
"Gue gak bisa bayangin hari-hari gue ke depannya gimana, demi nurutin kemauannya mommy gue cuma bisa liat lo dari jauh."
Seolah sebagian dari dirinya telah hilang, Andri hanya terdiam ketika teman-temannya saling melempar candaan. Bagi teman-temannya memang sudah tidak aneh, karena Andri terbilang cukup irit dalam bicara.
"wouy, ngomong ke salah juga gak apa-apa." ledek Rehan menyenggol sikut Andri yang tengah meneguk es jeruk.
"gue cukup jadi pendengar ajah." jawab Andri singkat dengan pandangan lurus ke depan, entah apa yang ia pandangi.
Tanpa rasa penasaran, mereka pun melanjutkan obrolan hingga waktupun tak terasa begitu cepat berlalu.
"eh ini udah jam dua ya." seru Tina setelah melihat arloji hello kitty di tangan kirinya.
"iya bener, udah jam dua. gak kerasa ya. perasaan tadi baru jam 11." sahut Asty menatap jam yang terpasang di dinding rumahnya.
"waah.. kita harus cepet pulang nih, tar orangtua kita keburu nyariin." seru Rehan.
"beuhh... gaya lu di cariin orangtua, pulang sore juga lu gak bakalan di cariin Re .." jawab Topan.
"loh, emangnya kenapa?" tanya Asty heran.
"orang tuanya kan kalo pulang kerja malem, pernah dia di rumah gue nyampe magrib ga ada yang nyariin tuh." jelas Topan.
"ya lu juga kan sama Pan." seru Rehan menoyor kepala Topan, tapi ia hanya nyengir kuda sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
Mereka bertiga memang memiliki orang tua yang sangat sibuk hingga tak ada waktu untuk sekedar bercerita tentang satu hari yang telah mereka lalui makanya mereka sering berkumpul untuk mengusir jenuh yang mereka rasakan. Terkadang juga mereka merasa iri melihat teman-temannya yang memiliki banyak waktu bersama orangtua, tapi mereka menutupinya dengan melakukan kekonyolan yang membuat mereka merasa senang.
"ya udah, kita pamit pulang yaa.." seru Tina beranjak dari duduknya.
"iya, makasih yah udah nengokin aku. besok juga aku masuk sekolah." sahut Asty.
"tapi emangnya kamu udah beneran sehat?" tanya Tina cemas.
"hehe... bener Tina, aku udah sehat kok." seru Asty.
Melihat semangat anaknya untuk segera berangkat sekolah membuat bu Tatum merasa senang. Semenjak berteman dengan mereka, terlihat banyak perubahan dalam diri Asty.
"om, tante. kita pamit pulang dulu yaa, maaf udah ngerepotin." Tina menyalami pak Reno dan bu Tatum.
"ngga apa-apa, tante gak ngerasa di repotin kok. malah seneng, Asty jadi ga bosen lagi di rumah." seru bu Tatum tersenyum.
"iya, sering-sering yah main ke sini." tambah pak Reno.
"siap om, nanti kita pasti bakal sering main ke sini. apalagi ada bolu pisangnya tante, hmmm belum pernah aku makan yang seenak ini" seru Rehan membayangkan bolu yang tadi ia makan habis.
__ADS_1
"iya enak sampe lupa gak bagi-bagi temennya." ketus Topan.
"oh kalian juga suka, ya udah kapan-kapan tante bikin terus nanti di bawa Asty ke sekolah." seru bu Tatum membuat dua bocah lelaki itu kegirangan.
Sementara pandangan Asty tertuju pada Andri tengah duduk mengikat tali sepatunya.
"hmm Andri, makasih ya.." seru Asty berdiri di depan Andri.
"untuk apa?" jawab Andri ketus dengan mata yang masih fokus pada sepatunya.
"katanya kamu ikut nganterin aku ke rumah sakit dan katanya kamu terlihat sangat khawatir." jelas Asty dengan senyum manjanya, tampaknya ia terlalu percaya diri mengatakan itu.
"oh, gue cuma bantu pak Danang. berterimakasihlah pada maang Danang." jawab Andri dan berlalu meninggalkan Asty.
"maafin gue Asty, mungkin ini yang terbaik buat lo." batin Andri.
Asty masih belum menyadari apa yang terjadi, ia menganggap Andri memang aslinya seperti itu dan mengira besok juga Andri akan bersikap seperti biasa lagi.
Sesampainya di rumah, Andri segera membersihkan diri dan memutuskan untuk berlama-lama di dalam kamar mandi merilekskan pikirannya. Hal itu membuat Nico khawatir..
"Andri, lo ngapain di dalem kok lama banget." Nico mengetuk pintu kamar mandi setelah memasuki kamar namun tak menemukan Andri.
"gue lagi mandi lah." teriak Andri dari dalam kamar mandi.
"iya abang gue yang bawel." ledek Andri. Nico tak meladeninya dan bergegas keluar kamar Andri...
Beberapa menit kemudian Andripun turun menghampiri kakaknya yang sudah menunggunya di meja makan.
"mandi lama banget lo kayak putri ajah." ledek Nico.
"suka-suka gue lah." jawab Andri singkat sambil memulai makan malamnya...
Suasana makan malam seperti biasanya, hanya ada kakak dan adik. Daddy masih sibuk di kantornya, mommy sedang di luar kota dan belum mengabari setelah sampai di sana. Namun itu tak jadi masalah bagi Andri dan Nico karena mereka sudah terbiasa dengan hal seperti itu.
"gue udah selesai bang." seru Andri berdiri dari kursinya.
"dikit banget makan lo, apa lagi gak enak badan?" tanya Nico.
"nggak bang, lagi ga nafsu makan ajah." jawab Andri dan berlalu meninggalkan Nico.
"ya udah, istirahat ajah lo, besok kalo gak enak badan gak usah masuk sekolah." teriak Nico.
Tanpa menghiraukan kakaknya, Andri terus berjalan menaiki anak tangga. Perlahan dengan fikirannya yang entah kemana, setelah melewati beberapa anak tangga tiba-tiba ia salah menginjakan kaki dan kemudian terjatuh.
__ADS_1
"astaga Andri..." teriak Nico melihat adiknya tergeletak di lantai dan segera berlari menghampiri.
"lo gimana sih, kalo jalan yang bener coba." Nico terkejut dan memarahi Andri.
"gue jalan bener bang, pake kaki bukan pake tangan." jawab Andri santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"berisik lo, jawab mulu." seru Nico menggendong Andri dan meletakkannya di sofa.
"bibi tolong ambilin minyak gosok bi." teriak Nico. "kaki lo bengkak gini, apa gak sakit?" tanya Nico melihat adiknya hanya diam seolah tidak merasakan apa-apa.
"nggak bang, gue gak apa-apa kok." seru Andri, Nico hanya menggelengkan kepala melihat adiknya.
"sini den, biar sama bibi ajah." seru bi Nina membawa minyak gosok.
"oh iya bi, bibi kayaknya lebih ngerti deh." seru Nico berpindah tempat duduk.
"iya den, dulu bibi sering mijitin yang keseleo." jawab bi Nina menggosokkan minyak di pergelangan kaki Andri.
"adududuuhh.. bi pelan-pelan" teriak Andri.
"nah kan, tadi katanya gue gak apa-apa kok." ledek Nico.
"berisik lo bang, sakit nih. aduuh bi, udah bi." teriak Nico memegangi kakinya.
"sebentar den, ini sedikit lagi." seru bi Nina.
Setelah selesai Andri terus berbaring di sofa. "aduuh bang, gue tidur di sini ajah deh. males naiknya."
"yakin lo mau tidur di sini?" tanya Nico.
"ya mau gimana lagi, sakit banget kaki gue." jawab Andri meringis kesakitan.
"ya udah lo tidur di kamar gue ajah biar ga usah naik tangga, sini gue gandeng lo." seru Nico mengulurkan tangan.
"makasih bang, lo emang the best." seru Andri tersenyum sambil meraih tangan Nico.
"iya adek abang yang ngeselin." seru Nico memutar bola matanya..
.
.
.
__ADS_1
.