
Andri mengayuh sepedanya perlahan menuju sekolah, di sepanjang jalan ia terus memikirkan ucapan mommy ketika di garasi tadi.
"kalau kamu tidak mau ikut mommy sekarang dan memilih untuk tinggal disini, mommy harap kamu jauhi Asty karena mommy tidak ingin masa lalu mommy terulang lagi kepadamu. Kalau kamu tidak mau menuruti mommy, jangan salahkan mommy jika terjadi sesuatu hal yang lebih mengerikan lagi pada Asty."
Kalimat itu terus terngiang di otaknya. Bingung, karena bagaimanapun juga Andri sudah merasa nyaman saat di dekat Asty dan merasa sedih jika jauh darinya. Rasa itu tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari siapapun.
Setelah sampai di sekolah dan meletakan sepedanya di tempat parkir sepeda, ia berjalan dengan tidak memperhatikan sekitar. Hingga ia tak sadar menabrak seseorang di depannya.
"Astaga Andriii... kamu gak liat apa aku lagi jalan di jalanku kenapa kamu tabrak." seru Tina memunguti buku-bukunya yang berserakan di lantai.
"aduh.. maaf Tina, aku gak sengaja." Andri membantu merapihkan buku Tina.
"kamu kenapa sih, jalan kok ngelamun?" tanya Tina penasaran.
"ah.. ngga kok, aku ngga kenapa-kenapa." jawab Andri menutupi perasaannya.
"hmmm kamu pasti mikirin Asty ya?" tebak Tina.
"ng-nggak kok."
"udah deh gak usah boong, kamu khawatir kan sama keadaan Asty? nanti pulang sekolah aku mau ke rumahnya, kamu mau ikut ngga?" ajak Tina.
Andri ingin sekali ikut, tapi tiba-tiba terlintas kalimat mommy kembali. Di satu sisi Andri ingin melihat keadaan Asty, tapi di sisi lain ia takut akan ancaman mommy.
"wouy... gimana mau ikut ngga? malah ngelamun." Tina membuyarkan lamunan Andri.
Belum sempat Andri menjawab, bel pun berbunyi. Mereka bergegas memasuki ruang kelas dan mengikuti pelajaran hari itu.
Di rumah Asty
"ibu mau bikin apa?" Asty berdiri di belakang bu Tatum yang tengah sibuk memotong sayuran.
"Asty, kenapa kamu ada disini? kamu istirahat saja di kamar." bu Tatum meletakan pisau yang dia pegang dan terbangun dari duduknya memegangi kedua pundak Asty.
"aku bosan, bu." Asty tertunduk lesu.
"ya sudah kalo kamu bosan di kamar sendirian, kamu tidurannya di depan ajah ya, ibu nyalain tv nya biar kamu gak bosen." bu Tatum memberi tawaran.
"hmmm baiklah bu, aku mau tiduran di depan tv saja." seru Asty dan berjalan menuju ruang tv.
Asty berbaring sambil menatap televisi, namun pikirannya melayang jauh memikirkan Andri.
"apa di sekolah dia mengkhawatirkan aku? ahh aku tidak boleh memikirkannya, aku sudah berjanji untuk tidak dekat dengannya." batin Asty sambil menggeleng-gelengkan kepalanya membuat bu Tatum yang kebetulan tengah melihatnya merasa terkejut.
"Asty, kamu kenapa nak? apa kepalamu sakit lagi?" tanya bu Tatum panik.
"ahh ngga bu, aku lagi senam kepala ajah biar ga kaku." elak Asty.
__ADS_1
"kamu ini ada-ada saja." seru bu Tatum tertawa dan berjalan menuju dapur kembali.
"bu..." panggil Asty membuat bu Tatum menghentikan langkahnya.
"iya, kenapa nak?" tanya bu Tatum duduk di sampingnya.
"aku mau tanya sesuatu boleh bu?"
"ya boleh dong, mau nanya apa emangnya?"
"ibu sama tante Astrid itu ada masalah apa sebenarnya?"
Bu Tatum terdiam sejenak, ingatannya seolah berselancar kembali ke masa lalu.
"karena ibu telah menikah dengan mantan pacarnya tante Astrid." seru bu Tatum dengan panangan kosong.
"apa, jadi ayah itu mantan pacarnya tante Astrid?" tanya Asty terkejut dan bangun dari posisi rebahannya.
"iya nak.." jawab bu Tatum menatap wajah Asty.
"tapi kenapa bu? kenapa bisa ibu menikah dengan mantan kekasih tante Astrid?" dengan rasa penasarannya Asty bertanya kembali.
"sebenarnya begini nak. dulu ibu dan tante Astrid itu bersahabat dekat sekali. Sampai suatu ketika ayah kamu datang ke tempat ibu bekerja dan menceritakan kalau tante Astrid mengkhianatinya. Awalnya ibu tidak percaya dan ingin menanyakan kebenarannya, tapi setiap ibu ke rumahnya tante Astrid selalu tidak bisa ditemui. waktu itu tante Astrid kuliah, sedangkan ibu bekerja di swalayan dari pagi hingga menjelang malam.
Seiring berjalannya waktu, karena ayah kamu yang selalu curhat kepada ibu membuat kita merasa nyaman satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Hal itu membuat tante Astrid merasa kecewa, ibu dengar tante Astrid sempat depresi karena masalah ini dan om Rafa yang tak lain adalah sahabat ayah kamu lah yang selalu menemani tante Astrid hingga akhirnya merekapun menikah."
"yaa, mungkin itulah jalan yang Allah kasih agar ibu dan ayah kamu bersatu." bu Tatum tersenyum ke arah pak Reno yang terlihat baru memasuki rumah.
"ada apa ini kayaknya abis cerita seru yaa.." tanya pak Reno menghampiri anak dan istri nya.
"huuh ayah kepo nih.." teriak Asty.
"oh sekarang kamu gitu yaa sama ayah. ya udah ayah gak mau kasih ini ke kamu, buat kak Laras ajah semuanya." ledek pak Reno memperlihatkan kantong plastik yang berisikan berbagai macam camilan.
"ahhh ayah jangan, aku juga mau. " asty kembali berteriak tapi pak Reno malah semakin senang meledek Asty.
Bu Tatum hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suami dan anak bungsunya.
Di sekolah....
Bel berbunyi, menandakan waktunya pulang ke rumah masing-masing. Sebagian besar anak-anak berteriak kegirangan ingin segera pulang ke rumah mereka. Namun berbeda dengan Andri, ia hanya diam sambil memasukan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam ransel.
"Andri, ayo mau ikut jenguk Asty ngga?" tanya Tina menghampiri meja Andri.
"udah ayo ikut ajah." ajak Rehan
"iya, kita juga mau ikut ke sana kok." tambah Topan.
__ADS_1
Andri terdiam sejenak "aku ingin melihat keadaan nya, mungkin ini yang terakhir kalinya dan aku akan menjaga jarak demi keselamatannya." batin Andri.
"wouy.. gimana nih, malah ngelamun. kalo nggak mau ikut ya udah kita ajah yang ke sana." seru Rehan mengagetkan Andri.
"ah iyya iya. aku mau ikut kok." Andri segera meraih ranselnya dan berjalan mengikuti Rehan, Topan dan Tina.
Mereka melajukan sepeda hingga akhirnya sampai di depan rumah Asty, terlihat pak Reno tengah duduk di depan rumah.
"eh ada temen-temennya Asty, ayo silahkan masuk." ajak pak Reno dengan ramah.
"iya makasih om." serua mereka berempat.
Mereka kemudian memasuki rumah, nampak Asty tengah duduk bersandar di kursi sambil menonton ftv tak lupa dengan camilan kesukaan nya yang terus berada di dekapannya.
"aduuduuh.. lagi serius rupanya." ledek Tina pada Asty yang tidak menyadari kalau teman-teman nya datang.
"ehh sejak kapan kalian di sini." seru Asty terkejut.
"yaa kira-kira satu jam kita di sini." canda Rehan.
"lama juga ya.." seru Asty tertawa.
"ayo silahkan duduk." tambah Asty.
Ketika mereka saling melemparkan candaan, Andri hanya terdiam menatap Asty yang sudah terlihat membaik.
"syukur deh lo udah sembuh sekarang, gue jadi bisa sedikit tenang ketika nanti berjauhan sama lo." batin Andri...
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa like dan komentar nya yaahh, biar author semangat up lagi..
kemarin gak bisa up setelah sehari up dua bab dan bikin satu cerpen karena bener-bener nguras tenaga 😄
mampir juga ke cerpen aku yaa 😉
__ADS_1
see you next episode 😉