Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 58


__ADS_3

"kenapa nggak bilang dulu sama aku sih kak." seru Asty kesal.


"lho. bukannya bagus dia chat kamu duluan, kamu dari dulu suka sama dia kan?" tanya Laras terkejut.


"dulu sama sekarang itu beda kakak." seru Asty makin kesal.


Mendengar suara keributan yang di timbulkan Asty, bu Tatum keluar dari dalam rumah.


"ada apa Asty?" tanya bu Tatum yang berjalan di belakang Asty.


"nih kak Laras mau ngomong." seru Asty langsung menyerahkan ponsel yang di pegangnya pada ibunya, kemudian ia langsung masuk ke kamar dengan berjalan menghentakkan kakinya ke lantai.


"kenapa dia, aneh sekali." gumam bu Tatum melihat Asty yang membanting pintu kamarnya. "halo Laras, kamu masih di situ?" tanya bu Tatum meletakkan ponsel di telinganya.


"masih bu. Asty marah ya, bu?" tanya Laras setelah mendengar nada bicara Asty pada saat bicara dengan ibunya.


"iya tuh, dia kenapa sih. kamu abis ngomong apa sama dia?" tanya bu Tatum penuh selidik.


"yah biasa bu, urusan percintaan. hahaha" seru Laras tertawa.


"jangan ngajarin adik kamu pacaran, ntar bisa-bisa nikahnya ngelangkahin kamu lho." suara bu Tatum begitu menakutkan bagi Laras.


"eh eh.. ya nggak gitu juga bu." seru Laras. "ah ya udah deh kita bahas yang lain ajah yah bu." tambahnya berusaha mencari topik pembicaraan baru.


Bu Tatum hanya bisa tertawa mendengar suara anaknya yang tengah kebingungan. Laras merasa usianya masih sangat muda untuk menikah, ia masih ingin mewujudkan cita-citanya melalui karirnya dalam bekerja.


Saat ini Laras memang sudah memiliki seorang kekasih yang bernama Zidan, namun mereka sepakat untuk fokus bekerja dan banyak menabung untuk meresmikan hubungan mereka agar tidak terlalu memberatkan orang tuanya.


Kisah cinta Laras memang berbeda dengan Asty, Laras yang giat belajar dan bekerja tidak pernah memikirkan untuk memiliki seorang kekasih, karena ia berpikir suatu saat nanti pasti akan ada yang datang padanya. Namun walaupun begitu, Laras tidak tinggal diam. Ia terus mendewasakan diri dan banyak bergaul dengan teman-temannya yang membuatnya tidak kesepian.


Hingga suatu hari ia bertemu dengan teman satu kantornya dan akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Mereka memiliki cita-cita yang sama yaitu membahagiakan kedua orangtuanya, memiliki hobi yang sama membuat mereka semakin dekat dan saling melengkapi satu sama lain.


***


Malam telah berganti pagi, sinar mentari yang mulai menembus celah kamar Asty dan mampu membangunkan dari mimpi indahnya. Ia terbangun dengan sangat terkejut karena posisi tidurnya yang tidak terduga, ia tertidur di atas meja belajarnya.

__ADS_1


"aduh... pantesan badannya gak enak banget." gumam Asty memijat lehernya.


Sejenak Asty mengingat kejadian semalam. Setelah masuk kedalam kamar, ia duduk di depan meja belajar membuka buku pelajaran dan mengerjakan PR. Tak lama kemudian bu Tatum masuk dan mengembalikan ponselnya.


"kamu marah sama kakak?" tanya bu Tatum mengelus pundak Asty yang tengah serius belajar.


"nggak, bu. aku gak marah sama kakak." jawab Asty yang tetap fokus pada bukunya.


"baiklah, ibu tidur duluan ya. kamu jangan malem-malem tidurnya." ucap bu Tatum yang di jawab anggukan kepala oleh Asty.


Bu Tatum melangkahkan kakinya keluar kamar Asty. Sedangkan Asty mengecek ponselnya, melihat sudah banyak chat dari Dani yang tidak dia balas.


Dari sekian banyak chat yang berisi tentang basa basinya Dani, ada satu chat yang membuat Asty merasa semakin kecewa terhadap Dani.


[aku mau jujur sama kamu kalo setiap hari aku selalu menunggu kamu lewat di depanku dengan senyum keceriaan yang kamu berikan buat orang-orang di sekitar kamu. aku merasa terhipnotis oleh keindahan senyummu, aku berharap kamu bisa ku miliki selamanya agar di setiap waktuku selalu merasakan energi positif yang kamu berikan. maukah kamu jadi pacarku.]


"cih, kemana ajah lo selama ini. dulu gue pernah jadi orang bodoh yang ngejar cowok sok keren sejenis lo. terus lo pikir sekarang gue masih ada rasa sama lo, basi tau nggak." gerutu Asty menatap chat dari ponselnya.


Tanpa membalas chat Dani, Asty mengambil headset dan memasangkannya di kedua telinga kemudian ia menyalakan musik kesukaannya. Tak lama kemudian Asty tertidur dengan kepala di letakkan di atas meja yang untungnya semua buku telah ia bereskan kembali.


Hingga ia terkejut saat terbangun di pagi hari dengan posisi tidur yang tidak biasa membuat badannya merasa sakit. Saat Asty memijat pundaknya, terdengar suara langkah kaki kemudian pintu kamar terbuka.


"hehe iya bu, aku ketiduran." ucap Asty sambil tersenyum dan masih memijat pundaknya.


"jadi pada sakit kan badannya." seru bu Tatum melihat Asty yang terus memijat pundaknya sedari tadi.


"hehe iya bu." jawab Asty dengan rasa penyesalan yang tak bisa ia kembalikan lagi.


"ya sudah, sekarang kamu mandi terus siap-siap. kalo udah mandi pasti badannya agak mendingan." pinta bu Tatum yang di jawab anggukan oleh Asty dan segera beranjak menuju kamar mandi.


Pagi hari itu terasa berbeda, Asty terus terdiam di depan piring yang berisi sarapannya seolah ada suatu hal yang membebani pikirannya.


"Asty, ayo di makan sarapannya. nanti kamu terlambat sekolah lho." ucap bu Tatum dengan lembut agar tidak mengejutkan lamunan Asty.


"iya bu." Asty mulai memasukkan sendok ke dalam mulutnya perlahan.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan Asty meraih ranselnya dan berpamitan pada sang ibu. Mencium punggung tangan ibunya adalah ritual wajib sebelum berangkat ke sekolah, sebagai tanda meminta doa restu untuk mencari ilmu dan agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat.


Asty melangkahkan kakinya menuju jalan raya yang ada di depan rumahnya, menunggu sebuah angkutan umum yang lewat dan membawanya menuju sekolah.


Ketika Asty sedang berdiri menunggu ada angkutan umum yang lewat, tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya. Dia adalah Dani.


"hey, ayo kita berangkat bareng." ajak Dani.


Asty terkejut melihat Dani tiba-tiba ada di hadapannya, ia merasa malas sekali bertemu dengan Dani yang tengah menunggu jawaban darinya.


"duh gimana ya, aku udah janjian sama Toby mau berangkat bareng. maaf ya." ucap Asty ngasal.


"oh ya udah deh. tapi mungkin lain kali kita bisa donk berangkat bareng?" tanya Dani menaruh harapan.


"hmm kita liat ajah nanti, ya." jawab Asty tersenyum.


Asty menggunakan senyumannya untuk menutupi kekesalannya terhadap Dani, tapi Dani salah mengartikannya. Dani merasa senang melihat Asty dan berpikir jika Asty masih menyimpan rasa untuknya.


Dani melajukan motornya meninggalkan Asty sendirian, namun Dani menghentikan motornya di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat Asty berdiri. Dani berpikir jika Asty tidak akan melihatnya karena jalanan pagi itu begitu ramai, tapi dugaan Dani salah.


Dengan tatapan matanya yang tajam, Asty dapat menemukan keberadaan Dani walau sedikit terhalang oleh seorang pedagang bubur yang tengah melayani pembeli.


"waduh, dia masih ajah di situ. gak percaya dia kalo gue berangkat bareng Toby." gumam Asty kemudian meraih ponsel yang ada di dalam tasnya.


[Toby tolongin gue, gue mau di culik..]


Asty mengirim pesan pada Toby sambil menyeringai, Toby yang masih berada di tempat tongkrongannya merasa terkejut membaca pesan dari Asty.


"buset nih anak, siapa yang mau culik dia." gumam Toby kembali meletakan ponsel di dalam saku celananya.


Toby segera menghidupkan mesin motornya dan melaju menembus keramaian jalan menuju keberadaan Asty.


Tak butuh waktu lama untuk menuju lokasi Asty berada, Toby menghentikan motor sportnya tepat di depan Asty.


"lo mau di culik siapa, hah?" tanya Toby hendak membuka helm full face nya dengan nada khawatir.

__ADS_1


"stop, gak usah di buka. ayo kita buruan ke sekolah, nanti gue ceritain di sekolah." seru Asty langsung duduk di motor Toby.


Toby memang sudah menganggap Asty sebagai sahabatnya, mengingat Asty juga adalah mantan kekasih dari sahabatnya.


__ADS_2