
Asty mengira yang datang adalah Tina, ia terus mengusapkan sapu tangan pada air matanya sambil menggerutu.
"aku tau, aku gak cantik. aku juga ga pinter, tapi aku nggak pernah deketin dia. aku sadar diri kok kalo aku itu siapa, aku cuma orang gak punya apa-apa dan gak punya kelebihan apa-apa."
gerutu Asty sambil melancipkan bibirnya tanda dia sedang kesal tapi tidak sedikitpun menoleh kesebelahnya.
"kelebihan kamu itu anak yang lucu." jawab Rehan sebelum Asty mengeluarkan semua gerutuan yang sudah penuh dihatinya.
"Rehan..." Asty menutup mulut dengan kedua tangan setelah terkejut melihat keberadaan Rehan disebelahnya.
"ja., jadi daritadi kamu denger semua yang aku bilang?" tanya Asty dengan mata yang membulat sempurna dan dijawab anggukan oleh Rehan.
"tapi yang kamu bilang itu salah. kamu itu cantik, tapi cantiknya kamu beda dari yang lain. cantiknya kamu ada disini, makanya gak semua orang bisa ngeliat."
jelas Rehan menunjuk arah hatinya sambil tersenyum.
"maksud kamu?" tanya Asty dengan tanda loading diatas kepalanya.
"dasar anak kecil, udah deh nanti juga kamu ngerti kalo udah gede."
seru Rehan mengacak rambut Asty sambil tertawa kemudian bangkit dan hendak meninggalkan Asty sendirian dengan segudang pertanyaan yang sedang ia cari jawabannya.
"udah gak usah mikirin omongan orang lain yang bikin kamu kesel, buang-buang waktu tau. Ayo kita ke kelas."
ajak Rehan menoleh pada Asty dan mengulurkan tanganya. Asty yang masih melongo kayak orang bego itu terkejut melihat Rehan sedang menanti tanganya memberi respon.
Tapi Asty bangkit sendiri dari duduknya dan membiarkan tangan Rehan yang sedari tadi terulur menantinya.
"terimakasih, aku bisa bangun sendiri." ketus Asty berjalan didepan Rehan menyembunyikan rasa malu dan kegeeranya.
"hmm baguslah, rupanya sekarang kamu udah gak sedih lagi yaa." seru Rehan berjalan dibelakang Asty
"ya, untuk apa aku bersedih. aku datang kesini untuk mencari ilmu bukan untuk mencari luka. oh iya, tumben ngomongnya aku kamu, biasanya lo gue?"
Asty berhenti melangkah dan berbalik ke arah Rehan. Karena Asty berhenti tiba-tiba alhasil saat ini wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang yaa lumayan dekat tapi gak deket-deket amat sih karena Rehan dengan refleks berjalan mundur satu langkah.
"eh maaf." seru Asty dengan malu lagi.
"tidak apa-apa, aku suka melihatmu sudah seperti bos yang berjalan didepan. hahaha, minggir gantian tinggal aku yang jalan duluan."
Rehan terkekeh melihat pipi Asty yang tengah memerah kemudian segera berjalan. Asty terdiam sejenak melihat Rehan yang mulai menjauh dari pandangannya kemudian mengejarnya untuk menanyakan pertanyaannya tadi yang belum dijawab oleh Rehan.
__ADS_1
Akhirnya merekapun sama-sama berlari dengan Rehan yang terus tertawa melihat Asty yang berlari dibelakangnya sambil sesekali meledek.
"ayo sini kejar kalo bisa. wleee payah gak bisa lari." ledek Rehan menjulurkan lidahnya melihat Asty yang tengah ngos-ngosan mengejarnya.
"eh liat deh, masa gak dapet si Andri sekarang ngejarnya sahabatnya." bisik anak-anak yang melihat kelakuan Asty dan Rehan. Rehan merasa tidak terima orang-orang telah merendahkan Asty.
Ketika melihat Asty sudah dekat denganya, Rehan langsung meraih tangan Asty dan menggandengnya menuju sumber suara bisikan tadi.
"asal lo tau ajah, bukan Asty yang ngejar gue, tapi gue yang ngejar dia. Karena dia punya hati yang baik dan pantas dilindungi biar gak ketularan kayak lo semua yang hobinya ngomongin orang lain."
Seru Rehan kemudian pergi menuju ruang kelas dengan tangan yang terus bergandengan dengan Asty. Ruang kelas sudah terlihat, tapi Rehan belum juga melepas tanganya.
Asty yang merasa jantungnya berdetak melebihi kecepatan maximal itu memberanikan diri untuk mencari cara agar bisa terlepas dari Rehan.
"hmm Rehan, ini kan udah jauh dari anak tadi terus kita bentar lagi nyampe kelas. apa kamu ga mau lepasin tangan aku?" tanya Asty sedikit ragu.
"eh iya maaf, kok gue jadi keenakan ya. abisnya berasa nyaman banget jalan gandengan gini. hehehe" Rehan kembali terkekeh dengan kelakuanya sendiri dan segera melepas tangan Asty.
"dikiranya tangan aku bantal apa bikin nyaman tuh." jawab Asty ngasal.
"oh iya lupa ini sapu tanganya aku cuci dulu ya, nanti kalo udah kering aku kembaliin." tambah Asty memegang sapu tangan Rehan.
"nggak usah, buat kamu aja deh. buat kenang-kenangan." jawab Rehan Merekapun terus bercanda sampai memasuki kelas dan berhenti ketika mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, membuat Andri yang sedari tadi sudah berada di dalam kelas merasa curiga ada hubungan apa dengan mereka berdua.
"oh yaa seru donk, seru banget malahan. Asty itu anaknya asik diajak bercanda, pokonya seru deh." jelas Rehan memanas-manasi Andri. Andri hanya terdiam dengan mata yang terus tertuju pada buku yang ada di hadapanya.
Batinya meronta-ronta, ingin rasanya ia memarahi Rehan tetapi ia tidak mau sandiwaranya terbongkar dan mommy akan melakukan sesuatu hal buruk pada Asty.
Salahnya Andri tidak memberitahu pada sahabat-sahabatnya jika dia tengah bersandiwara agar bisa menyelamatkan Asty, karena Andri tidak mau mereka tahu jika ia menyukai Asty.
*
*
*
*
Tak terasa waktu belajarpun telah habis, kini saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing kecuali Asty dan Nuri yang harus membersihkan toilet sebagai hukuman mereka.
Segera Asty bergegas menuju toilet bersama Tina yang ingin sekedar menemani masa hukuman.
__ADS_1
"dah kamu tunggu diluar ajah." seru Asty pada Tina yang hendak ikut membersihkan toilet.
"biar cepet Asty..."
"bagus deh, biar kalian berdua ajah yang bersihin. gue tunggu diluar." sambar Nuri.
"what? ini seharusnya kamu sendiri yang ngerjain, kan kamu yang bikin gara-gara duluan." seru Tina berkacak pinggang.
"Pokoknya gue gak mau, nanti kuku gue rusak gimana, duuh." rengek Nuri menatap jari-jari lentiknya.
"kamu harus bersihin toiletnya Nuri, ini kan hukuman kamu. kalo ngga mau bersihin toilet ya berarti kamu maunya di skors aja ya," seru bu Dina berdiri dibelakang Nuri membuatnya segera memasuki toilet dan membersihkanya.
Asty dan Tina tertawa geli melihat Nuri yang sudah tidak memperdulikan kuku yang tadi dia banggakan.
Setelah selesai membersihkan toilet, merekapun bersiap untuk pulang.
Ketika berjalan menuju gerbang sekolah, ternyata ada Rehan dengan sepedanya sedang menunggu Asty.
"Asty.. udah selesai ?" tanya Rehan
"ya kalo belum selesai mana mungkin kita disini." celetuk Tina membuat Asty terkekeh
"ya elah nyamber ajah nih bocah satu. Asty, pulang bareng aku yuk."
"aku pulang sama Tina, iya kan Na?"
"Tina itu arahnya ke sana, kalo kamu kan satu arah sama aku."
"iya Asty, tuh mama aku udh jemput. dah kamu ikut Rehan ajah, lumayan kan jadi gak cape jalan. aku duluan yaa." Tina terkekeh dan meninggalkan Asty
Akhirnya Asty ikut pulang dengan Rehan dan membuatnya senang bisa bersama Asty.
Sejak dulu memang Rehan menyukai Asty, tapi melihat sahabatnya yang sepertinya menyukai Asty juga, ia memilih untuk mengalah dan yang terlihat saat ini Andri malah membuat Asty bersedih. Rehan merasa bersalah ketika melihat Asty bersedih apalagi ia bersedih karena sahabatnya sendiri.
.
.
.
Author : karena ksibukan dunia nyata jadi baru sempet up 😂
__ADS_1
jgn lupa like dan komennya yaa.. komentar kalian sangat berarti agar author bisa memperbaiki dan bikin cerita makin seru 😉
Terimakasih 😘