
Hari pertama kerja membuat Asty begitu bersemangat, sebelum matahari terbit ia sudah bangun untuk melaksanakan sholat subuh dan membereskan rumah sebelum kakaknya bangun.
Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, Asty membangunkan Laras untuk berpamitan. Ia berangkat pagi sekali karena ia akan berjalan kaki menuju tempat kerjanya.
Dalam perjalanan menuju minimarket, Asty selalu bersenandung dengan sangat bahagia sampai akhirnya ia sudah tiba di minimarket tepat pada pukul 06:30. Pintu gerbang minimarket baru terbuka sedikit, menandakan bahwa minimarket belum waktunya buka.
"Bismillah.." ucap Asty kemudian masuk ke dalam minimarket.
Ternyata di dalam sudah ada beberapa karyawan yang tengah berkumpul menanti waktunya mulai bekerja. Ada yang tengah menyantap sarapan, ada yang mengobrol dan ada pula yang terlihat sedang memejamkan matanya walau sebentar lagi minimarket akan segera di buka.
"halo kak, saya karyawan baru di sini." sapa Asty pada sekumpulan karyawan yang tengah mengobrol.
"eh kamu yang kemaren tangkap pencopet itu kan?" tanya Dika salah satu karyawan bagian gudang.
"iya lho, dia hebat banget. cewek tapi berani kejar copet." seru Kania, kasir yang kemarin mengobrol dengan Asty.
Mereka sangat ramah kepada Asty walau ia hanya karyawan baru. Asty yang pandai bergaul membuatnya bisa langsung akrab dengan karyawan lama dan mereka pun senang dengan Asty yang ramah, sopan dan tentunya pemberani.
Lain dengan Asty yang dulu pendiam dan penakut. Perubahan yang dia alami merupakan hasil dari tekad dan kerja kerasnya ingin mengubah takdirnya, karena Tuhan tidak akan merubah seseorang jika dia tidak mau berubah.
Waktu telah menunjukkan pukul 7, kini saatnya minimarket mulai beroperasi. Asty yang belum begitu mengerti tugasnya karena kemarin bu Rani belum menjelaskan apa saja tugasnya, dia memilih untuk membantu karyawan lain agar ia lebih mengenal lebih dalam lagi minimarket yang cukup besar itu sambil menunggu bos datang dan memberikannya tugas.
Asty sangat senang memiliki banyak teman baru yang juga ramah terhadapnya, ia menjadi karyawan paling muda di sana. Asty bekerja dengan perasaan yang sangat bahagia, ia merasa bukan sedang bekerja melainkan sedang bermain karena banyak teman yang sering membuat candaan di tengah pekerjaan mereka.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 8, bu Rani tiba di minimarket dan langsung memanggil Asty untuk melakukan tugas pertamanya.
Setelah mendapat tugas, Asty segera menuju ruangannya. Dengan penuh semangat ia fokus pada layar komputernya, jari jemarinya begitu lihai menari-nari di atas keyboard dengan cekatan ia menginput data.
Berkas yang tadinya menumpuk banyak, kini tersisa sedikit. Asty meninggalkan pekerjaannya sejenak karena sudah tiba saatnya makan siang, ia meninggalkan ruangannya untuk mencari makan di luar minimarket.
__ADS_1
Karena ia sibuk menatap ponselnya, Asty tidak memperhatikan jalan hingga akhirnya ia menabrak sebuah benda yang terasa sangat keras membuat kepalanya terasa sakit.
"aduh..." Asty merintih kesakitan memegangi keningnya.
"maaf, maaf.. kamu nggak apa-apa?" suara terdengar begitu jelas di hadapan Asty.
Kemudian ia menormalkan pandangannya dan begitu terkejut saat mengetahui ternyata yang ia tabrak adalah dada bidang seorang pria. Asty terdiam sejenak sebelum ia memberanikan diri menatap wajah pria tersebut.
Sesaat kemudian, ia mendongakkan kepalanya dan melihat wajah pria tersebut. Betapa terkejutnya Asty, ternyata pria itu adalah Qenan si pria berkacamata tebal.
"kamu.." ucap Asty dan Qenan bersamaan ketika mereka saling pandang.
"kamu sedang apa di sini?" tanya Qenan terkejut.
Mendengar suara anaknya, bu Rani langsung keluar dari ruangannya yang tidak jauh dari ruangan Asty.
"Qenan kamu kenapa ada di sini?" tanya bu Rani menghampiri mereka berdua.
"mama?" batin Asty bertanya-tanya.
"oh iya Asty, kenalkan ini anak saya Qenan." seru bu Rani membuat Asty makin terkejut
"kita udah kenal ma, dia yang waktu itu tolongin aku pas di kejar-kejar bodyguard itu." jelas Qenan membuat bu Rani bahagia.
Sebenernya bu Rani ingin mencari Asty yang sudah menolong anaknya, tapi ternyata dia malah datang sendiri ke hadapannya.
Bu Rani sangat bersyukur dan yakin jika rencananya akan berhasil. Melihat Qenan membawakannya makan siang, bu Rani mengajak Asty untuk makan siang bersama. Namun Asty menolaknya karena takut jika karyawan yang lain akan merasa iri padanya sebagai karyawan baru.
"baiklah kalo kamu menolak karena alasan itu. mulai besok saya akan beri kamu dua pekerjaan, yang pertama di minimarket dan yang kedua harus pergi bersama Qenan. mengajaknya bermain dan menjaganya agar kalian bisa makan bersama." jelas bu Rani.
__ADS_1
"tapi, bu.." ucapan Asty terpotong begitu saja oleh bu Rani.
"gajih kamu akan saya naikan jadi dua kali lipat." seru bu Rani membuat Asty terdiam.
Siapa yang tidak akan tertarik mendapatkan gaji dua kali lipat, sedangkan pekerjaan tambahan ini menurutnya begitu ringan karena hanya mengajak Qenan bersenang-senang saja.
" baik bu, akan saya coba " seru Asty dengan penuh terasa hormat.
Bu Rani mempercayakan Qenan pada Asty, berharap Qenan bisa segera normal kembali seperti hari kemarin sebelum Lusy datang dan merubah Qenan. Menurutnya Asty sangat cocok untuk menjaga Qenan, mengingat Asty adalah anak yang berani.
"okeh Asty jadi mulai sekarang jika pekerjaan mu di sini selesai, kamu harus mengajak Qenan berjalan-jalan." pinta bu Rani.
Qenan hanya diam saja tanpa mengajukan protes sedikitpun karena ia juga merasa senang akan mempunyai teman, selama ini ia hanya di rumah di temani para pembantu dan sopir.
Asty masih ada pertanyaan tentang Qenan yang harus di tanyakan pada bu Rani, namun ia merasa tidak enak jika bertanya ketika masih ada Qenan di antara mereka.
Asty pergi ke luar mencari makan ketika Qenan dan bu Rani sedang makan siang berdua di ruangan bu Rani.
Setelah selesai makan siang, Qenan di antar oleh sopir kembali ke rumahnya karena saat ini Asty belum bisa mengajaknya jalan-jalan.
Nampak ada kesempatan untuk bertanya tentang Qenan lebih jauh setelah ia menyelesaikan berkas-berkas laporan yang ia sisakan tadi sebelum makan siang, dan yang pasti situasi sudah aman karena Qenan sudah tidak ada di ruangan bu Rani.
Asty mengetuk pintu ruangan bu Rani dengan alasan menyerahkan tugas yang telah di selesaikan nya.
"ini bu, berkasnya. udah saya selesaikan." seru Asty menyerahkan beberapa lembar kertas.
"okeh, sekarang kamu boleh kembali ke ruangan kamu mengerjakan tugas selanjutnya." ucap bu Rani.
"tapi bu, sebelumnya saya boleh bertanya soal Qenan?" tanya Asty sedikit ragu.
__ADS_1
"boleh, mau tanya apa?" bu Rani menutup laptopnya dan menatap Asty dengan penuh keseriusan.
"sebenernya, apa yang sudah terjadi padanya. sehingga di usianya yang sudah dewasa malah bertingkah seperti anak remaja?" tanya Asty membuat bu Rani terdiam.