
Asty terus berlari menuju ruang kelasnya, tetapi pandangannya teralihkan pada dua orang yang tengah bercengkrama di koridor membuat ia menghentikan langkahnya.
"semua berkasnya udah beres?" tanya Toby.
"udah nih, gue pergi dulu yah. sekolah yang bener lo." seru Vian tersenyum menepuk pundak Toby dan berlalu meninggalkanya.
Vian membalikkan badannya untuk pergi menuju tempat parkir, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Asty yang tengah memandangnya.
"mending gue buru-buru cabut deh, kayaknya mau ada drama perpisahan nih." gumam Toby segera menuju ruang kelasnya ketika melihat Vian dan Asty tengah saling pandang.
Sekuat tenaga Vian berusaha menghindari Asty, akan tetapi hatinya masih ingin bercengkrama dengan Asty walau hanya sedetik saja. Akan tetapi dengan egonya Vian berlalu melewati Asty yang tengah terdiam.
Asty juga merasa bingung bagaimana cara memulai pembicaraan dengan Vian. Ingin sekali ia mengucapkan maaf pada Vian karena sejak kemarin pikirannya begitu kacau mengingat ucapan Vian yang merasa jika Asty telah membuat luka di dalam hatinya.
"Alvian." ucap Asty memberanikan diri menghentikan langkah Vian yang sudah berada di belakangnya.
Tanpa ragu Vian menghentikan langkahnya, karena sebenarnya ia juga ingin mengucapkan salam perpisahan pada Asty. Namun Vian bertekad untuk membalas sakit hatinya pada Asty secara perlahan.
"gue.. gue minta maaf kalo selama ini udah buat hati lo terluka. gue beneran gak ada maksud buat nyakitin hati siapapun." ucap Asty menundukkan kepalanya tanpa membalikkan badan, tapi ia tahu jika Vian menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di belakangnya.
Para siswa sudah memasuki kelasnya masing-masing, membuat suasana terasa begitu hening, hanya ada mereka berdua yang berdiri saling membelakangi.
Mendengar ucapan Asty, Vian hanya bisa terdiam mengingat masa-masa indah saat mereka bersama. Ada rasa ingin memiliki di dalam hati Vian, tapi ia yakin jika Asty tidak akan mau menerimanya kembali setelah kejadian kemarin.
"ingin rasanya aku memelukmu erat-erat sebagai salam perpisahan kita. Tapi aku tidak bisa dan aku tak pantas untuk melakukan itu. semoga kau bahagia setelah kepergian ku." batin Vian menggelengkan kepalanya kemudian berlalu meninggalkan Asty tanpa berkata apapun pada Asty.
Vian seolah memiliki dua rasa yang saling bertolak belakang dalam dirinya. Ada rasa ingin memiliki, namun ia juga ingin membuat Asty merasakan sakit yang pernah ia rasakan.
Mendengar langkah kaki Vian yang berjalan meninggalkannya tanpa berkata apapun membuat Asty merasa sedih. Air matanya tiba-tiba menetes membasahi wajahnya.
__ADS_1
Seseorang akan terlihat begitu istimewa ketika dia pergi, saat itu terjadi akan ada rasa penyesalan yang begitu mendalam karena telah menyia-nyiakan ketulusan hatinya. Itulah yang sedang di rasakan oleh Asty saat ini.
Asty berpikir bahwa Vian begitu sakit hati padanya hingga ia tak mau berbicara dengannya, rasa sesal telah menyia-nyiakan cinta Vian kini telah memenuhi hatinya.
Tanpa berpikir panjang, Asty berlari menuju taman untuk menenangkan dirinya. Ia mungkin sudah berubah menjadi seorang yang pemberani, namun hatinya yang terlalu lembut membuatnya mudah untuk menitikkan air mata.
Ketika semua siswa berada di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran, Asty malah menangis di taman sendirian. Hingga Toby mengira Asty dan Vian tengah berkencan karena Asty tak kunjung memasuki ruang kelas.
"hmm.. kayaknya bakalan ada yang CLBk nih." gumam Toby sambil mengetuk-ngetuk bolpoin nya ke atas meja.
Sementara Vian yang sudah melajukan motornya menuju rumah, kini tengah bersenandung riang mengingat kejadian tadi.
"sekarang kita balikin keadaan. biar lo merasakan bagaimana rasanya sakit hati dan gue bakal tunggu saat lo bertekuk lutut minta balikan sama gue." gumam Vian menyeringai.
Setelah sampai di rumahnya, pak Farel sudah bersiap untuk berangkat menuju kota membawa Vian bersamanya.
"apa kamu sudah siap?" tanya pak Farel memasukkan barang-barang Vian ke dalam bagasi mobilnya.
Mereka pun berangkat menuju kota, memulai hubungan dari nol bersama ibu sambung dan adik perempuannya.
***
Asty berjalan gontai menuju ruang kelasnya, bersiap untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
"hey, darimana ajah lo. lama banget, abis salam perpisahan ya." ledek Toby yang berpapasan dengan Asty di pintu kelas.
Tanpa berkata apa-apa, Asty terus berjalan menuju tempat duduknya.
"aneh banget tuh anak, biasanya cerewet banget kalo gue ledek. kesambet setan apa tuh bocah yah, jadi takut gue." ucap Toby bergidik ngeri.
__ADS_1
Toby yang penasaran mengikuti langkah Asty hingga ke tempat duduknya. Di lihatnya Asty yang hanya diam dan terlihat tidak ada semangat hidup, hanya tatapan kosong yang ia perlihatkan.
"gue jadi khawatir sama lo, sebenernya lo itu kenapa, hah?" tanya Toby mencari tahu penyebab perubahan Asty.
"gue nggak kenapa-kenapa Toby, gue lagi males ajah." seru Asty meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"lah terus lo sama Vian gimana tadi?" tanya Toby kepo.
"aduh Toby, gue sama Vian udah gak ada hubungan. please deh jangan bahas dia lagi. dah sana pergi lo." seru Asty kesal mengibaskan tangannya mengusir Toby.
"ih serem amat nih cewek kalo lagi bete." gumam Toby meninggalkan Asty.
Suasana kelas yang riuh tidak membuat Asty merasa ramai, hatinya yang di penuhi penyesalan kian membuatnya merasa terpuruk.
Hari demi hari Asty lalui dengan kurang bersemangat. Dia belum bisa move on, mungkin itu satu kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaan Asty saat ini.
Sering bolos sekolah, hingga nilai-nilainya menjadi anjlok. Membuat wali kelasnya merasa kecewa terhadap perubahan prestasi Asty.
"Asty Anindita." suara bu Siska mengejutkan lamunan Asty.
Asty memang lebih sering melamun akhir-akhir ini, entah ia sedang memikirkan apa.
"saya bu." jawab Asty segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri meja guru di depan kelasnya.
"kamu lagi ada masalah apa, sampai nilai kamu pada turun semua. semester kemarin kamu dapat peringkat 3 kenapa sekarang jadi peringkat 7?" tanya bu Siska mencari tahu penyebab perubahan Asty.
"nggak bu, saya nggak ada masalah apa-apa. maafkan saya bu, saya janji di kelas 9 nanti saya akan perbaiki semuanya." seru Asty penuh semangat membuat bu Siska senang melihat semangat Asty yang menggebu-gebu.
Sejak saat itu Asty mulai tersadar dan kembali pada Asty yang dulu.
__ADS_1
"pokoknya gue harus bisa balikin prestasi gue, biar gue bisa masuk SMA favorit terus gue nyusul kak Laras kerja di kota. Yah, gue pasti bisa. semangat." ucap Asty mengepalkan tangannya menyemangati diri sendiri.
Asty mulai kembali ke dirinya sebelum bertemu Vian. Asty yang ceria dan giat belajar untuk mendapatkan nilai terbaik. Ia ingin sekali bekerja dan membahagiakan orang tuanya yang telah merawat dan membesarkannya.