
Vian terus menatap Asty dengan senyumannya yang selalu berhasil membuat Asty merasa gugup.
"Vian, ayo aku udah siap." ajak Asty tersipu malu melihat Vian yang menatap ke arahnya tanpa mengedipkan mata.
"oh, iya iya . ayo kita jalan sekarang." seru Vian yang tersadar dari lamunannya.
"bu, aku pergi dulu ya." pamit Asty mencium punggung tangan bu Tatum dan diikuti oleh Vian.
"iya, hati-hati ya. Vian, tante titip Asty yah jangan macem-macem. jam makan siang udah ada disini kita makan bareng." pinta bu Tatum.
"siap tante, aku pasti jagain Asty gak bakal gores sedikitpun." seru Vian penuh semangat.
Vian melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang agar bisa menikmati waktu berdua dengan Asty.
Kali ini mereka akan pergi ke sebuah mall bukan untuk belanja, mereka datang untuk mencoba berbagai macam permainan yang ada di sana.
Sesampainya di sana, Asty langsung menuju ke permainan melempar bola basket karena ia sangat suka basket namun ia tak bisa bermain karena merasa tubuhnya yang kurang tinggi.
Berkali-kali memasukan bola tapi tidak satupun yang berhasil masuk, membuat Vian tergerak untuk mengajarinya.
"begini caranya." seru Vian memegangi kedua tangan Asty yang tengah memegang bola dan mengarahkannya ke ring.
"1.. 2.. 3.. lempar." teriak Vian memberi aba-aba dan bola langsung masuk ke dalam ring.
"yeah.. masuk." sorak Asty melompat kegirangan memegang tangan Vian.
Vian dibuat terkejut oleh tingkah Asty yang begitu membuat hatinya ikut kegirangan, hanya melihat senyuman Asty saja sudah mampu membuat Vian merasa tenang dan sangat nyaman.
Tanpa menghiraukan pandangan orang lain, Vian membiarkan Asty tetap dalam mode kegirangannya walau hanya sekedar memasukan bola ke dalam keranjang.
"eh maaf.." Asty tersadar dan melepaskan genggamannya.
"tak apa sayang, seharian seperti ini pun aku mau." Vian tersenyum menatap Asty dan meraih tangannya kembali.
__ADS_1
"hmm kita main itu yuk." tunjuk Asty pada salah satu permainan mengalihkan perhatian Vian.
Merekapun kembali menikmati berbagai macam permainan hingga waktu menunjukan saatnya mereka pulang.
Ketika hendak meninggalkan mall, perhatian Vian tertuju pada sebuah foto box dan mengajak Asty untuk mengambil foto bersama. Awalnya Asty menolak karena merasa malu, namun karena rengekan Vian membuatnya menuruti keinginan Vian.
"lagi donk lagi, gayanya yang mesra." pinta Vian tersenyum jahil, padahal sudah ada beberapa lembar foto yang mereka ambil.
"Vian udah yaa, aku cape." seru Asty agar Vian berhenti mengajaknya berfoto.
"baiklah ayo kita pulang." ajak Vian melihat ekspresi Asty yang menunjukan moodnya kurang baik.
Mereka segera berjalan menuju pintu keluar mall, Vian terlihat sangat bahagia hari itu.
Vian tak pernah menyangka ternyata taruhan yang Haikal berikan dapat membuat hari-harinya yang kelabu menjadi penuh warna. Vian bertekad untuk bisa mempertahankan hubungan mereka, suatu saat ia akan berterus terang pada Asty agar tidak terjadi salah faham.
Mall yang tampak ramai pada hari minggu itu tak membuat sepasang mata melewatkan pandanganya pada Vian dan Asty, siapa lagi kalau bukan orang pertama yang patah hati melihat pasangan muda yang tampak serasi itu.
"oh jadi itu gadis culun yang di katakan oleh Toby." tatapan sinis terus ditujukan Hara pada Asty yang tengah bergandengan tangan dengan Vian.
"tunggulah gadis culun, kebahagiaanmu akan segera berakhir." Hara terus menyeringai seolah sudah menyiapkan rencana besar untuk Asty.
Sementara Asty dan Vian kini sedang dalam perjalanan menuju rumah Asty.
"makasih Vian udah ngajakin aku jalan." seru Asty di tengah perjalanan.
"aku yang harus berterimakasih sama kamu karena udah mau jalan sama aku." jawab Vian dengan senyum bahagianya.
Vian sengaja memperlambat laju kendaraanya agar bisa berlama-lama dengan Asty. Rasanya Vian ingin selalu berada disisi Asty yang selalu bisa membuatnya nyaman dan tidak kesepian lagi.
Layaknya pasangan yang tengah dimabuk asmara lainya, Vian selalu menyuruh Asty berpegangan padanya dengan alasan takut terjatuh tapi Asty enggan menuruti permintaan Vian karena ia merasa risih, Vian hanya bisa menghembuskan napas dengan kasarnya.
Akhirnya perjalanan mereka terhenti disebuah rumah yang terasa sejuk walau berada ditepi jalan dalam keadaan siang yang panas terik. Bu Tatum sudah menanti kedatangan Asty dan Vian untuk mengajak makan siang bersama.
__ADS_1
Sebenarnya Vian ingin sekali ikut makan siang bersama, namun ia terkejut ketika melihat ponselnya ternyata ada puluhan panggilan tak terjawab dari Toby. Vian pun memilih pamit dan menemui Toby dan Haikal di markas yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka.
"Hey Toby, ngapain lu nelpon gue sampe puluhan kali. apa ada hal sepenting itukah? lu ganggu banget tau nggak sih." tanya Vian yang baru mematikan mesin motornya.
"ini penting dan gawat Vian.." teriak Toby terlihat sangat heboh dimata Vian.
"gak udah lebay deh lu, buruan bilang ada apa. lu tuh ganggu acara kencan gue tau." seru Vian sebal.
"ohh rupanya ada yang abis kencan nih." ledek Haikal yang tak sabar untuk iseng pada Vian yang tengah jatuh cinta beneran pada Asty.
"bang..." seru Vian dengan sedikit malu untuk mengakuinya.
Vian masih merasa tidak ingin kalah dalam taruhan, namun kenyataanya ia malah langsung jatuh cinta pada Asty sejak pertama kali menggendongnya ke UKS.
Getaran cinta itu nyata, hadir pada saat Vian berdekatan dengan Asty, sebelumnya Vian tak pernah percaya pada yang namanya cinta karena melihat perpisahan orangtuanya.
Haikal sudah lama memperhatikan Asty bersama Toby, ia rasa Asty adalah gadis yang cocok untuk merubah Vian menjadi diri yang lebih baik lagi dan bisa menemaninya yang selalu dilanda kesepian.
Tanpa sepengetahuan Vian, Haikal berencana membuat Vian mendekati Asty dan akhirnya mereka pacaran. Namun jika Haikal secara langsung meminta Vian untuk jadian dengan Asty pasti ia tidak akan mau, makanya Haikal dan Toby bersiasat melakukan taruhan.
"kalo lu emang beneran cinta sama dia, mending lu bilang sama dia bro, lu terus terang sama dia sebelum dia denger dari orang lain malah bisa bahaya sama hubungan kalian." pinta Haikal menepuk pundak Vian yang tengah duduk disebelahnya.
"ahh nggak bang, gue gak bakalan kalah taruhan ini." seru Vian sangat yakin.
"serius lu gak mau terus terang sama tuh cewek bar-bar?" tanya Toby
"nggak, lagian dia gak bakalan tahu kalo kita lagi taruhan." jawab Vian dengan sangat percaya diri membuat Toby dan Haikal saling pandang.
"Hara tau semua ini, bro.. Lu harus cepet bertindak." Toby yang kesal melihat Vian terus saja membohongi perasaanya sendiri tiba-tiba berteriak dan membuat Vian terkejut.
.
.
__ADS_1
Bersambung..