
Rehan segera berlari menuju ruang UKS untuk melihat keadaan Asty setelah mendengar kabar bahwa ia telah mengalami kejadian yang mengancam nyawanya.
"gue nggak kenapa-kenapa, Rehan." seru Asty dengan santainya.
"gimana ceritanya bisa kayak gini sih?" tanya Rehan penasaran.
"ini juga mau di ceritain, eh lo muncul tiba-tiba jadi ke potong deh." ketus Toby yang tengah duduk di kursi dekat Asty.
"Ya bagus donk, kan biar gue juga bisa denger." seru Rehan santai duduk di atas brankar bersama Asty.
"hadeh .. gue berasa jadi artis yang mau konferensi pers ini, haha." seru Asty tertawa.
"udah buruan cerita napa, aku udah pegel nih." seru Vina menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah Toby.
Kini mereka berkumpul untuk mendengarkan cerita Asty, mereka sangat penasaran bagaimana bisa terjadi seperti ini.
"jadi gini, tadi pas bel masuk gue pengen ke toilet. eh di koridor gue ketemu Vian, dia sih biasa ajah jalan gak ngomong apa-apa dan gak ada yang aneh. Tapi pas gue keluar dari toilet, tiba-tiba dia udah berdiri di depan pintu. gue kaget donk ya, pas gitu dia deketin gue terus nodongin pisau kecil ke gue." jelas Asty.
"ya ampun, Vian bisa segila itu ya." seru Rehan terkejut.
"gue gak ngerti kenapa dia bisa kayak gitu, selama ini dia orang yang kuat. walaupun orang tuanya ninggalin dia, tapi dia gak pernah berbuat nekat." seru Toby.
"terus dia ngomong apa lagi sama kamu?" tanya Vina ikut penasaran.
"dia bilang gue harus ikut mati sama dia biar kita bisa sama-sama terus." jawab Asty tertunduk lemah mengingat kejadian yang menimpanya tadi.
"bener-bener udah gila tuh orang, harusnya dia di keluarin ajah dari sekolah biar gak terus ngancem Asty." seru Rehan sambil mengelus-elus pundak Asty menenangkannya.
"yah, sepertinya dia akan di ajak om Farel ke kota. dari dulu juga om Farel udah ngajak dia, tapi dia gak mau tinggal sama ibu tirinya. Tapi kayaknya sekarang gak ada pilihan lain lagi buat Vian dan om Farel juga pasti bakalan maksa Vian ikut." jelas Toby.
"oh jadi dia itu korban perceraian orang tuanya. mungkin dari dulu dia udah mendem rasa sakitnya, makanya sekarang di lampiasin ke Asty." seru Rehan.
"apa ini salah gue udah putusin dia?" tanya Asty dengan wajah penyesalannya.
__ADS_1
"jangan mikir kayak gitu, lo berhak memilih Asty. dia yang salah udah maksain keinginannya sendiri." seru Rehan.
"iya Asty, lo jangan nyalahin diri sendiri. Vian itu ada masalah lain yang udah dia pendem sendirian dari dulu, mungkin sekarang saatnya juga dia harus ikut orang tuanya. doain ajah semoga dia bisa dapet kebahagiaan baru di sana." jelas Toby membuat Asty sedikit tenang.
Kini matahari sudah berada tepat di atas kepala, saatnya mereka bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
Asty berjalan gontai keluar dari ruang kelasnya dengan menggendong tas ranselnya menuju pintu gerbang sekolah.
"buruan naik." seru Rehan menghentikan sepeda motornya tepat di samping Asty yang tengah berjalan sendirian.
"nggak usah Rehan, gue pulang sendiri ajah. gue gak mau ngerepotin lo lagi, udah sering gue ngerepotin lo." ucap Asty kemudian ia melanjutkan langkahnya.
"ck .. lo ngomong apa sih, kayak sama siapa ajah lo. kita udah temenan lama juga, jangan sungkan sama gue lah." seru Rehan melajukan motornya mengikuti langkah Asty.
"Tapi Re .." belum selesai Asty berbicara, Rehan memotongnya.
"udah buruan naik apa lo gak mau lagi temenan sama gue, hah?" tanya Rehan kesal.
"nggak gitu Rehan.. okeh deh gue naik nih." ucap Asty menaiki motor Rehan.
Sementara di parkiran terlihat Toby tengah duduk di atas motornya menunggu seseorang.
"kemana sih dia. apa udah pulang ya." gumam Toby sambil memindai sekitarnya.
Tiba-tiba seorang gadis berambut panjang yang ia ikatkan seperti ekor kuda berjalan di hadapannya dengan jarak yang masih bisa di jangkau oleh penglihatan Toby.
"nah itu dia." seru Toby dengan girangnya menyalakan mesin motor dan mengejarnya.
"Vina." teriak Toby yang tepat berada di belakang Vina yang sudah berdiri di dekat pintu gerbang.
Merasa ada yang memanggil namanya, Vina menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"eh Toby, ada apa ya?" tanya Vina dengan polosnya.
__ADS_1
"hem.. kamu pulang sendirian?" tanya Toby dengan kikuknya.
"aku...." belum sempat ia menjawab terdengar kembali suara yang memanggilnya.
Seketika membuat Toby dan Vina menoleh ke sumber suara, terlihat seorang laki-laki duduk di motor sportnya yang masih menyala.
"eh kamu kok udah nyampe." seru Vina pada seorang laki-laki berseragam SMA walaupun memakai jaket namun terlihat dari celana yang ia kenakan.
"iya sayang, kebetulan guru-guru pada rapat jadi sekolah di bubarin deh." jelas Alex tersenyum pada Vina.
"apa, sayang?" batin Toby melihat Alex membelai lembut rambut Vina.
Alex adalah pacar Vina, siswa salah satu SMA di daerah itu. Selama satu tahun terakhir ini mereka sudah berpacaran, dulu juga Dani pernah mendekati Vina namun karena tahu Vina sudah memiliki kekasih, ia memilih mundur.
Saat ini Toby juga hendak mendekati Vina, di mulai dengan alasan mengajak pulang bareng. Tapi sayangnya sebelum Toby mengutarakan maksudnya, tiba-tiba Alex datang menjemput Vina.
Alex tidak merasa kesal melihat Vina mengobrol dengan Toby karena ia tahu jika Vina orang yang setia, mengingat kejadian dahulu saat Dani mencoba mendekatinya namun Vina langsung mengatakan bahwa ia sudah memiliki seorang kekasih.
Vina dan Alex saling mencintai, itu yang membuat mereka saling percaya satu sama lain.
"hmm .. kalo gitu gue duluan ya." pamit Toby melihat sepasang kekasih tengah bercengkrama di hadapannya, ia langsung tancap gas meninggalkan mereka berdua tanpa mendengar jawaban dari perkataanya.
"kenapa dia, aneh sekali?" gumam Vina heran.
"paling juga dia mau ngikutin jejaknya Dani. Aku makin khawatir kalo kamu sekolah di sini, kamu terlalu manis buat aku tinggal. aku takut para semut berdatangan padamu." seru Alex dengan tangan yang saling bertautan.
"ngomong apa sih kamu, udah lah ayo kita pulang. aku udah laper nih." ajak Vina menarik tangan Alex.
Alex hanya bisa tertawa melihat ekspresi wajah kekasihnya yang tengah cemberut karena merasa lapar. Mereka langsung menaiki motor Alex dan pergi mencari makan siang.
Saat ini Toby sudah sampai di tempat tongkrongannya untuk bertemu dengan Haikal.
"kenapa tuh muka kusut amat, banyak lukanya juga?" tanya Haikal turun dari motornya.
__ADS_1
"lo ga tau bang, gue abis di pukulin sama Vian. terus gue mau deketin cewek juga malah gagal, hmm nasib gue gini amat ya." seru Toby menundukkan kepalanya.
"tunggu dulu, kenapa Vian pukulin lo?" tanya Haikal terkejut karena Toby belum sempat memberitahu Haikal tentang keadaan Vian.