
Setibanya di terminal, Asty mencari angkutan umum yang sudah di beritahu oleh Laras untuk menuju kontrakannya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling terminal untuk mencari angkutan umum yang di maksud namun tidak ia dapatkan, lalu ia memutuskan untuk berjalan lebih jauh lagi dari terminal.
"nah itu dia angkutan umumnya." ucap Asty berjalan menuju angkutan umum yang tengah berhenti tersebut.
Asty terus berjalan dengan menggendong ranselnya yang berisi beberapa pakaian dan dokumen-dokumen untuk melamar pekerjaan. Asty tidak memperhatikan jalanya karena tengah melihat kertas alamat kontrakan Laras yang ada di tangannya.
Tiba-tiba seseorang dengan mengenakan kemeja kotak-kotak yang di masukan ke dalam celananya dan di matanya terdapat kacamata yang super tebal menabrak Asty yang sama-sama tidak memperhatikan jalan.
BRUKK...
Mereka terjatuh dengan posisi berhadapan.
"aduh.." Asty meringis memegangi sikutnya yang membentur aspal.
"oh maaf.. maaf, aku nggak sengaja. tadi aku nggak liat ke depan." ucap pria berkacamata itu terlihat merasa sangat bersalah.
"wouy, yang bener dong kalo jalan." teriak Asty pada pria itu padahal ia pun sama tidak memperhatikan jalan.
Pria itu terus melihat ke belakang, sebenarnya ia ingin membantu Asty untuk berdiri namun melihat dua pria berbadan tegap di belakangnya terus mengejar dan semakin dekat membuatnya buru-buru berlari meninggalkan Asty.
"hey.. malah kabur lagi, dasar cowok kota nyebelin." teriak Asty kemudian dua orang pria berbadan tegap itu berlari ke arahnya.
"lah, nih orang serem-serem amat ya. kasian tuh cowok culun jangan-jangan lagi di kejar sama mereka. gue kerjain ah." batin Asty menyeringai masih dalam posisi duduk di aspal.
Melihat pria culun itu membuatnya mengingat masa lalunya, dahulu juga ia menjadi seorang gadis culun yang sering jadi bahan rundungan.
Dengan sengaja ia menjulurkan kakinya ke jalan yang akan di lalui dua pria itu dan membuat mereka terjatuh. Satu pria berbadan tegap terjatuh ketika kakinya tersandung dan di ikuti oleh pria yang satu lagi.
"sialan." umpat pria itu sambil berusaha berdiri.
"aduh.. kalo jalan lihat-lihat dong, om" seru Asty berpura-pura kesakitan.
"lagian suruh siapa kamu duduk di jalan, hah." seru salah satu pria berbadan tegap itu terlihat kesal melihat ke arah Asty dan segera bangun.
"dih, ya suka-suka aku. badan-badan aku." ketus Asty mencoba bangun.
Melihat orang yang sedang mengejarnya itu berhenti, membuat pria berkacamata itu sedikit bernafas lega.
"makasih cewek galak." gumamnya melihat ke arah Asty kemudian melanjutkan pelariannya.
__ADS_1
Kini Asty sudah berdiri tegap dan segera membersihkan debu-debu yang menempel di badannya.
"sialan, kita kehilangan jejak." seru pria berbadan tegap menatap sekelilingnya dan terdengar oleh Asty.
"cari siapa sih om?" tanya Asty masih membersihkan badannya.
"bukan urusan kamu. ini semua gara-gara kamu, kita jadi kehilangan jejak dia." ketus pria itu meninggalkan Asty.
"hahaha.. cari ajah sampe ujung dunia, semoga gak ketemu." seru Asty tertawa kecil. "waduh, sampe lupa. gue harus cepet naik, keburu jalan tuh mobil." ucap Asty berlari menuju angkutan umum yang akan segera berangkat karena sudah penuh.
Kini Asty tengah duduk berdesakan di dalam angkutan umum, namun pikirannya tertuju pada pria culun tadi, ia mengkhawatirkannya. Khawatir? ya, Asty mengkhawatirkan pria yang tidak dikenalinya karena dia merasa kasihan melihat penampilannya yang berbeda.
"semoga dia baik-baik saja." batin Asty menatap lurus jalanan yang di lalui nya.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang membuat kendaraan yang di tumpangi Asty berhenti. Keributan para penumpang pun mulai terjadi, mereka bergantian keluar dari dalam kendaraan tersebut.
"gimana nih bang?" tanya salah satu penumpang.
"ya gimana lagi, ban nya pecah begini." jawab sang sopir merasa kesal.
Para penumpang pun mencari kendaraan lainnya. Kesialan pun terjadi pada Asty, ketika ia hendak menaiki angkutan lain ternyata sudah penuh karena semua penumpang yang tadi bersamanya lebih cepat menaiki kendaraan tersebut, tinggal lah Asty bersama sang sopir yang tengah mengganti ban.
"lah terus bapa sendiri gak lanjut narik?" tanya Asty jongkok di sebelah pak sopir karena jika berdiri, ia merasa tidak sopan berbicara dengan orang yang lebih tua dalam posisi lebih rendah darinya.
"nggak de, saya mau pulang." jawab pak sopir.
"yah terus gimana dong ini." gumam Asty terdengar oleh pak sopir.
"kamu mau kemana sih, de?" tanya pak sopir.
"mau ke alamat ini, pak." seru Asty memperlihatkan kertas yang berisi alamat kontrakan Laras.
"oh ini sih udah dekat, de. tinggal lurus ajah ngikutin jalan ini, terus kalo ketemu pertigaan belok kanan udah nyampe deh." jelas pak sopir dengan senyum ramahnya karena melihat Asty anak yang begitu sopan terhadap orang yang lebih tua.
"oh gitu ya, pak. makasih pak, kalo gitu saya mau jalan dulu keburu gelap." seru Asty dengan bahagianya.
"iya, de. hati-hati yah." ucap pak sopir di jawab anggukan oleh Asty.
Asty segera melangkah menyusuri jalanan yang ramai oleh kendaraan roda dua, matahari yang mulai menghilang menimbulkan rasa khawatir pada dirinya.
__ADS_1
"apa gue naik ojeg ajah ya, biar cepet." gumam Asty terus melangkahkan kakinya.
Suara klakson sebuah mobil dari arah belakangnya, mengagetkan Asty yang berjalan melambat karena kakinya tiba-tiba terasa sakit akibat menjatuhkan para pria berbadan tegap tadi.
"astaghfirullah.. wouy, gue jalan udah di pinggir. kagetin ajah lo, turun sini kalo berani." Asty terkejut kemudian membalikan badannya memaki pengendara mobil tersebut.
"waduh, beneran cewek galak nih." gumam pria di balik kemudi, kemudian memberanikan diri untuk keluar menghampiri Asty yang tengah berdiri tepat di depan mobilnya.
Betapa terkejutnya Asty melihat pria yang keluar dari dalam mobil tersebut.
"cowok culun? ngapain lo di sini, lo ngikutin gue ya?" tanya Asty terdengar terlalu percaya diri memang.
"nggak.. nggak kok, aku kebetulan lewat sini ketemu kamu. aku mau ngucapin makasih karena tadi kamu udah tolongin aku." ucap pria berkacamata itu terbata-bata saat mendekati Asty.
Kini mereka sudah berdiri berhadapan, pria itu cukup tinggi sehingga Asty harus mendongakkan kepalanya saat berbicara dengannya.
Dari postur tubuhnya yang proporsional, tangan yang terlihat kokoh dan kuat terlihat layaknya orang yang selalu melakukan olahraga, sepertinya tidak mungkin dia adalah seorang pria culun.
"jadi, lo mau apa?" tanya Asty mendongakkan kepalanya sambil melipat kedua tangannya di dada terlihat sangat galak.
"aku mau bilang makasih udah tolongin aku tadi. terus kamu mau kemana jalan sendirian di sini?" ucap pria itu.
"hmm okeh sama-sama. gue mau ke alamat ini." jawab Asty memperlihatkan kertas yang bertuliskan alamat.
"oh iya kita belum kenalan ya, nama aku Qenan." ucapnya mengulurkan tangan pada Asty.
"Asty..." jawab Asty menyambut tangan Qenan.
"aku anterin kamu ya, bentar lagi gelap. kata mama anak perempuan nggak boleh jalan sendirian apalagi malem-malem." ajak Qenan.
"apa... kata mama? ya ampun nih orang lucu banget sih. makhluk dari planet mana." seru Asty tertawa mendengar ucapan Qenan.
"iya kata mama." seru Qenan menganggukkan kepalanya dengan wajah yang terlihat sangat polos. "mau ya, aku anterin. lagian alamatnya di dekat sini." tambahnya.
Astypun menerima ajakan Qenan walaupun awalnya ia menolak, tapi melihat hari mulai gelap akhirnya ia menerima ajakan Qenan.
"terimakasih." ucap Asty ketika Qenan membukakan pintu mobil untuknya.
"manis banget, walau penampilannya culun tapi kayaknya dia itu... ahh ngomong apa sih ini mulut." gumam Asty memukuli mulutnya perlahan.
__ADS_1