terjadi sesuatu pada Asty karena berusaha menolongnya.
Pikir Rangga, Asty adalah makhluk sejenisnya yang penakut dan jadi bahan empuk untuk kejahilan mereka karena Asty berpenampilan culun menutupi dirinya yang pandai silat.
"tenang ajah serangga, gue bakal baik-baik ajah." jawab Asty menenangkan Rangga yang ketakutan dan terus sembunyi dibalik badanya.
"hajar bro, jangan kasih ampun." teriak Vian sambil memainkan gamenya.
Tiba-tiba sebuah bogem mendarat dipipi sebelah kiri Asty yang tengah lengah membuatnya tersungkur ke lantai kemudian diikuti teriakan histeris para siswa yang ada dikelas.
__ADS_1
Mendengar teriakan, Vian menghentikan gamenya dan melihat apa yang terjadi membuat para siswa berteriak.
"aihh.. kenapa lo pukul ogeb, cemen lo cewek diladenin." gumam Vian melihat Asty yang tengah berusaha bangkit.
"hah, segini doang yang lo banggain. yang lo jadiin buat nakutin anak-anak biar tunduk sama lo, cuih.." Ledek Asty sudah berdiri tegap dengan kuda-kuda bersiap untuk terbang walau ujung bibirnya mengeluarkan sedikit cairan berwarna merah.
"sekarang giliran gue, hiyaaa.." teriak Asty melompat untuk mendaratkan satu pukulan menyakitkan diwajah Toby, karena Toby lebih tinggi darinya maka Asty harus melompat untuk menjangkau Toby.
Satu pukulan mendarat dipipi Toby, walau tangan Asty kecil tapi pukulanya yang begitu matang membuat Toby merasa kesakitan.
Setelah meluncurkan pukulan, Astypun mendarat. Namun karena kurang persiapan pendaratanya menjadi kurang sempurna dengan kaki kanan yang tidak tepat berpijak dilantai mengakibatkan dirinya akan terjatuh.
"aaaaahh..." teriakan histeris para siswa kembali terjadi melihat Asty akan menjatuhkan kepalanya ke lantai, namun hal itu berhasil digagalkan oleh Vian.
Dengan jurus langkah panjangnya, Vian berhasil menangkap tubuh Asty yang sudah setengah terbaring dengan satu tanganya kemudian Vian langsung mengangkat kedua kaki Asty dengan tangan satunya hendak membawanya menuju UKS.
"gue gak nyuruh lo hajar dia ogeb. gue lagi maen game." seru Vian pada Toby sambil mengendong Asty dikedua tanganya, Toby hanya diam memegangi pipinya yang sakit.
"wouy turunin gue gak, gue bisa jalan sendiri." seru Asty yang masih terkejut dan bersyukur karena ia tidak jadi terjatuh ke lantai.
"apa lo budeg? turunin gue sekarang." teriak Asty sambil meronta-ronta.
Para siswa yang berada di koridor menatap Vian si trouble maker yang menggendong si gadis berkepang dua tersebut, tak terkecuali Rehan.
Dari kejauhan Rehan melihat keramaian siswa yang memperhatikan Vian.
"ya ampun Asty, kenapa dia?" Rehan bertanya-tanya melihat Asty yang tengah berada di tangan Vian dan segera mengejar mereka.
Sampai di UKS, Vian langsung mendudukan Asty di kursi dan mengompres lukanya.
"aduh sakit pe'a.. sini gue juga bisa sendiri." ketus Asty hendak meraih kompresan yang sedang berada ditangan Vian.
"udah mending lo diem deh, sebagai permintaan maaf gue atas kelakuan Toby yang udah bikin wajah imut lo jadi luka." seru Vian masih mengompres luka Asty.
Asty hanya diam mendengar gombalan maut sang trouble maker, tak lama kemudian Vina datang melihat keadaan Asty.
__ADS_1
"Asty.. ya ampun, kamu abis berantem? kamu tuh anak cewek, masa maenya pukul-pukulan gini sih." omel Vina yang baru datang ke UKS melihat keadaan Asty.
"ya emang cewek ga boleh mukul? lagian si Toby yang mulai duluan." jawab Asty sambil nyengir kayak kuda.
"oh jadi muka kamu kayak gini tuh ulah si Toby, awas ajah nanti. Aku gak terima.!" geram Rehan yang baru sampai di UKS.
"udah Han, jangan dibales. orang aku juga udah bales pukulan dia tadi kok, jadi kita udah impas." jawab Asty tersenyum bangga.
"kamu emang anak yang baik." gumam Vian masih mengompres luka Asty.
Melihat si pembuat onar berdekatan dengan Asty membuat Rehan merasa tidak terima.
"hei lo minggir. Biar gue yang ngobatin Asty." seru Rehan pada Vian.
"gue gak mau, lagipula gue yang bawa dia kesini." balas Vian.
"ck.. dasar pembuat onar." gumam Rehan hanya menatap Vian.
Asty melihat tatapan Rehan yang sangat kesal sedang menahan amarahnya agar tidak membuat keributan.
"hmm kayaknya gue udah baikan, gue mau ke kelas dulu." seru Asty bangkit dari tempat duduknya.
Baru satu langkah tiba-tiba Asty merasakan sakit dikakinya, hampir saja ia terjatuh, namun dengan cepat Vian memegang tangan Asty hingga ia tidak jadi terjatuh.
"kaki lu itu keseleo Asty." seru Vian melepaskan sepatu Asty hendak memijat kakinya.
"eh jangan Vian." Asty menolak namun tidak dihiraukan oleh Vian, ia sibuk memijat kaki Asty yang keseleo.
Pemandangan itu sangat langka, bagaimana tidak seorang trouble maker malah memijat kaki seorang gadis culun yang beranjak menjadi gadis barbar.
.
.
bersambung...
__ADS_1